Saturday, July 28, 2012

BUKEK SIANSU : Seri Keenam

BUKEK SIANSU : Seri Keenam -
BUKEK SIANSU : Seri Keenam - Lanjutan Seri Kelima
cinta di dalam hatiku yang kotor, yang ada hanya nafsu berahi sehingga mudah saja aku dipermainkan oleh wanita
        itu. Aihhhh....kalian maafkan aku. Swat Hong, hanya satu pesanku kepadamu, anakku. Kau... kau menjadilah jodoh
        Sin Liong. Jadilah kalian suami istri, baru akan terobati hatiku..." "Suhu...!" "Ayah...!"
        "Muridku....anakku....,maukah kalian melegakan hatiku? Aku ingin menebus kesalahanku... aku ingin melihat
        kalian menjadi suami istri, kalian anak-anak malang..." "Suhu, teecu mohon ampun. Teecu...tidak ada dalam hati
        teecu untuk memikirkan soal jodoh..." "Ayah, mengenai jodoh tidak dapat ditentukan begitu saja. Biarkan kami
        menentukannya sendiri..." Han Ti Ong menarik napas panjang, memejamkan mata sebentar, kemudian bangkit berdiri,
        membalikan tubuh dan berjalan memasuki kamarnya meninggalkan dua orang muda yang masih berlutut itu. Semenjak
        saat itu, sampai berhari-hari lamanya, Raja itu tidak pernah keluar dari kamarnya sehingga membuat gelisah
        semua pembantunya. Keadaan di Pulau Es tidak seperti biasa, semua penghuni dapat merasakan ini. Semenjak
        terjadinya peristiwa yang memalukan dan menyedihkan menimpa keluarga Raja Han Ti Ong, keadaan Pulau Es sunyi
        dan semua wajah para penghuni kelihatan muram. bahkan cuaca juga seolah-olah berubah suram, seringkali malah
        menjadi gelap oleh mendung tebal. Hati semua orang merasa gelisah tanpa mereka ketahui sebabnya, seolah-olah
        merupakan tanda rahasia bahwa akan terjadi hal-hal lebih hebat lagi. Peristiwa yang menyedihkan yang menimpa
        Han Ti Ong bisa menimpa diri setiap orang, dan memang kita sebagai manusia hidup selalu terlupa bahwa mengejar
        kesenangan sama artinya dengan memanggil kesengsaraan! Kita hidup dibuai khayal akan keadaan yang lebih baik,
        lebih menyenangkan dari pada keadaan seperti apa adanya. Kita tidak pernah membuka mata, tidak pernah
        menghayati keadaan saat ini, tidak dapat melihat bahwa saat ini mencakup segala keindahan. Dengan membandingkan
        keadaan kita dengan keadaan lain, kita selalu menganggap bahwa keadaan buruk tidak menyenangkan, dan kita
        selalu memandang jauh kedepan, mencari-cari dan menghayalkan yang tidak ada, keadaan yang kita anggap lebih
        menyenangkan. Karena kebodohan kita inilah maka kita hidup dikejar-kejar oleh kebutuhan setiap saat, detik demi
        detik kita mengejar kebutuhan. Kebutuhan adalah keinginan akan sesuatu yang belum tercapai, yang kita
        kejar-keja. Lupa bahwa kalau yang satu itu dapat tercapai, didepan masih menanti serbu yang lain yang akan
        mejadi keinginan dan kebutuhan kita selanjutnya. Maka, berbahagialah dia yang tidak membutuhkan apa-apa! Bukan
        berarti menolak segala kesenangan, melainkan tidak mengejar apa-apa sehingga kalau ada sesuatu yang datang
        menimpa diri, bukan lagi merupakan kesenangan atau kesusahan, melainkan dihadapi sebagai suatu yang sudah wajar
        dan semestinya sehingga tampaklah keindahan yang murni! Demikian pula keadaan Raja Han Ti Ong. Dia seorang yang
        sakti dan bijaksana namun tiba saatnya dia lengah dan menganggap bahwa dia menemukan kebahagiaan dalan diri The
        Kwat Lin. Padahal yang dia temukan hanyalah kesenangan yang timbul dari kenikmatan badani, dari terpuaskannya
        nafsu. Dia seolah-olah hidup dialam khayal, di alam mimpi. Setelah dia sadar dari mimpi, terasa bahwa yang
        manis menjati pahit bukan main, baru sadar bahwa perubahan dari senang ke susah sama mudahnya dengan membalikan
        telapak tangan! Dan mengalah, suka dan duka hanyalah dwi muka (kedua muka) dari sebuah tangan yang sama! Perahu
        kecil itu terayun-ayun kekanan kiri seperti menari-narikarena tidak dikuasai oleh layar maupun dayung,
        melainkan sepenuhnya dikuasai oleh air laut yang tenang. Dua orang yang duduk diperahu itu seperti dua buah
        arca, diam dan pandang mata mereka melayang jauh ke kaki langit, melayang-layang di permukaan laut seperti
        mencari-cari sesuatu yang hilang. Dan memang fikiran Sin Liong dan Swat Hong, dua orang di perahu itu, sedang
        mencari-cari jawaban pertanyaan hati mereka sendiri. pulau Es hanya kelihatan sebagai sebuah garis mendatar
        putih dekat kaki langit. mereka berangkat pagi-pagi meninggalkan Pulau Es, setelah tiba di tempat jauh yang
        sunyi ini, mereka menggulung layar dan membiarkan perahu mereka dibuai gelombang kecil. Mereka sudah lama
        berdiam diri seperti itu, dibuai oleh lamunan masingmasing, lamunan yang timbul karena keadaan di Pulau Es yang
        menyedihkan. "Suheng..." Suara panggilan Swat Hong ini lirih saja, namun karena sejak tadi mereka tidak
        mendengar suara apa-apa, maka suara panggilan ini seolah-olah mengandung getaran hebat yang memenuhi seluruh
        ruang kesunyian. Sin Liong menoleh dan dia pun seolah-olah baru sadar dari alam mimpi. "Hemmmm...?" jawabannya
        masih ragu-ragu. "Suheng mengajakku meninggalkan pulau dan setelah tiba disini, mengapa suheng tidak lekas
        bicara melainkan melamun saja?" "Aku terpesona akan keindahan alam yang sunyi ini, Sumoi...." "Aku pun tadi
        terseret, Suheng. Akan tetapi melihat batu karang menonjol di depan itu, aku tersadar. Apakah aku akan menjadi
        setua batu karang itu yang kerjanya hanya termenung di tempat sunyi! Suheng, kau tadi bilang bahwa untuk
        membicarakan urusan kita, engkau mengajakku ketengah laut. Mengapa? "Engkau sudah mengerti sendiri. Fitnah yang
        dilontarkan kepada kita, bahwa ada terjadi sesuatu yang rendah di antara kita, membuat aku merasa tidak enak
        kalau mengajak kau bicara berdua saja di tempat sunyi di atas pulau itu. Dapat menimbulkan prasangka yang
        bukan-bukan. Karena itulah maka kuajak kesini, agar kita dapat bicara dengan tenang dari hati ke hati tanpa ada
        yang mendengar dan melihat. Pula, kuharap ditempat yang sunyi ini, yang membuat kita seolah-olah berada di
        dalam alam lain, kita akan menemukan ilham..." Swat Hong tertawa. Timbul kembali kegembiraan dara ini setelah
        dia tidak berada di Pulau Es yang membuat dia selama ini ikut muram dan berduka. "Wah, Suheng! Kadang-kadang
        kau bicara seperti seorang pendeta saja! Apa sih yang akan dibicarakan sampai-sampai kau membutuhkan ilham
        segala?" "Mari kita bicara tentang cinta, Sumoi." Wajah dara muda jelita itu terheran, matanya memandang
        terbelalak dan perlahan-lahan kedua pipinya menjadi agak kemerahan. "Aihh... apa maksudmu, Suheng?" Sin Liong
        menarik napas panjang, dan menyentuh tangan sumoinya. "Perlukah aku menjelaskan lagi? Suhu, Ayahmu sedang
        dilanda duka dan kedukaannya yang terakhir sekali ini adalah menyangkut hubungan antara kita. Suhu menghendaki
        agar kita berjodoh, dan kita secara jujur telah menyatakan tidak setuju akan kehendaknya itu. Dan memang kita
        benar, Sumoi. Perjodohan tidak bisa ditentukan begitu saja, karena perjodohan merupakan hal gawat bagi
        seseorang, akan melekat selama hidupnya. Akan tetapi bagaimana kita tahu kalau hal ini tidak kita bicarakan
        secara terus terang? Maka, agar kita dapat mengambil keputusan yang tepat tentang kehendak Suhuini, marilah
        kita bicara tentang cinta!" "Hemm, bicaralah. Aku tidak tahu apa-apa," Kata Swat Hong yang tentu saja merasa
        malu untuk bicara tentang hal yang asing baginya itu. "Swat Hong, apakah kau cinta kepadaku?" Dara itu makin
        merah mukanya. Tak disangkanya bahwa suhengnya akan bertanya secara langsung seperti itu sehingga dia merasa
        seperti diserang dengan tusukan pedang yang amat dhasyat! Dia mengangkat muka memandang suhengnya dengan
        bingung. "Aku...aku...ah, aku tidak tahu..." dan dia menundukan mukanya. "Sumoi, sudah sering aku melihat
        sikapmu yang aneh. Engkau marah-marah ketika kita berada di Pulau Neraka. Engkau cemburu melihat Soan Cu
        berbuat baik kepadaku, dan kau tidak senang melihat Kongkongnya hendak menjodohkan Soan Cu dengan aku. Sumoi,
        aku tidak tahu apa cemburu itu tandanya cinta? Akan tetapi, jawablah demi pemecahan persoalan yang kita hadapi
        ini. Cintakah kau kepadaku?" Disinggung-singgung tentang sikapnya di Pulau Neraka yang jelas menadakan rasa
        cemburunya, Swat Hong menjadi makin malu. Dicobanya untuk menjawab, akan tetapi begitu dia bertemu pandang
        dengan suhengnya, dia menjadi makin malu dan ditutupinya mukanya dengan kedua tangan, kepalanya
        digeleng-gelengkan dan dia berkata, "Aku tidak tahu...aku tidak tahu... kau saja yang bicara, Suheng. Kau saja
        yang menjawab apakah kau cinta padaku atau tidak!" Dan kini dia menurunkan kedua tangannya, sepasang matanya
        yang bening itu kini dengan penuh selidik menatap wajah Sin Liong! Sin Liong menarik napas panjang. "Itulah
        yang membingungkan hatiku selama ini,Sumoi. Mau bilang tidak mencintaimu, buktinya aku suka kepadamu. Akan
        tetapi untuk menyatakan bahwa aku cinta padamu, sulit pula karena aku sendiri tidak tahu bagaimana sesungguhnya
        cinta itu. Apakah seperti cintanya suhu terhadap ibumu yang berakhir dengan peristiwa menyedihkan itu? ataukah
        seperti cintanya Ibumu kepada Suhu? Ataukah seperti cintanya The Kwat Lin dan suhu? Hemm, mengapa semua cinta
        itu demikian palsu dan mengakibatkan hal yang amat menyedihkan? Aku menjadi ngeri melihat cinta macam itu,
        Sumoi." Swat Hong memandang heran. "Ahhh, aku tidak pernah memikirkan cinta seperti yang kau kemukakan ini,
        suheng." "Mudah saja. Lihat saja apa yang terjadi antara Suhu, Ibumu, dan The Kwat Lin. Seperti itukah cinta?
        Hanya mendatangkan cemburu, kemarahan, kebencian, dan permusuhan hebat. Apakah itu cinta? Kalau seperti itu,
        aku ngeri dan aku tidak berani berlancang mulut menyatakan cinta kepada siapapun, Sumoi. Karena, kalau hanya
        seperti itu akibatnya, maka cinta yang kunyatakan hanyalah merupakan kembang bibir elaka, hanya cinta palsu
        belaka. Bayangkan saja, Sumoi. Di antara kita berdua, sejak kecil sampai sekarang menjelang dewasa, tidak
        pernah ada pertentangan dan tidak pernah ada urusan apa-apa. Akan tetapi, setelah kita berdua mengaku cinta,
        lalu timbul soal-soal ceburu, kecewa dan lain-lain. Apalagi setelah menjadi suami istri...hemm, betapa
        mengerikan kalau melihat contoh yang kita saksikan di Pulau Es ini." Swat Hong menunduk dan tak mampu menjawab.
        Persoalan yang diajukan oleh Sin Liong itu terlampau berat baginya, sulit untuk dimengerti. Baginya, sebagai
        seorang wanita, dia haus akan cinta kasih, akan perhatian, akan pemanjaan dari seorang pria yang menyenangkan
        hatinya, seperti suhengnya ini. Akan tetapi, setelah mendengar uraian Sin Liong tentang cinta yang diambilnya
        peristiwa di Pulau Es sebagai contoh, dia pun ngeri dan tidak berani menyatakan perasaanya itu. "Aku tidak
        tahu, Suheng.., aku tidak mengerti. Terserah kepadamu sajalah..." Sin Liong kembali menarik napas panjang. Dia
        memang sudah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa dia harus membalas budi kebaikan suhunya yang sudah
        berlimpah-limpah diberikan kepadanya. Satu-satunya jalan untuk membalas budi hanya dengan menyenangkan hati
        suhunya yang sedang berduka itu. Dia harus menerima keputusan suhunya, yaitu menerima menjadi jodoh Swat Hong!
        Akan tetapi dia tidak boleh membuat dara itu menderita dengan keputusannya ini, maka dia harus tahu terlebih
        dahulu bagaimana pendirian Swat Hong. Dan sekarang, dara itu sama sekali tidak berani mengaku tentang cinta.
        "Sumoi, sekarang begini saja. Andai kata aku memenuhi permintaan suhu, yaitu mau menerima ikatan jodoh
        denganmu, menjadi calon suamimu, bagaimana dengan pendapatmu?" Swat Hong menunduk dan menggigit bibirnya.
        Akhirnya dia dapat berbisik. "Aku tidak tahu, terserah kepadamu dan kepada ayah..." "Maksudku, apakah engkau
        merasa terpaksa? Apakah hal ini menyenangkan hatimu? Sumoi, harap kau suka berterus terang. Kalau kau, seperti
        aku, tidak bisa mengaku cinta begitu saja, setidaknya kukatakan apakah ikatan jodoh ini tidak menimbulkan
        penyesalan bagimu?" Swat Hong tidak menjawab, hanya menggeleng kepala. "Kalau begitu, andaikata aku menerima,
        engkau pun akan menerimanya dengan senang hati?" Swat Hong mengangguk! "Kalau begitu, mari kita pergi menghadap
        Ayahmu. Aku akan menerima permintaannya, karena betapapun juga, kita harus menghiburnya, menyenangkan hatinya.
        Aku telah berhutang banyak budi dari suhu, maka kalau dengan penerimaan ini aku dapat sekedar membalas budinya,
        aku akan merasa senang." Sin Liong mengambil dayung perahu itu dan menggerakan dayung. "Suheng, kau menerima
        karena kasihan kepada Ayah? jadi kau...kau tidak cinta kepadaku?" "Sumoi aku tidak berani berlancang mulut
        mengaku cinta. Aku telah banyak menyaksikan cinta kasih yang kuragukan kemurniannya. Aku khawatir bahwa sekali
        cinta diucapkan dengan mulut, maka itu bukanlah cinta lagi. Aku tidak tahu, apakah cinta itu sesungguhnya, maka
        aku tidak berani lancang mengaku, Sumoi..." "Ahhh...!!" Jeritan Swat Hong ini adalah campuran dari rasa kecewa
        dan juga kekangetan hebat, matanya terbelalak memandang kedepan. Melihat wajah Sumoinya, Sin Liong cepat
        menengok dan pada saat itu terdengar ledakan dahsyat dibarengi dibarengi dengan cahaya kilat yang seolah-olah
        membakar dunia. Tampak oleh Sin Liong yang terbelalak memandang itu air muncrat tinggi sekali disusul asap dan
        api, muncul dari permukaan laut antara perahunya dan Pulau Es. Kedua orang muda yang terbelalak dengan muka
        pucat itu tidak berkesempatan untuk terheran lebih lama lagi karena tiba-tiba karena perahu mereka dilontarkan
        keatas, dalam saat lain perahu itu telah dipermainkan oleh gelombang yang mendahsyat dan menggunung. Suara
        mengguruh memenuhi telinga mereka dan keheningan yang baru saja mencekam lautan itu kini terisi dengan
        kebisingan yang sukar dilukiskan. Sin Liong berteriak, "Sumoi, bantu aku! Jangan sampai perahu terguling!"
        keduanya mengerahkan tenaga, menggunakan dayungnya untuk mengatur keseimbangan perahu. Namun, kekuatan
        gelombang air laut yang amat dahsyat itu mana dapat ditahan oleh tenaga manusia, biarpun kedua orang pemuda itu
        adalah tokoh-tokoh Pulau Es sekalipun? Perahu mereka menjadi permainan gelombang, dilontarkan tinggi ke atas,
        disambut dan diseret kebawah, seolah-olah tangan malaikat maut atau ekor naga laut yang menyeret perahu ke
        dasar laut, akan tetapi tiba-tiba dihayun lagi keatas, ditarik ke kanan, didorong kekiri sehingga kedua orang
        murid Raja Han Ti Ong itu menjadi pening dan setengah pingsan! Mereka tidak ingat akan waktu lagi, tidak tahu
        berapa lama mereka diombang-ambingkan air laut, tidak tahu lagi berapa jauh mereka terbawa ombak, dan mereka
        tidak sempat menggunakan pikiran lagi. Yang ada hanya naluri untuk menyelamatkan diri, menjaga sekuat tenaga
        agar perahu mereka tidak sampai terguling dan tangan mereka tidak sampai terlepas memegangi pinggiran perahu.
        Dengan tangan kanan memegang pinggiran perahu, tangan kiri Sin Liong memegang lengan kanan sumoinya. Betapapun
        juga, dia tidak akan melepaskan sumoinya! Swat Hong yang biasanya tabah dan tidak mengenal takut itu, sekali
        ini menangis dengan muka pucat dan mata terbelalak. Terlampau hebat keganasan air laut baginya, terlampau
        mengerikan melihat gelombang setinggi gunung yang seolah-olah setiap saat hendak mencengkram dan menelannya
        itu! Tiba-tiba Swat Hong menjerit. Segulung ombak besar datang dan menelan perahu itu. Mereka gelagapan karena
        ditelan air, kemudian mereka merasa betapa perahu mereka dilambungkan ke atas. "Brukkk...!" Keduanya terpental
        keluar, akan tetapi masih saling bergandeng tangan. Cepat Sin Liong menyapu mukanya agar kedua matanya dapat
        memandang. Ternyata perahu mereka telah dilontarkan ke sebuah pulau kecil yang penuh batu karang, sebuah pulau
        yang menjulang tinggi akan tetapi hanya kecilkecil sekali, merupakan sebuah batu karang besar yang menonjol
        tinggi. "Sumoi, lekas..., kita naik ke sana...!!" Sin Liong tidak mempedulikan tubuhnya yang terasa sakit
        semua, membantu sumoinya merangkak bangun. Pipi kanan dan lengan kiri Swat Hong berdarah, akan tetapi gadis itu
        pun agaknya tidak merasakan semua ini, tersaruk-saruk dia dibantu suhengnya merangkak dan menyeret perahu ke
        atas, kemudian mereka melanjutkan pendakian ke atas puncak batu karang itu dengan susah payah. Akhirnya mereka
        tiba di puncak batu karang dan apa yang tampak oleh mereka dari tempat tinggi ini benar-benar menggetarkan
        jantung. Air di sekeliling mereka. Air yang menggila, bergerak berputaran, gelombang yang dahsyat menggunung,
        suara yang gemuruh seolah-olah semua iblis dari neraka bangkit. Batu karang besar , atau lebih tepat disebut
        pulau kecil dari batu itu tergetar-getar, seolah-olah menggigil ketakutan menghadapi kedahsyatan badai yang
        mengamuk. Tidak tampak apa-apa pula selain air, air dan kegelapan, kadang-kadang diseling cahaya menyambar dari
        atas, seperti lidah api seekor naga yang bernyala-nyala, "Ouhhhh..!" Swat Hong menangis dan cepat dipeluk oleh
        suhengnya. Tubuh dara itu menggigil, pakaiannya robek-robek. "Tenanglah... tenanglah, Sumoi...." Sin Liong
        berbisik dan pemuda ini mengerti bahwa bukan hanya sumoinya yang disuruhnya tenang, melainkan hatinya sendiri
        juga! Pengalaman ini sungguh dahsyat dan tidak mungkin dapat terlupa selama hidupnya. Kebesaran dan kekuasan
        alam nampak nyata. membuat dia merasa kecil tak berarti, kosong dan remeh sekali! Sin Liong dan Swat Hong yang
        dipeluknya tidak tahu lagi berapa lamanya mereka berada di tempat itu. Siang malam tiada bedanya, yang tampak
        hanya kegelapan, air, dan kadang-kadang kilatan cahaya halilintar. Yang terdengar hanyalah gemuruh air, angin
        menderu, dan kadang-kadang ledakan halilintar. Tidak memikirkan dan merasakan apa-apa, yang ada hanya takjub
        dan ngeri! Di luar tahunya dua orang itu, mereka telah berada di pulau batu karang selama sehari semalam!
        Akhirnya badai mereda, badai yang ditimbulkan oleh ledakan gunung berapi di bawah laut! Kegelapan mulai
        menipis, akhirnya tampak kabut putih bergerak perlahan meninggalkan tempat itu, air mulai tenang dan menurun,
        akhirnya tampaklah sinar matahari disusul oleh bola api itu sendiri setelah kabut terusir pergi. Tampaklah
        lautan luas terbentang di bawah dan baru sekarang ternyata oleh dua orang muda itu bahwa mereka duduk dipuncak
        batu karang yang amat tinggi! Swat Hong mengeluh, baru terasa betapa penat tubuhnya, betapa luka-luka kecil
        dari kulitnya yang lecet-lecet, dan betapa haus dan lapar leher dan perut! "Sumoi, badai sudah mereda. Mari
        kita turun. Aihh, itu perahu kita. Untung tidak pecah," kata Sin Liong dan dia menggandeng tangan sumoinya,
        menuruni batu karang. Perahu mereka tidak pecah, akan tetapi layar dan dayungnya lenyap. Sin Liong mengangkat
        perahu itu, membawanya turun kebawah. "Mari kita lekas pulang, Sumoi. Biar kudayung dengan kedua tangan." Swat
        Hong duduk didalam perahu, mengeluh lagi dan berkata penuk kegelisahan, "Bagaimana dengan Pulau Es? Badai
        mengamuk demikian hebatnya, Suheng." Aku tidak tahu, mudah-mudahan mereka selamat. Maka, kita harus cepat
        pulang." dia lalu menggunakan kedua tangannya yang kuat sebagai dayung. Perahu bergerak, meluncur di atas air
        yang tenang dan licin seperti kaca, sama sekali tidak ada tanda-tanda di permukaan air bahwa air itu telah
        mengamuk sedemikian hebatnya baru-baru ini. Tak lama kemudian Sin Liong medapatkan dayung yang dipatahkan dari
        batang pohon yang hanyut di air. Agaknya pulau-pulau kecil disekita tempat itu telah diamuk badai sedemikian
        hebatnya sehingga pohon-pohon tumbang dan terbawa air. Setelah keadaan cuaca terang kembali, Sin Liong dapat
        menentukan arah perahu dan tak lama kemudian tampaklah Pulau Es dari jauh. Kelihatannya masih seperti biasa,
        sebuah pualu keputihan memanjang di kaki langit, berkilaun tertimpa sinar matahari. Hati mereka lega. Dari jauh
        kelihatannya tidak terjadi perubahan di pulau itu. Setelah agak dekat, mereka melihat pula puncak atap istana
        di Pulau Es, maka legalah hati mereka. Hati Sin Liong mulai berdebar tegang ketika perahunya sudah menepel di
        Pulau Es. Keadaannya begitu sunyi. Sunyi dan mati! Tidak kelihatan seorang pun di pantai, bahkan tidak tampak
        sebuah perahu pun. Dan bukit-bukit es tidak seperti biasanya, kacau balau tidak karuan dan berubah bentuknya!
        Dengan hati tidak enak kedua orang muda itu belari-lari ketengah pulau. Makin ke tengah, makin pucat wajah
        mereka. Tidak ada seorang pun kelihatan, dan juga pondok-pondok yang biasanya terdapat di sana-sini, sekarang
        habis sama sekali. Tidak ada sebuah pun pondok yang tampak! Seolah-olah semua telah disapu bersih, tersapu
        bersih dari pulau itu. "Auhhhh...!" Swat Hong berdiri dengan muka pucat, kedua kakinya menggigil. "Mari kita ke
        istana, Sumoi!" Sin Liong yang berkata dengan suara bergetar lalu menyambar lengan sumoinya dan diajaknya dara
        itu lari ke dalam istana. Beberapa kali terdengar Swat Hong mengeluarkan seruan tertahan, dan Sin Liong juga
        kaget bukan main. Mereka seperti memasuki sebuah kuburan! Sunyi, kosong, dan tidak ada bekas-bekasnya tempat
        itu didiami manusia! Habis sama sekali, baik prabot-prabotan istana maupun manusia-manusianya! Tidak tertinggal
        sepotong pun benda atau seorang pun manusia. Habis semua! Ke mana pun mereka lari dan berteriak-teriak
        memanggil, yang terdengar hanya gema suara mereka sendiri! "Oughhh...!!" Swat Hong tidak menahan himpitan
        perasaan yang ngeri dan berduka, tubuhnya tergelimpang dan tentu akan terbanting kalau tidak cepat disambar
        oleh Sin Liong. "Sumoi...!" Akan tetapi suara ini kandas dikerongkongannya dan tanpa disadari pula, kedua pipi
        Sin Liong basah oleh air matanya yang mengalir deras menuruni kanan kiri hidungnya ketika dia memondong tubuh
        sumoinya yang pingsan itu ke dalam kamar. Akan tetapi dia termangu-mangu ketika tiba di ambang pintu kamar yang
        terbuka, karena kamar itu pun kosong dan bersih, tidak ada sebuah atau sepotong pun prabotannya. terpaksa dia
        merebahkan tubuh sumoinya di atas lantai, dan dia sendiri merebahkan kepala diatas kedua lututnya sambil
        menangis. terlampau hebat peristiwa yang dihadapinya. Pulau Es telah disapu bersih oleh badai! Bersih sama
        sekali sehingga agaknya tidak ada seorang pun manusia yang tertolong, tidak ada sepotong pun barangnya yang
        tinggal, kecuali bangunan istana yang memang amat kuat itu. Setelah siuman, Swat Hong menangis, "Aih,
        mengapa..? Mengapa...? ayah, kasihan sekali Ayah...!" Akhirnya Sin Liong dapat menghibur dan membujuknya.
        Mereka berdua lalu mengadakan pemeriksaan dan mendapat kenyataan bahwa benar-benar Pulau Es telah diamuk badai.
        Agaknya air laut telah naik sedemikian tinggi sehingga pulau itu teredam air. Mereka menemukan beberapa potong
        pakaian yang tersangkut di batu-batu dan dengan hati terharu penuh kedukaan mereka mengumpulkan pakaian itu,
        entah punya siapa, sebagai barang peninggalan yang amat berharga. Kemudian mereka memeriksa istana. Memang ada
        beberapa benda yang masih tertinggal di dalam kamar di bawah tanah, akan tetapi yang berada di atas, semua
        habis dan lenyap. "Suheng, lihat ini...!" tiba-tiba Swat Hong berkata sambil menunjuk ke dinding. Sin Liong
        cepat menghampiri dan keduanya mengenal goresan tangan Han Ti Ong yang agaknya menggunakan jari tangan yang
        penuh tenaga sinkang untuk menulis di dinding batu itu! "Sin Liong dan Swat Hong, maafkan aku. Thian telah
        menghukum aku dan membasmi Pulau Es. Pergilah kalian mencari wanita jahat itu, rampas kembali semua pusaka. Dan
        Bu Ong bukanlah puteraku, dia keturunan Ki-ong." Pendek saja "surat dinding" itu, namun cukup jelas isinya. Sin
        Liong menarik napas panjang. Kasihan dia kepada suhunya yang mati meninggalkan dendam itu! "Suheng lihat
        ini..." Tak jauh dari tulisan itu terdapat bekas jari-jari tangan mencengkram dinding. Mudah saja mereka
        menggambarkan keadaan Han Ti Ong dan keduanya tak dapat menahan tangis mereka. Agaknya, dalam menghadapi amukan
        badai, Han Ti Ong berhasil menggunakan tenaganya untuk mempertahankan diri beberapa lamanya dengan mencengkram
        dinding dan sempat pula membuat tulisan itu sebelum kekuatan yang jauh lebih besar dari pada kekuatanya
        menyeret keluar dari istana dan bahkan dari pulau itu! "Kasihan sekali suhu..." Sin Liong menghapus air
        matanya. Swat Hong mengepal tinjunya. "Aku akan mencari perempuan iblis itu, selain merampas kembali pusaka
        Pulau Es,juga menghukumnya! Dialah yang mencelakakan ibuku, yang mencelakakan Ayahku!" Sin Liong menarik napas
        panjang. Sudah diduganya ini. Tentu akan terjadi balas-membalas. Dendam tak kunjung habis! "Sumoi, Suhu hanya
        meninggalkan pesan agar kita mencari kembali pusaka-pusaka itu...." "Kau yang mencari pusaka, aku yang membunuh
        iblis betina itu!" Swat Hong berseru penuh semangat. "Dan Bu Ong... hemm,apa pula artinya ini? Bukan putera
        ayah?" "Sumoi, tenanglah dan dengarlah penuturanku. Mungkin hanya aku dan ayahmu saja yang tahu akan nasib
        wanita itu, nasib yang amat buruk dan mengerikan. Tahukah kau apa yang telah dialami oleh The Kwat Lin sebelum
        ditolong ayahmu?" Sin Liong lalu menceritakan keadaan The Kwat Lin yang menjadi gila karena dua belas orang
        suhengnya dibunuh orang dan agaknya, melihat keadaannya, gadis yang tadinya seorang pendekar wanita perkasa itu
        telah diperkosa di antara mayat para suhengnya. "Kurasa demikianlah kejadiannya. Setelah suhu menyatakan bahwa
        Bu Ong adalah keturunan Kai-ong, teringatlah aku. Jelas bahwa The Kwat Lin diperkosa oleh pembunuh dua belas
        orang anak murid Bu-tongpai itu, sehingga anak yang dilahirkannya itu, Han Bu Ong, adalah keturunan Kai-ong
        yang memperkosanya dan membunuh para suhengnya." Mendengar penuturan tentang nasib mengerikan yang dialami ibu
        tirinya, Swat Hong bergidik. Akan tetapi dia mengomel. "Yang berbuat jahat kepadanya adalah Raja Pengemis itu,
        mengapa dia membalasnya kepada ibu? Dan dia telah menghancurkan penghidupan Ayah. Betapapun juga, aku harus
        mencarinya dan membalaskan sakit hati ibu dan Ayah." Sin Liong maklum bahwa membantah kehendak sumoinya ini
        percuma, hanya akan menimbulkan pertentangan saja. Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk selalu
        mendamping sumoinya, selain menjaga keselamatan dara ini, juga kalau perlu mencegah sepak terjangnya yang
        terdorong oleh nafsu dan dendam. Betapapun juga, setelah Pulau Es dibasmi oleh badai, dara ini kehilangan ayah
        bunda, tiada sanak kadang, tiada handai taulan dan dialah satu-satunya orang yang patut melindunginya, sebagai
        suhengnya. Ataukah sebagai calon suami? Sin Liong tidak mengerti dan tidak berani memutuskan. Biarlah hal
        perjodohan itu diserahkan kepada keadaan kelak. Dia tidak membantah ketika sumoinya mengajaknya meninggalkan
        Pulau Es yang telah kosong itu, untuk mencari ibunya, dan kalalu masih juga tidak berhasil, untuk pergi ke
        daratan besar mencari The Kwat Lin. Beberapa hari kemudian, setelah yakin benar bahwa tidak ada seorang pun di
        antara penghuni Pulau Es yang selamat dan kembali ke pulau itu, Sin Liong dan Swat Hong berangkat meninggalkan
        Pulau Es. Ketika perahu kecil yang mereka dayung itu meluncur meninggalkan pulau, Swat Hong memandang kearah
        pulau dengan air mata bercucuran. Juga Sin Liong merasa terharu dan berduka mengingat akan nasib para penghuni
        Pulau Es yang mengerikan itu. Mereka berdua mendayung perahu menuju ke selatan dan di sepanjang perjalanan ini
        mereka menemukan bukti-bukti kedahsyatan badai dan keanehan alam yang diakibatkan oleh letusan gunung berapi di
        bawah laut itu. Ada pulau yang lenyap sama sekali , dan ada pula pulau yang baru muncul begitu saja, pulau yang
        amat aneh, pulau batu karang yang masih jelas kelihatan bahwa pulau ini tadinya merupakan dasar laut dengan
        segala keindahannya, dengan mahluk hidup dan tetumbuhannya yang kini semua mengeras menjadi batu karang dengan
        bermacam bentuk. Banyak pulau yang mengalami nasib serupa dengan pulau Es, yaitu menjadi gundul, habis sama
        sekali tetumbuhan atasnya. diam-diam terbayang dalam pikiran Sin Liong betapa dahsyat kekuasan alam. Andaikata
        semua lautan yang mengamuk seperti beberapa hari yang lalu itu, agaknya dunia akan menjadi kiamat! Melihat
        keadaan pulau-pulau itu, timbul rasa khawatir dalam hati Sin Liong tentang keadaan Pulau Neraka. Tentu pulau
        itu pun tidak terluput dari amukan badai, pikirnya. Padahal baru saja pulau itu mengalami penyerbuan Han Ti Ong
        dan pasukannya! Sin Liong merasa kasihan sekali terhadap nasib para penghuni Pulau Neraka. Apakah pulau itu
        seperti juga Pulau Es, disapu bersih dan seluruh penghuninya terbasmi habis? "Agaknya ibumu tidak berada
        diantara pulau-pulau ini," Beberapa hari kemudian setelah merasa mencari dengan sia-sia, Sin Liong mengemukakan
        pendapat. "Bagaimana kalau kita mencari ke utara lagi. Siapa tahu kali ini kita berhasil, dan kita dapat juga
        bertanya ke Pulau Neraka kalau-kalau ibumu ke sana." "Hemm, agaknya engkau sudah rindu kepada Soan Cu, suheng."
        Sian Liong mengerutkan alisnya. "sumoi, kau...cemburu lagi?" Wajah dara itu menjadi merah. "Aku hanya berkata
        sewajarnya." "Sudahlah. Kalau kau cemburu, kita tidak usah singgah di Pulau Neraka," kata Sin Liong menarik
        napas panjang. Hening sejenak dan mereka telah menghentikan gerakan dayung karena mereka masih belum mendapat
        keputusan akan mencari ke mana. "Kita ke Pulau Neraka!" tiba-tiba Swat Hong berkata. "Ehhh...??" "Aku harus ke
        sana. Aku akan menegur kakek berkepala besar itu! Pulau Neraka yang menjadi biangkeladi sehingga Ayah
        marah-marah kepada kita, hampir saja kita dibunuhnya. Karena Pulau Neraka telah berani menawanku." "Hemm,
        Sumoi. Mengapa kejadian yang telah lewat dipersoalkan lagi? Bukankah Ayamu telah menyerbu ke sana kurasa Ayahmu
        telah menghukum mereka menurut cerita anak buah pasukan? Kalau begitu, kita tidak perlu pergi ke sana, sumoi."
        "Aku harus pergi ke sana!" dara itu berkeras. Sin Liong menggeleng-geleng kepala. Sukar benar melayani sumoinya
        ini yang memiliki watak aneh dan hati yang keras sepeti baja. "Aku hanya mau pergi ke Pulau Neraka kalau untuk
        mencari ibu, akan tetapi kalau kita pergi ke sana hanya untuk mencari perkara, aku tidak mau. Kau harus
        berjanji tidak akan membuat kekacauan di sana, sumoi." "Hemmm, agaknya kau berkeinginan keras untuk menjadi
        sahabat baik Pulau Neraka, ya? Karena ada...." "Sumoi, harap jangan bicara yang tidak-tidak. Memang kita
        sahabat baik mereka! Lupakah kau ketika mereka mengantar kita ketika meninggalkan pulau itu? Karena itu, aku
        hanya mau pergi ke sana kalau untuk mencari ibumu dan menjenguk mereka sebagai sahabat, melihat keadaan mereka
        setelah ada badai mengamuk." Swat Hong cemberut, akan tetapi menjawab juga. "Baiklah, kita lihat saja nanti."
        Dan mereka lalu mendayung perahu dengan cepat menuju ke Pulau Neraka. Akan tetapi, setelah mereka tiba di
        daerah Pulau Neraka, mereka menjadi bingung dan pangling karena didaerah itu telah terjadi perubahan hebat
        sekali. Mungkin karena akibat badai yang mengamuk, yang ternyata mengambil daerah yang amat luas itu, di
        sekitar situ telah muncul gunung-gunung es yang anat besar sehingga Pulau Neraka yang biasanya tampak dari jauh
        sebagai raksasa yang tidur itu kini tidak kelihatan lagi karena semua jurusan terhalang pandangannya oleh
        gunung-gunung es. Mereka mendayung perahu berputar namun tidak dapat keluar dari kurungan gunung-gunung es itu.
        "Ahhh, dahulu tidak ada gunung-gunung es besar seperti ini," kata Swat Hong. "Ini tentu diakibatkan oleh badai
        itu, Sumoi. Biarlah kita mengaso dulu dan aku akan mencoba melihat keadaan dari puncak sebuah gunung. Kau
        tunggu saja di sini."Perahu itu menempel pada sebuah bukit es yang tinggi dan Sin Liong meloncat ke daratan es.
        Kemudian dia menggunakan ilmunya berlari cepat, mendaki gunung es itu untuk melihat dan mengenali daerah itu
        dari atas puncaknya yang tinggi. Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras sekali yang mengguncangkan seluruh
        gunung es itu. Sin Liong terkejut dan dengan cepat dia menoleh untuk melihat apa yang mengeluarkan suara
        seperti itu. Dari jauh tampak olehnya seekor beruang besar sedang menggerakkan kedua kaki depanya ke arah
        burung-burung yang menyambar-nyambar di atasnya. Burung-burung nazar (burung botak pemakan bangkai) yang
        besarbesar beterbangan di atas biruang itu dan menyerangnya dari atas sambil mengeluarkan suara pekik
        mengerikan. Melihat ini, Sin Liong cepat berlari mendekati. Ternyata beruang itu terluka parah juga di beberapa
        bagian anggauta badannya, sedangkan di bawah kakinya tampak bangkai seekor ular laut yang besar. Jelaslah bahwa
        biruang itu tadi berkelahi dengan ular laut itu dan dia menang, akan tetapi dia menderita luka-luka dan
        burung-burung nazar yang kelaparan itu kini hedak mengeroyoknya dan tentu saja ingin makan bangkai ular besar.
        Sin Liong segera menggunakan salju yang digenggam untuk menyambiti burung-burung itu. Terdengar suara
        plak-plok-plak-plok disusul suara burung-burung nazar berkaok-kaok kesakitan dan mereka terbang ketakutan
        menjauhi tempat itu karena setiap kali terkena sambitan salju, terasa nyeri sekali. Dengan beberapa loncatan
        saja Sin Liong sudah tiba di depan biruang itu. Beruang yang berkulit hitam dan amat besar itu menyeringai dan
        mengerang, memperlihatkan gigi bertaring yang amat runcing kuat dan lidah yang merah. Matanya terbelalak penuh
        kecurigaan dan kemarahan kepada Sin Liong. "Tenanglah, aku datang untuk menolongmu," kata Sin Liong sambil maju
        lebih dekat. "Auuughh..!" Beruang itu menggerang dan kaki depan yang kiri menyambar kearah dada Sin Liong.
        Melihat betapa telapak kaki itu berdarah, Sin Liong mengelak dan cepat menangkap pergelangan kaki depan itu.
        Kiranya telapak kaki itu tertusuk tulang dan masuk amat dalam. Agaknya dalam perkelahian melawan ular laut,
        beruang itu mencengkram tubuh ular dan sedemikian kuatnya dia mencengkeram sampai tulang punggung ular patah
        dan menusuk ke dalam daging di telapak kaki depan itu, Sin Liong segera mencabut tulang itu. Darah mengucur
        deras dan dia segera membalut dengan saputangannya. Beruang itu kini tidak marah lagi. Agaknya dia cerdik dan
        dapat mengerti bahwa orang yang datang ini bukan musuh, bahkan menolongnya. Kaki depan yang terluka itu kini
        tidak nyeri lagi dan tentu saja , karena yang membuat dia tersiksa rasa nyeri tadi adalah karena tulang yang
        menancap itu. "Coba kuperiksa, apa lagi yang perlu kuobati," Sin Liong berkata dan dia memeriksa luka-luka di
        tubuh beruang itu. Ada sebuah luka di tengkuk yang membengkak. Tahulah Sin Liong bahwa luka ini cukup
        berbahaya, kalau tidak lekas diberi obat yang cocok akan dapat membahayakan nyawa beruang itu. "Hemmm, aku
        harus mencarikan daun obat untuk luka-lukamu,"katanya, lupa bahwa beruang itu tentu saja tidak mengerti apa
        yang dia katakan. "Hai, Suheng, ada apakah?" Tiba-tiba terdengar teriakan dari atas. Sin Liong menoleh dan
        melihat Sumoinya turun berlari-lari cepat sekali.Setelah dekat, beruang itu menggerang dan memandang Swat Hong
        dengan marah. "Huh, binatang buruk!" Swat Hong memaki. "Dia terluka cukup berat, akan tetapi dia menang
        berkelahi melawan ular laut itu. Lihat, betapa besarnya ular itu, Sumoi. Beruang itu kuat sekali. Aku harus
        mengobatinya sampai sembuh." Swat Hong mengerutkan alisnya, "Perlu apa menolong binatang buas seperti itu,
        Suheng? Membuang-buang waktu saja." "Dia tidak buas lagi, sumoi. lihat betapa jinaknya. Dia pun mahluk hidup
        yang perlu kita tolong. Aku merasa kasihan kepadanya,sumoi." "Wah, kau lebih mementingkan dia..." "Hei..., ada
        apa engkau...?" Tiba-tiba Sin Liong berteriak melihat beruang itu menggereng-gereng dan menarik-narik
        tangannya, seolah-olah hendak mengajak Sin Liong pergi dari situ! Beruang itu makin keras menggereng dan makin
        kuat menariknya. Diam-diam Sin Liong kagum bukan main. Tenaga beruang ini luar biasa besarnya, dan kiranya dia
        hanya akan dapat menandingi tenaga raksasa ini kalau dia menggerakan sinkang sekuatnya! Akan tetapi tiba-tiba
        dia mendapat firasat tidak baik melihat sikap beruang itu, maka disambarnya tangan sumoinya dan dia berteriak.
        "Awas, sumoi. Mari pergi, dia menghendaki demikian, entah mengapa?"
      </P>
      <P>
        Sin Liong memegang erat-erat lengan sumoinya dan membiarkan dirinya diseret oleh biruang itu. Binatang itu
        mengajaknya setengah paksa berlompatan dan berlarian ke gunung es yang lain yang berdekatan. Baru saja mereka
        melompat ke atas gunung es lain itu, tiba-tiba terdengar suara keras dan gunung es dimana mereka berada tadi
        telah pecah berantakan menjadi keping-keping kecil. Kiranya gunung es itu ditabrak oleh gunung es yang lain dan
        hal ini agaknya telah diketahui oleh si Beruang tanpa melihat datangnya gunung es yang tak tampak dari situ.
        Ternyata binatang itu hanya diperingatkan oleh nalurinya yang tidak ada pada manusia! Sin Liong berdiri dengan
        muka pucat, kemudian dia merangkul beruang itu. "Terima kasih, kakak beruang. Kiranya engkau malah
        menyelamatkan kami berdua." Akan tetapi Swat Hong merasa tidak senang. "Suheng, mari kita segera pergi dari
        sini. Tempat ini amat berbahaya. Lihat, gunung es tadi hancur dan itu kelihatan dari sini perahu kita. Untung
        tidak hilang. Marilah, suheng." "Nanti dulu, sumoi. Aku harus mencarikan daun obat untuk mengobati luka-luka di
        tubuh beruang ini." "Ah, perlu apa? Kita bisa celaka di sini..." "Sumoi, dia telah menyelamatkan nyawa kita!"
        "Hemm, begitukah? Engkau pun tadi telah menyelamatkan nyawanya ketika kau mengusir burung-burung nazar itu,
        bukan? Aku melihat dari jauh. Berarti sudah terbalas semua budi, bukan Marilah, Suheng." "Tidak, sumoi. Kita
        tinggal di sini dulu sampai aku selesai mengobatinya." Swat Hong menjadi marah. "Agaknya kau lebih sayang
        biruang betina ini dari pada aku!" "Sumoi...!" Akan tetapi Swat Hong sudah berlari pergi, berloncatan di atas
        pecahan es dan menuju ke perahu mereka, meloncat ke dalam perahu dan mendayung perahu itu pergi dari situ! Sin
        Liong menjadi bingung dan hampir membuka mulut menegur, akan tetapi karena maklum bahwa hal itu percuma saja,
        dia membatalkan niatnya. "Ngukkk... nguuuuukkk...." Beruang itu mendengus-dengus dan menciumi kepalanya. "Ahhh,
        Enci (Kakak Perempuan) beruang, betapa sukarnya menyelami watak wanita. Aku telah membuat hatinya kecewa dan
        marah, akan tetapi bagaimana hatiku dapat tega meninggalkan engkau yang terancam bahaya maut oleh lukamu?" Sin
        Liong lalu mengajak beruang itu mencari daun. Karena perahu sudah dibawa pergi Swat Hong, Maka terpaksa dia
        mencari pulau yang masih ada tetumbuhannya dengan jalan berloncatan dari batu es lainnya, dan kalau jaraknya
        terlalu jauh, beruang itu menggendongnya dan membawanya berenang ke batu es lainya atau kadang-kadang Sin Liong
        menggunakan sebongkah es yang mengambang sebagai perahu, didayung dengan tangannya yang kuat. Akhirnya, setelah
        melalui perjalanan yang amat sukar, dapat juga dia menemukan pulau yang masih ada tetumbuhannya dan di pulau
        kecil itu, mulailah dia mengobati luka-luka beruang itu sampai sembuh. Pada suatu hari dia melihat sebuah
        perahu kosong terbalik mengambang tidak jauh dari pulau. Dia merasa girang sekali. Cepat menyuruh beruang
        mengambilnya dan hatinya terharu ketika mengenal perahu itu sebagai sebuah di antara perahu pulau es. Tentu
        penumpangnya telah lenyap ditelan badai, pikirnya. Dia lalu membuat dayung dari cabang pohon dan setelah
        biruang hitam itu sembuh benar, dia lalu melompat ke perahu dan mendayungnya meninggalkan pulau. Akan tetapi
        tiba-tiba beruang itu terjun ke air dan berenang mengejar perahunya. "Heii, kakak beruang, kembalilah. Engkau
        sudah sembuh, dan aku harus pergi mencari sumoi!" "Nguuuk...nguukk...!" Beruang hitam itu mengeluarkan suara
        mengeluh dan mukanya seperti orang menangis! Sin Liong tersenyum. "Hmm, kau hendak ikut, ya? Nah, loncatlah ke
        atas!" Seolah-olah mengerti arti kata-kata Sin Liong, biruang itu lalu meloncat ke dalam perahu kini mukanya
        kelihatan berseri, matanya bersinar-sinar dan lidahnya terjulur keluar seperti sikap seekor anjing yang
        kegirangan. "Kau boleh ikut sampai aku dapat menemukan kembali sumoi!" kata Sin Liong. "Kalau sumoi tidak
        menghendaki kau ikut, kau harus kutinggalkan karena kau telah sembuh." Demikianlah, Sin Liong kini melanjutkan
        perjalanan mencari Pulau Neraka. Dari puncak sebuah gunung es, dia dapat melihat dari jauh dan kini dia tahu di
        mana letaknya Pulau Neraka. Beruang yang kini menggantikan tempat Swat Hong, menjadi temannya berlayar itu
        kelihatan girang sekali ketika perahu meluncur dan binatang ini telah jinak benar-benar. Setelah kini dia
        mengenal kembali keadaan dan tahu di mana letaknya Pulau Neraka, perjalanan dapat dilakukan dengan cepat.
        Setelah dekat dengan Pulau Neraka, dia menyaksikan suatu yang membuatnya terheran dan merasa tegang. Sebuah
        perahu besar kelihatan mendarat di Pulau Neraka. Jelas bukan perahu Pulau Neraka yang kecil-kecil. Perahu itu
        besar sekali, perahu layar yang hanya dipergunakan untuk pelayaran jauh. Dan perahu itu pun dalam keadaan
        payah, jelas kelihatan bekas diamuk badai. Tiang layarnya patah, layarnya cabik-cabik dan perahu itu tidak ada
        orangnya sama sekali, berdiri miring di pantai Pulau Neraka. Apakah yang telah terjadi di Pulau Neraka?
        Ternyata bahwa seperti juga pulau lain. Pulau Neraka tidak luput dari amukan badai. Hanya karena letaknya agak
        jauh dari pusat amukan badai, maka penderitaannya tidak sehebat pulau lain, terutama Pulau Es. Air juga naik
        tinggi dan menenggelamkan setengah bagian pulau ini, banyak pula penghuninya yang tidak keburu lari ke tempat
        tinggi, diseret dan ditelan badai. Perahu-perahu lenyap, pohon-pohon yang berada di tepi pantai bobol semua.
        Dan setelah badai mereda, sebuah perahu besar terdampar di tepi pantai.Perahu itu adalah perahu bajak laut!
        Setelah air menyurut, para bajak laut yang terdiri-dari dua puluh lima orang itu segera mendarat. Mereka itu
        kelelahan dan kelaparan, bahkan ada lima orang di antara mereka tewas ketika badai mengamuk sehingga jumlah
        mereka hanya tinggal dua puluh lima orang itulah. Mereka mendarat di kepalai oleh raja bajak yang memimpin
        mereka, raja yang amat terkenal di sepanjang pantai muara-muara sungai Huangho dan Yangce. Kepala bajak ini
        adalah seorang laki-laki tinggi besar yang buta sebelah matanya. Mata kiri yang buta karena tusukan pedang
        lawan dalam pertandingan, kini ditutupi oleh sebuah kain hitam sehingga ia kelihatan lebih menyeramkan lagi.
        Tubuhnya tinggi besar dan di antara para nelayan dan pedagang yang suka berperahu, dia dikenal sebagai
        Tok-gan-hai-liong (Naga Laut Mata Satu) dan namanya adalah Koan Sek. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu
        mereka yang diamuk oleh badai dahsyat itu telah mendarat di Pulau Neraka! Andaikata mereka tahu juga, mereka
        tentu tidak merasa takut karena pada waktu itu, nama Pulau Neraka hanya dikenal oleh Orang-orang Pulau Es.
        Untuk dunia ramai, yang dikenal hanyalah Pulau Es, yang dikenal sebagai tempat yang hanya terdapat dalam sebuah
        dongeng. Betapapun juga, Pulau Es merupakan nama yang ditakuti oleh semua orang termasuk para bajak. Akat
        tetapi karena pulau dimana perahu mereka mendarat bukanlah Pulau Es, melainkan pulau yang hitam penuh
        tetumbuhan, mereka menjadi berani dan setelah badai mereda dan air menyurut, mereka lalu menyerbu ke tengah
        pulau. Untung bagi mereka bahwa badai yang amat dahsyat itu membuat air laut naik dan mengamuk di daratan pulau
        sehingga binatang-binatang berbisa pun menjadi panik dan ketakutan, lari bersembuyi dan belum berani keluar.
        Andaikata mereka itu berani menyerbu pulau dalam keadaan biasa tentu mereka akan menjadi korban
        binatang-binatang itu dan sukarlah dibayangkan apa akan jadinya. Mungkin sekali tidak ada diantara mereka yang
        akan dapat lolos betapapun liar, ganas dan lihai mereka itu. Dapat dibayangkan betapa heran dan girangnya hati
        para bajak itu ketika mendapat kenyataan bahwa di tengah pulau itu terdapat pondok-pondok yang dibuat oleh
        manusia! Akan tetapi keheranan mereka segera berubah menjadi kekagetan hebat ketika para penghuni pulau itu
        menyambut mereka dengan serangan dahsyat tanpa peringatan apa-apa. Karena mereka adalah bajak-bajak yang sudah
        biasa berkelahi dan mengadu nyawa, maka serbuan para penghuni Pulau Neraka itu mereka sambut dengan gembira.
        mereka mengira bahwa penghuni pulau itu adalah orang-orang biasa saja. Maka besar sekali kekagetan mereka
        ketika mendapat kenyataan betapa kurang lebih dua puluh orang, yaitu sisa penghuni Pulau Neraka yang tidak
        dibasmi oleh badai, yang berani menyambut mereka dengan serangan itu rata-rata memiliki kepandaian hebat!
        Terjadilah perang tanding yang seru dan matimatian. Bajak laut pimpinan Tok-gan-hai-liong itu pun bukan
        orang-orang biasa melainkan penjahatpenjahat pilihan yang selain kuat dan ganas, juga rata-rata pandai ilmu
        silat. Apalagi Tok-gan-hai-liong sendiri bersama seorang pembantu yang sebetulnya adalah sutenya (adik
        seperguruan) sendiri yang bernama Coa Liok Gu, seorang ahli pedang yang lihai sekali. Sedangkan
        Tok-gan-hai-liong Koan Sek sendiri adalah seorang ahli bermain senjata ruyung yang ujungnya merupakan sebuah
        bola baja yang berat dan keras. Para penghuni Pulau Neraka masih terguncang oleh amukan badai, bahkan ketua
        mereka, Ouw Kong Ek, sedang menderita sakit hebat. Semenjak penyerbuan pasukan Pulau Es yang dipimpin oleh Han
        Ti Ong, Ouw Kong Ek jatuh sakit. Mungkin karena dia merasa terlalu marah, dan mungkin juga karena usianya yang
        sudah tua. Pernyerbuan dari Pulau Es itu merupakan hal yang amat menyakitkan hatinya, dan juga hati para
        penghuni Pulau Neraka, mendatangkan rasa dendam yang lebih mendalam. Apalagi melihat betapa catatan pengobatan
        dari Kwa Sin Liong telah dihancurkan oleh Han Ti Ong, hati Ouw Kong Ek merasa sakit sekali. Untung masih ada
        beberapa macam obat yang hafal olehnya, akan tetapi sebagian besar telah dibasmi oleh Raja Pulau Es yang marah
        itu. Pada saat bajak laut menyerbu, Ouw Kong Ek tidak dapat bangun dari tempat tidurnya. Dia dijaga dan dirawat
        oleh cucunya, Ouw Soan Cu. Maka dapat dibayangkan betapa kaget hati kakek ini ketika ada anak buahnya yang
        datang melapor bahwa pulau yang baru saja diamuk badai itu kini disebu oleh sepasukan bajak laut yang ganas dan
        rata-rata memiliki kepandaian tinggi! "Keparat...!" Kakek itu meloncat bangun akan tetapi terguling kembali dan
        Soan Cu segera memegang lengan kakeknya, membantunya untuk rebah kembali. "Tenanglah, Kong-kong! Biarlah aku
        yang keluar untuk membantu teman-teman membasmi bajak laut yang tidak tahu diri itu." Ouw Kong Ek terpaksa
        hanya mengangguk karena dia sendiri masih tidak kuat untuk bangun, apalagi bertempur. "Hati-hatilah, Soan
        Cu..." Dia percaya akan kepandaian cucunya yang tentu akan dapat mengusir bajak-bajak laut yang biasanya hanya
        terdiri orang-orang kasar itu. Dengan pedang di tangan Soan Cu lalu berlari keluar. Melihat anak buahnya sudah
        bertanding mati-matian melawan bajak-bajak yang ganas, apalagi melihat seorang wanita Pulau Neraka digeluti
        oleh dua orang laki-laki kasar sampai wanita itu menjerit-jerit namun dua orang laki-laki itu malah
        tertawa-tawa dan merobek-robek pakaian wanita itu, Soan Cu menjadi marah sekali. Dia mengeluarkan teriakan
        marah, tubuhnya yang ramping mencelat ke depan, pedangnya menyambar dan dua orang bajak yang sedang memperkosa
        wanita itu roboh dengan leher terkuak lebar dan hampir putus! Wanita itu cepat membereskan pakaiannya,
        menyambar goloknya dan seperti seekor harimau kelaparan dia membacoki tubuh dua orang bajak tadi. Melihat sepak
        terjang Soan Cu yang kembali sudah merobohkan dua orang bajak, Tok-gan-hailiong Koan Sek dan Coa Liok Gu,
        dibantu oleh beberapa orang bajak lain cepat mengepung dan mengeroyoknya. Namun Soan Cu mengamuk hebat dan
        pedangnya berubah segulung sinar terang yang menyambar Dahsyat, membuat dua orang pimpinan bajak itu terkejut
        dan harus memainkan senjata dengan hati-hati sekali agar jangan sampai mereka menjadi korban kedahsyatan sinar
        pedang yang dimainkan oleh dara itu. "Lepas tulang ikan!!" Tiba-tiba kepala bajak itu memberi aba-aba kepada
        sutenya dan mereka berdua telah meloncat mundur, membiarkan anak buah mereka yang empat orang banyaknya
        melanjutkan pengeroyokan, sedangkan mereka berdua lalu mengayun tangan berkali-kali ke arah Soan Cu. Sinar
        lembut bertubi-tubi menyambar ke arah Soan Cu dari depan dan belakang. Dara ini memandang rendah senjata
        rahasia mereka. Dia adalah Seorang dara Pulau Neraka sudah terlalu banyak racun dikenalnya bahkan dia telah
        menggunakan obat anti racun maka dia tidak terlalu khawatir ketika sebuah di antara senjata rahasia lawan yang
        lembut itu mengenai pahanya. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kakinya itu setengah lumpuh dan
        begitu dia menggerakan pedang, tubuhnya terhuyung, kepalanya pening. "Aihhh...!" Dia berseru nyaring, lebih
        merasa heran daripada khawatir. Dara ini tidak tahu bahwa lawannya menggunakan am-gi (senjata gelap) berupa
        tulang berbentuk duri dari sirip semacam ikan laut yang berbisa. Bisa dari ikan laut ini tentu saja tidak dapat
        disamakan dengan bisa dari binatang darat, maka bisa yang asing ini tidak dapat ditolak oleh obat anti racun
        yang dipakainya. "Sute, tangkap nona manis ini...!" Teriak Koan Sek dengan girang. Akan tetapi tiba-tiba
        terdengar suara gerengan yang dahsyat dan yang membuat mereka kaget bukan main. Dua orang bajak yang mendengar
        suara itu dekat sekali dibelakang mereka menengok dan... mereka itu terjengkang dan merangkak untuk melarikan
        diri dengan ketakutan. Kiranya yang menggerang itu adalah seekor binatang raksasa hitam yang menakutkan. Seekor
        beruang yang lebar moncongnya cukup untuk mencaplok kepala mereka sekaligus! Sin Liong yang datang bersama
        biruang itu cepat meloncat mendekati Soan Cu merampas pedang dari tangan dara itu dan memondongnya dengan
        tangan kiri, kemudian sekali meloncat dia telah berada di punggung biruang, lengan kiri memeluk dan menjaga
        tubuh Soan Cu yang dipangkunya karena dara itu telah menjadi pingsan sedangkan tangan kanan menggerakan pedang
        dara itu sambil beseru "Kakak biruang, lawan mereka yang berani mendekat!" Biruang itu menggereng-gereng dan
        ketika melihat dari kiri ada sinar menyambar, yaitu sinar pedang yang digerakan oleh Coa Liok Gu sute dari
        kepala bajak, tiba-tiba kaki depan kiri yang kini dipergunakan seperti tangan itu bergerak menangkis, bukan
        menangkis pedang melainkan mencengkram kepala Coa Liok Gu. Tentu saja orang ini kaget dan sekali merendahkan
        tubuh, membalikan pedang dan siap untuk menyerang lagi. Begitu lengan biruang itu menyambar lawan, dia meloncat
        ke atas dan menusukan pedangnya mengarah bagian antara kedua mata biruang itu. "Cringgg...!!" Pedangnya
        terpental dan dia harus cepat melempar tubuh ke belakang kalau tidak ingin dadanya robek oleh cakar biruang
        setelah pedangnya ditangkis oleh Sin Liong tadi. "Siuuuut...!!" Senjata ruyung berujung baja di tangan Koan Sek
        sudah bergerak menyambar dengan ganas, menghantam punggung biruang hitam dengan kecepatan kilat dan dengan
        tenaga dahsyat. "Cringgg...! Tranggg...!!" Dua kali senjata berat itu ditangkis oleh Sin Liong dan dua kali
        pula kepala bajak itu berseru kaget karena telapak tangannya hampir terkupas kulitnya dan terasa panas dan
        perih. Pada saat dia terbelalak dan terheran, biruang itu sudah membalikan tubuh dan sekali kaki depannya yang
        kanan menampar, kepala bajak itu mencoba menangkis, namun senjatanya terlepas dari pegangannya dan biruang itu
        sudah menubruknya dan mencengkram ke arah lehernya. "Kakak biruang, jangan ...!" Sin Liong membentak. Biruang
        itu terkejut dan ragu-ragu sehingga kesempatan itu dapat dipergunakan oleh Koan Sek untuk meloncat jauh
        kebelakang. Dia dan pembantu utamanya, Coa Liok Gu berdiri dengan muka pucat memandang pemuda yang menunggang
        biruang itu membawa pergi tubuh dara jelita yang pingsan. Biarpun pedang masih berada di tangannya, Coa Liok Gu
        tidak lagi berani menyerang karena dia maklum bahwa selain biruang raksasa itu amat kuat, juga pemuda itu
        memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Sin Liong merasa bingung dan gelisah menyaksikan pertempuran hebat
        itu. "Hentikan pertempuran...!" Dia berseru berkali-kali namun percuma saja, para bajak laut dan penghuni Pulau
        Neraka adalah orang-orang kasar yang pada saat itu sedang marah, maka sukar untuk dibujuk. Tiba-tiba terdengar
        suara melengking tinggi dan panjang dan suara itu segera disusul suara berdengungdengung dan berdesis-desis.
        Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Sin Liong ketika dia melihat datangnya binatang-binatang kecil yang
        berbisa. Ular, kelabang, kalajengking dan sebangsanya berdatangan dari semua penjuru, merayap cepat seolah-olah
        digerakan oleh suara melengking iru, dan yang lebih mengerikan lagi, lebah-lebah putih datang pula beterbangan!
        Saking kagetnya Sin Liong melompat turun dari punggung biruang dan kini biruang itu pun terkejut dan ketakutan,
        seolah-olah binatang raksasa ini sudah mengerti bahwa bahaya maut datang mengancamnya. "Uhhh... apa yang
        terjadi...?" Soan Cu mengeluh dan siuman dari pingsannya. Melihat dara itu sudah siuman. Sin Liong agak lega.
        "Bagaimana lukamu?" "Nyeri sekali, panas... eh, siapa yang memimpin binatang-binatang berbisa itu?" Soan Cu
        turun dari pondongan Sin Liong. "Cepat pergunakan obat penolak ini..." Dia mengeluarkan sebungkus obat penolak
        dari ikat pinggangnya. Setelah menaburkan obat bubuk di sekeliling mereka bertiga, yaitu Soan Cu, Sin Liong dan
        biruang betina, Soan Cu berkata lagi, "Sin Liong tolong... kau tangkap Si Mata Satu itu...aku membutuhkan obat
        penawar racun am-gi-nya (senjata gelapnya)...." Melihat betapa wajah dara itu pucat sekali tanda menderita
        kenyerian hebat, Sin Liong maklum bahwa tentu dara itu terkena senjata rahasia yang mengandung racun luar biasa
        sekali. Maka tanpa menjawab tubuhnya mencelat kearah Koan Sek yang masih bengong memandang ke depan, matanya
        terbelalak ketika melihat betapa anak buahnya mulai menjadi korban pengeroyokan binatang-binatang berbisa. Maka
        ketika tubuh Sin Liong menyambar, dia terkejut sekali, mengira bahwa pemuda itu akan menyerangnya. Dia tadi
        sudah mengambil kembali senjatanya, maka tanpa banyak cakap lagi dia sudah mengayun senjatanya menghantam ke
        arah Sin Liong. Pemuda ini tadi melepaskan pedangnya, melihat betapa dia disambut serangan dahsyat, cepat dia
        miringkan tubuhnya, membiarkan senjata berat itu lewat dan secepat kilat kedua tangannya menyambar dan
        sebelumnya Koan Sek tahu apa yang terjadi, senjatanya telah terampas dan dibuang oleh pemuda itu sedangkan
        tubuhnya sudah diangkat dan dipanggul seperti seorang anak kecil saja. Percuma dia meronta, karena pemuda itu
        sudah meloncat seperti terbang, kembali ke dalam lingkaran obat penolak yang ditaburkan Soan Cu. Koan Sek
        menggigil. Selain dia maklum betapa lihainya pemuda ini, juga dia merasa ngeri sekali menyaksikan apa yang
        terjadi di luar lingkaran obat bubuk itu. Terdengar jerit dan pekik mengerikan. Orang-orang Pulau Neraka telah
        mundur dan menonton sambil sambil tertawa-tawa. Akan tetapi anak buah bajak laut itu menghadapi penyerangan
        binatang-binatang berbisa dan sama sekali mereka tak berdaya. Apalagi penyerangan lebah-lebah putih membuat
        mereka panik. Mengerikan sekali melihat mereka berkelojotan merintih-rintih dan menangis mengerung-ngerung
        karena tidak tahan menderita rasa nyeri yang menyengati sekujur tubuh. "Cepat bertindak, halau mereka, Soan
        Cu!" Sin Liong berkata dengan alis berkerut. Biarpun yang dikeroyok binatang-binatang itu adalah kaum bajak,
        namun dia tidak dapat menyaksikan peristiwa mengerikan itu. Soan Cu menggeleng kepala. "Tak mungkin. Mereka
        digerakan oleh suara melengking itu..." "Suara apa itu? Siapa yang membunyikan?" Soan Cu tersenyum dan
        menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Pahanya seperti dibakar dan rasa nyeri menusuk-nusuk jantung. "Siapa
        lagi? Satu-satunya orang yang dapat melakukannya hanyalah Kong-kong... augghh ..." Dara itu roboh pingsan lagi
        dalam rangkulan Sin Liong. "Aduh celaka..., binatang-binatang itu...." Tok-gan-hai-liong Koan Sek menggigil dan
        dia hendak lari dari tempat itu ketika melihat bagaimana pembantunya, Coa Liok Gu, sudah sibuk memutar pedang
        untuk berusaha mengusir lebah-lebah putih yang mengeroyoknya. "Kalau kau keluar dari sini, engkau pun akan
        mengalami nasib yang sama," Kata Sin Liong, menunjuk ke arah lingkaran putih dari obat penolak.
        "Binatang-binatang itu tidak berani memasuki lingkaran ini." Koan Sek memandang dan matanya terbelalak ngeri
        melihat betapa ular-ular beracun yang bermacammacam warnanya itu benar saja membalik lagi ketika mendekati
        garis lingkaran. Bahkan lebah-lebah putih yang terbang dekat, agaknya mencium bau penolak itu dan mereka itu
        pun terbang membalik, mengamuk dan menyerang para bajak yang berada di luar lingkaran. Saking ngerinya melihat
        betapa Coa Liok Gu menjerit dan roboh karena kakinya tergigit seekor ular, kemudian betapa pembantunya yang
        juga merupakan sutenya melolong-lolong dan bergulingan, dikeroyok banyak sekali binatang yang mengerikan,
        kepala bajak ini tak dapat lagi menahan dirinya dan dia menjatuhkan diri berlutut! Sin Liong sendiri merasa
        ngeri menyaksikan peristiwa yang terjadi disekelilingnya. Kalau saja dia dapat melihat Ouw Kong Ek, tentu dia
        akan meloncat dan memaksa kakek itu menghentikan pekerjaanya yang kejam, membunuh para bajak seperti itu. Akat
        tetapi celakanya, suara itu melengking tinggi dan sukar diketahui dari mana datangnya, bahkan kakek itu pun
        tidak tampak. pula, mana mungkin dia berani meninggalkan Soan Cu yang pingsan itu bersama kepala bajak? Maka
        pemuda ini merasa seperti disayatsayat jantungnya menyaksikan pembunuhan yang amat kejam itu, melihat betapa
        dua puluh empat orang bajak menemui kematian secara mengerikan, berkelojotan dan melolong-lolong, akhirnya
        suara jeritan mereka makin lemah dan berubah seperti suara binatang disembelih, kemudian tubuhnya tidak
        berkelojotan lagi dan binatang-binatang kecil berbisa yang kelaparan itu masih menggerogoti kulit dan daging
        mereka! Kemudian tampaklah Ouw Kong Ek, Tocu Pulau Neraka. Kakek ini datang ke tempat itu sambil merangkak
        dengan susah payah, tubuhnya kelihatan lemah dan kurus, mukanya pucat dan sambil merangkak itu dia meniup
        sebatang alat tiup terbuat daripada batang alang-alang, menyerupai suling kecil. Pantas saja suaranya
        melengking tinggi dan aneh. Beberapa orang anggauta Pulau Neraka segera maju dan mengangkat ketua mereka,
        memapahnya datang dan kini binatang-binatang itu berangsur-angsur merayap pergi setelah Ouw Kong Ek merobah
        merobah suara tiupan sulingnya. Akhirya yang tinggal hanya mayatmayat dua puluh empat orang bajak dalam keadaan
        mengerikan, dan mayat tujuh orang penghuni Pulau Neraka yang tewas dalam pertempuran. "Ahhh, engkau pula yang
        menolong cucuku, Taihiap?" Ouw Kong Ek dituntun anak buahnya datang mendekat. Sin Liong mengerutkan alisnya.
        "To-cu, engkau sungguh kejam, membunuh mereka seperti itu." Kakek itu terbelalak. "Aku? kejam? Dan mereka
        ini...?" Dia menuding ke arah mayat-mayat para bajak laut. "Dan...hei, siapa dia ini? Ah, bukankah dia ini
        pemimpin mereka?" Ouw Kong Ek sudah melangkah maju menghampiri Koan Sek yang berdiri dengan muka pucat. "Tahan
        dulu, Tocu! Memang dia pemimpin bajak, akan tetapi nyawa cucumu berada didalam tangannya!" "Soan Cu...!" Ouw
        Kong Ek memandang tubuh dara yang dipondong oleh Sin Liong dan berada dalam keadaan pingsan itu. "Mengapa dia?"
        "Terkena senjata beracun." Kemudian dia memandang Koan Sek dan membentak, "hayo kauberikan obat penawar senjata
        gelapmu!" Tok-gan-hai-liong Koan Sek adalah seorang yang sudah berpengalaman, seorang yang menjelajah di dunia
        kang-ouw, maka dia tentu saja cerdik sekali. Tadi ketika menyaksikan betapa semua anak buahnya, juga sutenya,
        tewas secara mengerikan, dia ketakutan setengah mati dan kehilangan akalnya. Akan tetapi sekarang setelah dia
        melihat kesempatan untuk menolong diri, timbul kembali keberaniannya dan dia tersenyum. "Agaknya kita telah
        salah masuk. Tidak tahu pulau apakah ini dan siapa kalian ini?" tanyanya kepada Sin Liong karena dia merasa
        jerih sekali menghadapi pemuda yang dia tahu amat lihai dan sama sekali bukan tandingannya itu. "Kau belum
        tahu? Ini adalah Pulau Neraka dan dia itu adalah ketuanya." Dia menuding kepada Ouw Kong Ek. "Sedangkan Nona
        ini adalah cucunya. Maka kau harus cepat memberikan obat penawarnya." "Ha-ha, mudah saja! Mudah saja memberi
        obat penawarnya. Aihh, kiranya kami telah memasuki sebuah pulau iblis dengan penghuni-penghuninya seperti iblis
        pula! Benar-benar kami telah membuat kesalahan besar! Orang muda, mudah saja mengobati luka Nona ini, akan
        tetapi bagaimana dengan aku sendiri? Anak buahku telah tewas semua dan aku dalam cengkraman kalian!" "Engkau...
        engkau akan kusiksa, kucincang sampai hancur!" Ouw Kong Ek membentak. "Ha-ha-ha, boleh! Lakukan sekarang,
        karena aku tidak takut mati setelah aku melihat bahwa aku mempunyai banyak teman terutama sekali cucumu. Kalau
        orang tidak lagi menyayangkan kematian seorang dara jelita muda remaja seperti dia ini, apalagi kematian
        seorang tua bangka seperti aku. Ha-ha-ha! biarlah aku mati ditemani oleh dara remaja ini!" Ouw Kong Ek sudah
        marah sekali, kedua tangannya dikepal sehingga suling batang alang-alang itu hancur di tangannya. Melihat
        kemarahan ketua Pulau Neraka itu, Sin Liong Berkata, "Ouw-tocu apa yang dikatakan benar. Sudah kuperiksa luka
        cucumu dan ternyata dia terkena racun yang aneh sekali yang belum pernah aku melihatnya. Maka, biarlah kita
        menukar keselamatannya dengan keselamatan Soan Cu. Betapapun juga , nyawa Soan Cu jauh lebih berharga dari pada
        kehidupan seorang sesat seperti dia." "Ha-ha-ha , itu baru omongan yang tepat!" Tok-gan-hai-liong Koan Sek yang
        merasa "mendapat angin" berkata dengan dada dibusungkan. Dia tidak takut lagi sekarang. Nyawa cucu ketua Pulau
        Es berada di tangannya. Apalagi yang ditakutinya? "Iblis keparat! Hayo kauberikan obat untuk cucuku dan kau
        boleh minggat dari sini!"Ouw Kong Ek membentak. "Ha-ha-ha, aku Tok-gan-hai-liong Koan Sek bukan seorang tolol."
        Dia lalu menoleh kepada Sin Liong. "Orang muda apakah kedudukanmu di Pulau Neraka ini?" Dia memang tidak dapat
        menduga karena tadi dia mendengar ketua Pulau Neraka menyebut taihiap (pendekar besar) kepada pemuda ini. Dan
        kalau ada yang dipercaya di situ. Maka satu-satunya orang adalah pemuda ini. "Aku bukan penghuni Pulau Neraka
        aku adalah seorang dari Pulau Es...." "heeeehhh...??" Mata Tok-ganhai- liong yang tinggal satu itu terbelalak
        dan mukanya pucat. Dia merasa seolah-olah dalam mimpi. Setelah bertemu dengan Pulau Neraka yang aneh dan
        mengerikan di mana semua anak buahnya tewas, dia bertemu pula dengan seorang pemuda sakti yang mengaku datang
        dari Pulau Es, sebuah sebutan yang tadinya dikiranya hanya terdapat dalam dongeng tahyul belaka. Mimpikah dia?
        Ataukah dia sudah mati ditelan badai dan sekarang ini adalah pengalaman dari rohnya? "Pulau... Pulau... Es...?"
        Dia berkata lirih. Sin Liong mengangguk tak sabar. Dia tadi mengaku sebenarnya, siapa mengira malah membuat
        kepala bajak ini menjadi termangu-mangu seperti orang sinting. "Kalau begitu, aku hanya mau memberikan obat
        penawar jika engkau yang mengantarku sampai ke sebuah perahu di pantai Pulau Neraka ini." "Jahanam, kau tidak
        percaya kepadaku?" Ouw Kong Ek membentak dan para pembantunya sudah mengangkat senjata mengancam. "Terserah,
        bunuhlah. Aku toh akan mati bersama dia ini." Sin Liong menyerahkan tubuh Soan Cu yang masih pingsan kepada
        kakeknya, kemudian berkata, "ouw-tocu, biarlah kita memenuhi permintaannya. Harap sediakan perahu untuknya."
        Terpaksa Ouw Kong Ek menggerakan kapalanya memberi isyarat kepada anak buahnya, kemudian memandang kepada
        kepala bajak itu dengan mata mendelik. Koan Sek lalu berjalan bersama Sin Liong dan dua anak buah Pulau Neraka
        menuju ke tepi laut. Setelah sebuah perahu dipersiapkan, kepala bajak itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam
        sakunya. Benda itu ternyata adalah seekor kuda laut sebesar ibu jari tangan yang sudah kering. "Nona itu
        terkena racun yang terkandung dalam duri ikan yang tidak dapat diobati kecuali dengan ini. Bubuklah dan masak,
        lalu minumkan airnya. Tentu dia akan sembuh." Sin Liong mengerutkan alisnya. Sudah banyak pengetahuannya
        tentang pengobatan akan tetapi tentu saja belum pernah dia mengenal rahasia racun yang keluar dari dalam
        lautan. Dia menyerahkan bangkai kuda laut kering itu kepada dua orang penghuni Pulau Neraka sambil berkata,
        "Berikan ini kepada Ouw-tocu, suruh menumbuk halus dan masak dengan air, kemudian minumkan kepada Nona.
        Bagaimana hasilnya supaya cepat melapor ke sini. Aku menunggu di sini." Dua orang itu menerima kuda laut mati
        dan berlari memasuki pulau, sedangkan Sin Liong lalu duduk di tepi pantai dengan sikap tenang. "Kau tidak mau
        membiarkan aku pergi?" Koan Sek bertanya penuh khawatir. "Jangan tergesa-gesa," jawab Sin Liong. "Aku harus
        yakin dulu bahwa obatmu benar-benar manjur, baru aku akan membolehkan engkau pergi. Bukankah itu adil namanya?"
        Koan Sek menghela napas dan menjatuhkan diri duduk di dalam perahu. Dia maklum bahwa kalau melawan, dia tidak
        akan menang. "Dia pasti akan sembuh. Dalam keadaan seperti ini, mana aku berani main-main?" Sin Liong diam
        saja. Kepala bajak itu menggunakan mata tunggalnya untuk memandangi pemuda itu penuh selidik, kemudian
        bertanya, "Orang muda, benarkah engkau dari Pulau Es?" Sin Liong mengangguk. "Dan siapa namamu?" "Kwa Sin
        Liong. Mengapa engkau bertanya-tanya?" "Tadinya aku mengira bahwa Pulau Es hanyalah sebuah dongeng..." "Hemm..,
        memang sekarang hanya tinggal dongeng..." Sin Liong berkata sambil merenung jauh membayangkan keadaan Pualu Es
        yang telah terbasmi oleh badai dan kini tinggal menjadi sebuah pulau kosong yang menyedihkan. "Nguuk...
        nguuukkk..." Sin Liong menoleh dan tersenyum "Eh, Enci biruang. Kau menyusulku?" Biruang itu menghampiri, dan
        memperlihatkan taringnya ketika dia melihat Koan Sek di atas perahu di depan pemuda itu. "Binatang yang hebat!"
        Koan Sek berkata dan bulu tengkuknya berdiri. Pemuda ini seperti bukan manusia biasa ! dan mempunyai binatang
        peliharaan seperti itu! "Kau bilang tadi... tinggal dongeng apa maksudmu?" "Tidak apa-apa, lupakanlah," kata
        Sin Liong sambil mengelus biruang yang sudah bertiarap di depannya. "Orang muda she kwa... eh, Tai-hiap...
        kenapa kau mau membebaskan aku?" Sin Liong mengangkat mukanya memandang dan kepala bajak itu menjadi lebih
        heran lagi melihat betapa pandang mata pemuda itu sama sekali tidak membayangkan kebencian atau permusuhan
        dengannya? "Mengapa tidak? engkau pun membebaskan Soan Cu." Sin Liong menengok dan tampaklah dua orang tadi
        datang berlari-lari. "Kwa-taihiap, Nona sudah sembuh!" Sin Liong mengangguk kepada Koan Sek. "Pergilah, cepat!
        Lebih cepat lebih baik dan harap kau jangan sekali-kali mendekati pulau ini." Koan Sek menjawab, "Terima kasih.
        Satu kalipun sudah cukuplah!" Dia mengkirik. "Pulau Iblis seperti ini siapa yang ingin melihatnya lagi?" Dia
        lalu menggerakan dayungnya dan perahu meluncur cepat meninggalkan Pulau Neraka. Ketika Sin Liong bersama
        biruangnya tiba kembali ke tengah pulau benar saja bahwa Soan Cu telah sembuh sama sekali dari pengaruh racun.
        Hanya luka di pahanya yang tinggal dan luka itu sudah diobati oleh Kong-kongnya. Para penghuni Pulau Neraka
        sedang sibuk menyingkirkan mayat-mayat yang bergelimpangan mengerikan itu dan Sin Liong lalu diajak masuk ke
        pondoknya oleh Ouw Kong Ek dan Soan Cu. "Taihiap, lagi-lagi engkau yang datang menolong kami, "kata Ouw Kong
        Ek. "Kalau engkau tidak segera datang entah bagaimana dengan aku. Mungkin sudah mati, Sin Liong," kata Soan Cu
        dengan mata bersinarsinar penuh kagum dan terima kasih. "Ahh, mengapa Tocu dan kau masih bersikap sungkan
        terhadap aku? Bukankah kita ini sahabat? Kedatanganku bukan hanya kebetulan saja. Aku datang dengan maksud yang
        sama seperti setahun yang lalu, yaitu mencari Sumoi. Apakah dia tidak datang ke sini?" Soan Cu dan kakeknya
        memandang kaget dan juga heran, dan di dalam pandang mata Ouw Kong Ek terkandung rasa hati tidak senang. Sin
        Liong maklum akan ketidaksenangan hati kakek itu, maka dia menarik napas panjang dan berkata, "Harap saja Tocu
        tidak menyangka yang bukan-bukan terhadap Sumoi. Apa yang dilakukan oleh Suhu di sini sama sekali tidak ada
        sangkut pautnya dengan Sumoi." "Jadi Taihiap sudah tahu apa yang diperbuat oleh Han Ti Ong di sini?" Sin Liong
        mengangguk. "Aku dapat menduganya. Tentu dia marah-marah karena puterinya pernah ditahan di sini." "Bukan hanya
        marah-marah!" kata Soan Cu mengepal tinju. "Orang itu sombong sekali! Dia menghina kakek, biar pun tidak
        melakukan pembunuhan tapi dia memukul semua orang!" "Kau juga dipukulnya?" Sin Liong bertanya. "Tadinya,
        melihat aku seorang wanita dan masih muda, dia tidak mau memukulku, akan tetapi karena melihat kakek dipukul,
        aku menyerangnya dan aku roboh oleh tamparan. Dia memang sakti, akan tetapi ganas dan kejam, bahkan semua
        catatanmu dihancurkan! Sekali waktu kami akan menuntut balas, kami akan menyerang Pulau Es!" Sin Liong menarik
        napas panjang. "Lupakan saja niat itu, selain tidak baik juga tidak ada gunanya. Kerajaan Pulau Es tidak ada
        lagi sekarang, telah musnah." "Hei...? Apa maksudmu, Taihiap...?" kakek itu bertanya, terbelalak. "Apa yang
        telah terjadi?" Soan Cu juga bertanya. "Dilanda badai... habis seluruhnya, semua penghuninya termasuk suhu dan
        seluruh benda di sana habis terbasmi kecuali bangunan istana yang telah kosong sama sekali..." Sin Liong lalu
        menuturkan dengan singkat malapetaka yang penimpa Pulau Es, dan betapa secara aneh dan kebetulan saja dia dan
        Sumoinya terluput dari bencana. Kakek dan cucu itu mendengarkan dengan melongo kemudian kakek itu bertepuk
        tangan dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha! Ha-ha-ha-ha! Dendam ratusan tahun lenyap dalam sekejap mata! kami
        orang-orang buangan yang dianggap berdosa, dianggap dikutuk tuhan, malah masih dapat hidup melanjutkan riwayat,
        sedangkan penghuni Pulau Es yang suci dan agung, kaum bangsawan yang tinggi, sekali sapu saja musnah! Ha-ha-ha,
        siapa yang lebih dilindungi tuhan? Han Ti Ong, tanpa kami bergerak, engkau dan kerajaanmu lenyap sudah!" Kakek
        itu tertawa-tawa sampai air matanya keluar sehingga sukar dikatakan apakah dia itu tertawa, ataukah menangis.
        Mengapa Taihiap sekarang mencari Nona Swat Hong ke sini? Apa yang terjadi dengan dia?" Sin Liong lalu
        menceritakan niat perjalanannya bersama Swat Hong, yaitu untuk mencari ibu Swat Hong yang sampai kini tidak
        diketahui berada di mana. Dan betapa di jalan mereka menjadi bungung dan tersesat karena badai telah
        menciptakan pemandangan yang berbeda di permukaan laut sehingga sehingga mereka mendarat di gunung es dan
        betapa dia menemukan biruang hitam. "Sumoi berangkat melanjutkan perjalanan mencari Pulau Neraka karena
        disangkanya ibunya berada di sini, sedangkan aku mengobati biruang." Sin Liong menutup ceritanya, tentu saja
        dia segera menceritakan kemarahan Swat Hong kepadanya. "Apakah dalam beberapa hari ini dia tidak dantang ke
        sini?" Soan Cu menjawab, "Untung saja dia tidak datang, Sin... eh, Taihiap." "Soan Cu mengapa engkau meniru
        kakekmu, bersungkan kepadaku dan menyebut Taihiap segala?" "Biarlah, Taihiap," Kata Ouw Kong Ek. "Tidak pantas
        kalau dia menyebut namamu begitu saja. Dan engkau memang menolong kami dan pantas disebut Taihiap karena
        kepandaianmu tinggi sekali." "Kaukatakan tadi untung Sumoi tidak datang ke sini, mengapa?" "Andaikata dia
        datang, tentu akan terjadi apa-apa yang tidak baik antara dia dan Kong-kong. Ketahuilah, semenjak Raja Pulau Es
        datang mengacau di sini, Kong-kong jatuh sakit, dan kebencian kami semua terhadap Pulau Es makin mendalam. Maka
        kalau Sumoimu, Swat Hong datang, tentu akan terjadi hal yang tidak baik." Sin Liong mengangguk-angguk, merasa
        lega bahwa sumoinya tidak mendahului datang ke Pulau Neraka, akan tetapi juga menimbulkan kegelisahannya karena
        dia jadi tidak tahu ke mana sumoinya yang pemarah itu kini berada! Bajak-bajak laut itu, dari mana datangnya
        dan mengapa mengacau ke sini?" tanyanya. "Entah. Tahu-tahu mereka muncul dan perahu besar mereka terdampar di
        tepi pulau." "Agaknya mereka juga diamuk badai." "Mungkin." Soan Cu melanjutkan. "Kami diserang selagi
        kong-kong sakit. Kong-kong tidak dapat turun dari pembaringan, maka aku yang menggantikannya, aku keluar
        menyambut mereka, akan tetapi karena kurang hati-hati, karena memandang rendah am-gi mereka, aku hampir celaka
        kalau tidak ada engkau yang datang di waktu yang tepat, Taihiap." "Akan tetapi akhirnya, biarpun sakit,
        Kong-kongmu dapat membunuh semua bajak laut itu." Sin Liong bergidik ngeri mengenangkan kematian para bajak
        itu. "Ugh-ugh....!" Kakek itu terbatuk-batuk. "Bajak-bajak macam itu saja kalau aku tidak sakit, kalau Soan Cu
        tidak memandang rendah dan kalau para penghuni tidak baru saja diamuk badai, tidak ada artinya bagi kami. Kalau
        binatang-binatang Pulau Neraka bersembunyi ketakutan diamuk badai, mana mereka mampu masuk? Sudahlah, sekarang
        saya hendak menyampaikan permohonan yang amat penting bagi Taihiap." "Ah, Tocu, Di antara kita yang sudah
        menjadi sahabat, perlu apa banyak sungkan lagi? Kalau ada sesuatu, katakanlah saja, mana perlu menggunakan
        permohonan lagi?" jawab Sin Liong. Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu turun dari bangkunya dan menjatuhkan diri
        berlutut di depan Sin Liong! Tentu saja pemuda ini menjadi sibuk sekali, cepat membangunkan kakek itu dan
        berkata, "Tocu, harap jangan begini. Aku yang muda mana berani menerimanya? Ada keperluan apakah? katakan saja,
        aku tentu akan membantumu sedapat mungkin." Sin Liong berkata dengan hati tidak enak, mengira akan menghadapi
        hal yang sulit. Setelah duduk kembali dan mengatur napasnya yang terengah-engah karena kesehatannya belum pulih
        kembali dan tubuhnya terasa amat lelah, kakek itu berkata, "Kwa-taihiap, aku sudah tua dan tidak mempunyai
        keturunan lain kecuali Soan Cu. Taihiap sudah melihat sendiri keadaan di Pulau Neraka yang merupakan tempat
        tidak baik untuk seorang dara seperti Soan Cu. Oleh karena itu, setelah kini kerajaan Pulau Es tidak ada,
        berarti bahwa Pulau Neraka telah bebas dan kami bukanlah orang-orang buangan lagi. Soan Cu juga bukan keturunan
        orang buangan lagi dan sewaktu-waktu kami boleh meninggalkan pulau ini. Karena itu, aku mohon dengan sepenuh
        hatiku, sudilah Taihiap membawa Soan Cu bersama Taihiap untuk mengenal dunia ramai, dan syukur kalau Taihiap
        dapat mengatur agar cucuku ini tidak usah lagi kembali dan tinggal di Pulau Neraka ini. Kuharap permohonan ini
        tidak akan ditolak oleh Taihiap." Sin Liong mengerutkan alisnya. Permintaan yang sama sekali tidak pernah
        disangkanya! "Akan tetapi, Ouw-tocu, hendaknya diingat bahwa aku sendiri adalah seorang sebatangkara yang tidak
        mempunyai apa-apa, tidak mempunyai tempat tinggal dan masih belum kuketahui apa akan jadinya dengan diriku
        ini." "Kalau Taihiap merantau, bawalah dia merantau, ke mana saja aku sudah pasrah sepenuhnya. Baik dia akan
        Taihiap anggap sebagai sahabat, sebagai saudara, atau kalau mungkin.... dari lubuk hatiku kuharap sebagai calon
        jodoh, aku sudah merasa lega dan senang, asal dia tidak tersiksa tinggal di neraka ini." Sin Liong merasa sukar
        untuk menolak, akan tetapi juga berat untuk menerima, maka dia menoleh kepada Soan Cu dan berkata, "Soal ini
        sebaiknya kita serahkan kepada Soan Cu sendiri. Kalau memang dia suka merantau meninggalkan pulau ini, tentu
        saja aku tidak keberatan mengadakan perjalanan bersama. Akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa aku menerima
        usul perjodohan Tocu, dan sewaktu-waktu dia boleh pergi ke mana saja, jadi aku tidak terikat oleh perjanjian
        apapun juga." "Taihiap, jangan khawatir. Memang aku sejak dulu tidak kerasan tinggal di sini, hanya karena
        kedudukanku sebagai seorang keluarga buangan saja yang mencegah aku meninggalkan Pulau Neraka. Sekarang aku
        telah bebas, dan betapapun juga, aku akan pergi dari sini. Hanya kalau bersama Taihiap, tentu hati Kong-kong
        akan merasa lebih aman, dan juga untukku sendiri yang tidak ada pengalaman, melakukan perjalanan bersamamu
        merupakan hal yang menyenangkan sekali. Aku hendak pergi mencari ayahku, Taihiap." "Dan aku hendak mencari Swat
        Hong dan ibunya." "Kalau begitu, mari kita mencari berdua, siapa tahu dalam mencari Sumoimu itu , aku dapat
        bertemu dengan ayahku." Setelah mendapat banyak pesan dan melihat Kong-kongnya, membawa pula bekal berupa
        pakaian dan sekantung emas simpanan Kong-kongnya, berangkatlah Soan Cu bersama Sin Liong meninggalkan Pulau
        Neraka dengan sebuah perahu. Selama hidupnya yang lima belas tahun itu, belum pernah Soan Cu meninggalkan
        pulau, maka setelah perahu meluncur jauh dan dia hampir tidak dapat melihat lagi Kongkongnya bersama semua sisa
        penghuni Pulau Neraka yang mengantarkanya sampai ke pantai, Soan Cu tak dapat menahan bercucurannya air
        matanya. "Soan Cu, mengapa kau menangis? Kalau kau tidak tega meninggalkan kakekmu, masih belum terlambat untuk
        kembali," kata Sin Liong yang sebetulnya merasa tidak enak sekali memikul kewajiban ini. Biarpun dia tidak
        terikat sesuatu, namun sedikit banyak dia dibebani keselamatan dara ini, dan kalau dara ini wataknya seaneh
        Swat Hong, dia tentu akan menjadi lebih pusing lagi! "Ah, tidak, Taihiap. Aku hanya merasa perih hatiku
        meninggalkan tempat yang sejak kulahir menjadi tempat tinggalku itu. Orang sedunia boleh menyebutnya Pulau
        Neraka, akan tetapi setelah aku berangkat meninggakan pulau itu, terasa olehku bahwa disitu adalah sorga." Sin
        Loing tersenyum dan mendayung perahunya lebih cepat lagi. Pernyataan yang keluar dari mulut dara ini merupakan
        pelajaran yang amat penting baginya, membuka matanya melihat kenyataan bahwa sorga maupun neraka itu berada
        dalam hati manusia itu sendiri! Betapapun indahnya suatu tempat kalau tidak berkenan di hatinya, akan merupakan
        neraka, sebaliknya betapapun buruknya suatu tempat kalau berkenan di hatinya akan menjadi sorga! Jadi, baik
        buruk, senang, susah, puas kecewa, semua ini bukan ditentukan oleh keadaan di luar, melainkan ditentukan oleh
        keadaan hati dan pikiran sendiri. keadaan di luar merupakaan kenyataan yang wajar, dan hanya pikiranlah yang
        menentukan dengan menilai, membandingkan, maka lahirlah puas, kecewa, senang, susah, baik, buruk, dan lain-lain
        hal yang saling bertentangan itu. Bahagialah orang yang dapat menghadapi segala sesuatu dengan mata terbuka,
        memandang segala sesuatu seperti APA ADANYA, tanpa penilaian. tanpa perbandingan. Orang bahagia tidak mengenal
        susah senang, karena bahagia bukan susah bukan pula senang, bukan puas bukan pula kecewa, melainkan suatu
        keadaan di atas itu semua, sama sekali tidak terganggu oleh pertentanganpertentangan itu. Perahu yang
        ditumpangi Sin Liong dan Soan Cu meluncur terus, ujung depannya yang meruncing membelah air yang tenang seperti
        sebuah pisau membelah agar-agar biru. Soan Cu sudah melupakan kesedihan hatinya dan kini dara itu memandang ke
        depan dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar penuh harapan akan masa depan yang berlainan sama sekali
        dengan keadaan di Pulau Neraka. Banyak sudah dia mendengar dongeng kakeknya yang juga hanya mendengar dari
        nenek moyangnya tentang keadaan di dunia rame, dan sekarang dia sedang menuju kepada kenyataan yang akan
        dilihatnya dengan mata sendiri! Pusat perkumpulan Pat-jiu-kaipang (Perkumpulan pengemis Tangan Delapan) berada
        di lereng Pegunungan Hen-san. Dari luar, tempat itu memang pantas disebut pusat perkumpulan pengemis karena
        hanya merupakan tempat di dataran tinggi yang dikelilingi pagar bambu yang tingginya hampir dua kali tinggi
        orang, pagar yang butut dan bambu-bambu itu mengingatkan orang akan tongkat bambu yang biasa dibawa oleh para
        pengemis. Akan tetapi kalau orang sempat menjenguk di dalamnya, dia akan terheranheran menyaksikan sebuah rumah
        gedung yang pantas juga disebut sebuah istana kecil berdiri megah dan mewah sekali! Inilah tempat tinggal
        Pat-jiu Kai-ong, Si Raja Pengemis yang menjadi ketua Pat-jiu Kaipang di lereng Hengsan! Pat-jiu kai-ong sudah
        berusia kurang lebih tujuh puluh tahun, akan tetapi dia masih kelihatan tangkas dan belum begitu tua,
        sungguhpun pakaianya selalu butut, sebutut tongkatnya, sama sekali tidak sesuai dengan keadaan gedungnya. Hanya
        kalau hari sudah menjadi gelap saja maka berubahlah raja pengemis ini, pakaiannya diganti dengan pakaian tidur
        yang layaknya dipakai seorang pangeran! Dan mulailah kehidupan yang berlawanan dengan keadaan hidupnya di waktu
        siang, berbeda jauh seperti bumi dan langit. Di waktu siang, dia lebih patut disebut seorang pengemis elaperan
        yang berkeliaran di sekitar rumah gedung itu. Akan tetapi di waktu malam, dengan pakaian indah dan tubuh
        bersih, dia bersenang-senang makan minum dengan hidangan serba lezat dan mahal, dilayani oleh lima orang
        selirnya yang muda-muda, cantik dan genit. Pat-jiu Kai-ong tinggal tinggal didalam istananya yang mewah akan
        tetapi yang dikelilingi pagar bambu tinggi sehingga tidak tampak dari luar itu bersama lima orang selirnya,
        lima orang pelayan dan selosin orang anak buahnya yang merupakan pengawal-pengawalnya. Selosin orang ini tentu
        saja merupakan tokoh-tokoh dalam pat-jiu Kai-pang, karena mereka adalah pembantu yang boleh diandalkan, atau
        juga murid-murid tingkat satu dari raja pengemis itu. para pengawal itu melakukan penjagaan siang malam secara
        bergilir dan mereka tinggal di dalam rumah samping di kanan kiri istana ketua mereka. Adapun Pat-jiu Kai-pang
        mempunyai anggota yang banyak dan yang tersebar luas di kota-kota. Dengan mengandalkan nama besar perkumpulan
        itu, terutama sekali nama besar Kai-ong, para anggauta itu dapat mengumpulkan sumbangan-sumbangan yang besar
        dan sebagian dari pada hasil sumbangan ini mereka setorkan kepada Pat-jiu kai-ong. Inilah membuat raja pengemis
        menjadi kaya raya dan dapat hidup mewah sekali. Selosin orang pembantunya, selain pengawal dan penjaga
        istananya, juga bertugas untuk turun tangan mewakili ketua mereka apabila ada cabang yang kurang dalam memberi
        setoran! Pat-jiu Kai-ong sendiri yang sudah hidup makmur jarang meninggalkan istananya di Heng-san. Hanya
        urusan besar saja yang dapat menariknya pergi meninggalkan tempat yang amat menyenangkan hatinya itu. Kurang
        lebih sepuluh tahun yang lalu dia ikut pula memperebutkan Sin-tong Si Anak Ajaib karena dia pada waktu itu
        ingin cepat-cepat menyempurnakan ilmu yang sedang diciptakan dan dilatihnya, yaitu ilmu Hiat-ciang-hoatsut
        (Ilmu Sihir Tangan Darah). Jika pada waktu itu dia berhasil merebut Sintong, tentu dalam waktu satu tahun saja
        ilmunya akan sempurna. Akan tetapi karena seperti diceritakan di bagian depan, dia gagal dan Sin-tong dibawa
        pergi oleh pangeran Han Ti Ong dari Pulau Es, maka dia harus mengorbankan puluhan orang bocah untuk dimakan
        otaknya dan disedot darah dan sumsumnya. Kini dia telah mahir dengan ilmu hitam yang mengerikan itu, akan
        tetapi sayangnya, setiap tahun dia harus mengisi tenaga itu dengan pengorbanan seorang bocah! Pada suatu hari ,
        pagi-pagi sekali, selagi Pat-jiu Kai-ong seperti biasa meninggalkan kehidupan malamnya yang mewah, berpakaian
        sebagai seorang pengemis berjalan-jalan di dalam taman bunga di belakang istananya, membawa tongkat butut dan
        berlatih silat di waktu embun pagi masih tebal, tiba-tiba seorang pengawalnya datang menghadap dan melaporkan
        bahwa ada tiga orang tamu datang ingin bertemu dengan Si Raja Pengemis. "Hemm, siapakah pagi-pagi begini sudah
        datang menggangguku?" Pat-jiu Kai-ong berkata dengan alis berkerut. Akan tetapi karena merasa penasaran, dia
        tidak memerintahkan pengawalnya mengusir orang itu dan terutama sekali ketika mendengar pelaporan itu bahwa
        yang datang adalah seorang kakek bersama dua orang muda, seorang dara jelita dan seorang muda tampan. Hatinya
        tertarik sekali ketika mendengar bahwa kakek itu mengaku sebagai seorang "sahabat lama." Ketika dia keluar
        membawa tongkat bututnya dan bertemu dengan tiga orang itu, Pat-jiu Kai-ong memandang tajam. Dia kagum melihat
        pemuda yang amat tampan dan pemudi yang amat cantik jelita itu. Wajah mereka yang mirip satu sama lain
        menunjukan bahwa mereka adalah kakak beradik, pemudanya berusia kurang lebih enam belas tahun, pemudinya lima
        belas atau empat belas tahun. Sampai lama pandang mata Pat-jiu Kai-ong melekat kepada dua orang muda itu,
        keduanya membuat hatinya terguncang penuh kagum dan andaikata dia tidak menahan perasaannya, tentu mulutnya
        akan mengeluarkan air liur! Barulah dia terkejut ketika mendengar kakek itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha!
        Pat-jiu Kai-ong kurasa engkau belum begitu pikun untuk melupakan dua orang anakku ini. Mereka adalah Swi Liang
        dan Swi Nio, ha-ha-ha! Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong mengerutkan alisnya, sama sekali tidak mengenal kedua nama
        ini. Dia memandang dengan mata terheran kepada laki-laki yang berdiri di depannya, seorang laki-laki berusia
        kurang lebih lima puluh tahun, berpakaian sederhana berwarna kuning, dengan kepala yang beruban itu terlindung
        kain pembungkus rambut yang berwarna kuning pula. Kakek itu tertawa lagi. "Wah, Pat-jiu Kai-ong, benar-benar
        engkau telah lupa kepada kami? Lupa kepada sahabatmu di Lusan ini?" "Ahhhh...!" Pat-jiu Kai-ong tertawa,
        mukanya berseri dan dia cepat membungkuk untuk memberi hormat. "Kiranya sahabat Bu yang datang? maaf, maaf,
        mataku sudah lamur saking tuanya sehingga tidak mengenal sahabat baik yang kurang lebih sepuluh tahun tak
        pernah kujumpi. Jadi ini kedua anakmu itu? Dahulu mereka baru berusia lima enam tahun, kecil dan lucu serta
        berani, bahkan kalau tidak salah, anak perempuanmu ini yang dahulu menantang pibu kepadaku. Ha-ha-ha!" Dara
        berusia lima belas tahun yang cantik jelita itu menunduk dan kedua pipinya berubah merah. "Harap Pangcu sudi
        memaafkan saya." "Aih-aih...! Ini tentu orang tua lusan ini yang mengajarnya. Menyebutku Pangcu segala!"
        "Ha-ha-ha, Pangcu. Bukankah engkau memang Ketua dari Pat-jiu Kai-pang? Mengapa tidak mau disebut Pangcu oleh
        puteriku?" Kakek itu berkata. "Wah, jangan berkelabar. Anak-anak yang baik, sebut saja aku paman. marilah
        masuk, kita bicara di dalam." Pat-jiu-kai-ong lalu bertepuk tangan dan para pengawalnya muncul. "lekas
        beritahukan para pelayan agar mempersiapkan hidangan makan pagi yang baik untuk tamuku yang terhormat, Lu-san
        Lojin (Orang Tua Dari Lusan) dan dua orang putera-puterinya!" Para pengawal itu mundur dan Pat-jiu-kai-ong
        menggandeng tangan kakeknya itu, sambil tertawatawa mereka memasuki istana dan duduk di ruangan dalam
        menghadapi meja dan duduk di kursi-kursi yang berukir indah. Sambil memandang ke kanan kiri mengagumi keindahan
        ruangan itu, Lu-san Lojin berkata memuji, "Sungguh hebat! Lama sudah aku mendengar bahwa Pat-jiu-kai-ong
        tinggal disebuah istana yang megah, kiranya keadaan di sini melampau segalanya yang telah kudengar. Hebat
        sekali!" Sejak tadi Pat-jiu-kai-ong merayapi tubuh pemuda dan pemudi itu dengan pandangan matanya. Dia kagum
        bukan main melihat dara cantik jelita dan pemuda yang tampan dan gagah itu. "Ha-ha, kau terlalu memuji,
        sahabat. Aku tidak mengira bahwa hari ini tempatku yang buruk akan meneriama kehormatan kedataangan seorang
        tamu agung, seorang penolongku yang budiman bersama putra dan puterinya yang begini elok." Kedua orang tua ini
        lalu bercakap-cakap dengan gembira membicarakan masa lampau. Siapakah kakek ini? Dia adalah Lu-san Lojin,
        seorang ahli silat dan ahli pengobatan yang semenjak istrinya meninggal dunia, meninggalkan dua orang anak,
        lalu mengajak dua orang anaknya itu mengasingkan diri ke puncak Lu-san, dan di sana dia bertapa sambil mendidik
        dan menggembleng putera puterinya. Sepuluh tahun yang lalu, setelah gagal merebut Sin-tong, dalam kekecewaannya
        Pat-jiu Kai-ong lalu mengamuk di sepanjang jalanan, menculik dan membunuhi bocah-bocah yang dianggapnya cukup
        sehat. Ketika dia tiba di kaki Pegunungan Lu-san, dia berada dalam keadaan keracunan hebat. Hal ini terjadi
        karena dia terlampau banyak membunuh anak laki-laki, makan otak mereka dan menghisap darah serta sumsum mereka
        untuk menyempurnakan ilmunya, terlampau banyak melatih diri dengan ilmu hitam Hiat-ciang Hoat-sut. Karena
        hatinya yang penasaran mengapa dia tidak dapat mengalahkan Han Ti Ong dan merebut Sin-tong, maka dia lupa akan
        ukuran tenaga sendiri dan melatih diri dengan ilmu hitam itu, dia terlampau terburu-buru dan akibatnya, hawa
        mujijat dari ilmu itu membalik dan membuat dia terluka dalam, keracunan hebat sehingga dia terhuyung-huyung dan
        hampir pingsan ketika tiba di kaki Pegunungan Lu-san. Dia maklum akan keadaan dirinya, tahu bahwa dia terancam
        bahaya maut maka hatinya menjadi khawatir sekali. Kebetulan baginya, pada saat itu keadaannya terlihat oleh
        Lu-san Lojin yang sedang turun gunung bersama putera-puterinya yang pada waktu itu baru berusia enam dan lima
        tahun, sebagai seorang gagah dan berilmu tinggi, Lu-san Lojin cepat menolong Pat-jiu Kai-ong. Setelah memeriksa
        keadaan raja pengemis itu, dia maklum bahwa Pat-jiu Kai-ong memerlukan perawatan khusus, maka diajaknya orang
        ini naik ke puncak Lu-san. Di situ Pat-jiu Kai-ong diobati Lu-san Lojin sampai sembuh . Selama satu bulan
        berada di Lu-san, raja pengemis ini menerima perawatan yang amat baik dari Lu-san Lojin, maka dia merasa
        berterima kasih sekali dan menganggap pertapa itu sebagai penolong dan sahabat baiknya. Juga dia mengenal dua
        orang bocah yang mungil itu. Karena kebaikan hati Lu-san Lojin, biarpun dia melihat Swi Liang sebagai seorang
        anak yang mempunyai darah bersih dan tulang kuat, dia tidak tega untuk mengganggu anak laki-laki itu. Di lain
        pihak, ketika mendengar bahwa yang ditolongnya adalah Pat-jiu kai-ong ketua Pat-jiu kai-pang, Lusan Lojin
        terkejut sekali. Akan tetapi dia menjadi bangga bahwa raja pengemis yang namanya terkenal itu menganggapnya
        sebagai sahabat baik. Maka setelah sembuh, mereka berpisah sebagai sahabat yang berjanji untuk saling
        mengunjungi dan saling membantu. "Sungguh aku tidak tahu diri dan tidak mengenal budi," setelah makan minum
        Pat-jiu Kai-ong berkata kepada tamunya. "Sepatutnya akulah yang datang mengunjungi kalian di Lu-san, bukan
        kalian yang jauhjauh datang mengunjungi aku." "Ahhh, mengapa kau menjadi sungkan begini? Kita bersama telah
        mempunyai kewajiban masing-masing sehingga tentu saja telah sibuk dengan pekerjaan. Kamu pun hanya kebetulan
        saja lewat di kaki Pegunungan Heng-san, maka aku teringat kepadamu dan mengajak kedua anakku untuk mendekati
        Pegunungan Hengsan mencarimu." "Terima kasih, engkau baik sekali, Lu-san Lojin. Akan tetapi, kalau boleh aku
        mengetahui, kalian datang dari manakah?" Lu-asn Lojin menarik napas panjang dan menoleh kepada puteranya,
        memandang puterinya seolah-olah minta ijinnya, Swi Liang menganggukan kepalanya kepada ayahnya, dan menunduk.
        Dianggap oleh pemuda ini bahwa Pat-jiu Kai-ong adalah seorang sahabat baik ayahnya, bahkan seperti saudara
        sendiri, maka tidak ada salahnya kalau raja pengemis itu mengetahui urusannya. Siapa tahu raja pengemis itu
        dapat membantunya . "Kami baru saja datang dari Lokyang, melakukan perjalanan sejauh itu dan ternyata sia-sia
        belaka perjalanan kami untuk mencari Tee-tok Siangkoan Houw." "Tee-tok Siangkoan Houw? Ah, ada urusan apakah
        engkau mencari racun bumi itu, Lu-san Lojin?" "Sebetulnya urusan lama, urusan perjodohan, semenjak kecil,
        antara Tee-tok dan aku telah terdapat persetujuan untuk menjodohkan puteraku Bu Swi Liang ini dengan puterinya
        yang bernama Siangkoan Hui. Akan tetapi, setelah keduanya menjadi dewasa, tidak ada berita dari Tee-tok
        sehingga hatiku merasa khawatir sekali. Aku sudah berusaha mencarinya, namun selalu sia-sia. Akhir-akhir ini
        aku mendengar bahwa dia berada di Lokyang, akan tetapi setelah jauh-jauh kami bertiga mencarinya di sana,
        ternyata dia tidak berada di sana pula. Hemm, sikap orang tua itu masih selalu aneh dan penuh rahasia."
      </P>
      <P>
        "Ha-ha-ha, ala salahmu sendiri! mengapa mengikat perjanjian dengan seorang iblis seperti Tee-tok?" "Pat-jiu
        Kai-ong, jangan bergurau. Ini urusan yang penting bagi kami, karena itu, kami mengharap bantuanmu yang
        mempunyai banyak anak buah, agar suka menyelidiki di mana kami dapat bertemu dengan Tee-tok Siangkoan Houw."
        "Baik, baik... jangan khawatir. Akan kusuruh anak buahku menyelidikinya, dan kalian bermalamlah di sini, jangan
        tergesa-gesa pulang." Lu-san Lojin menggeleng kepala. "Sudah terlalu lama kami meninggalkan pondok, kami hanya
        dapat bermalam untuk satu malam saja. Besok pagi-pagi kami harus melanjutkan perjalanan." "Semalaman cukuplah,
        Biar kupergunakan untuk menjamu kalian sepuas hatiku." Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di luar istana
        raja pengemis itu. Tak lama kemudian dua orang pengawal pribadi Kai-ong masuk dengan muka pucat dan kelihatan
        takut. "Ada apa? mau apa kalian mengganggu kami?" Kai-ong membentak marah dan menurunkan cawan araknya
        keras-keras ke atas meja sehingga meja itu tergetar. "Pangcu... ampunkan kami berdua... terpaksa kami
        mengganggu karena ada peristiwa yang amat aneh dan mengkhawatirkan kami semua." "Apa yang terjadi? Hayo cepat
        ceritakan." Dengan wajah ketakutan, seorang di antara dua orang pengawal itu lalu menceritakan apa yang baru
        saja terjadi di luar istana. Karena Pangcu sedang menjamu tamu, para pengawal menjaga di luar dan mereka sedang
        mengagumi seekor ayam jago kesayangan Pat-jiu Kai-ong. Raja pengemis itu memang suka sekali memelihara ayam
        jago dan kadang-kadang mengadunya. Pagi hari itu seperti biasa, seorang pelayan memandikan dan memberi makan
        ayam jago itu, dan memuji-mujinya sebagai jago peranakan tanah selatan yang amat baik. Tiba-tiba ayam jago itu
        menggelepar di dalam kedua tangannya, darah muncrat dan ayam itu mati, dadanya ditembusi sehelai benda lembut
        yang kemudian ternyata adalah sebatang daun! Di tangkai daun itu terdapat sehelai kain yang ada tulisanya.
        "Kami telah meloncat dan mencari di sekeliling, akan tetapi tidak ada bayangan seorang pun manusia, Pangcu.
        Agaknya hanya iblis saja yang dapat menggunakan sehelai daun untuk menyambit dan membunuh ayam jago dan...."
        "Cukup!" Raja pengemis itu marah sekali mendengar jagonya dibunuh orang. "Kalian tolol semua! Mana kain yang
        ada tulisan itu!" Kepala pengawal yang mukanya penuh bewok itu dengan kedua tangan gemetar, menyerahkan sehelai
        kain putih kepada ketuanya. kain itu ada tulisannya dengan huruf-huruf kecil berwarna hitam, akan tetapi ada
        noda-noda darah, darah ayam jago tadi. Akan tetapi Pat-jiu Kai-ong yang menerima kain itu, sejenak menjadi
        bingung dan baru ia teringat bahwa dia tidak mampu membaca. Dia buta huruf! Dengan jengkel dan agak malu dia
        lalu melemparkan kain itu kepada Lu-san Lojin sambil berkata, "Harap kaubacakan ini untukku!" Lu-san Lojin
        menyambar kain yang melayang ke arahnya itu, lalu matanya memandang tulisan. Mukanya berubah, matanya
        terbelalak. "Wah... apa artinya ini?" "Lojin! bagaimana bunyinya?" Pat-jiu Kai-ong bertanya, suaranya
        membentak. Lu-san Lojin lalu membaca huruf-huruf itu. Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah
        Pat-jiu Kai-ong dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!" Ratu Pulau Es. "Ratu Pulau Es...?" Pat-jiu
        Kai-ong tertawa. "Siapakah dia? Aku tidak mengenalnya. Hai pelawak dari manakah yang main-main seperti ini?
        Ha-ha-ha, biar dia datang hendak kulihat magaimana macamnya!" "Kai-ong, harap jangan main-main. Biarpun hanya
        seperti dalam dongeng, nama Pulau Es amat terkenal, katanya penghuninya memiliki kepandaian seperti dewa,
        apalagi dahulu yang terkenal dengan sebutan Pangeran Han Ti Ong...." "Ha-ha-ha, siapa perduli? Aku tidak ada
        permusuhan dengan Han Ti Ong, bahkan dia yang pernah mengganggu aku. Mengapa sekarang ada ratu dari sana hendak
        membunuhku dengan ancaman sesombong itu? Aku tidak percaya. He, pengawal apakah kalian tahu akan isi surat?"
        Dua orang pengawal itu mengangguk. "Sudah Pangcu." "Apa kalian takut?" "Ti... tidak, Pangcu, Hanya... hanya
        amat aneh itu..." "Sudahlah. Setelah kalian tahu isinya, hayo kalian dua belas orang melakukan penjagaan yang
        ketat terutama malam ini. Kita jangan mudah digertak lawan yang membadut! Biarkan dia datang, kita tangkap dia
        dan kita permainkan dia, ha-ha-ha!" "Kai-ong harap hati-hati...." kata Lu-san Lojin setelah para pengawal itu
        keluar dari ruangan itu. "Ha-ha-ha, mengapa khawatir? Apalagi baru seorang badut, biar Han Ti Ong sendiri yang
        datang, setelah kini Hiat-ciang Hoat-sut kulatih sempurna, aku takut apa?" Kakek dari Lu-san itu kelihatan
        ragu-ragu, akan tetapi untuk menyatakan bahwa dia takut, tentu saja dia tidak mau dengan hati berat dia bersama
        dua orang anaknya menemani tuan rumah makan minum dan bercakap-cakap sampai lewat tengah hari. Kemudian mereka
        dipersilahkan mengaso sejenak dalam kamar tamu, akan tetapi menjelang senja, mereka sudah dipersilahkan makan
        minum lagi. Sekali ini mereka benar-benar takjub. Melihat Pat-jiu Kai-ong kini bertukar pakaian, pakaian malam
        yang indah dan mewah! Mengignat betapa siang tadi Kai-ong merupakan seorang pengemis yang berpakaian butut, dan
        kini seperti seorang raja, benar-benar membuat Lu-san Loji hampit tertawa, seperti melihat seorang badut pemain
        lenong! Dan hidangan yang dikeluarkan di meja juga istimewa, jauh lebih lengkap daripada siang tadi! "Ha-ha,
        ayo makan minum. Kita berpesta sampai kenyang!" kata tuan rumah itu mempersilahkan tamutamunya. Setelah
        hidangan tinggal sedikit dan perut mereka kenyang sekali, Pat-jiu Kai-ong mengusap-ngusap bibirnya yang
        berminyak dan perutnya yang gendut, matanya memandang ke arah Bu Swi Liang dan Bu Swi Nio penuh gairah, lalu
        dia berkata, kata-kata yang sama sekali tidak pernah disangka oleh para tamunya dan yang membuat mereka
        terkejut setengah mati, "Lu-san Loji, sekarang kau tidurlah dalam kamarmu dan jangan hiraukan badut yang hendak
        mengganggu. Adapun dua orang anakmu ini, yang cantik jelita dan tampan gagah, biarlah mereka berdua
        besenang-senang dengan aku dalam kamarku, ha-ha-ha!" "Kai-ong!" Lu-san Lojin membentak. "Apa... maksud
        kata-katamu ini?" Pat-jiu Kai-ong memandang tamunya sambil tersenyum lebar. "Apa maksudnya? Swi Liang begini
        tampan gagah dan Swi Nio cantik jelita dan segar, sungguh aku suka sekali kepada mereka. Kalau mereka bedua
        bersama dengan aku dalam kamarku, tentu mereka akan terlindung dan....hemmm, aku ingin sekali bersenang dengan
        mereka, tidur-tiduran dengan mereka sejenak." "Kai-ong, apa kau gila??" Lu-san Lojin hampir tidak dapat percaya
        akan pendengaranya sendiri. "Eh, mengapa? Apa salahnya aku tidur dengan dua orang keponakanku ini? Heh-heh, tak
        tahan aku melihat puterimu yang muda dan cantik segar, dan puteramu yang tampan dan ganteng ini. Anak-anak
        baik, marilah kalian layani pamanmu..." "Keparat!" Lu-san Lojin melompat ke depan dan dua orang anaknya yang
        berada di belakangnya pun sudah siap dengan pedang di tangan. "Pat-jiu Kai-ong! Harap kau jangan main gila dan
        jelaskan apa sebabnya perubahan sikapmu ini. Mau apa engkau dengan anak-anakku?" "Ha-ha-ha! Siapa main gila?
        Sebelum kalian muncul, tidak pernah ada terjadi apa-apa di sini. Akan tetapi begitu kalian muncul, muncul pula
        orang aneh yang membunuh ayamku dan mengeluarkan ancaman. Siapa lagi kalau bukan teman dan kaki tanganmu? Dan
        kau tentu sudah mendengar bahwa Pat-jiu Kai-ong tidak pernah menyia-nyiakan kecantikan seorang dara remaja
        seperti putermu ini dan puteramu yang tampan ini tentu memiliki otak yang bersih, darah yang segar dan sumsum
        yang kuat. Perlu sekali untuk menambah keampuhan Hiat-ciang Hoat-sut agar makin kuat menghadapi lawan kalau
        malam ini ada yang berani datang!" "Iblis jahanam! Kiranya engkau seorang manusia iblis yang busuk!" Lu-san
        Lojin sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya. Kakek ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sebagai
        bekas murid Hoa-sanpai yang sudah memperdalam ilmunya dengan ciptaanya sendiri, hasil renungannya di waktu
        bertapa. Kepalan tangnnya menyambar dahsyat, mengandung tenaga sinkang yang amat kuat. Akan tetapi kiranya
        hanya dalam ilmu pengobatan saja dia menang jauh dibandingkan dengan Pat-jiu Kai-ong. Dalam ilmu berkelahi, dia
        tidak mampu menandingi Kai-ong yang amat lihai. Sambil tertawa, Kai-ong mengebutkan ujung lengan bajunya yang
        lebar dua kali dan kakek Lu-san itu terpaksa harus menarik kembali kedua tanganya karena dari kedudukan
        menyerang, dia malah menjadi yang diserang karena pergelangan kedua tangannya terancam totokan ujung lengan
        baju itu! dua orang naknya yang sudah marah sekali karena merasa dihina, sudah menerjang maju pula dengan
        pedang mereka. Swi Liang menusuk dari samping kiri ke arah lambung kakek pengemis itu, sedangkan dari kanan Swi
        Nio membabatkan pedangnya ke arah leher. "Ha-ha, bagus! Kalian benar-benar menggairahkan!" kata kakek itu dan
        dia bersikap seolah-olah tidak tahu bahwa dirinya diserang. Akan tetapi setelah kedua pedang itu menyambar
        dekat, tiba-tiba kedua tangannya menyambar dan.... dua batang pedang itu telah dicengkramnya dengan telapak
        tangan! Swi Liang dan Swi Nio terkejut bukan main, akan tetapi melihat betapa kedua batang pedang mereka itu
        dipegang oleh tangan kakek itu, mereka cepat menggerakan tenaga menarik pedang dengan maksud melukai telapak
        tangan Pat-jiu Kai-ong. Namun usaha mereka ini sia-sia belaka, pedang mereka tak dapat dicabut, seolah-olah
        dicengkeram jepitan baja yang amat kuat. "Manusia tak kenal budi!" "wirrrr... tar-tar!" Pat-jiu Kai-ong merasa
        terkejut melihat menyambarnya sinar kuning dan ternyata bahwa Lu-san Lojin melolos sabuknya yang berwarna
        kuning dan kini menggunakan sabuk itu sebagai senjata. Kakek ini memang memiliki tenaga sinkang yang kuat, dan
        memainkan sabuk sebagai senjata sudah merupakan kehaliannya. Sabuk lemas di tangannya itu dapat bergerak
        seperti pecut, dapat pula menjadi sebatang senjata yang kaku dengan pengerahkan sinkangnya. "Krekk-krekkk!" dua
        batang pedang itu patah-patah dalam cengkraman Pat-jiu Kai-ong dan sambil melompat mundur menghindarkan
        sambaran ujung sabuk, raja pengemis ini menyambitkan dua ujung pedang yang dipatahkanya ke arah Lu-san Lojin.
        "Trang-tranggg!" Dua batang ujung pedang itu terlempar ke lantai ketika ditangkis oleh ujung sabuk(ikat
        pinggang) dan kini Lu-san Lojin mendesak ke depan dengan putaran senjatanya yang istimewa. Sedangkan kedua
        orang anaknya telah mundur dan hanya menonton di pinggir karena mereka terkejut menyaksikan pedang mereka
        dipatahkan begitu saja oleh kedua tangan lawan dan mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berguna membantu
        ayah mereka. Pada saat itu, muncullah empat orang pengawal yang mendengar suara ribut-ribut. Melihat mereka,
        Pat-jiu Kai-ong berkata, "Tangkap dua orang muda ini, akan tetapi awas, jangan lukai mereka!" Empat orang
        pengawal itu segera menubruk maju hendak menangkap Swi Liang dan Swi Nio. Tentu saja kakak beradik ini melawan
        sekuat tenaga, akan tetapi biarpun keduanya memiliki ilmu silat tinggi, namun empat orang pengawal itu pun
        merupakan murid-murid terpandai dari Pat-jiu Kai-ong, maka ketika dua orang di antara mereka menggunakan
        tongkat, dalam belasan jurus saja Swi Liang dan Swi Nio dapat ditotok dan roboh dan lumpuh. Ha-ha-ha, belenggu
        kaki tangan mereka baik-baik... kemudian lempar mereka ke atas tempat tidurku... haha- ha!" Pat-jiu Kai-ong
        tertawa sambil menyambar tongkatnya. Setelah dia bertongkat, maka kini dia menghadapi Lu-san Lojin dengan lebih
        leluasa. Kakek dari Lu-san itu marah bukan main melihat putera dan puterinya digotong pergi dari ruang itu. Dia
        mengejar dan menggerakan ikat pinggangnya, namun Pat-jiu Kai-ong menghadangnya sambil tertawa-tawa dan
        menyerangnya dengan tongkatnya sehingga terpaksa kakek Lu-san itu melayaninya bertanding. Pertandingan yang
        amat seru dan diam-diam Pat-jiu Kai-ong harus mengaku bahwa ilmu kepandaian kakek yang pernah menolongnya ini
        memang hebat. "Pat-jiu Kai-ong, benar-benarkah kau lupa akan budi orang? Aku pernah menyelamatkan nyawamu,
        apakah sekarang engkau mencelakakan kami bertiga?" Lu-san Lojin berkata membujuk karena khawatir melihat nasib
        puterinya. "Ha-ha-ha, dahulu memang engkau pernah menolongku, akan tetapi sekarang kalian datang dengan niat
        buruk!" "Tidak! Kau salah duga! Kami tidak ada sangkut pautnya dengan si pembunuh ayam!" "Ha-ha-ha, Lu-san
        Lojin! Kalian menyelundup ke dalam dan bergerak dari dalam, sedangkan setan itu bergerak dari luar. Begitukah?"
        Tongkat di tangan Pat-jiu Kai-ong menyambar ganas. "Plak-plakk!" Ujung sabuk kakek Lu-san menangkis dua kali
        akan tetapi dia merasa betapa telapak tangannya tergetar tanda bahwa tenaga Si Raja Pengemis itu benar-benar
        amat kuat. "Pat-jiu Kai-ong, kau salah menduga, kami tidak ada hubungan dengan musuh yang datang. Lepaskan
        kedua anakku dan kau berjanji akan membantumu menghadapi musuh gelap itu." "Wah, berat kalau disuruh
        melepaskan. Lu-san Lojin, dengan baik-baik. Aku tergila-gila melihat anakanakmu. Pinjamkan mereka kepadaku
        untuk satu dua malam, dan kau bantu aku menghadapi musuh, baru aku akan membebaskan kalian." "Iblis busuk!"
        Lu-san Lojin marah sekali dan dengan nekat dia lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan raja pengemis ini
        karena dia maklum bahwa betapapun juga hati yang kotor dari raja pengemis itu tidak mudah dibujuk. Satu-satunya
        jalan untuk menolong anak-anaknya adalah melawan mati-matian. "Plakkk!" Tiba-tiba ujung sabuk melibat tongkat,
        keduanya saling betot untuk merampas senjata. Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berhasil merampas senjata
        lawan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Pat-jiu Kai-ong untuk menggerakan tangan kirinya dengan telapak
        tangan terbuka ke arah lawan. Lu-san Lojin terkejut melihat telapak tangan yang menjadi merah seperti tangan
        berlumuran darah itu. Dia belum pernah mengenal limu Hiat-ciang Hoat-sut dari raja pengemis itu, namun dia
        pernah mendengar akan hal ini, tahu pula betapa keji dan berbahayanya ilmu itu. Akan tetapi untuk mengelak dia
        harus melepaskan sabuknya dan hal ini pun amat berbahaya. Dengan senjata itu saja dia masih kewalahan melawan
        Pat-jiu Kai-ong, apalagi tanpa senjata, maka dengan nekat dia lalu menggerakan tangan pula menyambut pukulan
        itu. "Dessss...! Aduhhh...!!" Dua telapak tangan bertemu dan akibatnya tubuh Lu-san Lojin terjengkang dan
        terbanting ke atas lantai, mulutnya mengeluarkan darah segar dan matanya mendelik. Kakek ini pingsan dan
        menderita luka dalam yang amat parah! "Lempar dia di kamar tahanan!" Pat-jiu Kai-ong berkata sambil tertawa.
        Setelah tubuh kakek yang pingsan itu digusur pergi oleh para pengawalnya. Pat-jiu Kai-ong menghampiri meja di
        mana dia tadi menjamu para tamunya, menyambar guci arak dan menenggaknya habis, kemudian sambil tertawa-tawa
        dia memasuki kamarnya. Pemuda dan pemudi She Bu itu sudah rebah terlentang di atas pembaringan Pat-jiu Kai-ong
        yang lebar. Dalam keadaan terbelenggu kaki tanganya. Lima orang selirnya menjaga di situ. Ketiaka dia masuk
        sambil tertawa gembira, Bu Swi Liang memandang dengan mata melotot penuh kebencian, akan tetapi Bu Swi Nio
        memandang dengan mata terbelalak ketakutan dan mencucurkan air mata. Pat-jiu Kai-ong menghampiri pembaringan,
        menggunakan tangannya untuk membelai dan menghusap pipi Swi Nio dan Swi Liang sambil berkata, "Manis, jangan
        menangis dan kau jangan marah. Aku akan menemani kalian dan bersenang-senang sepuas hati setelah kami menangkan
        musuh gelap yang mengancam." Dia menengok ke arah lima orang selirnya dan berkata garang. "Temani mereka, jaga
        baik- baik jangan sampai ada yang lolos, dan kalau ada apa-apa, cepat berteriak memanggil para pengawal.
        Mengerti?" Lima orang selir itu mengangguk dan kakek itu meninggalkan kamar lagi. Sebelum orang yang membunuh
        ayam jagonya dan yang mengirim surat ancaman itu dapat ditangkap atau dibunuh, tentu saja dia tidak bernafsu
        untuk bersenang-senang dengan dua orang muda yang tertawan itu. Dia percaya penuh bahwa menghadapi seorang
        pengacau saja, para pengawalnya akan dapat mengatasinya, akan tetapi dia harus berhati-hati dan ikut melakukan
        penjagaan sendiri. Setelah keadaan benar-benar aman barulah dia boleh bersenag-senang. Dia belum yakin benar
        apakah musuh gelap itu ada hubungannya dengan Lu-san Lojin dan kedua orang anaknya, akan tetapi ada hubungan
        atau tidak, setelah tiga orang itu dibuat tidak berdaya, berarti mengurangi bahaya. Dia harus berhati-hati,
        maklum bahwa dia mempunayi banyak musuh. Siapa tahu kalau Lu-san Lojin yang termasuk golongan putih itu juga
        memusuhi. Andaikata tidak sekalipun, mana bisa dia melepaskan dua orang muda yang cantik jelita dan tampan itu?
        Pat-jiu Kai-ong duduk lagi di ruangan tadi sambil melanjutkan minum arak. Dia maklum bahwa malam ini dua belas
        orang pengawalnya menjaga dengan tertib dan penuh kewaspadaan. Ingin dia tertawa keras-keras mengusir kesunyian
        malam yang mendatangkan perasaan tidak enak. Hemmm, Ratu Pulau Es? Hanya dongeng! Pembunuh ayam itu tidak perlu
        ditakuti. Andaikata dia mampu mengalahkan dua belas orang pengawalnya, hal yang sukar dipercaya, masih ada dia
        sendiri. Hiat-ciang Hoat-sut, ilmu yang dilatihnya belasan tahun kini telah dapat diandalkan. Tadipun, hanya
        menggunakan sebagian kecil tenaganya saja, ilmu itu telah merobohkan Lu-san Lojin. Dia tidak takut! "Aku tidak
        takut!" serunya kuat-kuat. "Datanglah kamu, hai Ratu Pulau Es keparat! Ha-ha-ha!" Para pelayan sudah menyalakan
        lampu-lampu penerangan dan atas perintah para pengawal, pelayanpelayan ini menambah jumlah lampu sehingga
        keadaan di seluruh gedung itu menjadi terang. Setelah menyuruh para pelayan membersihkan meja di ruangan itu,
        dan sekali lagi memanggil kepala pengawal dan menekankan agar penjagaan diperketat dan selalu diadakan
        perondaan bergilir, Pat-jiu Kai-ong lalu duduk bersila di dalam ruangan itu untuk mengumpulkan tenaga dan
        mempertajam pendengarannya sehingga biarpun dia berada di dalam istana, namun dia ikut pula menjaga dan meronda
        mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua suara yang tidak wajar di luar istana. Malam makin
        larut dan keadaan sunyi sekali di istana itu dan sekitarnya. Para pelayan yang mendengar dari para pengawal,
        dengan muka pucat tinggal berkelompok di kamar seseorang di antara mereka, tidak berani membuka suara dan hanya
        saling pandang dengan mata penuh rasa takut. Para selir juga berkelompok di dalam kamar Pat-jiu Kai-ong, agar
        terhibur dengan adanya Swi Liang pemuda yang tampan itu. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa-malu-malu
        membelai pemuda itu, memegang tangannya, mengusap dagunya, membereskan rambutnya. Akan tetapi mereka tidak
        berani berbuat lebih dari itu, dan tidak berani mengeluarkan suara. Juga para pengawal agaknya melakukan
        penjagaan dengan teliti dan hati-hati, tidak bersuara seperti biasanya kalau mereka melakukan penjagaan tentu
        diisi dengan sendau gurau dan mengobrol. Kesunyian yang mengerikan itu tidak menyenangkan hati Pat-jiu Kai-ong.
        Akan tetapi dia amat memerlukan kesunyian ini agar penjagaan dilakukan lebih tertib dan rapi pula. dia merasa
        tersiksa dan diam-diam dia memaki musuh gelap itu. Kalau sampai tertawan, tentu akan dihukum dan disiksanya
        seberat mungkin! Tiba-tiba terdengar suara jeritan susul-menyusul yang datangnya dari dalam kamarnya! Pat-jiu
        Kai-ong cepat melompat dan hanya dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah menerjang masuk ke dalam
        kamarnya. Dilihatnya kelima orang selirnya menangis dan kelihatan gugup dan ketakutan, akan tetapi dua orang
        muda yang tadi terbelenggu di atas pembaringannya, seperti dua tusuk daging panggang yang dihidangkan di atas
        meja makan dan siap untuk diganyangnya, kini telah lenyap tanpa bekas! "Apa yang terjadi? Keparat, diam semua!
        Jangan menangis, apa yang terjadi?" Lima orang selir itu menjatuhkan diri berlutut dan seorang di antara mereka
        bercerita dengan suara gagap, "Ada... ada... setan...., hanya tampak bayangan berkelebat ke atas ranjang dan...
        dan mereka berdua... tahutahu telah lenyap..." "Tolol!!" Pat-jiu Kai-ong berkelebat keluar melalui jendela
        kamar yang terbuka, terus berloncatan memeriksa sampai dia bertemu dengan para pengawal di luar istana, namun
        dia tidak melihat jejek dua orang tawanan yang lenyap itu. "Kalian tidak melihat orang masuk?" Bentaknya kepada
        para pengawal. "Tidak ada, Pangcu." "Bodoh! Kalau tidak ada, bagaimana dua orang tawanan itu lenyap?" Kagetlah
        para pengawal itu dan Pat-jiu Kai-ong, dibantu oleh para pengawalnya lalu mengadakan pemeriksaan di dalam
        istana. Mula-mula timbul dugaannya bahwa tentu Lu-san Lojin dan dua orang anaknya itu benar-benar mempunyai
        kawan-kawan di luar, buktinya kedua orang muda itu ditolong mereka. Akan tetapi ketika dia menjenguk kedalam
        kamar tahanan, Lu-san Lojin masih mengeletak pingsan di atas lantai! "Cepat lakukan penjagaan tadi. Tutupsemua
        jalan masuk! Bagi-bagi tenaga!" Pat-jiu Kai-ong memerintah dengan suara yang agak parau karena harus diakuinya
        bahwa jantungnya tergetar juga oleh rasa gentar menyaksikan sepak terjang musuh gelap yang aneh dan amat luar
        biasa itu. Setelah sekali lagi memeriksa sendiri dengan memepersiapkan tongkat ditangan, sampai tidak ada
        lubang yang tidak dijenguknya di dalam dan di sekitar gedungnya dan mendapatkan keyakinan bahwa tidak ada orang
        bersembunyi di dalam gedung, Pat-jiu Kai-ong kembali ke dalam ruangan besar dan menanti dengan jantung
        berdebar. Malam telah makin larut dan musuh yang aneh itu telah mulai memperlihatkan bahwa musuh itu memang ada
        dengan menculik dua orang tawannan itu secara aneh. Biarpun lima orang selirnya bukan ahli-ahli silat tinggi,
        namun lima pasang mata tidak dapat melihat orang yang menculik pemudapemudi itu di depan hidung mereka, sungguh
        merupakan hal yang amat aneh! Pat-jiu Kai-ong bergidik dan membalik-balik gudang ingatan di dalam otaknya.
        Siapakah Ratu Pulau Es? Apalagi dengan ratunya, dengan penghuni Pulau Es dia tidak pernah bertemu, kecuali satu
        kali dengan Han Ti Ong ketika memperebutkan Sin-tong. Dan di mana adanya pulau dongeng itu dia pun tidak tahu.
        Pertemuannya dengan Han Ti Ong tidak boleh dianggap permusuhan, dan adaikata ada yang sakit hati, kiranya sakit
        hati itu seharusnya datang dari dia, bukan dari pihak Pulau Es atau Han Ti Ong yang telah berhasil menangkan
        perebutan atas diri Sin-tong! Mengapa kini muncul tokoh rahasia yang mengaku bernama Ratu Pulau Es? Siapakah
        yang bermain-main dengan dia? Melihat sepak terjang orang rahasia ini, caranya membunuh ayam, dapat dipastikan
        bahwa orang itu kejam dan aneh, ciri seorang tokoh golongan hitam, bukan golongan putih yang selalu datang
        secara berterang. Siapakah tokoh golongan hitam yang memusuhinya? Tentu saja banyak, dan di antara mereka, yang
        paling menonjol adalah Kiam-mo Cai-li Liok Si! Wanita itukah yang kini datang mengganggunya? "Ha-ha-ha!" Dia
        tertawa keras-keras, hatinya menjadi besar. Mengapa dia takut? Andaikata Kia-mo Cai-li sendiri yang datang,
        diapun tidak takut! Dan siapakah lain wanita di dunia Kang-ouw yang lebih mengerikan daripada Kiam-mo Cai-li?
        "Iblis atau manusia, jantan atau betina, keluarlah dari tempat persembunyian! Hayo serbulah, aku Pat-jiu
        Kai-ong tidak takut kepada siapa pun juga! Kalau kau diam saja, berarti kau pengecut hina dan penakut,
        ha-ha-ha-ha!" Karena merasa tersiksa oleh keadaan sunyi yang mengerikan itu, Pat-jiu Kai-ong berusaha mengusir
        rasa takutnya dengan teriakan keras ini yang tentu saja didengar oleh semua penghuni gedung itu. Dan agaknya,
        sebagai sambutan atas tantangannya, tiba-tiba terdengar suara ayam jagonya yang berada di belakang, di kandang
        ayam, berkeruyuk keras sekali! "Ha-ha-ha!" Pat-jiu Kai-ong tertawa mendengar ayamnya sendiri yang menjawab,
        akan tetapi tiba-tiba dia terkejut dan mukanya berubah. Keruyuk ayamnya itu berhenti setengah jalan dan
        terputus oleh suara "kok!" suara ayam kesakitan! Suara ini disusul suara berkotek riuh dari ayam-ayam betina di
        dalam kandang, seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu mereka akan tetapi suara berkotek ini pun berhenti
        setengah jalan dan bekali-kali terdengar suara "ko" suara ayam dicekik atau dihentikan suara dan hidupnya!
        "Keparat...!!" Pat-jiu Kai-ong yang bermuka merah saking marahnya itu sudah meloncat keluar dan langsung lari
        ke kandang. Hampir dia bertubrukan dengan dua orang pengawal yang juga mendengar keanehan di kandang itu. Kini
        dengan sebuah obor yang dipegang oleh pengawal, mereka bertiga memeriksa kandang dan di bawah sinar obor
        tampaklah oleh mereka bahwa dua puluh ayam yang berada di kandang itu, jantan, betina, semua telah tewas dengan
        leher putus! Darah merah muncrat ke mana-mana, membuat lantai dan dinding kandang itu menjadi merah mengerikan.
        "Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki dan mereka bertiga sejenak menjadi seperti arca memandang ke dalam
        kandang. Sunyi di situ, bahkan tidak ada angin berkelisik, membuat suasana menjadi menyeramkan.
        "Ngeooonggg...!" Suara kucing yang tiba-tiba terdengar ini yang membuat mereka tersentak kaget dan memandang ke
        atas genting. Si Putih satu-satunya kucing peliharan di gedung itu, berkelebat melompat sambil menggereng,
        seolah-olah menghadapi musuh dan marah. Akan tetapi gerengannya terhenti tiba-tiba dan Pat-jiu Kai-ong cepat
        melompat ke kiri ketika ada benda jatuh dari atas genteng menimpanya. "Bukkk!" Ketika pengawal yang membawa
        obor mendekat, ternyata yang terjatuh itu adalah bangkai kucing Si Putih yang baru saja mengeong tadi!
        "Jahanam...!" Pat-jiu Kai-ong memaki untuk kedua kalinya dan tubuhnya sudah melayang ke atas genting, diikuti
        oleh dua orang pengawalnya. Melihat betapa obor yang dipegang pengawal itu tidak padam ketika dia meloncat ke
        atas genting membuktikan bahwa pengawal itu sudah memiliki ginkang yang hebat. Akan tetapi kembali ketiganya
        termangu-mangu di atas genting karena tidak tampak bayangan seorang manusian pun. Keadaan sunyi. Sunyi ekali,
        terlampau sunyi seolah-olsh gedung itu telah berubah menjadi tanah kuburan! "Hung-hung! Huk-huk-huk...!!"
        Riuhlah suara tiga ekor anjng peliharaan gedung itu menggonggong dan menyalak-nyalak di sebelah kanan gedung.
        Suara ini mengejutkan mereka, apalagi suaran gonggongan mereka yang riuh rendah itu tiba-tiba ditutup dengan
        suara "kaing...! nguik... nguikkk... nguikkkkk!" Dan suasana menjadi sunyi kembali, lebih sunyi dari tadi
        sebelum terdengar gonggongan anjing-anjing itu. "Bedebah...!" Pat-jiu Kai-ong melompat dari atas genting, tidak
        dapat disusul oleh dua orang pengawalnya itu saking cepatnya dan sebentar saja dia sudah tiba di sebelah kanan
        gedungnya, di kandang anjing. Seperti sudah dikhawatirkannya, tiga ekor anjing itu sudah menggeletak mati
        dengan leher hampir putus dan darah mengalir di bawah bangkai mereka. Tiga orang pengawal yang terdekat sudah
        tiba pula dan mereka saling pandang dengan muka berubah pucat! Seperti terngiang di telinga Pat-jiu Kai-ong
        suara Lu-san Lojin ketika membacakan isi surat, "Malam ini, semua mahluk hidup yang tinggal di rumah Pat-jiu
        Kai-ong, dari binatang sampai manusia, akan kubasmi habis!" Semua binatang peliharaannya , ayam, kucing, dan
        anjing, sudah mati semua dan sekarang tentu tiba gilirannya manusianya! Teringat akan ini, Pat-jiu Kai-ong
        cepat berkata, suaranya sudah mulai gemetar "Cepat, semua berkumpul denganku di dalam gedung...!" Tiba-tiba
        mereka dikejutkan oleh jeritan-jeritan di sebelah luar dan di depan gedung itu. Mereka cepat berlari menuju ke
        depan gedung dan tampaklah oleh mereka dua orang pengawal yang berjaga di luar sudah menggeletak tak bergerak
        di atas tanah. Ketika seorang pengawal yang membawa obor mendekat, Pat-jiu Kai-ong melihat bahwa dua orang
        pengawalnya yang terlentang itu telah tewas dengan mata melotot dan dari mata, hidung, telinga, dan mulut
        keluar darah hitam sedangkan di dahi mereka itu tampak jelas cap jari tangan yang kecil panjang, tiga buah
        banyaknya dan mudah dilihat bahwa itu adalah tanda jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Begitu dalam
        gambar jari itu sampai garis-garisnya tampak! "Kurang ajar! Mari kita berkumpul semua...!" Akan tetapi kembali
        terdengar pekik mengerikan dari sebelah kiri gedung. Mereka kembali berlari-lari ke tempat itu dan melihat tiga
        orang pengawal lain sudah menjadi mayat dalam keadaan yang sama seperti dua orang korban pertama. Segera
        tersusul pula pekik-pekik mengerikan itu dari belakang gedung. Pat-jiu Kai-ong dan tiga orang pengawalnya ini,
        termasuk pengawal kepala Si brewok, mengejar ke belakang dan empat orang pengawal sudah menggeletak tewas dalam
        keadaan mengerikan, presis seperti yang lain. Dalam sekejap mata saja sembilan orang pengawal telah tewas.
        Mereka itu berada di depan, di sebelah kiri, di belakang gedung, akan tetapi kematian mereka susul menyusul
        begitu cepatnya, seolah-olah banyak musuh yang datang dari berbagai jurusan. Namun, biarpun mulutnya tidak
        menyataakan sesuatu, Pat-jiu Kai-ong maklum bahwa tanda dari jari tangan itu dibuat oleh jari tangan yang sama,
        dan bahwa pembunuhnya itu hanya satu orang saja, seorang yang memiliki ilmu kepandaian luar biasa sehingga para
        pengawal itu agaknya sama sekali tidak mampu melakukan perlawanan. Tiga orang pengawal saling pandang dengan
        muka pucat. Melihat muka mereka, Pat-jiu Kai-ong menjadi penasaran dan merah sehingga timbul kembali
        keberaniannya yang tadi agak berkurang karena jerih. Dia berteriak memaki, "jahanan pengecut! Hayo keluarlah
        dan lawan aku Pat-jiu Kai ong!" Setelah dia mengeluarkan kata-kata ini dengan suara nyaring, keadaan menjadi
        sunyi sekali, sunyi yang amat menggelisahkan damn menyeramkan, seolah-olah dalam kegelapan dan kesunyian malam
        itu tampak mulut iblis menyeringai dan menanti saat untuk menerkam dan mencabut nyawa ! Pat-jiu Kai-ong makin
`Pemula Punya Blog

Ditulis Oleh : mansyur syamsudin // 2:00 AM
Kategori:

Ditulis Oleh : mansyur syamsudin ~ PEMULA PUNYA BLOG ~

Artikel BUKEK SIANSU : Seri Keenam ini diposting oleh mansyur syamsudin Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel BUKEK SIANSU : Seri Keenam ini.Di Posting Saturday, July 28, 2012. Tak Lengkap Rasanya Jika Kunjungan Anda di Blog ini Tanpa Meninggalkan Komentar Untuk Itu Silahkan Berikan Komentar Anda Apa Aja Pada Kotak Komentar Di Bawah. Semoga Artikel BUKEK SIANSU : Seri Keenam dapat Memberi manfaat untuk Anda ..Trima Kasih.. HAPPY BLOGGING :)

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.