Thursday, July 26, 2012

BUKEK SIANSU : Seri Kedua

BUKEK SIANSU : Seri Kedua -
BUKEK SIANSU : Seri Kedua - lanjutan seri pertama        
pekik dan tertawa itu membuat tiga belas orang pendekar itu seketika seperti berubah menjadi arca, gerakan
        mereka terhenti dan untuk beberapa detik mereka hanya bengong memandang kakek itu dan jantung mereka
        seolah-olah berhenti berdenyut. Twa-suheng mereka yang bermuka gagah perkasa itu segera berseru, "Awas.
        Saicu-hokang (Ilmu menggereng seperti singa berdasarkan khikang)!" Seruan ini menyadarkan para sutenya dan

        sumoinya. Mereka cepat mengerahkan sinking sehingga pengaruh Saicu-hokang itu membuyar. Pedang mereka
        melanjutkan gerakannya. "Sing-sing.... siuuuut.... trang-trang-trang..Heh-heh-heh!" Gulungan sinar
        pedang-pedang yang menyambar ke arah tubuh kakek dari berbagai jurusan, dapat ditangkis oleh gulungan sinar
        tongkat hitam yang telah diputar dengan cepatnya oleh Pat-jiu kai-ong. Para pendekar Bu-tong-pai itu terkejut
        ketika merasakan betapa telapak tangan mereka menjadi panas dan nyeri setiap kali pedang mereka tertangkis
        tongkat. Hal ini menandakan bahwa Si kakek benar-benar amat lihai dan memiliki tenaga sakti yang amat kuat.
        Juga tongkatnya yang kelihatan butut dan hitam itu ternyata terbuat dari logam pilihan sehingga mampu menahan
        ketajaman pedang di tangan mereka, padahal semua pedang di tangan Cap-sha Sin-hiap adalah pedang-pedang pusaka
        yang ampuh. "Ha..ha..ha, inikah Ngo-heng-kiam (Ilmu Pedang Lima Unsur) dari Bu-tong-pai yang terkenal? Ha..ha,
        tidak seberapa!" Sambil menggerakan tongkatnya menangkis setiap sinar pedang yang meluncur datang, kakek itu
        tertawa dan mengejek. "Bentuk Sin-kiam-tin (Barisan Pedang Sakti)!" Teriak si Twa-suheng melihat betapa kakek
        itu benar-benar amat tangguh sehingga semua serangan pedang mereka dapat ditangkis dengan mudahnya. Tiba-tiba
        tiga belas orang pendekar itu merobah gerakan mereka, kini mereka tidak lagi menyerang dari kedudukan tertentu,
        melainkan mereka bergerak mengurung dan mengelilingi kakek itu, sambil bergerak berkeliling mereka menyusun
        serangan berantai yang susul menyusul dan yang datangnya dari arah yang tidak tertentu. Diam-diam kakek itu
        terkejut. Sejenak dia menjadi bingung. Kalau tadi mereka itu menyerangnya dari kedudukan tertentu, biarpun
        gerakan mereka tadi berdasarkan Ngo-heng-kiam, namun dia sudah dapat mengenal dasar Ngo-heng-kiam dan dapat
        menggerakan tongkat secara otomatis untuk menangkis semua pedang yang dating menyambar. Akan tetapi sekarang,
        sukar sekali menentukan dari mana serangan akan dating, dan gerakan mengelilinginya itu benar-benar
        mendatangkan rasa pusing. Marahlah Pat-jiu Kai-ong. Tadi dia ingin mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai dan
        memperhatikan para pengeroyoknya sebelum membunuh mereka. Akan tetapi setelah mereka menggunakan Sin-kiam-tin
        dia tahu behwa mereka kalau dia tidak cepat mendahului mereka, dia bisa terancam bahaya. Tidak disangkanya
        bahwa Si Tua Bangka Kui Bhok San-jin, ketua dari Bu-tong-pai dapat menciptakan barisan pedang yang demikian
        lihainya. Tiba-tiba terjadi perubahan pada diri kakek ini. Tangan kirinya berubah menjadi merah sekali, merah
        darah! "Hati-hati terhadap Hiat-ciang Hoat-sut!" Si Twa-suheng berseru keras ketika melihat perubahan warna
        tangan kiri kakek itu. Pat-jiu Kai-ong tiba-tiba mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, lebih dahsyat daripada
        tadi dan tubuhnya mendadak membalik, tongkatnya menyambar dibarengi tangan kiri merah itu mendorong ke depan.
        "Prak-prak...dessss!" Tiga orang pengeroyok menjerit dan roboh, dua orang dengan kepala pecah oleh tongkat,
        sedangkan seorang lagi terkena pukulan jarak jauh Hiat-ciang Hoat-sut, roboh dan tewas seketika dengan dadanya
        tampak ada bekas lima jari merah seperti terbakar, bahkan bajunya robek dan hangus. Itulah Hiat-ciang Hoat-sut,
        pukulan maut yang mengerikan. Padahal ilmu itu masih belum sempurna, dapat dibayangkan betapa hebatnya kalau
        kakek ini berhasil menghisap darah, otak dan sumsum seorang bocah ajaib seperti Sin-tong!. Sepuluh orang
        pendekar Bu-tong-pai terkejut dan marah sekali. Mereka melanjutkan serangan dengan penuh semangat dan penuh
        dendam. Namun kembali Pat-jiu Kai-ong memekik dahsyat sambil bergerak menyerang, dan kembali tiga orang lawan
        roboh dan tewas. Serangan ini diulanginya terus, tidak memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya untuk
        membebaskan diri. Empat kali terdengar dia memekik dahsyat seperti itu dan akibatnya, dua belas orang diantara
        Cap-sha Sin-hiap dari Bu-tong-pai itu tewas semua, tewas dalam keadaan masih menggurungnya dan yang masih hidup
        tinggal The Kwat Lin seorang! Hal ini memang disengaja oleh Pat-jiu Kai-ong dan kini sambil tersenyum mengejek
        dia menghadapi Kwat Lin. Dapat dibayangkan betapa perasaan dara itu melihat dua belas orang suhengnya telah
        tewas semua! Dua belas orang suhengnya yang selama ini berjuang sehidup semati dengannya, kini telah menjadi
        mayat yang bergelimpangan di sekelilingnya, seolah-olah mayat dua belas orang itu mengurung dia dan Pat-jiu
        Kai-ong yang berdiri tersenyum di depannya. "Iblis busuk, aku akan mengadu nyawa denganmu!" Kwat Lin berseru
        mengandung isak tertahan. "Haiiiit.....!" tubuhnya melayang ke depan, pedangnya ditusukkan ke arah dada lawan
        dengan kebencian meluap-luap. Namun dengan gerakan seenaknya kakek itu memukulkan tongkatnya dari samping
        menghantam pedang yang menusuknya. "Krekkk!" Pedang itu patah dan gagangnya terlepas dari pegangan Kwat Lin!
        Dara itu membelalakan matanya dan melihat pandang mata kakek itu kepadanya, melihat senyum yang baginya amat
        mengerikan itu, tiba-tiba dia membalikan tubuhnya dan melayang ke arah sebatang pohon besar, dengan niat untuk
        membenturkan kepalanya pecah pada batang pohon itu! Kwat Lin melihat ancaman bahaya yang lebih mengerikan
        daripada maut sendiri, maka setelah yakin bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan lawannya, dia mengambil
        keputusan nekat untuk membunuh diri dengan membenturkan kepalanya pada batang pohon. "Bukkkkkk!" Bukan batang
        pohon yang dibentur kepalanya, melainkan perut lunak dan tubuhnya berada dalam pelukan Pat-jiu Kai-ong yang
        entah kapan telah berada di situ menghadangnya di depan pohon! "Lepaskan aku!!" Kwat Lin berteriak dan tubuhnya
        tiba-tiba dilontarkan oleh kakek itu, jauh kembali ke dalam lingkaran mayat-mayat suhengnya. Dengan langkah
        gontai, kakek itu tersenyum-senyum memasuki lingkaran dan melangkahi mayat bekas para penggeroyoknya,
        menghampiri Kwat Lin yang sudah bangkit duduk dengan muka pucat dan mata terbelalak. Dia telah tersudut seperti
        seekor kelinci muda ketakutan menghadapi seekor harimau yang siap menerkamnya. Perasaan ngeri yang luar biasa
        membuat Kwat Lin cepat menggerakan tangan kanannya, dengan dua buah jari tangan dia menusuk ke arah ubun-ubun
        kepalanya sendiri sambil mengerahkan sinking. Batu karang saja akan berlubang terkena tusukan jari tangannya
        seperti itu apa lagi ubun-ubun kepalanya. "Plakkk!" "Aihhh....!" Kwat Lin menjerit ketika tangannya itu
        tertangkis dan setengah lumpuh. Ternyata kakek itu telah berdiri di depannya dan telah mencegah dia membunuh
        diri! "Bretttt...bretttt....!" Tongkat kakek itu bergerak beberapa kali dan seperti disulap saja seluruh
        pakaian yang membungkus tubuh Kwat Lin cabik-cabik dan cerai-berai, membuatnya menjadi telanjang bulat sama
        sekali! Kwat Lin menjerit akan tetapi tiba-tiba, seperti seekor kucing menerkam tikus, sambil mengeluarkan
        suara ketawa menyeramkan, kakek itu telah menubruk dan memeluknya sehingga mereka berdua bergulingan diatas
        rumput yang bernoda darah para korban keganasan kakek itu! Kwat Lin melawan sekuat tenaga, namun sia-sia
        belaka. Untuk membunuh diri tidak ada jalan baginya, untuk melawan pun percuma, bahkan semua jeritan tangis dan
        permohonan, semua usahanya meronta-ronta tiada gunanya sama sekali. Bahkan semua usaha ini malah menyenangkan
        hati si Kakek. Seolah-olah seekor kucing yang menjadi gembira dapat mempermankan seekor tikus yang telah
        tersudut dan tidak berdaya, mempermainkannya dan melihatnya tersiksa dan meronta sebelum menjadi mangsanya!
        Selama tiga hari tiga malam Kwat Lin menderita siksaan yang amat hebat. Diperkosa, dihina, diejek. Pada hari
        ketiga,pagi-pagi sekali dalam keadaan lebih banyak yang mati daripada yang hidup, dalam keadaan setengah sadar,
        rebah terlentang tak mampu bergerak, hanya matanya saja yang mendelik memandang kakek itu. Kwat Lin melihat
        kakek itu mengenakan pakaian, menyambar tongkatnya dan tertawa memandang kepadanya yang masih rebah terlentang
        dalam keadaan telanjang bulat di atas rumput berdarah. "Ha-ha-ha, sekarang aku pergi, manis. Aku telah puas,
        dan kalau kau mau membunuh diri, silahkan. Ha-haha!" Biarpun Kwat lin berada dalam keadaan menderita hebat,
        kehabisan tenaga, hampir mati karena lelah, muak, jijik, malu, marah dan dendam tercampur aduk menjadi satu
        dalam benaknya, namun kebencian yang meluap-luap masih memberinya tenaga untuk berseru, "Jahanam, sekarang aku
        harus hidup! Aku harus hidup untuk melihat engkau mampus di tanganku!" "Ha..ha..ha..ha! Kalau sewaktu-waktu kau
        merasa rindu kepadaku, manis, datang saja ke Hong-san, sampai jumpa!" Kakek itu lalu melangkah pergi
        meninggalkan tempat itu meninggalkan Kwat-Lin yang masih rebah dan kini wanita yang bernasib malang ini
        menangis sesenggukan dia antara mayat-mayat dua belas suhengnya yang sudah mulai membusuk dan berbau! Dapat
        dibayangkan betapa tersiksa rasa badan wanita muda ini. Dia dipaksa, diperkosa, dihina di antara mayat-mayat
        dua belas suhengnya, bahkan sewaktu keadaan mayat-mayat itu mulai membusuk dan menyiarkan bau yang hampir tak
        tertahankan, kakek itu masih saja enak-enak mempermainkannya. Benar-benar seorang manusia yang kejam melebihi
        iblis sendiri.
      </P>
      <CENTER>
        JILID 2
      </CENTER>
      <P>
        Tiba-tiba Kwat lin bangkit serentak, seolah-olah ada tenaga baru memasuki tubuhnya yang menderita nyeri, lelah
        dan kelaparan karena selama tiga hari tiga malam dia dipermainkan tanpa diberi makan atau minum oleh kakek
        iblis itu. Dia berdiri tegak, telanjang bulat, lalu memandang ke arah semua mayat suhengnya, dan matanya
        menjadi liar, keluar suara parau dari mulutnya yang pecah-pecah bibirnya oleh gigitan kakek iblis. "Suheng
        sekalian, dengarlah! Aku The Kwat Lin, bersumpah untuk membalaskan kematian suheng sekalian. Satu-satunya
        tujuan hidupku sekarang hanyalah untuk membalas dendam dan membunuh iblis busuk Pat-jiu Kai-ong!" Tiba-tiba dia
        terhuyung mundur memandang wajah twasuhengnya. Pria inilah sebetulnya yang sudah sejak dahulu mencuri hatinya.
        "Twa Suheng......!" Dia menubruk dan berlutut di dekat mayat yang sudah mulai membusuk itu. "Jangan berduka,
        Twa-suheng....jangan menangis......" Dia berdiri sesunggukan. "Apa.....? Aku telanjang.....? Pakaianmu......?
        Seperti orang gila yang bicara dengan sesosok mayat, Kwat Lin bertanya, kemudian dia membuka baju dan celana
        luar dari mayat yang sudah kaku kejang itu dengan agak susah, dan mengenakan pada tubuhnya sendiri. Tentu saja
        agak kebesaran. "Hi-hi-hik, pakaianmu kebesaran, Suheng......." Dia memandang wajah mayat twa-suhengnya dan
        tertawa lagi. "Hi-hik,nah,begitu, tertawalah Twa-suheng, tertawalah para suheng sekalian......, tertawa dan
        bergembiralah karena dendam kalian pasti akan kubalaskan...! Hi-hi-hik... hu-hu-huuuhhh..." Dia menangis lagi
        terisak-isak dan dengan terhuyung-huyung dia meninggalkan tempat mengerikan itu setelah mengambil pedang
        twa-suhengnya. Pedang itu adalah pedang pusaka terbaik di antara pedang ketiga belas orang pendekar Bu-tong-pai
        itu, sebatang pedang pemberian Ketua Bu-tong pai sendiri, pedang yang di dekat gagangnya ada gambar setangkai
        bunga Bwee merah, maka pedang itu diberi nama Ang-bwe-kiam (Pedang Bunga Bwee Merah). Dia terhuyung-huyung,
        pergi tak tentu tujuan, asal menggerakkan kedua kaki melangkah saja, langkah yang kecil-kecil dan
        terhuyung-huyung karena tubuhnya masih terasa lelah, lapar dan sakit semua. Kadang-kadang terdengar dia terisak
        menangis, kemudian terkekeh geli sehingga kalau ada orang yang bertemu dengan wanita yang bibirnya pecah-pecah
        mukanya penuh debu dan air mata, matanya membengkak dan merah, rambutnya riap-riapan dan pakaiannya terlalu
        besar, ini tentu orang itu akan merasa seram, mengira bahwa setidaknya dia adalah seorang wanita gila. Dugaan
        ini memang tidak meleset terlalu jauh. Penderitaan lahir batin yang melanda diri Kwat Lin membuat wanita malang
        ini tidak kuat menahan sehingga terjadi perubahan pada ingatannya. Pada hari yang sama ketika Cap-sha Sin-hiap
        roboh di tangan kakek iblis Pat-jiu Kai-ong di kaki Pegunungan Jeng-hoa-san, terjadi pula peristiwa hebat di
        bagian lain dari Pegunungan itu. Kalau Cap-sha Sin-hiap roboh di daerah timur pegunungan, maka di daerah barat
        terjadi pula peristiwa yang hampir sama sungguhpun sifatnya berbeda. Pada pagi hari itu, seorang wanita
        berjalan seorang diri mendaki lereng pertama dari pegunungan Jeng-hoasan sebelah barat. Wanita itu memasuki
        hutan dengan wajah berseri dan harus diakui bahwa wajah wanita cantik manis sekali, mempunyai daya tarik yang
        kuat sungguhpun usianya sudah empat puluh tahun. Tidak ada keriput mengganggu kulit mukanya yang putih halus,
        mulutnya yang agak lebar itu mempunyai bibir yang senantiasa menantang dan seolah-olah buah masak yang sudah
        pecah, akan tetapi kalau orang memperhatikan matanya, mata yang jernih dan bersinar tajam, maka hati yang kagum
        akan kecantikannya tentu akan berubah menjadi ragu-ragu, curiga dan ngeri karena sepasang mata itu tidak
        pernah, atau jarang sekali berkedip. Mata itu terbuka terus seperti mata boneka! Dengan langkah-langkah gontai
        dan lemas, membuat buah pinggulnya menonjol dan bergoyang ke kanan kiri, wanita itu berjalan seorang diri,
        memutar-mutarsebuah payung yang dipanggulnya. Sebuah payung hitam yang tertutup, gagangnya melengkung dan
        ujungnya meruncing. Pakaiannya serba mewah dan indah, rambutnya panjang sekali, digelung ke atas seperti sebuah
        menara hitam yang indah, terhias tusuk sanggul dari mutiara dan emas. Yang menarik adalah kuku-kuku jari
        tangannya. Kuku yang panjang terpelihara, diberi warna merah, panjang meruncing dan agak melengkung seperti
        kuku kucing atau harimau. Pakaiannya yang mewah itu dibuat terlalu pas dengan tubuhnya sehingga membungkus
        ketat tubuh itu, membayangkan lekuk lengkung yang menggairahkan dari dada sampai ke kaki karena celananya yang
        terbuat dari sutera merah muda itu pun ketat sekali! Biarpun kelihatannya seperti seorang wanita cantik dan
        genit (tante girang), namun sesungguhnya dia bukanlah manusia biasa saja! Inilah dia yang terkenal sekali di
        dunia hitam kaum penjahat, karena wanita ini bukan lain adalah Kiam-mo Cai-li (Wanita Pandai Berpayung Pedang),
        sebuah julukan yang membuat bulu tengkuk orang yang sudah mengenalnya berdiri sangking ngerinya karena wanita
        yang sebenarnya hanya bernama Liok Si ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi mengerikan dan kekejaman yang
        sukar dicari bandingnya! Bahkan ia disamakan dengan wanita cantik penjelmaan siluman rase yang biasa mengganggu
        pria, dan setiap orang pria yang terjebak dalam pelukannya tentu akan mati kehabisan darah, disedot habis oleh
        siluman ini! Tentu saja bagi mereka yang belum pernah berjumpa dengannya, sama sekali tidak akan mengira bahwa
        wanita yang berlenggak-lenggok dengan payung di pundak itulah iblis wanita yang menggeggerkan dunia kang-ouw
        dengan perbuatannya yang luar biasa. Dan mudah saja diduga mengapa pada hari itu Kiam-mo Cai-li ini mendaki
        lereng Jeng-hoa-san! Tentu saja dia pun mendengar berita menggeggerkan dunia kang-ouw akan adanya Sin-tong, Si
        Bocah ajaib dan mendengar ini, kontan keras hatinya berdebar-debar penuh ketegangandan penuh birahi! Dia dapat
        membayangkan betapa tenaga mukjijat yang dihimpunnya secara ilmu hitam dengan jalan menghisap sari tenaga
        ratusan orang pria, akan meningkat dengan hebat sekali kalau dia bisa menghisap kejantanan si Bocah Ajaib itu!
        Maka begitu mendengar akan bocah ajaib di puncak Pegunungan Jeng-hoasan di dalam Hutan Seribu Bunga, dia segera
        menempuh perjalanan jauh mengunjungi pegunungan itu. Perjalananyang jauh karena biarpun sering kali Liok Si ini
        pergi merantau namun dia memiliki sebuah pondok kecil seperti istana mewahnya terletak di tempat yang tidak
        lumrah dikunjungi manusia, yaitu di daerah Rawa Bangkai. Rawa-rawa yang liar ini terdapat di kaki Pegunungan
        Luliang-san, merupakan daerah maut karena banyak lumpur dan pasir yang berputar, merupakan perangkap maut bagi
        manusia dan hewan. Namun di tengah-tengah rawa-rawa itu, yang tidak dapat dikunjungi oleh manusia lain,
        terdapat sebuah tanah datar, tanah keras semacam pulau dan diatas pulau inilah letaknya istana kecil milik Liok
        Si yang berjuluk Kiam-mo Cai-li, bersama belasan orang pembantu-pembantuyang sudah menjadi orangorang
        kepercayaannya. Dia disebut Cai-li(Wanita Pandai) karena sebetulnya wanita ini dulunya adalah puteri seorang
        sasterawan kenamaan dan semenjak kecil Liok Si telah mempelajari kesusasteraan sehingga dia mahir sekali akan
        sastra, bahkan dia pernah menyamar sebagai pria menempuh ujian pemerintah sehingga dia lulus dan mendapat gelar
        siucai! Akan tetapi, penyamarannya keetahuan dan seorang pembesar tinggi istana yang kagum kepadanya lalu
        mengambilnya sebagai seorang selir. Selain ilmu sastra, juga Liok Si ini semenjak kecil digembleng ilmu oleh
        para sahabat ayahnya, apalagi setelah menjadi selir pembesar tinggi di istana, dia mengadakan hubungan dengan
        kepala-kepala pengawal, dengan pengawal-pengawal kaisar yang berilmu tinggi, menyerahkan tubuhnya sebagai
        pengganti ilmu silat-ilmu silat tinggi yang diperolehnya sebagai "bayaran". Akhirnya, pembesar itu mengetahui
        akan tabiat selirnya ini yang ternyata adalah seorang wanita yang gila pria maka dia diusir dari istana
        pembesar itu. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh wanita ini? Dia membunuh Si Pembesar, membawa banyak harta
        benda yang dicurinya dari istana itu, kemudian minggat! Belasan tahun kemudian, muncullah nama julukan Kiam-mo
        Cai-li, namun tidak ada yang menduga bahwa dia adalah Liok Si yang dahulu menjadi selir bangsawan dan yang
        membunuh bangsawanitu sehingga menjadi orang buruan pemerintah. Liok Si berjalan sambil tersenyum-senyum,
        kadang-kadang senyumnya melebar dan tampak giginya yang putih mengkilat dan di kedua ujungnya terdapat sebuah
        gigi yang agak meruncing sehingga sekelebatan mirip gigi caling sihung. Hatinya gembira sekali kalau dia
        membayangkan betapa akan sedapnya kalau dia dapat memperoleh bocah ajaib itu. "Hemmm, aku harus bersikap halus
        dan hati-hati terhadapnya, menikmatinya selama mungkin. Hemmm..." Tiba-tiba dia terkejut dan menghentikan
        langkahnya, akan tetapi kembali dia tersenyum manis matanya mengerling tajam penuh kegairahan ketika melihat
        lima orang laki-laki berdiri di depannya dengan sikap gagah. Pandang matanya menyambar-nyambar dan terbayang
        kepuasan dan kekaguman. Memang, hati seorang wanita gila pria seperti Liok Si tentu saja menjadi berdebar
        tegang ketika melihat lima orang pria yang usianya rata-rata tiga puluh tahun lebih bertubuh tegap-tegap dan
        rata-rata berwajah tampan dan gagah! Seperti melihat lima butir buah yang ranum dan matang hati! "Aih-aihh...
        Siapakah Ngo-wi (Anda berlima) yang gagah perkasa ini? Dan apakah Ngo-wi sengaja hendak bertemu dan bicara
        dengan aku?" Seorang di antara mereka, yang usianya tiga puluh tahun, mukanya bulat dan alisnya seperti golok
        hitam dan tebal, berkata, "Apakah kami berhadapan dengan Kiam-mo Cai-li dari Rawa Bangkai?" Wanita itu
        memainkan bola matanya memandangi wajah merka berganti-ganti dengan berseri, mulunya tersenyum ketika menjawab,
        "kalau benar mengapa? Kalian ini siapakah?" "Kami adalah Kee-san Ngo-hohan(Lima Pendekar dari Gunung Ayam)".
        "Kiam-mo Cai-li mengeluarkan bunyi "tsk-tsk-tsk" dengan lidahnya tanda kagum. Segera dia menjura dan berkata
        manis. "Aih, kiranya lima pendekar yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw sebagai murid-murid
        utama Hoa-san-pai? Aih, terimalah hormatnya seorang wanita bodoh seperti aku." "Harap Toanio(Nyonya) tidak
        mengejek dan bersikap merendah. Kami sudah tahu siapa adanya Kiam-mo Cai-li, dan karena melihat engkau mendaki
        Jeng-hoa-san, maka terpaksa kami memberanikan diri untuk menghadang." "Ehm...! Maksud kalian?" Senyumnya makin
        manis dan kerling matanya makin memikat. "Kami telah mendengar akan berita bahwa tokoh-tokoh kang-ouw sedang
        berusaha untuk memperebutkan Sin-tong yang berada di Hutan Seribu Bunga dan kami mendengar pula bahwa Kiam-mo
        Cai-li merupakan seorang di antara mereka yang hendak menculik Sin-tong. Karena kami telah berhutang budi,
        diberi obat oleh Sin-tong maka kami hanya dapat membalas budinya dengan melindunginya terutama dari tangan...
        maaf, para tokoh kaum sesat yang tentu tidak mempunyai itikad baik terhadap dirinya. Andaikata kami tidak
        berhutang budi sekalipun, mengingat bahwa Sin-tong adalah seorang anak ajaib yang telah banyak menolong orang
        tanpa pandang bulu, sudah menjadi kewajiban orang-orang gagah untuk melindunginya." Kembali Kiam-mo Cai-li
        tersenyum. "Terus terang saja, memang aku mendengar tentang Sin-tong dan aku ingin mendapatkannya, maka hari
        ini aku mendaki Jeng-hoa-san. Habis kalian mau apa?" Kalau begitu, kami minta dengan hormat agar kau suka
        membatalkan niatmu itu, Toanio. Kalau kau memaksa hendak menganggu Sin-tong, terpaksa kami akan merintangimu
        dan tidak membolehkan kau melanjutkan perjalanan!" "Hi-hi-hik, galak amat! Lima orang laki-laki muda tampan
        gagah bertemu dengan seorang wanita cantik penuh gairah, sungguh tidak semestinya kalu bermain senjata mengadu
        nyawa!" "Hemm, habis semestinya bagaimana?" tanya orang pertama dari Kee-san Ngo-hohan yang betapapun juga
        merasa jerih mendengar nama besar wanita ini dan mengharapkan wanita itu akan mengalah dan pergi dari situ,
        tidak mengganggu Sin-tong. Mata itu tajam mengerling dan senyumnya penuh arti, bibirnya penuh tantangan.
        "Mestinya? Mestinya kita bermain cinta memadu kasih!" "Perempuan hina!" "Jalang!" "Siluman betina" Lima orang
        itu telah mencabut senjata masing-masing yaitu senjata golok besar yang selama ini telah mengangkat nama mereka
        di dunia kang-ouw. Kelima orang pendekar ini memang merupakan ahli-ahli bermain golok dengan Ilmu
        Hoa-san-to-hoat yang terkenal, dan selain itu juga mereka semua mahir akan ilmu menotok jalan darah yang
        bernama Sam-ci-tiam-hoat, yaitu ilmu menotok menggunakan tiga buah jari tangan. "Siaaaattt...singg...siang..."
        "Ha-ha, bagus! kalian memang gagah sekali bermain golok, tentu lebih gagah kalau bermain cinta, hi-hik!"
        Kiam-mo Cai-li mengelak dan tiba-tiba payung hiatmnya berkembang terbuka. Payung itu merupakan senjata isimewa,
        terbuat dari baja yang kuat dan kainnya terbuat dari kulit badak yang kering dan sudah dimasak lemas, namun
        kuatnya luar biasa dapat menahan bacokan senjata tajam. Adapun ujung payung itu meruncing, merupakan ujung
        pedang, dan gagangnya yang melengkung itu pun dapat digunakan sebagai senjata kaitan yang lihai.
        "Trang-trang-trang...!!" Bunga api berpijar ketika golok-golok itu tertangkis oleh payung dan karena kini tubuh
        wanita itu tertutup payung yang berkembang dan berputar-putar, maka sukarlah bagi lima orang itu untuk
        menyerangnya dari depan. Mereka lalu berloncatan dan mengurung wanita itu. "Hi-hik, hayo keroyoklah. Kalu baru
        kalian lima orang ini saja, masih terlampau sedikit bagiku. Hi-hik, hendak kulihat sampai dimana kekuatan
        kalian apakah patut untuk menjadi lawan-lawanku untuk bermain cinta!" "Perempuan rendah!" Orang pertama dari
        lima pendekar itu marah sekali, goloknya menyambar dahsyat, tapi tiba-tiba golok itu terhenti di tengah udara
        karena telah terikat oleh sebuah benda hitam panjang yang lembut. Kiranya wanita itu telah mengudar gelung
        rambutnya dan ternyata rambut itu panjangnya sampai ke bawah pinggulnya, rambut yang gemuk hitam, panjang dan
        harum baunya, bahkan bukan itu saja keistemewaannya, rambut itu dapat dipergunakan sebagai senjata ampuh,
        sebagai cambuk yang kini berhasil membelit golok orang pertama dari Kee-san ngo-hohan! Sebelum orang ini
        ssempat menarik goloknya, tangan kiri Kiam-mo Cai-li bergerak menghantam tengkuk orang itu dengan tangan
        miring. "Krekk!" Laki-laki itu mengeluh dan roboh tak dapat bangkit kembali karena dia telah terkena totokan
        istimewa yang membuat tubuhnya lumpuh sungguhpun dia masih dapat melihat dan mendengar. Empat orang lainnya
        terkejut dan marah sekali. Mereka memutar golok lebih gencar lagi, bahkan kini tangan kiri mereka membantu
        dengan serangan totokan Sam-ci-tiam-hoat yang ampuh! Namun orang yang mereka keroyok itu tertawa-tawa
        mempermainkan mereka. Setiap serangan golok dapat dihalau dengan mudah oleh payung yang diputar-putar sedangkan
        ujung rambut yang panjang itu mengeluarkan suara ledakan-ledakan kecil dan menyambar-nyambar di atas kepala
        mereka, tidak menyerang, hanya mendatangkan kepanikan saja karena memang dipergunakan untuk mempermainkan
        mereka. "Mampuslah!" Orang ke dua yang menyerang dengan golok ketika goloknya ditangkis, cepat dia "memasuki"
        lowongan dan berhasil mengirim totokan. Karena tempat terbuka yang dapat dimasuki jari tangannya di antara
        putaran payung itu hanya di bagian dada, maka dia menotok dada kiri wanita itu. Dalam keadaan seperti itu,
        menghadapi lawan yang amat tangguh, pendekar ini sudah tidak mau lagi mempergunakan sopan santun yang tentu
        tidak akan dilanggarnya kalau keadaan tidak mendesak seperti itu. "Cusss...!" tiga buah jari tangan itu tepat
        mengenai buah dada kiri yang besar, tapi dia hanya merasakan sesuatu yang lunak hangat, sedangkan wanita itu
        sama sekali tidak terpengaruh, bahkan mengerling dan berkata, "Ihh, kau bersemangat benar, tampan. Belum
        apa-apa sudah main colek dada, hihik!" Tentu saja pendekar ini menjadi merah sekali mukanya. Dia merasa malu
        akan tetapi juga penasaran. Ilmu totok yang dimilikinya sudah terkenal dan belum pernah gagal. Tadi jelas dia
        telah menotok jalan darah yang amat berbahaya di dada wanita itu, mengapa wanita itu sama sekali tidak
        merasakan apa-apa, bahkan menyindirnya dan dianggap dia mencolek dada? Dengan marah dia menerjang lagi bersama
        tiga orang sutenya. "Sudah cukup, sudah cukup, rebah dan beristirahatlah kalian!" Tiba-tiba payung itu tertutup
        kembali, berubah menjadi pedang yang aneh dan segulung sinar hitam menyambar-nyambar mendesak empat orang itu,
        kemudian dari atas terdengar ledakan-ledakan dan berturut-turut tiga orang lagi roboh terkena totokan ujung
        rambut wanita sakti itu. Seperti orang pertama, mereka ini pun roboh tertotok dan lumpuh, hanya dapat memandang
        dengan mata terbelalak namun tidak menggerakan kaki tangan mereka! Orang termuda dari mereka kaget setengah
        mati melihat betapa empat orang suhengnya telah roboh. Namun dia tidak menjadi gentar, bahkan dengan kemarahan
        dan kebencian meluap dia memaki, "Perempuan hina, pelacur rendah, siluman betina, aku takkan mau sudah sebelum
        dapat membunuhmu!" "Aihhh... kau penuh semangat akan tetapi mulutmu penuh makian menyebalkan hatiku!" Golok itu
        tertangkis oleh payung sedemikian kerasnya sehingga terpental dan sebelum laki-laki itu dapat mengelak, sinar
        hitam menyambar dan ujung rambut telah membelit lehernya! Pria itu berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan
        libatan rambut dari lehernya dengan kedua tangan, akan tetapi begitu wanita itu menggerakkan kepalanya,
        rambutnya terpecah menjadi banyak gumpalan dan tahu-tahu kedua pergelangan lengan orang itu pun sudah terbelit
        rambut yang seolah-olah hidup seperti ular-ular hitam yang kuat. "Nah, kesinilah, Tampan. Mendekatlah, kekasih.
        Kau perlu dihajar agar tidak suka memaki lagi!" Laki-laki itu sudah membuka mulut hendak memaki lagi, akan
        tetapi libatan rambut pada lehernya makin erat sehingga dia tidak dapat bernapas, kemudian rambut itu
        menariknya mendekat kepada wanita yang tersenyum-senyum itu! Kini laki-laki itu sudah berada dekat sekali,
        bahkan dada dan perutnya telah menempel pada dada yang membusung dan perut yang mengempis dari wanita itu.
        Tercium olehnya bau wangi yang aneh dan memabokkan, akan tetapi karena lehernya terbelit kuat-kuat, dan
        napasnya tak dapat lancar, maka dia terpaksa menjulurkan lidahnya keluar. "Aihhh, kau perlu diberi sedikit
        hajaran, Tampan!" Empat orang pendekar yang tertotok melihat dengan mata terbelalak penuh kengerian betapa
        wanita iut kini mendekatkan muka sute mereka yang termudda, kemudian membuka mulut dan mencium mulut sute
        mereka yang terbuka dan lidah yang terjulur keluar itu.Mereka melihat tubuh sute mereka berkelojot sedikit
        seperti menahan sakit, mata sute mereka terbelalak, namun wanita itu terus mencium dan menutup mulut pria itu
        dengan mulutnya sendiri yang lebar. Tak dapat terlihat oleh empat orang pendekar itu betapa wanita itu yang
        kejam dan keji seperti iblis, telah menggunakan giginya untuk menggigit sampai terluka lidah sute mereka yang
        terjulur keluar, kemudian menghisap darah dari luka di lidah itu! Mereka berempat hanya melihat betapa wanita
        itu memejamkan mata, baru sekarang mereka melihat wanita itu memejamkan mata, kelihatan penuh nikmat, akan
        tetapi wajah sute mereka makin pucat dan mata sute mereka yang terbelalak itu membayangkan kenyerian dan
        ketakutan yang hebat. Agaknya wanita itu tidak puas karena darah yang dihisapnya kurang banyak, maka kini dia
        melepaskan mulut pemuda itu dan memindahkan ciuman mulutnya ke leher si Pemuda. Dapat dibayangkan betapa kaget
        empat orang pendekar itu melihat bahwa mulut sute mereka penuh warna merah darah! "Sute...!!!" Mereka berseru
        akan tetapi tidak dapat menggerakkan kaki tangan mereka. Sute mereka meronta-ronta seperti ayam disembelih,
        matanya melotot memandang ke arah para suhengnya seperti orang minta tolong, kemudian tubuhnya berkelojotan
        ketika wanita itu kelihatan jelas menghisaphisap lehernya ternyata bahwa urat besar di lehernya telah ditembusi
        gigi yang meruncing dan kini dengan sepuasnya wanita itu menghisap darah yang membanjir keluar dari urat di
        leher itu! Mata yang melotot itu makin hilang sinarnya dan pudar, wajahnya makin pucat dan akhirnya tubuh yang
        meregang-regang itu lemas. Orang termuda itu pingsan karena kehilangan banyak darah, takut dan ngeri. Kiam-mo
        Cai-li melepaskan libatan rambutnya dan tubuh itu tergulig roboh, terlentang dengan muka pucat dan napas
        terengah-engah. 'Sute...!" Kembali mereka mengeluh dan dengan penuh kengerian mereka melihat betapa wanita itu
        menggunakan lidahnya yang kecil merah dan meruncing itu untuk menjilati darah yang masih belepotan di bibirnya
        yang menjadi makin merah. Wajahnya kemerahan, segar seperti kembang mendapat siraman, berseri-seri dan ketika
        dia mendekati empat orang itu, mereka terbelalak penuh kengerian. Akan tetapi, wanita itu tidak menyerang
        mereka, agaknya dia sudah puas menghisap darah orang termuda tadi. Hanya kini kedua tangannya bergerak -gerak
        dan sekali renggut saja pakaian empat orang itu telah koyak-koyak. Kemudian dia bangkit berdiri, dengan gerakan
        memikat seperti seorang penari telanjang, dia membuka pakaiannya, menanggalkan satu demi satu sambil
        menari-nari! Sampai dia bertelanjang bulat sama sekali di depam empat orang itu yang membuang muka dengan
        perasaan ngeri dan sebal! "Kalian layanilah aku, puaskanlah aku, senangkan hatiku dan aku akan membebaskan
        kalian berlima. Lihat, bukankah tubuhku menarik? Aku hanya ingin mendapatkan cinta kalian, aku tidak
        menginginkan nyawa kalian." "Cih, siluman betina! Kauanggap kami ini orang-orang apa? Kami adalah murid
        Hoa-san-pai yang tidak takut mati. Seribu kali lebih baik mampus daripada memenuhi seleramu yang terkutuk
        melayani nafsu berahimu yang menjijikan!" kata empat orang itu saling susul dan saling bantu. Kiam-mo Cai-li
        tersenyum. "Hi-hik, begitukah? Kalau begitu, baiklah, kalian melayani aku sampai mampus!" Dia lalu membungkuk
        dan menarik lengan seorang di antara mereka, kemudian menggunakan kuku jari kelingking kiri menggurat beberapa
        tempat di punggung dan tengkuk pria ini. Orang itu menggigil, menggigit bibir menahan sakit, akan tetapi karena
        dia tidak mampu mengerahkan sinkang, dia tidak dapat melawan pengaruh hebat yang menggetarkan tubuhnya melalui
        luka-luka goresan kuku beracun dari kelingking itu. Mukanya menjadi merah, juga matanya menjadi merah dan
        napasnya terengah-engah. Tiga orang pendekar yang lain memandang penuh kekhawatiran dan kengerian. Tiba-tiba
        wanita itu terkekeh, menggunakan tangan membebaskan totokan sehingga orang itu dapat menggerakkan kaki
        tangannya dan terjadilah hal yang membuat tiga orang pendekar yang masih rebah lumpuh itu terbelalak penuh
        kengerian. mereka melihat Sute mereka itu seperti seorang gila menerkam dan mendekap tubuh wanita itu penuh
        gairah nafsu! Dengan mata terbelalak mereka melihat betapa wanita itu menyambutnya dengan kedua lengan terbuka,
        bergulingan di atas rumput dan tampak betapa wanita itu membiarkan dirinya diciumi, kemudian mengalihkan
        mulutnya yang lebar ke leher Sute mereka! Mereka bertiga terpaksa memjamkan mata agar tidak usah menyaksikan
        peristiwa yang memalukan dan terkutuk itu. Mereka mengerti bahwa Sute mereka melakukan hal terkutuk itu karena
        terpengaruh oleh racun yang diguratkan oleh kuku jari kelingking si iblis betina, dan mereka tahu pula bahwa
        Sute mereka yang diamuk pengaruh jahanam itu tidak tahu bahwa darahnya dihisap oleh wanita itu yang seperti
        telah dilakukan pada orang pertama tadi kini juga menghisap darahnya sepuas hatinya. Dapat diduga lebih dahulu
        bahwa tiga orang yang lain juga mengalami siksaan yang sama tanpa dapat berdaya apa-apa tanpa dapat melawan.
        Hal ini dilakukan berturut-turut oleh Kiam-mo Cai-li dan tiga hari tiga malam kemudian, dia meninggalkan tempat
        itu sambil menjilat-jilat bibirnya penuh kepuasan. Setelah dia melempar kerling ke arah lima tubuh telanjang
        yang sudah menjadi mayat semua itu, bergegas dia pergi mendaki Jeng-hoa-san untuk mencari Sin-tong yang amat
        diinginkan. Lima orang Kee-san Ngo-hohan itu mengalami kematian yang amat mengerikan. Tubuh mereka kehabisan
        darah, kulit mengeriput. Mereka seperti lima ekor lalat yang terjebak ke sarang laba-laba dan setelah semua
        darah mereka disedot habis oleh laba-laba, mayat mereka yang sudah kering dan habis sarinya itu dilemparkan
        begitu saja. Kwa Sin Liong, atau yang lebih terkenal dengan nama panggilan Sin-tong, pada pagi hari itu seperti
        biasa setelah mandi cahaya matahari, lalu menjemur obat-obatan dan tidak lama kemudian berturut-turut datanglah
        orang-orang dusun yang membutuhkan bahan obat untuk bermacam penyakit yang mereka derita. Sin tong mendengarkan
        dengan sabar keluhan dan keterangan mereka tentang sakit yang mereka derita, menyiapkan obat-obat untuk mereka
        semua dengan hati penuh belas kasihan. Semua ada sebelas orang dusun, tua muda laki perempuan yang memandang
        kepada bocah itu dengan sinar mata penuh kagum dan pemujaan. Baru bertemu dan memandang wajah Sin-tong itu
        saja, mereka sudah merasa banyak berkurang penderitaan sakit mereka. Seolah-olah ada wibawa yang keluar dari
        wajah bocah penuh kasih sayang itu yang meringankan rasa sakit yang mereka derita. Tentu saja hal ini
        sebenarnya terjadi karena kepercayaan mereka yang penuh bahwa bocah itu akan dapat menyembuhkan penyakit
        mereka, sehingga keyakinan ini sendiri sudah merupakan obat yang manjur. Dan bocah ajaib itu memang bukanlah
        seorang dukun yang menggunakan kemujijatan dan sulap atau sihir untuk mengobati orang, melainkan berdasarkan
        ilmu pengobatan yang wajar. Dia memilih buah, daun, bunga atau akar obat yang memang tepat mengandung khasiat
        atau daya penyembuh terhadap penyakit-penyakit tertentu itu. Tiba-tiba terdengar nyanyian yang makin lama makin
        jelas terdengar oleh mereka semua. Juga in Liong, bocah ajaib itu, berhenti sebentar mengumpulkan dan memilih
        obat yang akan dibagikan karena mendengar suara nyanyian yang aneh itu. Akan tetapi begitu kata-kata nyanyian
        itu dimengertinya, dia mengerutkan alisnya dan menggeleng-geleng kepala. "Aihh, kalau hidup hanya untuk
        mengejar kesenangan, apapun juga tentu tidak akan dipantangnya untuk dilakukan demi mencapai kesenangan!" kata
        Sin Liong. "Huh-ha-ha, benar sekali, Sin-tong. Untuk mencapai kesenangan harus berani melakukan apapun juga,
        termasuk membunuh para tamu-tamu yang tiada harganya ini!" Terdengar jawaban dan tahu-tahu disitu telah berdiri
        Pat-jiu Kai-ong! Sebagai lanjutan kata-katanya, tongkatnya ditekankan kepada tanah di depan kaki lalu lima kali
        ujung tongkat itu bergerak menerbangkan tanah dan kerikil ke depan. Tampak sinar hitam berkelebat menyambar
        lima kali, disusul jerit-jerit kesakitan dan robohlah berturut-turut lima orang dusun yang berada di depan Sin
        Liong, roboh dan berkelojotan kemudian tewas seketika karena tanah dan kerikil itu masuk ke dalam kepala
        mereka! "Hi-hi-hik, kepandaian seperti itu saja dipamerkan di depan Sin-tong lihat ini!" Tiba-tiba terdengar
        suara ketawa merdu dan tau-tahu di situ telah berdiri seorang wanita cantik yang bukan lain adalah Kiammo
        Cai-li! Dia menudingkan payung hitamnya yang tertutup itu ke arah para penghuni dusun yang berwajah pucat dan
        dengan mata terbelalak memandang lima orang teman mereka yang telah tewas. "Cuat-cuat-cuat...!" Dari ujung
        payung itu meluncur sinar-sinar hitam dan berturut-turut, enam orang dusun yang masih hidup menjerit dan roboh
        tak bergerak lagi, leher mereka ditembusi jarum-jarum hitam yang meluncur keluar dari ujung payung itu! Sejenak
        Sin Liong terbelalak memandang kepada kedua orang itu yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya. Kemudian dia
        memandang ke bawah, ke arah tubuh sebelas orang dusun yang telah menjadi mayat. Mukanya menjadi merah, air
        matanya berderai dan dengan suara nyaring dia berkata sambil menudingkan telunjuknya bergantian kepada Pat-jiu
        Kai-ong dan Kiam-mo Cai, "Kalian ini manusia atau iblis? Kalian berdua amat kejam, perbuatan kalian amat
        terkutuk. Membunuh orang-orang tak berdosa seolah kalian pandai menghidupkan orang. Bocah itu memandang kepada
        sebelas mayat dan sesenggukan menangis. "Hi-hi-hik, Sin-tong yang baik, apakah kau takut kubunuh? Jangan
        khawatir, aku datang bukan untuk membunuhmu," kata Kiam-mo Cai-li, agak kecewa melihat betapa bocah ajaib itu
        menangis dan membayangkannya ketakutan. Sin Liong mengangkat muka memandang wanita itu, biarpun air matanya
        masih berderai turun namun pandang matanya sama sekali tidak membayangkan ketakutan, "Kau mau bunuh aku atau
        tidak, terserah. Aku tidak takut!" "Ha-ha-ha! Benar hebat! Sin-tong, kalau kau tidak takut kenapa menangis?"
        Pat-jiu Kai-ong menegur. "Apa kau menangisi kematian orang-orang tak berharga itu?" Kiam-mo Cai-li menyambung.
        "Mereka sudah mati mengapa ditangisi? Aku menangis menyaksikan kekejaman yang kalian lakukan, kau menangis
        karena melihat kesesatan dan kekejaman kalian." Dua orang tokoh sesat itu terbelalak heran saling pandang
        kemudian mereka teringat kembali akan niat mereka terhadap anak ajaib ini, maka keduanya seperti dikomando saja
        lalu tertawa, dan keduanya dengan kecepatan kilat menyerbu ke depan hendak menubruk Sin-Liong yang berdiri
        tegak dan memandang dengan sinar mata sedikitpun tidak membayangkan rasa takut! "Desss......!" Karena gerakan
        mereka berbarengan, disertai rasa khawatir kalau-kalau keduluan oleh orang lain, maka melihat Pat-jiu Kai-ong
        sudah lebih dekat dengan Sin-tong, Kiam-mo Cai-li lalu merobah gerakannya, tidak hendak menangkap Sin-tong
        karena dia kalah dulu, melainkan melakukan gerakan mendorong dengan kedua tangannya ke arah Pat-jiu Kai-ong!
        Pukulan jarak jauh yang dilakukan oleh wanita iblis ini dahsyat sekali, membuat Pat-jiu Kai-ong terkejut ketika
        ada angin panas menyambar, maka dia cepat menunda niatnya menangkap Sin-tong dan bergerak menangkis. Keduanya
        merasakan dahsyatnya tenaga lawan dan terpental ke belakang! Sejenak mereka saling berpandangan dan Pat-jiu
        Kai-ong yang lebih dulu dapat menguasai dirinya lalu tertawa, "Ha-ha-yha, lama tidak jumpa, Kiam-mo Cai-li
        menjadi makin gagah saja!" "Pat-jiu Kai-ong, selama ada aku disini, jangan harap kau akan dapat merampas
        Sin-tong dari tanganku!" Wanita itu berkata dan memandang tajam, siap menghadapi kakek yang dia tahu merupakan
        lawan yang tangguh itu. "Aha, Kiam-mo Cai-li, sekali ini kau mengalahlah kepadaku. Aku membutuhkannya untuk
        menyempurnakan ilmuku..." "Hi-hik, Ilmu Hiat-ciang Hoat-sut, bukan? Kau sudah cukup tangguh, Kai-ong, dan
        betapa mudahnya bagimu untuk mencari seratus orang anak lagi untuk kau hisap darah, otak dan sumsumnya. Jangan
        Sintong!" "Hemmmm, kau mau menang sendiri. Apa kaukira aku tidak tahu mengapa kau menghendaki Sin-tong? Dia
        masih terlalu muda, Cai-li, tentu tidak akan memuaskan hatimu. Apa sukarnya bagimu mencari orangorang muda yang
        kuat dan menyenangkan?" "Cukup! Kita mempunyai keinginan sama, dan jalan satu-satunya adalah untuk
        memperebutkannya dengan kepandaian!" "Ha-ha-ha, bagus sekali. Memang aku ingin mencoba kepandaian Wanita Pandai
        dari Rawa Bangkai!" Liok Si, Si Wanita Pandai Berpayung Pedang dari Rawa Bangkai sudah tak dapan menahan
        kemarahannya melihat ada orang berani merintanginya, maka sambil berteriak keras dia sudah menerjang maju
        dengan senjatanya yang istimewa, yaitu payung hitam yang tangkainya sebatang pedang runcing itu. "Trakkk!"
        Pat-jiu Kai-ong sudah menggerakkan tongkatnya menangkis. Gempuran dua tenaga raksasa membuat keduanya terpental
        lagi ke belakang dan Pat-jiu Kai-ong cepat meloncat ke depan, tongkatnya berubah menjadi segulungan sinar hitam
        yang menyambar ganas. "Trakk! Trakkk!!" Dua kali senjata payung dan tongkat bertemu di udara dan keduanya
        terhuyung ke belakang. Diam-diam mereka berdua terkejut sekali dan maklum bahwa dalam hal tenaga sakti,
        kekuatan mereka berimbang. Sebelum mereka melanjutkan pertandingan mereka, tiba-tiba mereka melangkah mundur
        dan memandang tajam karena berturut-turut ditempat itu telah muncul lima orang kakek yang melihat cara
        munculnya dapat diduga tentu memiliki kepandaian tinggi. Mereka muncul seperti setan-setan, tidak dapat
        didengar atau dilihat lebih dahulu, tahu-tahu sudah berdiri di situ sambil memandang ke arah Pat-jiu Kai-ong
        dan Kiammo Cai-li dengan bermacam sikap. Ketika dua orang datuk kaum sesat atau golongan hitam ini melihat
        dengan penuh perhatian mereka terkejut sekali. Biarpun diantara lima orang itu ada yang belum pernah mereka
        jumpai, namun melihat ciri-ciri mereka, kedua orang datuk golongan hitam ini dapat mengenal mereka yang
        kesemuanya adalah orang-orang aneh di dunia kang-ouw yang masing-masing telah memiliki nama besar sebagai
        orang-orang sakti. Sementara itu, ketika melihat dua orang kakek dan nenek tadi bertanding memperebutkan
        dirinya, Sin Liong menjadi makin berduka. Tak disangkanya bahwa di tempat yang penuh damai ini di mana dia
        selama hampir tiga tahun tinggal penuh ketentraman dan kedamaian, yang membuat dia hampir melupakan
        kekejaman-kekejaman manusia ketika terjadi pembunuhan ayah-bundanya, kini dia menyaksikan kekejaman yang lebih
        hebat lagi di mana sebelas orang dusun yang sama sekali tidak berdosa dibunuh begitu saja oleh dua orang itu.
        Maka dia lalu duduk di atas batu, bersila dan tak bergerak seperti arca, hatinya dilanda duka, dan dia
        memandang dengan sikap tidak mengacuhkan. Bahkan ketika muncul lima orang aneh itu, dia pun tidak membuat
        reaksi apa-apa kecuali memandang dengan penuh perhatian namun dengan sikap sama sekali tidak mengacuhkan. Orang
        pertama adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun, bertubuh tinggi besar dengan muka merah seperti tokoh
        Kwan Kong dalam cerita Sam-kok, kelihatan gagah sekali, di punggungnya tampak dua batang pedang menyilang,
        matanya lebar alisnya tebal dan suaranya nyaring ketika dia tertawa, "Ha-ha-ha, kiranya bukan hanya orang gagah
        saja yang tertarik kepada Sin-tong, juga iblis-iblis berdatangan sungguhpun tentu mempunyai niat lain!" Dengan
        ucapan yang jelas ditujukan kepada Kiammo Cai-li dan Pat-jiu Kai-ong ini, dia memandang dua orang itu dengan
        terang-terangan. Orang ini bukanlah orang sembarangan, namanya sendiri adalah Siang-koan Houw, akan tetapi dia
        lebih terkenal dengan sebutan Tee-tok (Racun Bumi) karena selain merupakan seorang ahli racun yang sukar dicari
        tandingannya, juga dia amat ganas menghadapi lawan tidak mengenal ampun dan selain itu, juga dia amat jujur dan
        blak-blakan, bicara dan bertindak tanpa pura-pura lagi. Ilmu silatnya tinggi sekali, dan yang paling terkenal
        sehingga menggegerkan dunia persilatan adalah ilmu pukulannya yang disebut Pek-lui-kun (Ilmu Silat Tangan
        Kilat) dan Ilmu Pedangnya Ban-tok Siang-kiam (Sepasang Pedang Selaksa Racun)! Tidak ada orang yang tahu dimana
        tempat tinggalnya karena memang dia seorang perantau yang muncul dimana saja secara tak terduga-duga seperti
        kemunculannya sekarang ini di Hutan Seribu Bunga. "Huhh, bekas Suteku yang tetap goblok!" kata orang kedua.
        "Masa masih tidak mengerti apa yang dikehendaki dua iblis ini. Jembel busuk itu tentu ingin menghisap darah dan
        otak Sin-tong untuk menyempurnakan Ilmu Iblisnya Hiat-Ciang Hoat-sut. Sedangkan iblis betina genit ini apa lagi
        yang dicari kecuali sari kejantanan Sin-tong? Hayo kalian menyangkal, hendak kulihat apakah kalian begitu tak
        tahu malu untuk menyangkal!" Orang yang kata-katanya amat menusuk ini adalah seorang kakek yang beberapa tahun
        lebih tua daripada Tee-tok, bahkan menyebut Tee-tok sebagai bekas sutenya karena memang demikian. Dia bertubuh
        tinggi kurus dan mukanya seperti tengkorak mengerikan, di ketiaknya terselip sebatang tongkat panjang dan
        gerak-geriknya ketika bicara seperti seekor monyet tidak mau diam, bahkan kadang-kadang menggaruk-garuk kepala
        atau pantatnya, matanya liar memandang ke kanan-kiri. Inilah dia tokoh hebat yang berjuluk Thian-tok (Racun
        Langit), bekas suheng Tee-tok yang memiliki kepandaian khas. Selain lihai dalam hal racun sesuai dengan nama
        dan julukannya, juga dia adalah seorang pemuja Kauw Cee Thian atau Cee Thian Thaiseng, Si Raja Monyet itu,
        yaitu sebatang tongkat yang dia beri nama Kim-kauw-pang seperti tongkat Si Raja Monyet. Juga dia telah
        menciptakan ilmu silat tangan kosong yang meniru gerak-gerik seekor monyet yang diberinya nama
        Sin-kauw-kun(Ilmu Silat Monyet Sakti). Seperti juga Tee-tok, dia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, dan
        tidak ada yang tahu lagi nama aslinya, yaitu Bhong Sek Bin. "Hemmm, setelah ada aku disini jangan harap segala
        macam iblis dapat berbuat sesuka hati sendiri!" kata orang ke tiga, suaranya kasar dan keras, pandang matanya
        seperti ujung pedang menusuk. Orang ini bernama Ciang Ham julukannya Thian-he Te-it, Sedunia Nomor satu!
        Usianya kurang lebih 50 tahun, dan dia adalah ketua dari Perkumpulan Kang-jiu-pang (Perkumpulan Lengan Baja)
        yang didirikannya di Secuan. Di tangan kirinya tampak sebatang senjata tombak gagang panjang, dan selain
        terkenal sebagai seorang ahli bermain tombak, dia pun terkenal sebagai seorang ahli bermain tombak, dia pun
        terkenal memiliki lengan sekuat baja! Pakaiannya ringkas seperti biasa dipakai oleh seorang ahli silat dan
        setiap gerak-geriknya menunjukkan bahwa dia telah mempunyai kepandaian silat yang sudah mendarah daging di
        tubuhnya. Orang ke empat adalah seorang berpakaian sastrawan, sikapnya halus, usianya 50 tahun tapi masih
        tampak tampan, tubuhnya sedang dan dia sudah menjura ke arah kedua orang datuk golongan hitam itu. Di
        pinggangnya terselip sebatang mauwpit alat tulis pena panjang. "Kami berlima dengan tujuan yang sama datang ke
        tempat ini, tidak sangka bertemu dengan dua orang tokoh terkenal seperti Ji-wi (Anda berdua), Pat-jiu Kai-ong
        dan Kiam-mo Cai-li, terutama sekali kepada Cai-li, terimalah hormatku." Pat-jiu Kai-ong sudah segera dapat
        mengenal siapa orang ini, akan tetapi Kiam-mo Cai-li tidak mengenalnya. Hati wanita ini yang tadinya panas
        mendengar kata-kata menentang dari tiga orang pertama, merasa seperti dielus-elus oleh sikap dan kata-kata
        orang berpakaian sastrawan yang tampan ini. Maka dia pun membalas penghormatannya dan dengan lirikan mata
        memikat dan senyum simpul manis sekali dia bertanya, "Harap maafkan, kana tetapi siapakah saudara yang manis
        budi dan yang tentu memiliki ilmu kepandaian bun dan bu(Sastra dan silat) yang tinggi ini?" Laki-laki itu
        tersenyum dan menjawab halus, "Saya yang rendah dinamakan orang Gin-siauw Siucai (Pelajar Bersuling Perak),
        seorang yang suka bersunyi di Beng-san." Kiam-mo Cai-li kembali menjura, tersenyum dan berkata, "Aihhh, sudah
        lama sekali saya telah mendengar nama besar Cin-siauw Siucai, sebagai seorang ahli silat tinggi, terutama
        sekali sebagai seorang peniup suling yang mahir dan sudah lama pula mendengar akan keindahan tamasya alam di
        Beng-san. Mudah-mudahan saja saya akan berumur panjang untuk mengunjungi Beng-san yang indah, menjadi tamu
        Gin-siauw Siucai yang ramah dan sopan, tidak seperti kebanyakan pria yang kasar tak tahu sopan santun!" Ucapan
        terkhir ini jelas ditujukannya kepada tiga orang tokoh pertama yang kasar-kasar tadi. Orang ke lima dari
        rombongan itu adalah seorang tosu berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat,
        tangan kiri memegang sebuah hudtim (Kebutan Pendeta) dan tangan kanan memegang sebuah kipas yang tiada hentinya
        digoyang-goyang menipasi lehernya seolah-olah dia kepanasan, padahal hawa di Hutan Seribu Bunga itu sejuk! Kini
        dia membuka mulut dan terdengarlah suaranya yang merdu menyanyikan sajak dalam kitab To-tek-kheng, kitab utama
        dari kaum tosu (Pemeluk Agama To)! Amat sempurna, namun tampak tak sempurna, tampak tidak lengkap, sungguhpun
        kegunaannya tiada kurang Terisi penuh, namun tampaknya meluap tumpah, tampaknya kosong, sungguhpun tak pernah
        kehabisan Yang paling lurus, kelihatan bengkok, yang paling cerdas, kelihatan bodoh, yang paling fasih,
        kelihatan gagu. Api panas dapat mengatasi dingin, air sejuk dapat mengatasi panas, Sang Budiman, murni dan
        tenang dapat memberkati dunia!" "Huah-ha-ha-ha! Anda tentulah lam-hai Seng-jin (Manusia Sakti Laut Selatan),
        bukan? Sajak-sajak To-tekkheng agaknya telah menjadi semacam cap Anda, ha-ha-ha!" kata Pat-jiu Kai-ong sambil
        tertawa mengejek. Tosu itu berkata , "Siancai! Pat-jiu Kai-ong bermata tajam, dapat mengenal seorang tosu
        miskin dan bodoh." "Ah, jangan merendah, Totiang," kata Kiam-mo Cai-li, "Siapa orangnya yang tidak tahu bahwa
        biarpun Anda seorang yang berpakaian tosu dan kelihatan miskin, namun memiliki sebuah istana dan menjadi
        majikan dari Pulau Kura-kura. Ini namanya menggunakan pakaian butut untuk menutupi pakaian indah di sebelah
        dalamnya." "Siancai! Pujian kosong...!" Tosu itu berkata dan mukanya menjadi merah. Tee-tok Siangkoan Houw
        mngeluarkan suara menggereng tidak sabar. "Apa apaan semua kepura-puraan yang menjemukan ini? Patjiu Kai-ong
        dan Kiam-mo Cai-li, ketika kami berlima datang tadi, kami melihat kalian sedang memperebutkan Sin-tong dan
        tentu sebelas orang dusun ini kalian berdua yang membunuhnya!" "Tee-tok, urusan itu adalah urusan kami sendiri.
        Perlu apa kau mencampuri?" Pat-jiu Kai-ong menjawab dengan senyum dan suara halus seperti kebiasaannya namun
        jelas bahwa dia merasa tak senang. "Bukan urusanku, memang! Akan tetapi ketahuilah, kami berlima mempunyai
        maksud yang sama, yaitu masing-masing menghendaki agar Sin-tong menjadi muridnya. Biarpun kami saling
        bertentangan dan berebutan, namun kami memperebutkan Sin-tong untuk menjadi murid kami atau seorang di antara
        kami. Sedangkan kalian berdua, mempunyai niat buruk!" kata pula Tee-tok yang terkenal sebagai orang yang tidak
        pernah menyimpan perasaan dan mengeluarkannya semua tanpa tedeng aling-aling lagi melalui suaranya yang
        nyaring. "Tee-tok, jangan sombong kau! Mengenai kepentingan masing-masing memperebutkan Sin-tong, adalah urusan
        pribadi yang tak perlu diketahui orang lain. Yang jelas, kita bertujuh masing-masing hendak memiliki Sin-tong,
        Untuk kepentingan pribadi masing-masing tentu saja sekarang bagaimana baiknya? Apakah kalian ini lima orang
        yang mengaku sebagai tokoh-tokoh sakti dan gagah dari dunia kang-ouw hendak mengandalkan banyak orang
        mengeroyok kami berdua. Aku, Kiam-mo Cai-li sama sekali tidak takut biarpun aku seorang kalian keroyok berlima,
        akan tetapi betapa curang dan hinanya perbuatan itu. Terutama sekali Gin-siauw Siucai, tentu tidak begitu
        rendah untuk melakukan pengeroyokan!" kata Kiammo Cai-li yang cerdik. "Perempuan sombong kau, Kiam-mo Cai-li!"
        Tee-tok membentak marah dan melangkah maju. "Siapa sudi mengeroyokmu? Aku sendiri pun cukup untuk mengenyahkan
        seorang iblis betina seperti engkau dari muka bumi!" "Tee-tok, buktikan omonganmu!" Kiam-mo Cai-li membentak
        dan dia pun melangkah maju. "Eh-eh, nanti dulu! Apa hanya kalian berdua saja yang menghendaki Sin-tong? Kami
        pun tidak mau ketinggalan!" kata Pat-jiu Kai-ong mencela. "Benar sekali! Perebutan ini tidak boleh dimonopoli
        oleh dua orang saja! Aku pun tidak takut menghadapi siapa pun untuk memperoleh Sin-tong!" Thian-te Te-it Ciang
        Ham membentak menggoyang tombak panjangnya melintang di depan dada. "Siancai, siancai...!" Lam-hai Seng-jin
        melangkah maju, menggoyang kebutannya. "Harap Cuwi(Anda Sekalian) suka bersabar dan tidak turun tangan secara
        kacau saling serang. Semua harus diatur seadilnya dan sebaiknya. Kita bukanlah sekumpulan bocah yang biasanya
        hanya saling baku hantam memperebutkan sesuatu. Sudah jelas bahwa kita bertujuan sama, yaitu ingin memperoleh
        Sin-tong. Akan tetapi kita lupa bahwa hal ini sepenuhnya terserah kepada pemilihan Sin-tong sendiri. Maka
        marilah kita berjanji. Kita bertanya kepada Sin-tong, kepada siapa ia hendak ikut dan kalau dia sudah
        menjatuhkan pilihannya, tidak seorangpun boleh melarang atau mencampuri, Bagaimana?" "Hemm, tidak buruk
        keputusan itu. Aku setuju!" kata Tee-tok. "Aku pun setuju!" kata Thian-tok dan yang lain pun tidak mempunyai
        alasan untuk tidak menyetujui keputusan yang memang adil ini, kemudian melanjutkan dengan kata-kata sengaja
        dibikin keras agar terdengar oleh Sin-tong. "Tentu saja harus jujur tidak membohongi Sin-tong akan maksud hati
        sebenarnya. Misalnya yang mau mengambil murid, yang hendak menghisap darahnya atau hendak memperkosa dan
        menghisap sari kejantanannya juga harus berterus terang!" Tentu saja dua orang tokoh golongan hitam itu
        mendongkol sekali dan ingin menyerang Thian-tok yang licik itu. "Isi hati orang siapa yang tahu? Boleh saja kau
        bilang hendak mengambil murid, akan tetapi siapa tahu kalau kau menghendaki nyawanya?" Kiam-mo Cai-li mengejek
        Thian-tok. "Kau...! Majulah, rasakan Kim-kauw-pang pusakaku ini!" "Boleh! Siapa takut?" Wanita itu balas
        membentak. "Siancai...!" Lam-hai Seng-jin mencela dan melangkah maju. "Apakah kalian benar-benar hendak menjadi
        kanak-kanak? Katanya tadi sudah setuju, nah marilah kita mendengar sendiri siapa yang menjadi pilihan
        Sin-tong." Tujuh orang itu lalu menghampiri Sin-tong yang masih duduk bersila seperti sebuah arca, hatinya
        penuh kengerian menyaksikan tingkah laku tujuh orang itu. "Sin-tong yang baik. Lihatlah, kau satu-satunya
        wanita di antara kami bertujuh. Lihatlah aku, seorang wanita yang hidup kesepian dan merana karena tidak
        mempunyai anak, kau mendengar bahwa engkau pun sebatangkara, tidak mempunyai ayah bunda lagi. Marilah anakku,
        marilah ikut dengan aku, aku akan menjadi pengganti ibumu yang mencintaimu dengan seluruh jiwaku. Mari hidup
        sebagai seorang Pangeran di istanaku, di Rawa Bangkai, dan engkau akan menjadi seorang terhormat dan mulia.
        Marilah Sin-tong, Anakku!" Sin Liong mengangkat muka memandang sejenak wajah wanita itu, kemudian dia menunduk
        dan tidak menjawab, juga tidak bergerak, hatinya makin sakit karena dia dengan jelas dapat melihat kepalsuan di
        balik bujuk-rayu manis itu, apalagi kalau dia mengingat betapa wanita ini dengan tersenyum-senyum dapat begitu
        saja membunuh jiwa enam orang dusun yang tidak berdosa! Dia merasa ngeri dan tidak dapat menjawab. "Sin-tong,
        aku adalah ketua dari Pat-jiu Kai-pang di Pegunungan Hong-san. Sebagai seorang ketua perkumpulan pengemis,
        tentu saja aku kasihan sekali melihat engkau seorang anak yang hidup sebatangkara. Kau ikutlah bersamaku,
        Sin-tong, dan kelak engaku akan menjadi raja Pengemis. Bukankah kau suka sekali menolong orang? Orang yang
        paling perlu ditolong olehmu adalah golongan pengemis yang hidup sengsara, kau ikutlah dengan aku, dan Pat-jiu
        Kai-ong akan menjadikan engkau seorang yang paling gagah di dunia ini!" Kembali Sin-tong memandang wajah itu
        dan diam-diam bergidik. Orang yang dapat membunuh lima orang dusun sambil tertawa-tawa seperti kakek ini
        sekarang menawarkan kepadanya untuk menjadi raja pengemis! Dia tidak menjawab juga, hanya kembali menundukkan
        mukanya. "Anak ajaib, anak baik, Sin-tong, dengarlah aku. Aku adalah Gin-siauw Siucai, seorang sastrawan yang
        mengasingkan diri dan menjadi pertapa di Beng-san. Selama hidupku aku tidak pernah melakukan perbuatan jahat
        dan selama puluhan tahun aku tekun menghimpun ilmu silat, ilmu sastra dan ilmu meniup suling. Aku ingin sekali
        mengangkat engkau sebagai muridku, Sin-tong." "Ha-ha-ha, kau turut aku saja, Sin-tong. Biarpun aku seorang yang
        kasar, namun hatiku lemah menghadapi anak-anak. Aku sendiri memiliki seorang anak perempuan sebaya denganmu.
        Biarlah kau menjadi saudaranya, kau menjadi muridku dan kau takkan kecewa menjadi murid Tee-tok. Pilihlah aku
        menjadi gurumu, Sin-tong." "Tidak, aku saja! Aku Bhong Sek Bin, namaku tidak pernah kukatakan kepada siapapun
        dan sekarang kukatakan di depanmu, tanda bahwa aku percaya dan suka sekali kepadamu. Akulah keturunan dari Dewa
        Sakti Cee Thian Thai-seng, akulah yang mewarisi ilmu Kim-kauw-pang. Kau jadilah murid Thian-tok dan kelak kau
        akan merajai dunia kang-ouw, Sin-tong." "Lebih baik menjadi muridku. Aku Thian-he Te-it Ciang Ham, di kolong
        dunia nomor satu dan ketua dari Kang-jiu-pang di Secuan. Menjadi muridku berarti menjadi calon manusia
        terpandai di kolong langit!" "Siancai...siancai..! Kaudengarlah mereka semua itu, Sin-tong. Semua hendak
        mengajarkan ilmu silat dan memamerkan kekayaan duniawi, tidak seorangpun yang hendak mengajarkan kebatinan
        kepadamu. Akan tetapi pinto (aku) ingin sekali mengambil murid kepadamu, hendak pinto jadikan engkau seorang
        calon Guru Besar Kebatinan. Kau berbakat untuk itu, siapa tahu, kelak engkau akan memiliki kebijaksanaan besar
        seperti Nabi Lo-cu sendiri, dan engkau menjadi seorang nabi baru. Kau jadilah murid Lam-hai Sengjin, Sin-tong!"
        Hening sejenak. Semua mata ditujukan kepada bocah yang masih duduk bersila seperti arca dan yang tidak pernah
        menjawab kecuali mengangkat muka sebentar memandang orang yang membujuknya. Kemudian terdengar suaranya, halus
        menggetar dan penuh duka. "Terima kasih kepada Cuwi Locianpwe. Akan tetapi saya tidak dapat ikut siapapun juga
        di antara Cuwi karena di balik semua kebaikan Cuwi terdapat kekerasan dan nafsu membunuh sesama manusia. Tidak,
        saya tidak akan turut siapapun, saya lebih senang tinggal disini, di tempat sunyi ini. Harap Cuwi sekalian
        tinggalkan saya, saya akan mengubur mayat-mayat yang patut dikasihani ini." "Wah, kepala batu! Kalau begitu,
        aku akan memaksamu!" kata Tee-tok yang berwatak berangasan dan kasar. "Eh, nanti dulu! Siapa pun tidak boleh
        mengganggunya!" bentak Thian-tok. "Siancai...sabar dulu semua! Jelas bahwa bocah ajaib ini tidak mau memilih
        seorang diantara kita secara sukarela. Karena itu, tentu kita semua ingin merampasnya secara kekerasan. Maka
        harus diatur sebaik dan seadil mungkin. Kita bukan kanak-kanak, kita adalah orang-orang yang telah menghimpun
        banyak ilmu, maka sebaiknya kalau kita sekarang masing-masing mengeluarkan ilmu dan mengadu ilmu. Siapa yang
        keluar sebagai pemenang, tentu saja berhak meimiliki Sin-tong," kata Lam-hai Seng-jin yang lebih sabar daripada
        yang lain. "Mana bisa diatur begitu?" bantah Pat-jiu kai-ong yang khawatir kalau-kalau lima orang itu akan
        mengeroyok dia dan Kiam-mo Cai-li. "Lebih baik seorang lawan seorang, yang kalah masuk kotak dan yang menang
        harus menghadapi yang lain setelah beristirahat. Begitu baru adil!" "Tidak!" bantah Kiam-mo Cai-li, wanita yang
        cerdik ini dapat melihat kesempatan yang menguntungkannya kalau terjadi pertandingan bersama seperti yang
        diusulkan Lam-hai Seng-jin. Dalam pertempuran seperti itu, siapa cerdik tentu akan keluar sebagai pemenang.
        "Kalau diadakan satu lawan satu, terlalu lama. Sebaiknya kita bertujuh mengeluarkan ilmu dan saling serang
        tanpa memandang bulu. Dengan demikian, satu-satunya orang yang kelaur sebagai pemenang, Jelas dia telah lihai
        daripada yang lain." Akhirnya Pat-jiu kai-ong kalah suara dan ketujuh orang itu telah mengelurkan senjata
        masing-masing, membentuk lingaran besar dan bergerak perlahan-lahan saling lirik , siap untuk menghantam siapa
        yang dekat dan menangkis serangan dari manapun juga! Benar-benar merupakan pertandingan hebat yang kacau balau
        dan aneh! Sin Liong yang masih duduk bersila, memandang dengan mata terbelalak dan dia menjadi silau ketika
        tujuh orang itu sudah mulai menggerakkan senjata masing-masing untuk menyerang dan menangkis. Gerakan mereka
        demikian cepatnya sehingga bagi Sin Liong, yang kelihatan hanyalah gulungan-gulungan sinar senjata dan bayangan
        orang berkelebatan tanpa dapat dilihat jelas bayangan siapa. Memang hebat pertandingan ini karena dipandang
        sepintas lalu, seolah-olah setiap orang melawan enam orang musuh dan kadang-kadang terjadi hal yang lucu.
      </P>
      <P>
        Ketika Tee-tok menyerang Pat-jiu Kai-ong dengan siang-kiamnya, sepasang pedangnya ini membabat dari kiri kanan.
        Pat-jiu Kai-ong terkejut karena pada saat itu dia sedang menyerang Lam-hai Seng-jin yang di lain pihak juga
        sedang menyerang Gin-siauw Siucai! Akan tetapi terdengar suara keras ketika sepasang pedang Tee-tok itu bertemu
`Pemula Punya Blog

Ditulis Oleh : mansyur syamsudin // 6:03 AM
Kategori:

Ditulis Oleh : mansyur syamsudin ~ PEMULA PUNYA BLOG ~

Artikel BUKEK SIANSU : Seri Kedua ini diposting oleh mansyur syamsudin Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel BUKEK SIANSU : Seri Kedua ini.Di Posting Thursday, July 26, 2012. Tak Lengkap Rasanya Jika Kunjungan Anda di Blog ini Tanpa Meninggalkan Komentar Untuk Itu Silahkan Berikan Komentar Anda Apa Aja Pada Kotak Komentar Di Bawah. Semoga Artikel BUKEK SIANSU : Seri Kedua dapat Memberi manfaat untuk Anda ..Trima Kasih.. HAPPY BLOGGING :)

3 comments:

  1. NIce artikel mas..

    Happy blogging..

    ReplyDelete
  2. nice posting
    Semoga kedepanya semakin menunjukan eksistensinya dalam berkarya :)

    ReplyDelete
  3. @cadis : Thanks Sobat..
    @Jefry : Thanks Sobat..

    ReplyDelete

Powered by Blogger.