Friday, July 27, 2012

BUKEK SIANSU : Seri Ketiga

BUKEK SIANSU : Seri Ketiga -
BUKEK SIANSU : Seri Ketiga - Lanjutan Seri Kedua
dengan tombak di tangan Thian-he Te-it dan tongkat Thian-tok, sehingga seolah-olah dua orang ini melindungi
        Pat-jiu Kaiong. Pertandingan kacau balau dan hanya Kiam-mo Cai-li yang benar-benar amat cerdiknya. Dia tidak
        melayani seorang tertentu, melainkan berlarian berputar-putar, selalu menghindarkan serangan lawan yang manapun
        juga dan dia pun itdak menyerang siapa-siapa, hanya menggerakkan pedang payungnya dan rambutnya untuk membuat

        kacau dan kadang-kadang juga menekan lawan apabila melihat ada seorang diantara mereka yang terdesak. Siasatnya
        adalah untuk merobohkan seorang demi seorang dengan jalan "mengeroyok" tanpa membantu siapa-siapa agar jumlah
        lawannya berkurang. Namun, mereka itu rata-rata adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, maka
        tidaklah mudah dibokong oleh Kiam-mo Cai-li, bahkan lama-lama akalnya ini ketahuan dan mulailah mereka
        menujukan senjata kepada wanita ini sehingga mau tidak mau wanita itu terseret ke dalam pertandingan
        kacau-balau itu! Terpaksa dia mempertahankan diri dengan pedang payungnya, dan membalas serangan lawan yang
        paling dekat dengan kemarahan meluap-luap. Sin Liong menjadi bengong. Entah kapan datangnya, tahu-tahu dia
        melihat seorang laki-laki duduk ongkang-ongkang di atas cabang pohon besar yang tumbuh dekat medan pertandingan
        itu. Laki-laki itu memandang ke arah pertempuran dengan mata terbelalak penuh perhatian, tangan kiri memegang
        sehelai kain putih lebar, dan tangan kanan yang memegang sebatang alat tulis tiada hentinya mencoratcoret di
        atas kain putih itu, seolah-olah dia tidak sedang menonton pertandingan, melainkan sedang menonton pemandangan
        indah dan dilukisnya pemandangan itu! Sin Liong yang terheran-heran itu memperhatikan. Orang laki-laki itu
        kurang lebih empat puluh tahun usianya, pakaiannya seperti seorang pelajar akan tetapi di bagian dada bajunya
        yang kuning muda itu ada lukisan seekor Naga Emas dan seekor Burung Hong Merah. Indah sekali lukisan baju itu.
        Wajahnya tampan dan gagah, dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik, pakaiannya juga bersih dan terbuat
        dari sutera halus, sepatu yang dipakai kedua kakinya masih baru atau setidaknya amat terpelihara sehingga
        mengkilap. Rambutnya memakai kopyah sasterawan dan sepasang matanya bersinar-sinar penuh kegembiraan ketika dia
        mencorat-coret melukis pertandingan antara tujuh orang sakti itu. Sin Liong makin bingung. Betapa mungkin
        melukis tujuh orang yang sedang berkelebatan hampir tak tampak itu? Sin Liong tidak lagi memperhatikan
        pertandingan, hanya memandang ke arah orang itu. Dia mendengar bentakan-bentakan nyaring dan tidak tahu bahwa
        tujuh orang itu telah ada yang terluka. Thian-he Te-it telah terkena hantaman tongkat Thian-tok di pahanya
        sehingga terasa nyeri sekali. Pat-jiu Kai-ong juga kena serempet pundaknya sehingga berdarah oleh sebatang di
        antara Siang-kiam di tangan Tee-tok, sedangkan Lam-hai Seng-jin dan Gin-siauw Siucai juga telah mengadu tenaga
        dan keduanya tergetar samapi muntahkan darah namun berkat sinkang mereka, kedua orang ini tidak sampai
        mengalami luka dalam yang parah. Sin Liong melihat betapa laki-laki di atas pohon itu tersenyum, menghentikan
        coretannya, menyimpan pensil dan menyambar jubah luar yang tadi tergantung di ranting pohon, memakainya,
        kemudian mengantongi gambar yang telah digulungnya dan tubuhnya melayang turun. "Tontonan tidak bagus!"
        Terdengar dia berseru. "Tujuh orang tua bangka gila memperlihatkan tontonan di depan seorang anak kecil
        benar-benar tak tahu malu sama sekali!" Tujuh orang itu terkejut ketika mendengar suara yang langsung
        menggetarkan jantung mereka itu. Mengertilah mereka bahwa yang datang ini memiliki khikang dan singkang yang
        amat kuat, sehingga dapat mengatur suaranya, langsung dipergunakan untuk menyerang mereka dan sama sekali tidak
        mempengaruhi Sin-tong yang masih duduk bersila. Dengan hati tegang mereka lalu meloncat mundur dan
        masing-masing melintangkan senjata di depan dada, memandang ke arah laki-laki gagah yang baru muncul itu.
        Namun, tidak ada seorangpun diantara mereka yang mengenalnya, maka ketujuh orang itu menjadi marah sekali.
      </P>
      <P>
        "Bangsat kecil, engkau siapakah berani mencampuri urusan kami dan memaki kami?" bentak Patjiu Kai-ong sambil
        mengusap pundaknya yang berdarah. Apa kau memiliki kepandaian maka berani mencela kami, tikus kecil?" bentak
        pula Thian-he Te-it yang masih ngilu rasa pahanya, dan untung bahwa pahanya itu tidak patah tulangnya.
        Laki-laki itu melangkah maju menghampiri mereka dengan langkah tegap dan sikap sama sekali tidak takut, bahkan
        wajahnya itu berseri-seri memandang mereka seorang demi seorang. kemudian, setelah berada di tengah-tengah
        sehingga terkurung, dia berkata, " Tadinya aku hanya mendengar bahwa ada seorang anak baik terancam oleh
        perebutan orang-orang pandai di dunia kang-ouw. Ketika tiba disini dan melihat lagak kalian, mau tidak mau aku
        masuk dan hatiku memang penasaran menyaksikan gerakan kalian yang sungguh-sungguh masih mentah. Ilmu tongkat
        dia itu tentu Pat-mo-tung-hoat yang berdasarkan Ilmu Pedang Pat-mo-kiam-hoat," katanya sambil menuding ke arah
        Pat-jiu Kai-ong. Raja pengemis itu terkejut sekali melihat orang mengenal ilmu tongkatnya, padahal tadi mereka
        bertujuh bertanding dengan kecepatan luar biasa, bagaimana orang ini dapat mengenal ilmu tongkatnya? "Dan ilmu
        otngkat dia itu lebih lucu dan kacau lagi. Meniru gerakan Kauw Cee Thian Si Raja Monyet, akan tetapi kaku dan
        mentah, tidak pantas menjadi gerakan Raja Monyet, pantasnya menjadi gerakan Raja Tikus! Dia menuding arah
        Thian-tok. "Brakkk!!" Batu besar yang berada di samping Thian-tok hancur berantakan karena dipukul oleh
        tongkatnya. Dia marah sekali mendengar ucapan yang dianggapnya menghina itu. "Manusia lancang, berani kau
        menghina Thian-tok?" bentaknya dan tongkatnya sudah diputar hendak menyerang. Akan tetapi orang itu membentak,
        "Berhenti!" Dan aneh, suaranya demikian berwibawa sehingga Thian-tok sendiri sampai tergetar dan menghentikan
        gerakan tongkatnya. "Aku melihat kalian masing-masing memiliki kepandaian khusus namun masih mentah semua. Aku
        tidak membohong dan kalau tidak percaya, marilah kalian maju seorang demi seorang, akan kuperlihatkan
        kementahan ilmu silat kalian yang kalian pergunakna dalam pertandingna kacau balau tadi. Hayo siapa yang maju
        lebih dulu, akan kulayani dengan ilmu silat kalian sendiri!" Ucapan ini lebih mendatangkan rasa heran dan tidak
        percaya daripada kemarahan, maka Pat-jiu Kai-ong melupakan pundaknya yang terluka, cepat dia sudah meloncat ke
        depan, melintangkan tongkatnya di depan dada sambil berseru, "Nah, coba kaubuktikan kementahan ilmu tongkatku!"
        Setelah berkata demikian, Raja Pengemis ini menyerang, menggunakan tongkatnya untuk menusuk, kemudian gerakan
        ini dilanjutkan dengan memutar tongkat ke atas menghantam kepala. Memang gerakan tongkatnya adalah gerakan
        pedang, dia ambil dari Ilmu Pedang Pa-mo-kiam-hoat. Hal ini adalah rahasianya, maka dia heran sekali mendengar
        orang tampan gagah itu mengenal ilmu tongkatnya dan sekaligus membuka rahasianya. Enam orang tokoh yang lain
        adalah orang-orang yang telah terkenal, maka mereka menahan kemarahan dan menonton untuk melihat apakah orang
        yang tidak terkenal ini benar-benar memiliki kepandaian aneh dan apakah benar-benar selihai mulutnya yang amat
        sombong itu. Serangan Pat-jiu Kiam-ong itu tidak ditangkis, akan tetapi tubuh orang itu tiba-tiba saja lenyap!
        Semua orang kaget dan bengong melihat betapa tubuh orang itu tahu-tahu telah melayang turun dari atas pohon, di
        tangannya terdapat sebatang cabang pohon, yang daunnya telah dibersihkan. Demikian cepatnya dia tadi meloncat
        sehingga tidak tampak, dan entah bagaimana cepatnya tahu-tahu dia telah membikin sebatang tongkat yang
        ukurannya sama dengan tongkat yang dipegang Pat-jiu Kai-ong. Begitu dia turun, Pat-jiu Kaiong telah
        menyerangnya dengan kemarahan meluap. "Nah, lihatlah. Bukankah ini Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis)
        yang kau rubah menjadi Patmo- tung-hoat?" Dan orang itu pun kini mengimbangi permainan ilmu tongkat Pat-jiu
        Kai-ong dengan gerakan yang sama! Jurus demi jurus dimainkan orang itu untuk menangkis dan balas menyerang,
        namun bedanya, serangannya jauh lebih cepat dan lebih kuat tenaga sinkang yang menggerakkan tongkat itu!
        Tokoh-tokoh lain hanya menduga-duga, mengira orang baru itu meniru gerakan Pat-jiu Kai-ong, akan tetapi Raja
        Pengemis ini sendiri mengenal gerakan orang itu yang bukan lain adalah ilmu tongkatnya sendiri yang digubahnya
        sendiri! Dia menjadi bingung dan heran, apalagi serangan orang itu cepatnya melebihi kilat dan dalam belasan
        jurus saja, tiba-tiba terdengar suara keras, tongkat di tangan Pat-jiu Kaiong patah dan si Raja Pengemis ini
        sendiri terpelanting dan mukanya pucat sekali karena tadi ujung tongkat lawannya telah menyambar dahinya tepat
        diantara mata dan kalau dikehendakinya, tentu dia telah tewas, akan tetapi orang aneh itu hanya mengguratnya
        saja sehingga kulit di bagian itu robek dan berdarah. Tahulah dia bahwa sia telah berhadapan dengan seorang
        yang memiliki ilmu kepandaian yang jauh melampuinya, tahu pula bahwa nyawanya diampuni maka tanpa banyak cakap
        dia lalu mundur dan berdiri dengan muka pucat dan mulut berbisik, "Aku mengaku kalah!" Tentu saja hal ini
        mengejutkan enam orang tokoh yang lain! Mereka tadi, dalam pertandingan kacau balau, telah beradu senjata
        dengan Si Raja Pengemis, dan mereka maklum bahwa selain ilmu tongkatnya amat lihai, juga tongkat itu sendiri
        merupakan senjata pusaka yang kuat menangkis senjata tajam, di samping tenaga sinkang si Kakek Jembel yang amat
        kuat. Namun, dalam belasan jurus saja kakek jembel itu mengaku kalah, tongkatnya patah dan diantara alisnya
        terluka, sedangkan tadinya mereka mengira bahwa orang yang baru datang itu hanya meniru-niru ilmu silat Pat-jiu
        Kai-ong! "Si Jembel tua bangka memang tolol!" Tiba-tiba Thian-he Te-it Ciang Ham meloncat ke depan, tombaknya
        melintang di tangannya, sedangkan tangan kirinya dikepal, tangan kiri yang mengandung tenaga mukjijat dan
        terkenal dengan sebutan Kang-jiu(Lengan Baja) yang kuat menangkis senjata tajam! Orang itu tersenyum sabar.
        Hemm, jadi tadi adalah Pat-jiu Kai-ong, ketua Pat-jiu Kai-pang yang terkenal? Heran ilmunya masih serendah itu
        sudah berani malang melintang di Heng-san. Dan kau ini siapakah? Ginkangmu cukup lumayan akan tetapi permainan
        tombakmu belum patut disebut Sin-jio(Tombak Sakti), dan pukulan itu, tentu yang dinamakan Lengan Baja,
        sayangnya tidak cocok dengan sebutannya karena terlalu lemah, hemm, terlalu lemah...!" Muka Ciang Ham menjadi
        merah sekali saking marahnya. Sudah menjadi kebiasaannya kalau dia lagi marah, matanya mendelik dan kumisnya
        yang jarang itu bergoyang-goyang menurutkan bibir atasnya yang tergetar! "Si keparat sombong! Tahukah engkau
        dengan siapa engkau berhadapan? Aku adalah Thianhe Te-it (Nomor Satu Sedunia) ketua dari Kang-jiu-pang di
        Secuan! Bersiaplah untuk mampus di tanganku!" Kembali orang itu meloncat ke atas, kini semua orang yang sudah
        memperhatikan seluruh gerak-geriknya melihat bahwa orang itu benar-benar memiliki ginkang yang sukar dipercaya.
        Hanya dengan mengenjot ujung kaki, tubuhnya melesat dengan kecepatan yang luar biasa sekali, lenyap ke dalam
        pohon besar dan tak lama kemudian sudah melayang turun membawa sebatang cabang yang panjangnya sama dengan
        tombak di tangan Ciang Ham, bahkan ujungnya juga sudah diruncingkan, entah bagaimana caranya! "Nah, coba
        mainkan ilmu tombakmu dan pukulan Lengan Bajumu yang masih mentah itu." Thian-he Te-it Ciang Ham bukan main
        marahnya. Sambil mengeluarkan gerengan keras dia menerjang, tombaknya bergerak dahsyat sehingga mata tombak
        berubah menjadai belasan banyaknya, semua mata tombak itu seolah-olah menyerang bagian-bagian tertentu dari
        lawannya! Namun orang itu pun menggerakkan tombak cabang pohon dengan gerakan yang sama, bahakan mata
        "tombaknya" berubah menjadi dua puluh lebih, membentuk bayangan tombak yang menyilaukan mata dan terjadilah
        pertandingan tombak yang amat aneh karena gerakan mereka sama. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian-he
        Te-it Ciang Ham. Ilmu tombak itu adalah ciptaannya sendiri dan selama ini belum pernah diajarkan kepada
        siapapun juga, merupakan kepandaian khasnya yang ampuh. Akan tetapi sekarang dia melihat orang ini mainkan ilmu
        tombaknya dengan gerakan yang lebih cepat dan lebih kuat! Marahlah dia. "Setan kau!" dia memaki dan kini
        tombaknya membuat lingkaran besar, menyambarnyambar diatas kepala sedangkan lengan kirinya melakukan pukulan
        maut karena lengan itu seolah-olah merupakan sebuah senjata baja yang kuat sekali. "Bagus," orang itu berseru,
        tombaknya bergerak pula menyambut tombak lawan dan terdengar suara "krekkk" ketika ujung tombak Thian-he Te-it
        patah disusul bertemunya dua buah lengan. "Desss...!" Thian-he Te-it Ciang Ham mengaduh, melemparkan tombaknya
        yang patah, menggunakan tangan kanan mengurut-urut lengan kirinya. Lengan kiri yang terkenal dengan sebutan
        Lengan Baja itu, yang berani menangkis senjata tajam lawan, begitu bertemu dengan lengan lawan, berubah menjadi
        seperti bambu bertemu besi. Tulangnya retak dan sakitnya bukan main! Dia pun bukan anak kecil, seketika tahulah
        dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang tingkat kepadaiannya jauh lebih tinggi, membuat dia seolah-olah
        berhadapan dengan gurunya, maka dia meloncat ke belakang, meringis dan berkata nyaring, "Aku kalah!" Hening
        sejenak. Lima orang tokoh lain terheran-heran, hampir tidak dapat percaya akan peristiwa yang telah terjadi.
        Biarpun mereka mulai merasa heran dan gentar, namun rasa penasaran membuat mereka lupa akan kenyataan bahwa
        orang itu benar-benar lihai. Mereka hendak membuktikan sendiri apakah benar orang aneh ini dapat memainkan ilmu
        istimewa mereka yang selama ini mengangkat nama mereka di tempat tinggi di dunia kang-ouw. "Hayo, siapa lagi
        yang ingin memamerkan ilmunya yang masih mentah?" Orang itu sengaja menantang sambil melemparkan tombak cabang
        pohon yang telah berhasil mematahkan ujung tombak pusaka di tangan Ciang Ham tadi. "Aku ingin mencoba!"
        Thian-tok sudah melompat ke depan dengan gerakan seperti seekor kera dan tangan kirinya menggaruk-garuk pantat,
        tangan kanan memegang tongkat Kim-kauw-pang itu memutar-mutar tongkatnya. "Nanti dulu," kata orang itu. "Yang
        bertombak tadi, bukankah dia yang terkenal sekali sebagai ketua Kangjiu- pang di Secuan? harap Pangcu (Ketua)
        menjaga agar anak buahmu tidak merendahkan nama Kang-jiupang dengan melakukan perbuatan melanggar hukum dan
        memperbaiki ilmu silatnya." Ciang Ham tidak menjawab, hanya kumisnya bergoyang-goyang karena marahnya. "Dan
        Anda ini, apakah mempunyai kudis di pantat, ataukah memang hendak meniru lagak seekor monyet? Kalau begitu,
        tentulah Anda yang berjuluk Thian-tok, yang kabarnya menjadi pemuja Kauw Cee Thian, terkenal dengan Ilmu
        Tongkat Kim-kauw-pang dan Ilmu Silat Sin-kauw-kun." "Dugaanmu benar, akulah Thian-tok! Siapakah namamu, manusia
        sombong?" Thian-tok Bhong Sek Bin membentak marah. "ataukah kau tidak berani mengakui namamu dan bersikap
        sebagai seorang pengecut tukang mencuri ilmu orang lain?" Biarpun diserang dengan kata-kata yang menghina itu,
        orang ini tersenyum saja dan menjawab, "Namaku tidak ada perlunya kauketahui. Kalau aku tidak mampu mengalahkan
        engkau dengan ilmumu sendiri, barulah aku akan memperkenalkan diri dan boleh kau perbuat sesukamu terhadap
        diriku." Thian-tok lalu mengeluarkan suara memekik nyaring seperti seekor kera marah, akan tetapi sebelum dia
        menyerang laki-laki aneh itu telah menyambar tombak cabang pohon yang tadi dilemparnya ke atas tanah. Tombak
        itu panjang dan sekali dia menggerakkan jari tangannya, ujung tombak cabang yang runcing itu telah patah dan
        berubahlah tombak itu menjadi sebatang tongkat yang panjangnya sama dengan Kim-kauwpang di tangan Thian-tok!
        Thian-tok sudah menerjang dengan gerakan lincah sekali. Kim-kauw-pang ditangannya diputar-putar sedemikian
        rupa, mulutnya menggeluarkan pekik-pekik dahsyat dan tubuhnya sampai lenyap terbungkus gulungan sinar tongkat
        sendiri. Namun dengan enaknya orang itu pun memutar tongkatnya, serupa benar dengan gerakan Thian-tok bahkan
        mulutnya juga mengeluarkan pekik seperti monyet itu dan terjadilah pertandingan yang aneh dan lucu, seolah-olah
        bukan sedang bertanding, melainkan Thian-tok sedang berlatih silat dengan gurunya. Gerakan mereka sama, akan
        tetapi gerakan orang itu lebih cepat dan lebih mantap. Kembali belum sampai dua puluh jurus terdengar suara
        keras, Kim-kauw-pang di tangan Thian-tok patah-patah menjadi tiga potong dan Si Racun Langit itu terhuyung
        mundur dengan muka pucat karena tulang pundaknya hampir patah terpukul tongkat lawan! Melihat betapa bekas
        suhengnya kalah, Tee-tok marah sekali. Siang-kiam di punggungnya telah dicabutnya dan tanpa banyak cakap lagi
        dia telah meloncat maju. "Keluarkan senjatamu, manusia licik! Akulah Tee-tok, hayo lawan siang-kiam-ku ini
        kalau kau memang gagah!" Orang itu menjura, "Aha, kiranya Tee-tok Siangkoan Houw yang terkenal. Kulhat tadi
        ilmu pedangmu adalah pecahan dari Hui-liong-kiamsut, dan kau pandai pula menggunakan Ilmu Silat Pek-lui-kun.
        Akan tetapi seperti yang lain, gerakanmu masih mentah." "Tak usah banyak cakap! Lawanlah ilmuku!" Bentak
        Tee-tok dengan marah dan dia sudah menerjang maju. Laki-laki iut mematahkan tongkatnya menjadi dua potong
        tongkat yang sama dengan pedang-pedang di kedua tangan Tee-tok, dan begitu dia menggerakkan kedua tangannya,
        tampaklah sinar-sinar bergulung dengan gerakan yang persis seperti gerakan Tee-tok yang memutar sepasang
        pedangnya. Kembali terjadi pertandingan yang hebat, seru dan aneh. Berkali-kali terdengar suara nyaring
        bertemunya pedang dengan tongkat, namun anehnya, tongkat dari cabang pohon itu sama sekali tidak dapat terbabat
        putus, bahkan kedua tangan Tee-tok selalu terasa panas dan perih setiap kali pedangnya bertemu tongkat! Dengan
        teliti Tee-tok memperhatikan gerakan orang dan dia terkejut. Memang benar bahwa orang itu mainkan jurus-jurus
        ilmu pedangnya! Dan bukan hanya mainkan jurus ilmu pedangnya, bahkan telah mendesaknya dengan tekanan yang
        hebat karena orang itu jauh lebih lincah dan lebih kuat daripada dia. Lewat lima belas jurus, Tee-tok berseru,
        "Aku mengaku kalah!" Dia meloncat mundur, menyimpan pedangnya dan mengangkat tangan menjura ke arah orang itu
        sambil berkata, "Harap kau menerima penghormatanku dengan Pek-lui-kun!" Kelihatannya saja dia memberi hormat
        dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada, namun dari kedua telapak tangannya itu menyambar hawa pukulan
        maut yang mendatangkan hawa panas dan yang dapat membunuh lawan dari jarak tiga empat meter tanpa tangannya
        menyentuh tubuh lawan! Itulah pukulan Pek-lui-kun(Kepalan Kilat) yang mengandung tenaga sakti yang amat kuat!
        Orang itu sudah melempar sepasang tongkat pendeknya, sambil tersenyum dia pun mejura dengan gerakan yang sama.
        Terjadilah adu tenaga yang tidak tampak oleh mata. Di tengah udara, diantara kedua orang itu terjadi benturan
        tenaga dahsyat dan akibatnya membuat Tee-tok terpental ke belakang, terhuyung dan dari mulutnya muntah darah
        segar! Dia tidak terluka hebat karena tenaganya Pek-lui-kun membalik, hanya tergetar hebat dan mukanya makin
        pucat. "Engkau hebat! Aku bukan tandinganmu!" kata Tee-tok dengan jujur, dan memandang dengan mata terbelalak
        penuh kagum dan juga penasaran. "Engkau luar biasa sekali dan aku amat kagum kepadamu, sahabat!" Gin-siauw
        Siucai berkata sambil melangkah maju. "Aku tahu bahwa agaknya aku pun bukan tandinganmu, akan tetapi hatiku
        penasaran sebelum melihat engkau mainkan ilmu-ilmuku yang tentu kauanggap masih mentah pula. Aku adalah
        Gin-siauw Siucai dari Beng-san, senjataku adalah suling dan pensil bulu entah kau bisa mainkannya atau tidak."
        "Gin-siauw Siucai, sudah lama aku mendengar namamu yang terkenal. Jangan khawatir, aku tentu saja dapat mainkan
        ilmumu. Dengan ranting pendek ini aku meniru sulingmu, dan aku pun memiliki sebatang pensil bulu." Orang itu
        memungut sebatang ranting yang panjangnya sama dengan suling perak di tangan Gin-siauw Siucai, juga dia
        mencabut keluar pensil bulu yang tadi dia pergunakan untuk mencoretcoret ketika tujuh orang tokoh sakti itu
        sedang saling bertempur. Akan tetapi kalau pensil bulu di tangan Gin-siauw Siucai adalah pensil yang dibuat
        khas, bukan hanya untuk menulis akan tetapi juga dipergunakan sebagai senjata sehingga gagangnya terbuat dari
        baja tulen, adalah pensil di tangan orang itu hanyalah sebatang pensil biasa saja. Berkerut alis Gin-siauw
        Siucai. Orang itu dianggapnya terlalu memandang rendah kepadanya. Akan tetapi karena orang itu tersenyum-senyum
        dan meniru menggerak-gerakkan pensil dan "suling" di tangannya, dia lalu berkata, "Apa boleh buat, engkau sudah
        memperoleh kemenangan. Kalau kau kalah, orang akan menyalahkan aku yang menggunakan senjata lebih kuat. Kalau
        aku yang kalah, engkau akan menjadi makin terkenal, sungguhpun kami belum tahu siapa kau. Nah, mulailah!"
        Siucai ini cerdik dan dia sengaja menantang agar lawannya bergerak lebih dulu. Akan tetapi orang itu tersenyum
        dan sambil menggerakkan kedua senjata istimewa itu berkata, "Lihat baik-baik, Siucai. Bukankah ini jurus
        terampuh dari suling dan pensilmu?" Kedua tangan orang itu bergerak dan Gin-siauw Siucai terkejut mengenal
        jurus-jurus maut dari kedua senjatanya dimainkan oleh orang itu untuk menyerangnya! Tentu saja dia dapat
        memecahkan jurus ilmunya sendiri dan berhasil menangkis kedua senjata lawan, akan tetapi seperti juga yang lain
        tadi, dia merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat, tanda bahwa dalam hal sinkang, dia masih kalah jauh.
        Namun, Siucai ini merasa penasaran sekali. Puluhan tahun dia bertapa di Beng-san menciptakan ilmu-ilmu silat
        tinggi yang dirahasiakan dan belum pernah diajarkan kepada siapapun juga. Bagaimana sekarang telah dicuri oleh
        orang ini tanpa dia mengetahuinya? Dia melawan mati-matian, mengeluarkan jurus-jurus paling ampuh dari kedua
        senjatanya, namun karena kalah tenaga, setiap kali tertangkis dia terhuyung. Seperti juga yang lain dia tidak
        mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus. Terdengar suara keras dan kedua senjatanya itu, suling dan pensil
        patah-patah bertemu dengan senjata lawan yang sederhana itu. Dia meloncat ke belakang, menjura dan berkata,
        "Kepandaian Taihiap(Pendekar Besar) memang amat hebat, aku yang bodoh mengaku kalah." Orang itu tersenyum dan
        memuji "Tidak percuma julukan Gin-siauw Siucai karena memang hebat kepandaianmu." Ucapan itu dengan jelas
        menunjukkan kekaguman, bukan ejekan, maka Gin-siauw Siucai menjadi makin kagum dan terheran-heran. "Sekarang
        tiba giliran pinto untuk kau kalahkan, sahabat yang gagah. Akan tetapi karena sepasang senjata pinto adalah
        hudtim dan kipas, yang tentu saja tidak dapat kautiru, bagaimana kalau kita bertanding dengan tangan kosong?
        Hendak kulihat apakah kau mampu mengalahkan pinto dengan ilmu silat tangan kosong pinto sendiri?" Orang itu
        masih tersenyum, akan tetapi diam-diam ia terkejut. Tak disangkanya tosu ini amat cerdik. Dia belum pernah
        melihat tosu ni mainkan ilmu silat tangan kosong, bagaimana dia akan dapat menirunya? Akan tetapi dengan tenang
        dia menjawab, "Tentu saja saya akan melayani kehendak Totiang, akan tetapi sebelum bertanding, saya harap
        Totiang tidak keberatan untuk memperkenalkan nama." "Siancai...! Anda licik, sobat. Semua orang hendak dikenal
        namanya, akan tetapi engkau sendiri menyembunyikan nama. Baiklah, pinto adalah Lam-hai Seng-jin yang
        berkepandaian rendah..." "Aihh, kiranya Tocu (Majikan Pulau) dari pulau kura-kura? Telah lama mendengar nama
        Totiang, girang hati saya dapat bertemu dan bermain-main sebentar dengan Totiang." "Nah, siaplah!" Lam-hai
        Seng-jin sudah memasang kuda-kuda sambil memandang tajam ke arah lawan karena dia ingin sekali tahu apakah
        benar lawan ini akan dapat menjatuhkan dia dengan ilmu silatnya sendiri! Diam-diam orang itu memperhatikan dan
        tersenyum, lalu dia pun memasang kuda-kuda yang sama, kuda-kuda dari Ilmu Silat Tangan Kosong Bian-sin-kun
        (Tangan Kipas Sakti), semacam ilmu silat yang berdasarkan sinkang tinggi sekali tingkatnya sehingga telapak
        tangan menjadi halus seperti kapas, namun mengandung daya pukulan maut yang dahsyat sekali.
        "Hiiaaatttttt....!!" Tosu itu sudah menerjang dengan pukulan mautnya. Tampak olehnya lawannya mengelak cepat
        dengan gerakan aneh, sama sekali bukan gerakan ilmu silatnya, akan tetapi betapa kagetnya melihat bahwa begitu
        mengelak lawan itu dalam detik berikutnya sudah menerjangnya dengan jurus yang sama, jurus yang baru saja dia
        pergunakan! Maklum akan hebatnya jurus ini, dia pun cepat mengelak untuk memecahkan ilmunya sendiri, namun
        harus diakui bahwa elakan orang tadi dengan gerakan aneh jauh lebih cepat dan bahkan sambil mengelak orang itu
        dapat balas menyerang! Kembali Lam-hai Seng-jin menyerang dengan jurus lain yang lebih dahsyat, dan seperti
        juga tadi lawannya meloncat dan tahu-tahu telah membalasnya dengan serangan dari jurus yang sama! Tentu saja
        dia dapat pula menghindarkan diri dan makin lama dia menjadi makin penasaran. Dikeluarkan semua ilmu simpanan,
        jurus-jurus maut dari Bian-sin-kun sampai delapan jurus banyaknya. Semua jurus dapat dihindarkan orang itu dan
        tiba-tiba orang itu berseru, "Totiang, jagalah serangan Ilmu Silat Bian-sin-kun!" Dan dengan gencar kini orang
        itu menyerangnya dengan jurus-jurus yang tadi sudah dikeluarkannya, delapan jurus paling ampuh dari
        Bian-sin-kun. Karena gerakan orang itu cepat bukan main, Lam-hai Sengjin sama sekali tidak mendapatkan
        kesempatan untuk balas menyerang sehingga dia terancam dan terdesak hebat oleh ilmu silatnya sendiri. Biarpun
        dia tahu bagaimana utnuk memecahkan jurus-jurus serangan dari Bian-sin-kun, namun karena kalah tenaga dan kalah
        cepat, akhirnya punggungnya kena ditampar dan dia terpelanting, mukanya pucat dan dia harus cepat-cepat
        mengatur pernafasannya agar isi dadanya tidak terluka. "Siancai...engkau benar-benar seorang manusia ajaib..."
        akhirnya dia berkata sambil bangkit perlahanlahan. "Lepaskan aku...!" tiba-tiba terdengar seruan halus dan
        semua orang menengok ke arah Sin-tong dan melihat betapa anak ajaib itu telah dipondong oleh lengan kiri
        Kiam-mo Cai-li. "Hei, lepaskan dia!" Enam orang kakek sakti maju berbareng. "Mundur!" Kiam-mo Cai-li membentak
        dan menempelkan ujung payung pedang di tangan kanan itu ke leher Sin Liong. "Mundur kalian, kalau tidak dia
        akan mati!" Melihat ancaman ini, enam orang itu terpaksa melangkah mundur semua. Laki-laki aneh itu memandang
        dengan sinar mata berkilat, kemudian dia melangkah maju dan suaranya halus namun penuh wibawa ketika dia
        berkata, "Kiam-mo Cai-li, lepaskan bocah yang tidak berdosa itu!" "Hi-hik, enak saja kau. Mundur atau dia akan
        mampus di ujung payungku!" Dia menempelkan ujung payung yang runcing itu ke leher Sin Liong yang tak mampu
        bergerak dalam pelukan lengan kiri yang kuat itu. Akan tetapi, tidak seperti enam orang kakek yang lain,
        laki-laki itu masih tersenyum dan masih melangkah maju, membuat Kiam-mo Cai-li mundur-mundur dan dia berkata,
        "Bocah itu tidak ada hubungan apa-apa dengan aku. Kalau kau bunuh dia, bunuhlah. Akan tetapi demi Tuhan, aku
        akan menangkapmu dan akan memberikan tubuhmu kepada Beruang Es untuk menjadi makanannya!" Berkata demikian,
        laki-laki itu menanggalkan jubah luarnya. "Kau...kau..Pangeran Han Ti Ong...." "Pangeran Han Ti Ong...!" Para
        tokoh kang-ouw itu berteriak. "Pangeran Pulau Es....!" Kiam-mo Cai-li yang tadinya sudah merasa bahwa bocah
        ajaib itu tentu dapat dibawanya, menjadi marah sekali. Dia menjerit dengan lengking panjang rambutnya menyambar
        ke depan, ke arah leher Pangeran Han Ti Ong, dan pedang payungnya juga meluncur dengan serangan yang dahsyat.
        Laki-laki itu, yang disebut Pangeran Han Ti Ong, tenang-tenang saja, tidak mengelak ketika ujung rambut yang
        tebal itu seperti seekor ular membelit lehernya, akan tetapi ketika pedang payung berkelebat menusuk, dia
        menangkap payung itu dan sekali menggeakkan tangan pedang payung itu dan sekali menggerakkan tangan pedang
        payung itu membabat putus rambut yang melibat lehernya. Tangannya tidak berhenti sampai di situ saja. Selagi
        Kiam-mo Cai-li menjerit melihat rambut yang dibanggakan dan andalkan itu putus setengahnya, kedua tangan
        Pangeran Han Ti Ong bergerak, dan tahu-tahu tubuh Sin Liong dapat dirampasnya setelah lebih dulu dia menampar
        punggung wanita iblis itu sehingga tubuh Kiam-mo Cai-li menjadi lemas dan seperti lumpuh! Dengan Sin Liong
        dalam pondongan lengan kirinya, kini Pangeran Han Ti Ong membalik dan menghadapi tujuh orang itu, tidak
        mempedulikan Kiam-mo Cai-li yang mangeluh dan merangkak bangun. "Apakah masih ada diantara kalian yang hendak
        mengganggu anak ini? Sekali ini aku tentu tidak akan bersikap halus lagi!" "Siancai....!" Lam-hai Sian-jin
        menjura, "Harap Ong-ya maafkan pinto yang tidak mengenal Ong-ya sehingga bersikap kurang ajar." "Maafkan aku,
        Pangeran." "Maafkan saya..." Enam orang kakek itu menggumam maaf, hanya Kiam-mo Cai-li saja yang tidak minta
        maaf, bahkan wanita ini berkata, "Pangeran Han Ti Ong, kau tunggu saja, Kiam-mo Cai-li tidak biasa membiarkan
        orang menghina tanpa membalas dendam!" "Hemmm, terserah kepadamu. Aku selalu berada di Pulau Es. Nah, pergilah
        kalian, orang-orang tua yang tak tahu diri, tega mengganggu seorang bocah." Dengan kepala menunduk, tujuh orang
        tokoh kang-ouw yang namanya terkenal itu meninggalkan Hutan Seribu Bunga. Karena mereka mempergunakan
        kepandaiannya, maka hanya nampak bayangan-bayangan mereka berkelebat dan sebentar saja sudah lenyap dari tempat
        itu. "Hemmm...berbahaya..." Han Ti Ong melepaskan Sin Liong dan menghela napas panjang sambil memandang bocah
        itu yang sudah berlutut di depannya. "Locianpwe selain sakti dan budiman juga cerdik sekali..." Sin Liong
        berkata memuji sambil memandang wajah Pangeran itu dengan kagum. Han Ti Ong mengerutkan alisnya. "Hemmm,
        mengapa kau mengatakan demikian, terutama apa artinya kau mengatakan aku cerdik?" "Locianpwe mengalahkan
        mereka, berarti Locianpwe sakti sekali, Locianpwe mengampuni dan membiarkan mereka lolos, berarti Locianpwe
        budiman, dan Locianpwe tadi mencatat gerakan-gerakan mereka dan kemudian mengalahkan mereka dengan ilmu mereka
        sendiri yang sudah Locianpwe catat berarti Locianpwe cerdik sekali." Wajah yang gagah itu berubah, mata yang
        tajam itu memandang heran dan kagum, kemudian dia berkata, "Wah, dalam kecerdikan, belum tentu kelak aku dapat
        melawanmu! Akal dan kecerdikan memang amat perlu untuk mempertahankan hidup di dunia yang penuh bahaya ini.
        Tahukah engkau bahwa tanpa menggunakan akal budi, memanaskan hati mereka dengan mengalahkan mereka dengan ilmu
        mereka sendiri, kalau mereka maju bersama mengeroyokku, belum tentu aku dapat menang! Sekarang kau sudah bebas
        dari bahaya, nah, aku pergi...!" Melihat orang itu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari situ, Sin Liong
        memandang ke arah mayat sebelas orang dusun yang masih menggeletak di situ maka dia berseru, "Locianpwe....".
        Pangeran Han Ti Ong berhenti melangkah dan menoleh. Dia merasa heran sendiri. Tidak biasa baginya untuk
        mentaati perintah orang kecuali suara ayahnya, raja ketiga dari Pulau Es. Akan tetapi, ada sesuatu dalam suara
        bocah itu yang membuat dia mau tidak mau menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan bertanya, "Ada apa lagi?"
        Dengan masih berlutut Sin lIong berkata, "Locianpwe, sudilah kiranya Locianpwe menerima teecu sebagai murid."
        Han Ti Ong kini memutar tubuh dan menghampiri anak yang masih berlutut itu. "Bocah, siapa namamu?" "Teecu She
        Kwa, bernama Sin Liong. Dengan ringkas Sin Liong lalu menuturkan tentang kematian ayah bundanya dan mengapa dia
        melarikan diri dan bersembunyi di hutan itu karena dia ngeri dan muak menyaksikan kekejaman manusia dan merasa
        mendapatkan tempat yang tentram dan damai di tempat itu. "Hemm, kau ingin menjadi muridku hendak mempelajari
        apakah?" "Mempelajari kebijaksanaan yang dimiliki Locianpwe dan tentu saja mempelajari ilmu kesaktian." "Kalau
        kau hanya ingin belajar silat mengapa tadi kau menolak ketika para tokoh menawarkan kepadamu agar menjadi murid
        mereka? Mereka itu adalah tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian hebat." "Namun teecu masih melihat kekerasan di
        balik kepandaian mereka. Teecu kagum kepada Locianpwe bukan hanya karena ilmu kesaktian, terutama sekali karena
        sifat welas asih pada diri Locianpwe." "Tapi kau hendak belajar silat, mau kaupakai untuk apa? Bukankah kau
        lebih dibutuhkan dan berguna berada disini bagi penduduk sekitar Jeng-hoa-san?" "Maaf Locianpwe. Tidak ada
        seujung rambut pun hati teecu untuk mempergunakan ilmu kesaktian dalam tindakan kekerasan. Dan tidak tepat pula
        kalau kepandaian teecu disini berguna bagi para penduduk. Buktinya, teecu hanya bisa mengobati orang sakit, itu
        pun kalau kebetulan jodoh, sedangkan sebelas orang ini, tertimpa bahaya maut sampai mati tanpa teecu dapat
        mencegahnya sama sekali. Andaikata teecu memiliki kepandaian seperti Locianpwe, apakah sebelas orang ini akan
        tewas secara demikian menyedihkan? Teecu kini melihat bahwa menolong orang tidak hanya mengandalkan ilmu
        pengobatan, juga untuk menyelamatkan sesama manusia dari tindasan orang kuat yang jahat, diperlukan kepandaian.
        Mohon Locianpwe sudi memenuhi permintaan teecu." "Aku adalah seorang penghuni Pulau Es. Hidup disana tidaklah
        mudah dan enak, tidak seperti disini. Kau akan mengalami kesukaran, bahkan menderita ditempat yang dingin itu."
        "Kesukaran apa pun akan teecu terima dengan hati rela, karena tiada hasil dapat dicapai tanpa jerih payah,
        Locianpwe." Han Ti Ong tersenyum. Memang dia sudah tertarik sekali melihat bocah yang dijuluki Sin-tong ini.
        Bocah ini sama sekali tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan orang lain yang lemah.
        Selain itu, pandang matanya yang tajam dapat melihat bahwa bocah ini memang benar-benar bocah ajaib, memiliki
        ketajaman otak dan pandangan yang luar biasa, juga memiliki darah dan tulang bersih, bakatnya malah jauh lebih
        besar daripada dia sendiri! Kalau tadinya dia tidak mau menerima bocah ini sebagai murid adalah karena dia
        merasa malu terhadap diri sendiri, karena kalau dia mengambil anak ini sebagai murid lalu apa bedanya antara
        dia dengan tujuh orang yang dihalaunya pergi tadi. Akan tetapi, memang ada bedanya sekarang setelah Sin Liong
        sendiri yang mengajukan permohonan agar diterima menjadi muridnya. "Kalau memang sudah bulat kehendakmu menjadi
        muridku, baiklah, Sin-Liong. Mari kauikut bersamaku, akan tetapi jangan menyesal kelak. Hayo!" Han Ti Ong
        kembali membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi. "Suhu, nanti dulu...!" Pangeran itu mengerutkan
        alisnya. Lagi-lagi dia mendengar pengaruh yang luar biasa di balik suara anak itu yang memaksanya menoleh!
        Dengan suara kesal dia berkata, "Mau apa lagi?" "Maaf, Suhu. Teecu mana bisa meninggalkan sebelas buah mayat
        itu disini begini saja?" "Habis, apa maumu?" "Teecu harus mengubur mereka lebih dulu sebelum pergi." "Kalau aku
        melarangmu?" Teecu tidak percaya bahwa Suhu akan sekejam itu, teecu yakin akan kebaikan budi Suhu. Akan tetapi
        andaikata Suhu benar melarang teecu, terpaksa teecu akan membangkang dan tetap akan mengubur mayatmayat ini."
        Sepasang mata pangeran itu terbelalak penuh keheranan. Anak berusia tujuh tahun sudah berani memiliki pendirian
        seperti batu karang kokohnya. "Murid macam apa kau ini? Belum apa-apa sudah siap membangkang terhadap Guru!"
        "Teecu menjadi murid bukan membuta, dan teecu ingin mempelajari ilmu yang baik. Kalau teecu mentaati saja
        perintah Suhu yang tidak benar, sama saja dengan teecu menyeret Suhu ke dalam kesesatan." Mata Han Ti Ong makin
        terbelalak. Hampir dia marah, akan tetapi dia dapat melihat apa yang tersembunyi di balik ucapan yang kelihatan
        kurang ajar ini dan dia mengangguk-angguk. "Lakukanlah kehendakmu, aku menunggu." "Terima kasih! Teecu memang
        tahu bahwa Suhu seorang sakti yang budiman!" Dengan wajah berseri Sin LIong lalu menggali lubang. Akan tetapi
        karena dia hanya seorang anak kecil dan yang dipergunakan menggali hanyalah sebatang cangkul biasa yang kecil
        pemberian orang-orang dusun dan yang biasa dia pergunakan untuk menggali dan mencari akar obat, maka tentu saja
        menggali sebuah lubang untuk mengubur sebelas buah mayat bukan merupakan pekerjaan ringan dan mudah! Mula-mula
        Han Ti Ong duduk di bawah pohon dan melirik ke arah muridnya itu yang bekerja keras. Disangkanya bahwa tentu
        bocah itu akan kelelahan dan akan beristirahat. Akan tetapi dia kecele. Sin Liong bekerja terus biarpun kaki
        tangannya sudah pegal-pegal semua, dan keringat membasahi seluruh tubuh, menetes dari dahinya dan kadang-kadang
        diusapnya dengan lengan baju. Akan tetapi dia tidak pernah berhenti bekerja. Sudah setengah hari mencangkul,
        baru dapat membuat lubang yang hanya cukup untuk dua buah mayat saja. Kalau dilanjutkan, agaknya untuk dapat
        menggali lubang yang cukup untuk semua mayat, ia harus bekerja selama dua hari dua malam atau lebih! "Hemm,
        hatinya lembut tapi kemauannya keras. Benar-benar bocah ajaib." Han Ti Ong mengomel sendiri dan dia lalu
        bangkit, dirampasnya cangkul dari tangan muridnya dan tanpa berkata apa-apa lagi dia lalu mencangkul.
        Gerakannya amat cepat sekali sehingga Sin Liong yang mundur dan menonton menjadi kabur pandangan matanya karena
        seolah-olah tubuh gurunya berubah menjadi banyak, semuanya mencangkul dan sebentar saja telah terbuat sebuah
        lobang yang amat besar dan yang cukup untuk megubur sebelas buah mayat itu. Tentu saja hati Sin lIong girang
        bukan main dan satu demi satu diangkat, atau lebih tepat diseeretnya mayat-mayat itu, dimasukkan ke dalam
        lubang dan air matanya bercucuran! Han Ti ong membantu muridnya mengguruk atau menutup lubang itu sehingga di
        tempat itu, di depan gua tempat tinggal Sin Liong, terdapat sebuah kuburan yang besar sekali. "Sudahlah, sudah
        mati ditangisipun tidak ada gunanya. Mari kita pergi!" Sin Liong merasa lengannya dipegang oleh gurunya dan di
        lain saat dia harus memejamkan matanya karena tubuhnya telah "terbang" dengan amat cepatnya meninggalkan Gunung
        Jeng-hoa-san, entah kemana! Akan tetapi setelah merasa terbiasa, Sin Liong berani juga membuka matanya dan
        dengan penuh kagum dia melihat bahwa dia dikempit oleh suhunya yang berlari cepat seperti angin saja. Dia
        mengenal pula tempat dimana suhunya melarikan diri yaitu ke sebelah timur Pegunungan Jeng-hoa-san. Tiba-tiba
        dia melihat sesuatu, juga hidungnya mencium sesuatu, maka dia cepat berseru, "Suhu, harap berhenti dulu!" Han
        Ti Ong berhenti. "Ada apa?" "Suhu, disana itu..." Suara Sin Liong tergetar dan ketika Han Ti Ong menoleh, dia
        pun merasa jijik sekali. Yang ditunjuk oleh muridnya itu adalah sekumpulan mayat orang yang sudah menjadi mayat
        rusak dan bekasnya menunjukkan bahwa mayat-mayat itu tentu diganggu oleh binatang-binatang buas sehingga
        berserakan kesana-sini. "Mau apa kau?" Han Ti Ong membentak. "Suhu apakah kita harus mendiamkan saja
        mayat-mayat itu? Mereka adalah bekas-bekas manusia seperti kita juga. Kasihan kalau tidak diurus..." "Wah, kau
        memang gatal-gatal tangan ! Nah, hendak kulihat apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?" Han Ti Ong
        menurunkan Sin Liong dan dia sendiri lalu duduk diatas sebuah batu dari tempat agak jauh. Dia sungguh ingin
        tahu apa yang akan dilakukan muridnya itu terhadap mayat-mayat yang sudah demikian membusuk, bahkan dari tempat
        dia duduk pun tercium baunya yang hampir membuatnya muntah. Dengan langkah lebar Sin Liong menghampiri
        mayat-mayat itu, sedikit pun tidak kelihatan jijik atau segan. Kemudian, diikuti pandang mata Han Ti Ong yang
        terheran-heran bocah itu mulai menggali tanah dengan hanya menggunakan sebatang pisau kecil, pisau yang
        biasanya dipergunakan untuk memotong-motong daun dan akar dan yang agaknya tak pernah terpisah dari saku
        bajunya. Anak itu hendak menggali lubang untuk mengubur dua belas buah mayat busuk itu hanya dengan menggunakan
        sebatang pisau kecil! Hampir saja Han Ti Ong tertawa tergelak saking geli hatinya, juga saking girangnya
        mendapat kenyataan bahwa muridnya ini benar-benar seorang bocah ajaib yang mempunyai pribadi luhur dan wajar
        tanpa dibuat-buat! Dengan kagum dia meloncat bangun, lari menghampiri yang telah menggali lubang beberapa
        sentimeter dalamnya. "Cukup Sin Liong. Lubang itu sudah cukup lebih dari cukup untuk mengubur mereka."
        "Ehhh...? Mana mungkin, Suhu...? "Ha, kau masih meragukan kelihaian suhumu? Lihat baik-baik!" Han Ti Ong lalu
        mengeluarkan sebuah botol dari saku jubahnya, menggunakan ujung sepatunya mencongkel mayat-mayat itu menjadi
        setumpukan barang busuk, dan dia menuangkan benda cair berwarna kuning dari dalam botol ke atas tumpukan mayat.
        Tampak uap mengepul dan tumpukan mayat itu mencair, dalam sekejap mata saja lenyaplah tumpukan mayat itu karena
        semua, berikut tulang-tulangnya, telah mencair dan cairan itu mengalir ke dalam lubang yang tadi digali Sin
        Liong. Benar saja, cairan itu memasuki lubang dan meresap ke tanah, tentu saja lubang itu sudah lebih dari
        cukup untuk menampung cairan itu. Dengan mata terbelalak penuh kagum, Sin Liong lalu menguruk lagi lubang itu
        dan berlutut di depan kaki suhunya, "Suhu, terima kasih atas bantuan Suhu. Suhu sungguh sakti dan budiman."
        "Aahhh....!" Muka Han Ti Ong menjadi merah dan dia mengeluarkan seruan itu untuk menutupi rasa malunya. Mana
        bisa dia disebut budiman kalau mengubur mayat-mayat itu bukan terjadi atas kehendaknya, melainkan dia
        "terpaksa" oleh muridnya? "Kalau aku tidak salah lihat, mereka ini adalah pendekar-pendekar gagah. Sungguh
        kematian yang menyedihkan dan entah siapa yang dapat membunuh mereka. Mereka kelihatan bukan orang-orang
        sembarangan yang mudah dibunuh. Mari kita pergi, Sin Liong!" Kembali murid itu dikempitnya dan Pangeran Sakti
        itu menggunakan ilmu berlari cepat seperti tadi, melanjutkan perjalanan ke timur menuruni Pegunungan
        Jeng-hoa-san. Tak lama kemudian, kembali Sin Liong yang dikempit(dijepit di bawah lengan) berseru, "Haiii Suhu,
        harap berhenti dulu...!" Han Ti Ong menjadi gemas. Akan tetapi dia berhenti juga menurunkan bocah itu dari
        kempitan di bawah ketiaknya. "Mau apa lagi kau? Awas, kalau tidak penting sekali, aku akan marah!" "Lihat
        disana itu, Suhu. Tidak patutkah kita menolong orang yang sengsara itu? Siapa tahu dia juga sudah mati
        disana..." Tanpa menanti jawaban suhunya, Sin Liong sudah lari menghampiri sesosok tubuh yang menggeletak di
        bawah pohon tak jauh dari situ. Tubuh itu tidak bergerak-gerak, akan tetapi dari tempat ia berdiri, Han Ti Ong
        mengerti bahwa orang itu belum tewas, agaknya pingsan atau tertidur saja. Dia tersenyum dan melihat muridnya
        sudha menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu. Betapa kagetnya ketika dia mendengar teriakan muridnya,
        "Eihh, Suhu! Dia seeorang wanita!" Han Ti Ong terheran. Dia lalu meloncat ke arah muridnya dan melihat betapa
        tiba-tiba orang yang disangkanya pingsan itu sudha meloncat bangun dan langsung memukul kepala Sin Liong dengan
        kekuatan dahsyat. "Wuuuttt........... plakkk! Augghhh....!!" Wanita yang mukanya kotor matanya merah dan
        rambutnya awutawutan itu menjerit ketika pukulannya tertangkis oleh lengan Han Ti Ong yang amat kuat. Dia
        terhuyung ke belakang, sejenak memandang Han Ti Ong dan Sin Liong, kemudian menangis tersedu-sedu dan
        bergulingan diatas tanah menangis seperti seorang anak kecil. "Jangan....aughhh, jangan....lepaskan
        aku....lepaskan ...! Jangan bunuh mereka...!" Sin Liong tertegun dan memandang penuh kasihan. Juga Han Ti Ong
        memandang penuh kasihan. Juga Han Ti Ong memandang dengan terharu, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang
        wanita yang berotak miring! "Toanio(Nyonya), kau kenapakah...? Sin Liong melangkah ke depan. Tiba-tiba wanita
        itu meloncat bangun dan Han Ti Ong sudah siap melindungi muridnya yang sama sekali tidak kelihatan takut itu.
        Akan tetapi wanita itu lalu tiba-tiba tertawa terkekeh. "Hi-hi-hi-hikk!" Aneh sekali, ketika wanita itu
        tertawa, Han Ti Ong melihat wajah yang amat cantik manis! Wanita itu adalah seorang gadis muda yang amat
        cantik, akan tetapi yang entah mengapa telah menjadi gila. Pakaian yang dipakainya adalah pakaian pria yang
        terlalu besar, rambutnya yang hitam panjang itu riap-riapan tidak diurus, mukanya kotor terkena debu dan air
        mata, matanya merah dan membengkak. "Hi-hi-hik, kubunuh engkau, Pat-jiu Kai-ong, aku bersumpah akan membunuhmu
        untuk membalas kematian dua belas orang Suhengku!" Kemudian dia menangis lagi. " Hu-hu-huuuuuh.... Cap-sha
        Sin-hiap dari Bu-tong-pai habis terbasmi...." Han Ti Ong terkejut dan teringatlah dia akan nama Tiga Belas
        Orang Pendekar Bu-tong-pai yang amat terkenal sebagai tiga belas orang pendekar gagah perkasa pembela keadilan
        dan kebenaran, teringat pula bahwa mereka terdiri dari dua belas pria dan seorang wanita, kalau tidak salah,
        saudara termuda. "Nona, apakah engkau orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai?" tanyanya sambil
        melangkah maju menghampiri wanita gila itu. "Jangan sentuh aku! Manusia terkutuk, jangan sentuh aku lagi!" Dan
        tiba-tiba wanita itu menyerang dengan hebatnya. Han Ti Ong menangkis dan menotok. Robohlah wanita itu, roboh
        dalam keadaan lemas tak dapat bergerak lagi. "Suhu, mengapa....?" Sin Liong bertanya penasaran. "Bodoh, kalau
        tidak kutotok, tentu dia akan mengamuk terus. Coba kauperiksa dia, apakah kau bisa mengobatinya?" Sin Liong
        berlutut dan melihat wanita itu hanya melotot tanpa mampu bergerak. Setelah memerikasa sebentar, dia menarik
        napas panjang. "Suhu, dia terkena pukulan batin yang amat berat, membuat dia menjadi begini, berubah
        ingatannya. Kalau kita berada di Jeng-hoa-san, kiranya dapat teecu mencarikan daun penenang utnuk
        mengobatinya." "Hemm, kau lihatlah Gurumu mencoba untuk mengobatinya." Han Ti Ong megeluarkan sebatang jarum
        emas dari sakunya, setelah membersihkan ujungnya dia lalu mengahampiri wanita itu dan menusukkan jarum emasnya
        di tiga tempat, di tengkuk kanan kiri dan ubun-ubun! Sin Liong memandang dengan mata terbelalak. Dia sudah
        mendengar dari ayahnya tentang kepandaian orang mengobati dengan tusukan jarum, akan tetapi sekarang dia
        menyaksikannya. Dan wanita itu baru mengeluh lalu tertidur dengan pernapasan yang panjang dan tenang. Ketika
        gurunya mencabut jarum dan menyimpannya, gurunya berkata, "Coba kau periksa lagi matanya, apakah sudah ada
        perubahan?" Sin Liong membuka pelupuk mata dan meihat bahwa mata wanita itu yang tadinya mengeluarkan sinar
        aneh yang liar, kini telah normal kembali. Dia cepat menjatuhkan dirinya berlutut di depan Suhunya. "Suhu,
        teecu seperti buta, tidak tahu bahwa Suhu adalah seorang ahli pengobatan pula." "Hemm, dalam hal mengenal
        tetumbuhan obat, mana aku mampu menandingimu? Akan tetapi aku mempunyai kepandaian menusuk jarum, kepandaian
        turunan yang tentu kelak akan kuajarkan kepadamu." "Suhu, teecu mengajukan sebuah permohonan, harap Suhu tidak
        keberatan." "Hemm, apa lagi?" "Harap Suhu suka menolong wanita malang ini, dan membiarkan dia ikut dengan
        kita." "Kau..............kau gila.......?" "Suhu, dia belum sembuh benar. Kalau dia dibiarkan disini, lalu
        datang orang jahat, bagaimana?" "Ha, kau tidak usah khawatir. Dia adalah orang termuda dari Cap-sha Sin-hiap,
        ilmu kepandaiannya tinggi. Siapa berani mengganggunya?" "Buktinya, dua belas orang suhengnya tewas dan tentu
        mereka itu adalah mayat-mayat yang tadi kita kubur. Agaknya yang membunuh adalah Pat-jiu Kai-ong. Selain itu,
        kalau dia teringat akan peristiwa itu sebelum sembuh benar, tentu dia akan kumat gilanya dan apakah Suhu tega
        membiarkan dia seperti itu?" Han Ti ong memandang wajah wanita yang bukan lain adalah The Kwat Lin itu. Dia
        terheran sendiri mengapa wajah yang kotor dan rambut yang kusut itu mendatangkan rasa iba yang luar biasa di
        hatinya? Mengapa dia merasa tertarik dan ingin sekali menolong wanita muda ini? Apakah dia sudah "Ketularan"
        watak muridnya, ataukah... ataukah...? Dia tidak berani membayangkan. Selama ini hanya isterinya seoranglah
        wanita yang menarik hatinya, yang membangkitkan gairahnya, akan tetapi perempuan gila ini.. entah mengapa,
        telah membuat dia tertarik dan kasihan sekali. "Sudahlah, kau memang cerewet, dan kalau tidak kuturuti, tentu
        kau rewel terus. Biar kita membawa bersama ke Pulau Es, kita lihat saja nanti bagaimana perkembangannya."
        Ucapan terakhir ini seperti ditujukan kepada hatinya sendiri! "Teecu tahu, Suhu adalah seorang yang budiman."
        Dengan hati mengkel karena ucapan muridnya itu seperti ejekan kepadanya karena dia mau menolong dara ini sama
        sekali bukan karena dia budiman, melainkan karena dia kasihan dan terutama sekali... tertarik hatinya, dengan
        kasar dia lalu mengempit tubuh wanita itu di bawah ketiak kanannya, dan menyambar tubuh Sin Liong di bawah
        ketiak kirinya dan larinya Pangeran yang sakti ini secepat terbang menuju ke pantai lautan. Siapakah sebetulnya
        manusia sakti yang ditakuti oleh tujuh orang tokoh kang-ouw itu? Siapakah Pangeran Han Ti Ong yang pada bagiaan
        dada bajunya terdapat lukisan burung Hong dan seekor Naga emas itu? Dia adalah pangeran dari Pulau Es. Pulau
        ini merupakan pulau rahasai yang hanya dikenal orang kang-ouw seperti dalam dongeng karena tidak pernah ada
        orang yang berhasil menemukan pulau itu kecuali beberapa orang nelayan yang perahunya diserang badai dan mereka
        ini ditolong oleh manusia-manusia sakti, manusia yang menjadi penghuni Pulau Es, sebuah pulau dari es dimana
        terdapat istana indah dan merupakan sebuah kerajaan kecil penuh dengan orang sakti. Setelah ditolong dan
        diselamatkan, dan berhasil kembali ke daratan, para nelayan inilah yang membuat cerita seperti dongeng itu
        sehingga nama sebutan Pulau Es terkenal di dunia kang-ouw. Kerajaan di Pulau Es itu dibangun oleh seorang
        pangeran, ratusan tahun yang lalu. Seorang pangeran yang amat sakti, seorang pangeran yang dianggap pemberontak
        karena berani menentang kehendak kaisar, dan pangeran ini bersama keluaraganya menjadi pelariaan. Dengan
        kesaktiannya, dia berhasil melarikan keluarganya ke pantai timur dan menggunakan sebuah perahu utnuk mencari
        tempat baru. Tujuannya adalah ke pulau di timur di mana dahulu sudah banyak orang-orang pandai dari daratan
        yang melarikan diri dan menjadi buronan karena berani menentang pemerintah, yaitu Kepulauan Jepang! Akan tetapi
        dia tersesat jalan, perahunya dilanda badai hebat dan perahunya dibawa jauh ke utara sampai kemudian perahu itu
        mendarat di sebuah pulau. Pulau Es! Melihat pulau itu tersembunyi, baik sekali dijadikan tempat
        persembunyiannya, dan di sekitar situ terdapat pulau-pulau lain yang tanahnya cukup subur, maka pangeran
        pelarian ini mengambi keputusan untuk menjadikan Pulau Es sebagai tempat tinggalnya. Dia lalu mengumpulkan
        orang-orang yang setia kepadanya, membawa mereka ke Pulau Es menjadi pengikut-pengikutnya. Dibangunnya sebuah
        istana yang kecil namun indah di Pulau itu dan berdirilah sebuah kerajaan kecil di tempat terasing ini! Berkat
        kebijaksanaan Raja Pulau Es ini, para pengikutnya dan keluarga raja hidup aman tentram dan penuh kebahagiaan di
        Pulau Es. Para keluarganya hidup rukun dan para pengikutnya membentuk keluarga-keluarga sehingga penghuni pulau
        itu berkembang biak. Karena kesaktian rajanya, dan karena letak pulau itu yang sukar dikunjungi orang luar,
        maka kerajaan kecil ini tidak pernah terganggu. Raja itu mewariskan kepandaiannya kepada keturunannya,
        merupakan ilmu-ilmu warisan yang hebat, dan tentu saja para pengikut mereka mendapat pula pelajaran ilmu yang
        tinggi. Pangeran Han Ti Ong adalah keturunan ke empat dari raja pertama di Pulau Es. Pangeran ini berbeda
        dengan keturunan raja yang sudah-sudah. Kalau semua keturunan raja hidup di Pulau Es dan hanya meninggalkan
        pulau kalau mereka ada keperluan di pulau-pulau kosong sekitar daerah itu untuk mengambil daun obat,
        sayur-sayuran atau berburu binatang, maka Pangeran Han Ti Ong tidak betah tinggal di tempat sunyi itu. Dia
        sering kali pergi dari pulau dan diam-diam dia melakukan perantauan di daratan! Dia adalah orang yang paling
        banyak mewarisi ilmu nenek moyangnya sehingga dia adalah orang terpandai diantara para keluarga raja di Pulau
        Es. Apalagi karena dengan kesukaannya merantau di daratan, dia dapat mengambil banyak ilmu-ilmu silat tinggi
        yang lain dari daratan sehingga kepandaiannya bertambah. Dan gara-gara perantauan Pangeran inilah maka Pulau Es
        menjadi makin terkenal dan nama Pangeran Han Ti Ong sendiri juga menggemparkan dunia kang-ouw sungguhpun dia
        jarang sekali memperkenalkan diri. Melihat bajunya yang terhias gambaran naga dan burung Hong itu saja sudah
        cukup bagi para tokoh kang-ouw untuk mengenal manusia sakti dari Pulau Es ini, seperti peristiwa yang terjadi
        di Hutan Seribu Bunga ketika Pangeran ini menghadapi tujuh orang tokoh besar dunia kang-ouw. Para Pangeran yang
        sudah-sudah, selalu mengambil isteri dari keluarga kerajaan sendiri, yaitu saudara-saudara misan mereka
        sendiri. Hal ini adalah untuk menjaga agar "darah" kerajaan tetap "asli". Akan tetapi, berbeda dengan semua
        kebiasaan para pangeran, Han Ti Ong yang jatuh cinta kepada seorang dara puteri penghuni Pulau Es biasa,
        berkeras mengambil dara itu sebagai isterinya! Padahal biasanya, dara-dara yang berdarah "biasa" ini hanya
        diambil sebagai selir-selir oleh para pangeran dan raja. Akan tetapi, Pangeran Han Ti Ong tidak mau mengambil
        selir dan hanya mempunyai seorang isteri, yaitu anak nelayan yang menjadi pengikut keluarga raja, seorang dara
        biasa saja, namun yang sesungguhnya memiliki kecantikan yang mengatasi kecantikan para puteri raja! Dari isteri
        tercinta ini, Pangeran Han Ti Ong mempunyai seorang puteri yang pada waktu itu berusia enam tahun, seorang anak
        perempuan yang mungil, cantik, keras hati seperti ayahnya dan gembira seperti ibunya. Anak ini diberi nama Han
        Swat Hong(Angin Salju) ini diambil oleh Pangeran Han Ti Ong untuk menamakan puterinya karena ketika puterinya
        terlahir, Pulau Es dilanda angin dan salju yang amat kuat! Pada pagi hari itu Swat Hong, nak perempuan berusia
        enam tahun lebih itu, duduk bengong di tepi pantai Pulau Es. Dia sengaja memilih tempat sunyi yang agak tinggi
        ini untuk melihat jauh ke selatan, dan hatinya penuh rindu terhadap ayahnya yang sudah pergi selama tiga bulan
        itu. "Hong-ji (Anak Hong)..." Swat Hong menoleh dan melihat bahwa yang memanggil tadi adalah ibunya, dia lalu
        meloncat bangun, lari menghampiri ibunya, meloncat dan merangkul leher ibunya dan menangis. Ibunya tertawa.
        :Aih-aihhh... anakku yang biasanya periang tertawa mengapa menangis? Mengapa bulan yang berseri gembira menjadi
        suram? Awan hitam apakah yang menghalanginya?" "Ibu, kau...kau kejam!" "Ihh! Ibumu kejam? Mungkin kalau sedang
        menyembelih ikan atau ayam. Akan tetapi ibumu tidak kejam terhadap manusia." Memang watak Liu Bwee, ibu anak
        itu, atau isteri Pangeran Han Ti Ong adalah lincah gembira yang menurun pula kepada Swat Hong. "Ibu kejam,
        mengapa Ibu tidak berduka? Apakah Ibu tidak rindu kepada Ayah?" Tiba-tiba muka wanita itu menjadi merah sekali
        dan terasa lagi dua titik air mata meloncat turun ke atas pipinya. Melihat ini, Swat Hong melorot turun dan
        bertepuk-tepuk tangan, "Hi-hi, Ibu menangis! Ibu juga rindu kepada Ayah? Hayoh, Ibu sangkal kalau berani!"
        Memang watak anak-anak, begitu melihat orang lain berduka, dia sendiri lupa akan kedukaanya dan merasa
        terhibur! Ibunya berlutut, memeluk dan menciuminya, akan tetapi masih bercucuran air mata. Swat Hong yang
        tadinya berbalik menggoda ibunya yang dianggapnya rindu kepada ayahnya seperti juga dia tadi, kini menjadi
        terheran dan berkhawatir. "Ibu, mengapa ibu berduka? Apa yang terjadi? Apakah diam-diam ibu begitu merindukan
        Ayah dan menyembunyikannya saja?" Liu Bwee memaksa diri tersenyum dan menghapus air matanya, mengangguk-angguk
        sebagai jawaban karena masih sukar baginya untuk mengeluarkan suara tanpa terisak menangis. Akan tetapi
`Pemula Punya Blog

Ditulis Oleh : mansyur syamsudin // 3:32 AM
Kategori:

Ditulis Oleh : mansyur syamsudin ~ PEMULA PUNYA BLOG ~

Artikel BUKEK SIANSU : Seri Ketiga ini diposting oleh mansyur syamsudin Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel BUKEK SIANSU : Seri Ketiga ini.Di Posting Friday, July 27, 2012. Tak Lengkap Rasanya Jika Kunjungan Anda di Blog ini Tanpa Meninggalkan Komentar Untuk Itu Silahkan Berikan Komentar Anda Apa Aja Pada Kotak Komentar Di Bawah. Semoga Artikel BUKEK SIANSU : Seri Ketiga dapat Memberi manfaat untuk Anda ..Trima Kasih.. HAPPY BLOGGING :)

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.