Saturday, July 28, 2012

BUKEK SIANSU : Seri Kesebelas

BUKEK SIANSU : Seri Kesebelas - BUKEK SIANSU : Seri Kesebelas - Lanjutan Kho Ping Hoo - Bukek Siansu Seri Ke Sepuluh

        bertumpuk-tumpuk dan berserakan, darah manusia membanjiri padang rumput. Namun akhirnya, betapapun gigih
        Panglima Kok Cu It melakukan perlawanan setelah dia menyuruh pasukan pengawal mengiringkan Kaisar lebih dulu
        menyelamatkan diri ke kota raja, karena kalah banyak jumlah pasukannya, Tung Kuan jatuh ketangan pihak An Lu
        Shan. Pasukan-pasukan yang masih dapat bertahan segera
ditarik mundur ke Ling Pao dan membuat pertahanan di
        tempat ini. kaisar telah melanjutkan perjalanan kembali ke Tiang-an di mana dia berkemas-kemas dengan hati
        penuh kekhawatiran. Tak lama kemudian, Ling pao juga jatuh dan Panglima Kok Cu It terpaksa membawa sisa
        pasukannya kembali ke kota raja. Melihat betapa gerakan An Lu Shan amat kuat dan tidak dapat dibendung,
        panglima ini menganjurkan kepada Kaisar untuk pergi mengungsi ke Secuan. Kaisar mengumpulkan semua pembantunya
        yang setia dan akhirnya, atas desakan mereka pula, kaisar menerima usul itu. Berangkatlah rombongan Kaisar ke
        barat. Yang berada di dalam rombongan itu, selain Kaisar sekeluarga tentu saja termasuk selir Yang Kui Hui,
        juga perdana Menteri Yang Kok Tiong kakak dari selir cantik itu berserta semua keluarganya, para Thaikam (Orang
        Kebiri) yang setia kepada Kaisar, dan beberapa orang ponggawa tinggi yang menjadi kaki tangan mereka. Rombongan
        besar ini dikawal oleh pasukan pengawal istimewa dan berangkatlah rombongan Kaisar pergi mengungsi di lakukan
        di waktu malam agar jangan ada rakyat mengetahuinya. Pelarian yang dilakukan tergesa-gesa ini pun mencerminkan
        watak orang-orang bangsawan ini. Selain keluarga mereka, juga mereka membawa harta benda mereka sebanyak
        mungkin! Tidak ada lagi yang dipikirkan kecuali membawa keluarga dan harta bendanya sehingga mereka lupa bahwa
        bukan harta benda yang penting untuk dibawa sebagai bekal, melainkan ransum! Mereka melupakan ini dan sibuk
        membawa harta benda yang mungkin dapat terbawa. Telah menjadi kelemahan kita manusia dalam penghidupan kita ini
        bahwa kita selalu melekat kepada benda-benda duniawi. Kita lupa bahwa benda-benda itu yang memang merupakan
        perlengkapan hidup dan kita butuhkan, hanyalah menjadi hamba kita, menjadi kebutuhan kita selagi hidup. Akan
        tetapi kita silau oleh benda-benda mati itu, kita mengejarnya dan mengumpulkannya, bukan lagi karena kebutuhan,
        melainkan karena ketamakan, karena rakus sehingga kita mengumpulkan sebanyak mungkin. Setelah itu, kita menjadi
        hamba duniawi, kita melekatkan diri dan kita telah merobah batin kita menjadi benda-benda itu! Maka kita selalu
        mempertahankan duniawi secara mati-matian, kita tidak bisa lagi hidup tanpa dia, lahir maupun batin. Kehilangan
        harta benda menjadi hal yang amat hebat dan penuh derita. Mencari dan mengumpulkan harta benda menjadi hal yang
        paling penting di dalam hidup kita sehingga kalau perlu dalam mengejar duniawi berupa harta benda, kedudukan,
        kemuliaan dan lain-lain, kita tidak segan-segan untuk sikut-menyikut jegal-menjegal, bunuh-membunuh antara
        manusia! Maka akan BAHAGIALAH DIA YANG MEMPUNYAI NAMUN TIDAK MEMILIKI, dalam arti kata, mempunyai apa saja di
        dunia ini karena ada hubungannya, karena ada kebutuhannya, hanya mempunyai lahiriah saja, namun batin sama
        sekali tidak memiliki, sama sekali tidak terikat atau melekat sehingga punya atau tidak punya bukanlah
        merupakan soal penting lagi! Karena ketamakan itulah maka rombongan Kaisar segera mengalami akibatnya setelah
        rombongan besar itu melarikan diri sampai di pos penjagaan Ma Wei, yang terletak di Propinsi Shen-si sebelah
        barat, rombongan ini kehabisan ransum yang tidak berapa banyak itu. pasukan pengawal yang menderita kelelahan
        dan kelaparan, karena sisa ransum yang sedikit diperuntukan Kaisar dan keluarganya serta para bangsawan ,
        menjadi gelisah dan tampaklah wajah-wajah yang membayangkan penasaran dan kemarahan, mulai terdengarlah
        suara-suara tidak puas di antara para anggauta pasukan. Perhentian di Ma Wei ini dipergunakan oleh Yang Kok
        Tiong untuk mengadakan pertemuan dengan orangorang Tibet. Yang Kok Tiong berusaha untuk mengadakan kontak
        dengan Pemerintah Tibet untuk membantu Kaisar dalam menghadapi pemberontakan dan membujuk seorang pendeta Lama
        yang berada di antara orang-orang Tebet itu untuk menyampaikan permintaan bantuannya. Hatinya juga gelisah
        ketika melihat betapa anak buah pasukan pengawal mulai tidak puas. Akan tetapi Kaisar yang sudah merasa lelah
        dan berduka, tidak tahu akan semua itu dan dia menenggelamkan dirinya yang dirundung kedukaan itu dalam pelukan
        selirnya yang menghiburnya. Tidak seorang pun di antara para bangsawan itu tahu betapa di luar terjadi hal yang
        luar biasa. Seorang laki-laki muda dan seorang gadis cantik menyelinap di antara penduduk setempat, mendekati
        tempat mengaso para pasukan pengawal dan dua orang muda ini berbisikbisik dengan para pasukan. Mereka ini bukan
        lain adalah Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki! Seperti telah kita ketahui, Liem Toan Ki, jago muda dari Hoa-san-pai
        itu adalah mata-mata An Lu Shan dan Bu Swi Nio, murid The Kwat Lin, akhirnya juga menjadi pembantu An Lu Shan
        karena terbawa oleh Liem Toan Ki yang menjadi tunangannya itu. Kini, selagi memata-matai keadaan Kaisar yang
        melarikan diri, Bu Swi Nio teringat akan kematian kakaknya, maka diambilnya keputusan untuk membalas dendam
        kepada Yang Kui Hui yang menyebabkan kematian kakaknya, Bu Swi Liang. Setelah berunding dengan kekasihnya,
        mereka berdua lalu menyelinap di antara penduduk, mengadakan kontak dengan para komandan pasukan pengawal,
        mulai menghasut mereka itu. "Lihat, kita bersusah payah, setengah mati kelelahan dan kelaparan menjaga
        keselamatan Kaisar, beliau sendiri bahkan bersenang-senang dan tidak memperdulikan kita, mabok dalam rayuan
        Ynag Kui Hui setan kuntilanak itu!" Bu Swi Nio antara lain menghasut. "Lihat kakaknya yang menjadi perdana
        menteri itu. Diam-diam mengadakan perundingan dengan orang-orang Tibet. Dialah bersama adiknya ular cantik itu
        yang menjadi pengkhianat dan menjual negara. Coba ingat, bukankah An Lu Shan diambil anak oleh Yang Kui Hui?
        Padahal diam-diam menjadi kekasihnya? Negara telah dijual oleh Yang Kui Hui, diberikan kepada kekasihnya, An Lu
        Shan. Dan sekarang agaknya Yang Kok Tiong hendak menjual keselamatan Kaisar kepada orang-orang Tibet! Aduhhh,
        sungguh membuat orang hampir mati penasaran. kaisar dipermainkan seperti itu, namun tinggal diam karena mabok
        oleh kecantikan Yang Kui Hui iblis betina yang keji itu!" demikian Liem Toan Ki menambah minyak dalam api yang
        mulai dikobarkan oleh Swi Nio. Memang para anggauta pasukan sudah gelisah dan kehilangan ketenangan. Mereka
        merasa sengsara dan nasib mereka masih belum dapat ditentukan bagaimana. Mungkin saja mereka semua akan mati
        konyol jika sampai dapat disusul oleh pasukan-pasukan pemberontak. Mendengar hasutan-hasutan itu, mereka
        menjadi makin gelisah dan akhirnya terdengarlah teriakan-teriakan yang diam-diam didahului oleh Swi Nio dan
        Toan Ki. "Gantung pengkhianat!" "Bunuh penjual negara!" "Seret Yang Kok Tiong!" "Yang Kok Tiong pengkhianat,
        harus dihukum mati!" "Sebelum menjual negara itu mampus, kami tidak mau pergi!" Teriakan-teriakan ini makin
        hebat dan kini seluruh pasukan sudah bangkit, mengacung-acungkan kepalan dan senjata ke arah bangunan-bangunan
        di mana rombongan bangsawan itu berada. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Kaisar ketika mendengar
        teriakan-teriakan itu. Juga yang lain-lain menjadi kaget setengah mati, terutama Yang Kok Tiong sendiri. Dia
        sedang berunding dengan orang-orang Tibet, ketika tiba-tiba Kaisar bersama pengawal-pengawal pribadi memasuki
        tempat itu. Kaisar kelihatan marah. "Siapa mereka ini??" bentaknya sambil menuding ke arah tujuh orang Tibet
        yang berada di situ. "Hamba....hamba sedang berunding.... minta pertolongan Pemerintah Tibet," jawab Yang Kok
        Tiong. "Tangkap orang-orang Tibet itu! Siapa tahu mereka adalah mata-mata perampok!" Perintah Kaisar ini
        diturut oleh para pengawal dan ditangkaplah tujuh orang Tibet itu yang tidak berani melakukan perlawanan.
        Sementara itu, teriakan-teriakan di luar menuntut kematian Yang Kok Tiong makin menghebat. Berbondong-bondong
        datanglah para pembantu Kaisar, berkumpul di tempat Yang Kok Tiong yang duduk dengan muka pucat mendengar
        tuntutan para pasukan di luar. Di depan mata semua orang, tanpa malu-malu Yang Kui Hui menubruk dan merangkul
        leher Kaisar sambil menangis. "Sudilah Paduka menolong kakakku.... harap Paduka menyelamatkan kakakku..." Selir
        itu menangis. Didekap dan ditangisi selirnya yang tercinta, kaisar yang tua itu segera menghardik kepada kepala
        pengawal pribadinya, "tangkap si pembuat ribut itu!" Komandan pengawal itu berdiri tegak dan menjawab, "Ampun,
        Sri Baginda. Akan tetapi yang ribut adalah seluruh pasukan pengawal!" "Junjungan hamba ...... tolonglah
        kakakku..... selamatkan dia ......!" Yang Kui Hui menangis. yang Kok Tiong juga menjatuhkan diri berlutut di
        depan kaki Kaisar. "Hamba hanya dapat mengharapkan kebijaksanan Paduka dan menaruh nyawa hamba di dalam telapak
        tangan Paduka ....!" "Seret Yang Kok Tiong si pengkhianat keluar!" terdengar teriakan dari luar. "Keluarkan
        jahanam itu, kalau tidak kami menyerbu ke dalam!" Suara ini diikuti suara pintu digedor-gedor dari luar.
        "Tangkap dia...!!" Kaisar memerintah dan menudingkan telunjuknya kluar. Komandan pengawal hendak membuka dau
        pintu, akan tetapi tiba-tiba dari luar meloncat masuk pengawal yang menjaga di luar, mukanya pucat dan tubuhnya
        menggigil lalu dia menjatuhkan diri di atas lantai menghadap Kaisar sambil berkata, "Mereka .... mereka
        .....akan menyerbu.....!" Oleh kepala pengawal, Kaisar dan rombongannya dikawal naik ke loteng. Kemudian Kaisar
        keluar dan memandang kepada pasukannya yang memberontak di luar itu. Begitu melihat munculnya Kaisar, para anak
        buah pasukan berteriak kacau balau, menuntut agar Yang Kok Tiong diberikan kepada mereka. Kepala pengawal yang
        melihat gelagat buruk, diam-diam lalu menotok perdana menteri itu dan membawanya turun lagi di luar tahunya
        Kaisar, kemudian dia membuka pintu dan mendorong perdana menteri itu ke luar. Banyak tangan yang penuh dendam
        kebencian menyambut, tubuh Yang Kok Tiong di seret-seret, hujan pukulan dan makian, penghinaan dan ludah
        ditujukan kepadanya. Ketika Yng Kui Hui yang mendengar teriakan-teriakan kakaknya itu keluar mendekati Kaisar
        dan menjenguk ke bawah, dia menjerit dan merangkul Kaisar, menangis. Kaisar sendiri terbelalak memandang betapa
        perdana menterinya itu, kakak dari selirnya, disiksa oleh pasukan, dipukuli dan dimaki-maki. "Tolonglah
        kakakku..... tolonglah dia...." Yang Kui Hui merintih dan menangis. Kaisar lalu berseru ke bawah dengan suara
        lantang, "Haiii! Semua anggauta pasukanku....! Tahan.....! Jangan lanjutkan perbuatan gila itu!" "Berhenti....!
        Kalaian iblis-iblis jahat.......! Uh-huuuuhhh-huuuu....!!" Yang Kui Hui juga menjrit-jerit dan akhirnya
        menutupi mukanya, demikian pula Kaisar ketika melihat betapa Yang Kok Tiong sudah rebah dan tidak berkutik
        lagi, dengan tubuh hancur dan penuh darah. Tiba-tiba dari dalam rombongan pasukan dan orang-orang dusun yang
        banyak berkumpul di tempat itu terdengar suara nyaring seorang laki-laki, "Seret iblis betina Yang Kui Hui....!
        Dialah biang keladinya! Dialah yang menjatuhkan kerajaan dengan menggoda Sri Baginda! Semenjak ada dia,
        kerajaan menjadi lemah dan dikuasai oleh pengkhianat-pengkhianat!" Disusul suara wanita, "Bunuh kuntilanak itu!
        Dia siluman betina! Dia Tiat Ki ke dua ....! Dia berjinah dengan An Lu Shan, dia mengumpulkan keluarganya untuk
        menguasai kerajaan! Dia harus dihukum gantung.....! Suara ini adalah suara Bu Swi Nio yang ingin membalas
        kematian kakaknya. Dia menyebutnyebut nama tokoh wanita Tiat Ki, yang dalam dongeng sejarah adalah seekor
        siluman rase yang menjelma wanita menjadi selir Kaisar dan menyeret kerajaan ke dalam kehancuran pula.
        Mendengar teriakan-teriakan menghasut dari Liem Toan Ki dan Bu Swi Nio ini, pasukan yang haus darah dan yang
        ridak puas itu lalu berteriak-teriak, menuding-nuding kepada Yang Kui Hui sambil menuntut agar wanita cantik
        itu digantung! "Tidak....!! Kalian gila semua! Tidaaaakkk....!!" Kaisar memeluk tubuh selirnya yang pucat dan
        hampir pingsan itu, lalu menariknya masuk, diikuti teriakan-teriakan para anak buah pasukan dan rakyat
        setempat. Kaisar dengan muka mereh karena marahnya merangkul Yang Kui Hui yang menangis terisakisak itu,
        diikuti oleh rombongan. Semua anggauta rombongan memandang dengan muka pucat, apalagi mereka mendengar suara
        ribut-ribut di luar rumah dan kini pintu digedor-gedor lagi. "Gantung Yang Kui Hui.....!" "Bunuh siluman
        itu.....!" "Kalau tidak, rumah ini kami bakar!!" Tentu saja Kaisar dan yang lain menjadi makin panik. Kaisar
        menjatuhkan diri di atas kursi, mukanya pucat dan keringatnya bercucuran membasahinya, sementara itu Yang Kui
        Hui berlutut di dekat kursi Kaisar, memeluk kaki Kaisar dan memperlihatkan sikap yang memelas (menimbulkan iba)
        sekali, tubuhnya gemetar karena suara-suara dari luar yang terdengar, suara menuntuk kematiannya itu seperti
        ujung pedang-pedang yang ditusuk-tusukan ke ulu hatinya.
     
      <CENTER>
        JILID 21
      </CENTER>
     
        Gedoran pintu makin keras, teriakan-teriakan makin hebat sementara Kaisar menanti hasil para komandan pasukan
        pengawal yang tadi keluar untuk menyabarkan anak buahnya. Penantian yang mencekam dan menegangkan urat syaraf.
        Tiba-tiba, ketik para komandan pasukan keluar dan bicara, suarasuara teriakan dan gedoran pintu terhenti. Hati
        Kaisar lega, dia menunduk dan saling pandang dengan kekasihnya. Sepasang mata yang indah itu yang tak pernah
        kehilangan daya pengaruh yang membuat Kaisar terpesona, kini berlinang air mata. Akan tetapi hanya sejenak saja
        hati mereka terhibur dan harapan mereka timbul, karena tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan lebih keras lagi
        disusul gedoran pada pintu dan dinding dan tak lama kemudian, kepala pengawal dan para pembantunya masuk dengan
        muka pucat, serta merta menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar. "Hamba siap menerima hukuman karena hamba
        sekalian tidak berhasil menundukan kemarahan mereka," kata komandan pengawal sambil menunduk. Kaisar bangkit
        berdiri dan pada saat itu terdengar suara, "Bunuh siluman Yang Kui Hui! Kalau tidak, mari kita bunuh saja
        semua!" "Tidak! Tidaaaaaakkk....! Persetan....!!" Kaisar berteriak dan lengan kirinya merangkul leher selirnya,
        seolah-olah dia hendak melindungi kekasih tercinta itu. "Dor-dor-dorrrr...." pintu digedor dari luar.
        "Hancurkan saja Raja lalim dan lemah....!" "Bakar saja rumah ini kalau yang Kui Hui tidak dihukum mati!"
        Keadaan sudah amat berbahaya dan menegangkan. Semua bangsawan yang berada di situ sudah menjadi pucat. Pangeran
        mahkota segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar. "Dalam keadaan seperti ini, mengapa Paduka masih
        kukuh?" putera mahkota itu menangis. Para pembesar yang setia kepada kaisar juga membujuk, bahkan kepala
        thaikam yang menjadi kepercayaan Kaisar dan yang diam-diam secara pribadi memusuhi Yang Kui Hui, berkata,
        "Harap Paduka suka mempertimbangkan dengan tenang. Memang menyakitkan hati sekali tuntutan mereka. namun,
        mereka tidak dapat dibendung dan kalau ditolak, tentu Paduka akan terancam bahaya, bahkan seluruh keluarga
        Paduka. Apakah Paduka hendak mengorbankan keselamatan Paduka sendiri dan seluruh keluarga hanya untuk satu
        orang yang toh tidak akan dapat Paduka selamatkan juga?" Putera mahkota menoleh kepada Yang Kui Hui dan
        berkata, suaranya keras dan penuh tuntutan, "Seorang yang selama puluhan tahun memperoleh kemuliaan dan
        anugerah kebaikan Kaisar, apakah di waktu terancam lalu melupakan budi yang besarnya melebihi nyawa itu?" Yang
        Kui Hui menjadi pucat wajahnya dan dia menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar, memeluk kaki Kaisar sambil
        menangis dan berkata, "Biarlah hamba membalas segala budi kebaikan Paduka....." "Tidak....! Tidak....ohhh, Kui
        Hui, tidak....! Jangan....!" akan tetapi banyak tangan merenggut tubuh selir cantik itu dari pelukan Kaisar,
        lalu menyerahkannya kepada kepala thaikam. Selir itu diseret oleh kepala thaikam ke atas pagoda dan tak lama
        kemudian, terdengarlah sorak-sorai para pasukan melihat tubuh selir cantik jelita itu tergantung di pagoda,
        tergantung lehernya dan berkelojotan sebentar lalu terdiam. "Hidup kaisar....!!" "Biang keladi kelemahan telah
        tewas....!!" "Kita akan mengawal Kaisar sampai titik darah terakhir!" Di sebelah dalam, Kaisar yang tadinya
        menangis itu terbelalak mendengar teriakan yang sama sekali berlainan itu. Dia bingung tidak tahu apa yang
        terjadi, memandang ke kanan kiri. "Di mana dia....? Mana Yang Kui Hui....!" Semua keluarganya menjatuhkan diri
        berlutut. "Dia..... telah mengorbankan nyawa demi keselamatan paduka sekeluarga...." "Kui Hui....!!" Kaisar
        berlari naik ke loteng, kemudian roboh pingsan melihat tubuh kekasihnya yang diam tidak bergerak, tergantung di
        pagoda itu. Peristiwa ini merupakan peristiwa bersejarah yang kemudian terkelan di seluruh Tiongkok sampai
        berabad-abad lamanya. Bagi mereka yang ikut merasa berduka dan terharu mendengar cerita tentang pemutusan
        hubungan cinta yang amat menyedikan ini, menganggap Kaisar itu lemah dan telah melakukan kesalahan besar.
        Peristiwa ini menjadi terkenal sekali ratusan tahun kemudian, bahkan dijadikan cerita drama yang dipangungkan
        dan menjadi bahan karangan cerita tentang peristiwa itu yang tak terhitung banyaknya. Lebih terkenal sekali
        setelah sastrawan Po Cu I menulisnya dengan judul "Kesalahan Abadi". Dengan lesu dan penuh duka, rombongan
        Kaisar melanjutkan perjalanan mengungsi ke Secuan dan kematian selir tercinta itu melumpuhkan seluruh gairah
        hidup Kaisar yang sudah tua itu. Akan tetapi, di tengah perjalanan, kembali terjadi peristiwa hebat. Ketika
        rombongan itu sedang beristirahat dan bermalam di sebuah dusun kecil di daerah yang sepi di perbatasan Secuan,
        malam itu tiba-tiba heboh karena terjadinya pembunuhan atas diri seorang di antara para pengeran yang ikut
        mengungsi. Pangeran ini adalah adik pangeran mahkota. Di waktu malam yang amat sunyi itu, dua sosok bayangan
        berkelebat di atas genteng rumah-rumah yang dijadikan tempat mengaso rombongan Kaisar. Mereka ini bukan lain
        adalah Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki. Keduanya, sebagai mata-mata An Lu Shan, setelah berhasil mengasut anak buah
        pasukan pengawal sehingga terbunuhnya Yang Kui Hui dan kakaknya, diam-diam terus mengikuti dan membayangi
        rombongan itu, mencari kesempatan baik untuk membunuh Kaisar! Inilah tujuan mereka, karena matinya Kaisar akan
        merupakan kemenangan besar bagi An Lu Shan. Akan tetapi, mereka berdua salah masuk! Mereka memasuki kamar
        pangeran muda yang berada di sebelah kamar Kaisar. Ketika dua batang pedang di tangan mereka bergrak, tubuh di
        atas pembaringan, di dalam kelambu yang tertusuk pedang dan mengeluarkan pekik maut bukanlah tubuh Kaisar,
        melainkan tubuh pangeran itu! barulah kedua orang ini tahu bahwa mereka telah keliru, dan cepat mereka meloncat
        dan keluar dari dalam kamar itu melalui jendela. "Tangkap penjahat!" "Tangkap pembunuh!!" Dalam sekejap mata
        saja kedua orang mata-mata itu dikepung oleh belasan orang pengawal dan disergap. Tentu saja Bu Swi Nio dan
        Liem Toan Ki membela diri dan membalas dengan serangan-serangan dahsyat. Terjadilah pertandingan keroyokan di
        ruangan yang cukup terang itu dan makin lama makin banyaklah pengawal yang datang mengeroyok. Menghadapi
        pengeroyokan banyak sekali pengawal yang berkepandaian tinggi, dua orang itu menjadi repot juga. Dengan berdiri
        saling membelakangi, Swi Nio dan Toan Ki saling melindungi, pedang mereka bergerak cepat menyambar-nyambar ke
        depan, kanan dan kiri menangkis semua senjata yang datang bagaikan hujan ke arah mereka. Suara beradunya
        senjata nyaring diselingi teriakan-teriakan para pengeroyok memecah kesunyian malam di dusun itu. Tidak kurang
        dari delapan orang pengeroyok roboh oleh pedang mereka dan kini para pengawal atas komando perwira atasan
        mereka mengurung dan mengatur barisan. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bu Swi Nio untuk menggeser kakinya
        mundur sampai punggungnya beradu dengan punggung Liem Toan Ki. Kemudian dia berbisik, suaranya mengandung
        keharuan, "Maaf, Koko. Aku yang membujukmu ke sini sehingga kau juga menghadapi bahaya maut...." "Hushhh....,
        mati atau hidup kita berdua, Moi-moi...." "Aku tak takut mati, tapi.... aku belum sempat membalas segala
        kebaikanmu, Koko...." "Tidak ada kebaikan di antara kita. Kita saling mencinta, bukan? Mencinta sampai kita
        mati bersama!" Ucapan Toan Ki ini membangkitkan semangat di dalam hati Swi Nio. Sambil memengang pedang
        erat-erat dan tangan kirinya dikepal, dia berkata. "Aku akan merasa bangga denganmu, Koko!" Percakapan
        bisik-bisik itu dihentikan karena kini para pengeroyok yang tadi mengurung mereka telah mulai menyerang. Kini
        pengeroyokan mereka teratur, dan serangan datang bertubi-tubi, berantai karena mereka mengelilingi dua orang
        ini sampai tiga empat baris. Swi Noi dan Toan Ki kembali harus menggerakan pedang masing-masing untuk menangkis
        dan melindungi tubuh mereka, namun karena datangnya serangan tidak seperti tadi, kadang-kadang bertubi-tubi dan
        susul menyusul, mereka berdua menjadi repot sekali dan tiba-tiba terdengar Swi Nio mengeluh perlahan ketikabahu
        kirinya terkena hantaman gagang tombak. Biarpun keduanya telah terluka, namun mereka terus mengamuk, pedang
        mereka menyambar-nyamabar dan kembali robohlah empat orang pengeroyok, sungguhpun mereka berdua sendiri juga
        mengalami lukaluka bacokan. Maklumlah keduanya bahwa menghadapi pengeroyokan demikian banyak pengawal, Mereka
        tidak mungkin dapat meloloskan diri, maka mereka mengamuk untuk dapat membunuh sebanyak mungkin musuh sebelum
        mereka berdua dirobohkan.Mereka berdua sudah bertekad untuk melawan sampai mati. Akan tetapi tiba-tiba terjadi
        perubahan. Para pengurung dan pengeroyok menjadi kacau balau dan terdengar suara meledak-ledak nyaring serta
        disusul pekik-pekik kesakitan dan robohlah beberapa orang pengeroyok yang kena disambar oleh sebatang cambuk
        berduri. Juga ada para pengeroyok yang dilempar-lemparkan sepasang lengan yang amat kuat. Swi Nio dan Toan Ki
        terkejut dan girang sekali karena maklum bahwa ada bala bantuan datang. Mereka tadinya menduga bahwa yang
        datang tentulah teman-teman mereka, para mata-mata yang disebar oleh An Lu Shan. Akan tetapi mereka menjadi
        terheran-heran dan kagum sekali ketika menyaksikan bahwa yang mendatangkan kekacauan pada pihak para pengeroyok
        hanyalah dua orang, seorang pemuda tinggi besar yang gagah perkasa, yang menggunakan kedua tangannya
        melempar-lemparkan para pengawal, dan seorang dara yang amat cantik jelita dan gagah, dara yang mengamuk dengan
        sebatang cambuk berduri dan sebatang pedang, gerakannya cepat dan ganas. Siapakah dua orang yang tidak dikenal
        oleh Swi Nio dan Toan Ki itu? Mereka adalah Ouw Soan Cu, gadis Pulau Nereka yang lihai itu, dan pemuda tinggi
        besar Kwee Lun, murid Lam-hai Seng-jin yang tinggal di Pulau Kura-kura di laut selatan. Seperti telah
        diceritakan di bagian depan, mereka berdua saling berjumpa di puncak Awan Merah di Pegunungan Tai-hang-san,
        yaitu di tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw. Ouw Soan Cu gadis Pulau Neraka itu datang bersama Sin Liong
        sedangkan Kwee Lun yang menjadi teman seperjalanan dan sahabat Swat Hong datang pula bersama gadis itu.
        Tadinya, sebelum Sin Liong pergi bersama Swat Hong untuk mencari The Kwat Lin di Bu-tong-pai, pemuda ini yang
        merasa kasihan kepada Soan Cu menitipkan gadis itu kepada Tee-tok Siangkoan Houw. Akan tetapi melihat Sin Liong
        pergi bersama Swat Hong, Soan Cu tidak mau tinggal di tempat itu, lalu dia pun pergi hendak mencari ayahnya.
        Dan Kwee Lun, yang merasa tertarik kepada gadis cantik jelita dan galak serta jujur itu, segera berpamit dan
        cepat lari mengejar Soan Cu. Di kaki pegunungan Tai-hang-san, barulah Kwee Lun mampu menyusul Soan Cu karena
        gadis itu memperlambat larinya dan berjalan dengan termenung. Setelah kini mulai melakukan perjalanan seorang
        diri, barulah Soan cu merasa bingung sekali. tadinya, melakukan perjalanan bersama Sin Liong, dia tidak tahu
        apa-apa, hanya ikut saja dan segeralah hal diputuskan oleh pemuda itu. Setelah kini sadar bahwa dia berada
        seorang diri di dunia yang luas ini, dia merasa kesepian dan bingung. Dia tidak mengenal tempat dan tidak tahu
        harus menuju ke mana untuk mencari ayahnya! Teringat akan semua ini, hatinya kecil dan gelisah, juga marah.
        Marah kepada Sin Liong yang meninggalkanya. "Nona Ouw, perlahan dulu.....!" Karena termenung dan hatinya
        gelisah, Soan Cu sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekitarnya maka dia tidak tahu bahwa ada orang
        membayanginya di belakang. Barulah dia terkejut ketika mendengar seruan itu dan cepat dia membalikkan tubuhnya
        memandang. Dia cemberut melihat bahwa yang memanggilnya adalah pemuda tinggi besar yang pernah bertempur dengan
        dia di Puncak Awan Merah karena pemuda ini memembela Swat Hong dan dia membela Sin Liong. Teringat akan
        peristiwa itu, tiba-tiba saja dia merasa gelisah dan menahan ketawanya dengan senyum lebar, lalu menutupi
        mulutnya. Melihat gadis itu menahan ketawa, namun jelas sinar mata gadis itu mentertawakannya, Kwee Lun
        mengerutkan alisnya yang tebal, akan tetapi dia pun tersenyum dan berkata sambil menjura, "Nona Ouw, mengapa
        engkau menahan ketawa dan menyembunyikan senyum? Menyambut seorang kenalan dengan senyum lebar di bibir
        merupakan penghormatan paling besar. Senyum adalah seperti matahari pagi, menghidupkan menenteramkan, penuh
        damai dan bahagia....." Mendengar ucapan pemuda itu yang diatur seperti orang membaca sajak, Soan Cu tertawa
        dan dia kagum juga. Terdengar amat indah kata-kata tadi. Akan tetapi timbul pula kenakalannya dan dai menjawab
        dengan nada mengejek, "Orang She Kwee, aku tertawa bukan menyambutmu, melainkan teringat akan peristiwa yang
        amat lucu. Engkau datang bersama Han Swat Hong, membelanya mati-matian, akan tetapi sekarang di manakah dia?
        Engkau ditinggalkan begitu saja! Betapa lucunya! Lucu ataukah menyedihkan?" Alis tebal itu makin dalam
        berkerut, akan tetapi kemudian Kwee Lun tersenyum lagi dan menganggukangguk. "Memang lucu sekali! Ha-ha-ha-ha,
        lucu sekali!" Melihat pemuda itu tidak tersinggung malah tertawa-tawa, Soan Cu menjadi penasaran. "Apa yang
        lucu?" bentaknya. "Kau..... eh, kita berdua.... yang lucu. Mengapa bisa begini kebetulan?" "Apa yang
        kebetulan?" Soan Cu makin penasaran karena ejekannya itu kini agaknya malah dibalikan oleh pemuda itu
        kepadanya. "Bukankah kebetulan sekali nasib kita amat serupa? Aku datang bersama Nona Swat Hong dan aku
        ditinggalkan, sebaliknya engkau pun datang bersama Sin Liong dan engkau ditinggalkan pula. Nasib kita benar
        serupa, bukankah ini amat lucunya?" Wajah Soan Cu menjadi merah sekali. "Sratttt!" Pedang Coa-kut-kiam yang
        bersinar-sinar telah berada di tangan kanannya.Kwee Lun terkejut bukan main, hanya memandang bengong karena
        sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang dianggapnya jujur dan lincah gembira ini demikian mudah
        tersinggung! "Eh, Nona Ouw..... kau.... marah oleh godaanku tadi?" "Siapa marah? Hayo cabtu pedangmu, kita
        lanjutkan pertempuran kita yang terhenti ketika di Puncak Awan Merah. Aku masih belum kalah olehmu!" Kwee lun
        penarik napas panjang, hatinya lega. Tepat dugaannya, nona ini sama sekali bukan tersinggung oleh godaannya,
        melainkan karena memiliki watak aneh, ingin melanjutkan pertempuran ketika mereka saling membela sahabat
        masing-masing di Puncak Awan Merah. "Wah, berat, Nona. Aku terima kalah. Dalam geberakan-geberakan yang pernah
        kita lakukan itu saja aku sudah tahu bahwa ilmu kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada aku. Pula kita bukanlah
        musuh. terserah kalau Nona hendak menganggap aku musuh, akan tetapi aku Kwee Lun sama sekali tidak menganggap
        kau sebagai musuhku. Bahkan sebaliknya, di antara kita, mau atau tidak telah terdapat ikatan persahabatan yang
        amat erat." "Hemm, jangan kau mencoba untuk membujuku. Persahabatan dari mana? Enak saja kau bicara!" ""Eh,
        apakah kau hendak menyangkal bahwa engkau adalah sahabat baik dari Kwa Sin Liong, Nona?" "memang, dia adalah
        sahabat baikku, bukan engkau!" "Nah, kalau engkau sahabat baik dari dari Kwa Sin Liong, berarti engkau adalah
        sahabat baikku pula. Kwa Sin Liong adalah Suheng dari Han Swat Hong, dan Nona itu adalah sahabatku. Sahabat
        dari Si Suheng tentu juga menjadi sahabat baik dari sahabat Si Sumoi, bukan?" "Hemm, kau memang pandai bicara."
        Soan Cu menyarungkan kembali pedangnya. "Bilang saja bahwa kau tidak berani melawan aku!" "Tentu saja tidak
        berani, karena memang pedangku bukan untuk melawan, melainkan untuk membantumu mencari kembali Ayahmu. Bukankah
        kau hendak mencari Ayahmu, Nona? Tahukah kau ke mana kau harus mencarinya?" Ditegur seperti itu, Soan Cu
        menjadi bingung lagi. Memang tadi dia sedang termenung bingung, tidak tahu harus pergi ke mana, dengan matanya
        yang indah terbelalak gadis itu memandang kepada Kwee Lun dan menggelengkan keplanya, lalu dia berkata, "Apakah
        kau tahu?" "Tentu saja aku tidak tahu, Nona. Aku belum mengenal Ayahmu itu. Akan tetapi, sebagai seorang gadis
        muda, sungguh tidak leluasa bagimu untuk mencari sendiri. Aku dapat membantumu, aku sering merantau dengan
        guruku dahulu , dan aku banyak mengenal daerah-daerah, tahu pula dunia kang-ouwse sehingga agaknya akan lebih
        menguntungkan bagimu dan menyenangkan bagiku kalau kita melakukan perjalanan bersama. Tentu saja kalau kau
        suka....." Sampai lama Soan Cu menatap wajah pemuda itu, kemudian dia menghela napas, berkata, "Engkau baik
        sekali, seperti Sin Liong. Tentu saja engkau tidak dapat kuandalkan seperti dia, kepandaianmu tidak sehebat
        dia. Akan tetapi engkau juga gagah perkasa, jujur dan itu sudah cukup untuk meyakinkan aku bahwa engkau tentu
        dapat menjadi seorang sahabat." "Ha-ha-ha, terima kasih, ha-ha-ha! Sudah kuduga bahwa engkau adalah seorang
        gadis yang luar biasa, polos dan tidak berpura-pura, cantik dan gagah perkasa. Ha-ha-ha!" Kwe Lun tertawa
        dengan bebas dan terkejutlah Soan Cu ketika , melihat betapa air mata mengalir di kedua pipi pemuda tinggi
        besar yang gagah dan tampan ini. "Eh, kau menangis??" Kwee Lun menghentikan tawanya, mengusap air mata dengan
        ujung lengan bajunya sambil menggeleng kepala. "Ini adalah penyakitku, Nona. Aku selalu mengeluarkan air mata
        kalau tertawa terlalu gembira. Akan tetapi, kalau dilihat kenyataannya, apa sih bedanya antara tawa dan tangis?
        Apakah bedanya antara senang dan susah, antara nyeri dan nikmat? Kesemuanya adalah dua muka dari satu tangan,
        tak terpisahkan. Mencari yang satu, pasti akan ketemu dengan yang ke dua." "Wah, kau memang seorang manusia
        aneh, Kwee-toako. Kau gagah perkasa, pemberani, pandai bersajak, pandai filsafat, dan.... cengeng!" Girang
        bukan main hatinya mendengar gadis itu menyebutnya toako, tanda bahwa gadis itu benarbenar mau menerima
        persaudaraan atau persahabatan diantara mereka. "Ouw-siocia..... atau engkau lebih senang kusebut adik?" "Sebut
        saja namaku Soan Cu." "Bagus! Kau hebat! Soan Cu kau percayalah, aku Kwee Lun bukanlah seorang yang berarti
        palsu. Engkau tidak akan kecewa menaruh kepercayaan kepadaku dan sudi menerima uluran tangan persahabatan
        dariku. Aku akan berdaya upaya sedapat mungkin untuk mencari Ayahmu itu. Siapakah nama beliau?" "Ayahku bernama
        Ouw Sian Kok, tokoh besar dari Pulau Neraka yang sudah belasan tahun meninggalakn Pulau Neraka." Tiba-tiba Kwee
        Lun memandang dengan mata terbelalak dan mukanya berubah agak pucat, bibirnya bergetar ketika dia menegaskan.
        "Pu.... Pulau..... Neraka?" Soan Cu tersenyum. "Apakah kau masih mau menganggap aku sahabat setelah kau tahu
        aku adalah seorang gadis dari Pulau Neraka?" "Eh-eh, jangan salah paham, Soan Cu. Aku..... hanya terkejut
        sekali mendengar ada pulau yang namanya seperti itu. Pernah guruku, Lam-hai Sengjin mengatakan bahwa di dalam
        dongeng yang tersebar diantara kaum kang-ouw, terdapat sebutan dua pulau. Pertama adalh Pulau Es....." "Tempat
        tinggal Sin Liong dan Swat Hong!" "Benar, dan aku sudah merasa bahagia bukan main telah bertemu dengan seorang
        puteri Pulau Es. dan Ke dua, menurut Suhu adalah pulau yng tentu tidak pernah ada dan hanya ada dalam dongeng,
        adalah Pulau Neraka........" "Bukan dongeng. Akulah gadis Pulau Neraka." Ouw Soan Cu lalu menceritakan dengan
        singkat keadaan Pulau Neraka, juga tentang ayahnya yang minggat dari pulau ketika ibunya tewas melahirkan dia.
        "Ah, kasihan sekali engkau, Soan Cu." "Ayahku yang patut dikasihani." "Tidak! Ayahmu telah melakukan hal yang
        amat keliru. Perbuatannya lari dari Pulau Neraka itu jelas membayangkan betapa ayahmu hanyalah mngingat akan
        dirinya sendiri saja." "Kwee Lun! Apa yang kaukatakan ini? kau berani menghina nama ayah di depanku?" Soan Cu
        melotot marah. "Maaf, Soan Cu. Aku sama sekali tidak menghina siapa pun. Aku hanya bicara berdasarkan
        kenyataan. Ibumu meninggal duni ketika melahirkanmu, apakah beliau itu salah? Engkau sendiri yang dilahirkan
        dan kelahiran itu mengakibatkan kematian ibumu, apakah engkau pun bersalah? Tentu saja tidak! Mendiang ibumu
        dan engkau sama sekali tidak bersalah dan kematian itu adalah suatu hal yang wajar, yang sudah semestinya dan
        lumrah karena hidup dan mati hal yang biasa. Akan tetapi ayahmu. Beliau malah lari meninggalkan pulau,
        meninggalkan anaknya yang baru terlahir! Apakah perbuatan ini harus kubenarkan saja? Kalau aku berbuat
        demikian, berarti aku bukan membenarkan secara jujur, melainkan menjilat untuk menyenangkan hatimu." Lenyap
        kemarahan Soan Cu. Dia menunduk. "kau aneh, Kwee-toako, aneh dan terlalu terus terang. Habis andaikata benar
        seperti yang kau katakan bahwa Ayah terlalu mementingkan diri sendiri apakah aku, sebagai anaknya tidak boleh
        mencari Ayahku?" "Bukan begitu, Soan Cu. Tentu saja engkau harus mencari Ayahmu dan aku akan membantumu sampai
        kita berhasil menemukan Ayahmu. Mudah-mudahan saja kita akan berhasil karena harus diakui betapa akan sukarnya
        mencari seorang yang tidak kita ketahui berada di mana. Akan tetapi aku percaya bahwa kalau memang Ayahmu yang
        telah pergi selama belasan tahun itu berada di daratan, sebagai seorang tokoh besar, tentu ada orang kang-ouw
        yang mengetahuinya." Demikanlah, kedua orang muda ini melakukan perjalanan bersama dan makin eratlah hubungan
        diantara mereka. Dalam diri masing-masing mereka menemukan sahabat yang cocok kepribadian yang serasi dengan
        watak masing-masing, terbuka, jujur dan tidak bisa bermanis-manisan muka. Soan Cu mulai tertarik sekali kepada
        pemuda tinggi besar yang tampan, jujur, jenaka dan biarpun kelihatan kasar, namun ternyata pandai bernyanyi dan
        membaca sajak-sajak indah. Di lain pihak, Kwee Lun juga tertarik sekali oleh pribadi Soan Cu, seorang gadis
        yang kadang-kadang kelihatan liar dan ganas, tidak pernah menyembunyikan perasaan, namun kadang-kadang begitu
        lembut dan penuh sifat keibuan. makin akrab hubungan mereka, makin terobatlah hati yang tadinya luka oleh
        asmara. Kwee Lun mulai dapat melupakan Swat Hong yang dikaguminya, sedangkan Soan Cu mulai dapat melupakan Sin
        Liong. Kwee Lun bersama Soan Cu melakukan penyelidikan sampai jauh ke barat, karena dia mendengar dari seorang
        tokoh Kangouw bahwa nama Ouw Sian Kok pernah muncul dibarat. Akan tetapi, pada waktu mereka melakukan
        perjalanan ke barat untuk mencari jejak tokoh Pulau Neraka itu, keadaan sudah kacau balau oleh perang dan arus
        manusia ke barat amat banyak. Kedua orang muda itu terbawa harus manusia dan mereka pun seperti dua orang yang
        sedang mengungsi ke barat. Ketika mendengar bahwa rombongan Kaisar yang melarikan diri berada di depan,
        mendengar pula tentang kematian selir terkenal Yang Kui Hui bersama kakaknya yang menjadi perdana menteri, Kwee
        Lun berkata kepada temannya, "Soan Cu, mari kita melihat keadaan Kaisar. Aku tidak mencampuri urusan perang,
        akan tetapi siapa tahu, rombongan keluarga bangsawan tertinggi yang melarikan itu akan menarik perhatian
        orang-orang kang-ouw, termasuk Ayahmu." Seperti biasa selama melakukan perjalanan bersama, Soan Cu hanya
        menyetujui karena dia sendiri tidak tahu apa-apa. Hanya mengharapkan untuk bertemu dengan ayahnya mulai menipis
        karena sampai saat itu belum juga ada keterangan yang jelas dan meyakinkan tentang diri ayahnya. Malam itu
        mereka dapat menyusul rombongan Kaisar yang berada dalam keadaan berduka setelah terjadi peristiwa pembunuhan
        Yang Kui Hui karena Kaisar selalu murung dan berduka sekali. Dan seperti diceritakan di bagian depan, pada
        malam itu terjadi lagi peristiwa hebat yang menimpa rombongan Kaisar, ketika Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki
        diam-diam menyelinap ke dalam temapat penginapan dan hendak membunuh Kaisar akan tetapi salah masuk dan
        sebaliknya membunuh seorang pangeran muda. Ketika Soan Cu dan Kwee Lun melihat dua orang muda yang dengan gagah
        perkasa mengamuk dan dikepung ketat oleh para pengawal, telah menderta luka-luka namn masih terus mengamuk
        hebat, Kwee Lun menjadi kagum dan berbisik, "Melihat gerakannya, pemuda gagah itu tentu murid Hao-san-pai
        adalah orang gagah, pendekar sejati, maka sepatutnya kita menolong mereka." Soan Cu mengangguk."Memang tidak
        adil sekali dua orang dikeroyok puluhan orang perajurit seperti itu. Gadis itu pun gagah dan cantik. Mari,
        Toako, kita bantu mereka meloloskan diri." Mereka lalu melayang turun dari atas pohon dari mana mereka tadi
        mengintai, dan tak lama kemudian gegerlah para pengeroyok ketika dua orang muda ini menyerbu dari luar kepungan
        dan merobohkan para pengeroyok dengan amat mudahnya. Kwee Lun tidak mencabut pedangnya, melainkan menggunakan
        kedua tangannya yang kuat menangkapi dan melempar-lemparkan pengawal yang menghadang di depannya, sedangkan
        Soan Cu mengamuk dengan cabuk berduri di tangan kri dan sebatang pedang di tangan kanan. Gerakan dara ini bukan
        main ganasnya, cambuknya meledak-ledak dan setiap ledakan disusul robohnya seorang pengeroyok, pedangnya
        membuat gerakan cepat sehingga tampak sinar bergulung-gulung yang merontokan semua senjata lawan. "Harap Ji-wi
        mundur dan cepat lari, biar kami menahan mereka!" kata Kwee Lun sambil menggerakkan sikunya yang kuat
        merobohkan seseorang pengawal yang menerjangnya dari belakang. "Terima kasih atas bantuan Ji-wi (Anda Berdua)!"
        seru Liem Toan Ki dengan girang karena dia khawatir sekali akan keadaan kekasihnya. Sambil menggerakkan pedang
        , mereka lalu mundur dan membuka jalan darah, merobohkan mereka yang berani menghadang dan karena kini para
        pengawal itu dikacaukan oleh Kwee Lun dan Soan Cu, tidak sukar bagi Swi Nio dan Toan Ki untuk meloloskan diri
        dari kepungan yang sudah terpecah belah itu. Setelah melihat dua orang itu menghilang, Kwee Lun juga mengajak
        Soan Cu meninggalkan gelanggang pertempuran dan menghilang di dalam gelap, mengejar bayangan dua orang yang
        mereka tolong itu. Menjelang pagi, Soan Cu dan Kwee Lun melihat dua orang yang ditolongnya tadi sedang menanti
        mereka di luar sebuah hutan besar. Melihat dua orang penolong mereka, Swi Nio dan Toan Ki cepat maju dan
        memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada dan membungkuk. "Banyak terima kasih kami haturkan
        atas bantuan Ji-wi yang mulia," kata Toan Ki. "Kalau tidak mendapat bantuan Ji-wi, tentu kami berdua telah
        tewas di tangan para pengawal Kaisar itu." "Ah, diantara kita, bantu membantu merupakan hal yang sudah
        sewajarnya," jawab Kwee Lun. "kami sendiri juga mengharapkan bantuan Ji-wi." "Bantuan apa? Kami akan bergembira
        sekali kalau dapat membantu Ji-wi," seru Liem Toan Ki yang telah merasa berhutang budi. "Kami berdua sedang
        mencari seorang tokoh bernama Ouw Sian Kok, tokoh dari Pulau Neraka. Barangkali Ji-wi dapat membantu kami di
        mana adanya Ouw-locianpwe itu?" Kaget juga Swi Nio dan Toan Ki mendengar disebutnya Pulau Neraka, mereka saling
        pandang dan menggelengkan kepala. "Sayang, kami sendiri belum pernah mendengar nama Ouw Sian Kok dari Pulau
        Neraka. Akan tetapi kami akan membantu sekuat tenaga. Di manakah adanya beliau yang terakhir kalinya, dan
        apakah Ji-wi sudah mendapatkan jejaknya?" "Itulah sukarnya. Kami tidak tahu beliau berada di mana maka
        mengharapkan keterangan dari orang-orang kang-ouw." "Kalau begitu, mari Ji-wi ikut dengan kami ke timur. Saya
        kira, mencari seorang tokoh besar di dunia kangouw akan bisa kita dapatkan keterangan selengkapnya di sekitar
        kota raja. Apalagi sekarang, setelah perjuangan An Lu Shan Tai-ciangkun berhasil, tentu banyak tokoh kang-ouw
        muncul di kota raja dan kita dapat bertanya-tanya kepada mereka." "Akan tetapi kabarnya di sana terjadi perang,
        bahkan banyak orang mengungsi ke Secuan." Toan Ki tersenyum. "Jangan khawatir, kami berdua adalah orang-orang
        dalam! Kami berdua bekerja untuk An-taiciangkun, maka kami mempunyai banyak kenalan di sana. Sekarang Tiang-an
        telah diduduki, dan agaknya keadaan tentu telah aman kembali. " Mereka bercakap-cakap dan terdapatlah kecocokan
        di antara mereka. Juga Soan Cu menjadi akrab dengan Swi Nio. Gadis Pulau Neraka yang masih hijau ini senang
        sekali mendengar penuturan Swi Nio yang sudah berpengalaman, sebaliknya Swi Nio juga kagum terhadap dara cantik
        yang ternyata adalah seorang dari Pulau Neraka yang hanya dikenal dalam dongeng, kagum menyaksikan kehebatan
        ilmu kepandaian Soan Cu tadi dan jug ngeri menyaksikan senjata-senjata yang ampuh dan ganas itu. Berangkatlah
        mereka berempat, kembali ke timur menuju ke Tiang-an, kota raja pertama yang telah terjatuh ke tangan An Lu
        Shan. Setelah berhasil menduduki Lok-yang ibu kota kedua itu melalui pertempuran yang seru, An Lu Shan memimpin
        pasukan intinya menuju ke Tiang-an. Kembali dia harus menghadapi perlawanan gigih di Lembah Tung Kuan, akan
        tetapi setelah lembah ini didudukinya, pasukan-pasukan terus menekan dan bergerak menuju ke Tiang-an.
        Demikianlah, Tiang-an, ibu kota yang megah itu, diserbu dan didudukinya dengan amat mudah, hampir tidak ada
        perlawanan sama sekali. Hal ini adalah karena banyak kaki tangan dan mata-matanya yang dipimpin oleh Ouwyang
        Cin Cu dan The Kwat Lin, telah lebih dulu melakukan kekacauan-kekacauan sehingga melemahkan pertahanan, juga
        Kaisar melarikan diri meninggalkan kota raja Tiang-an, hal ini membuat para pasukan penjaga menjadi kehilangan
        semangat dan sebagian besar di anatara mereka menyatakan takluk tanpa melalui peperangan yang lama, ada pula
        yang melarikan diri menyusul rombongan Kaisar ke barat. Seperti biasa terjadi di waktu perang, dari jaman
        dahulu sebelum sejarah tercatat sampai sekarang, akibat-akibat yang mengerikan terjadi dan menimpa diri pihak
        yang kalah perang. Demikian pula nasib para bangsawan di kota raja yang tidak sempat melarikan diri. Banyak
        orang dibunuh hanya oleh tudingan jari tangan orang lain yang memfitnahnya, mengatakan bahwa orang itu adalah
        matamata pemrintah. Mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dan anggauta-anggauta pasukan pemberontak yang
        menang perang itu berpesta pora mengangkuti harta benda dan wanita dari pihak yang kalah. Jerit tangis
        wanita-wanita yang dipaksa dan diperkosa, membumbung tinggi ke angkasa, bercampur baur dengan sorak dan tawa
        kemenangan. Dan An Lu Shan, seorang yang ahli dalam hal memimpin pasukan, sengaja membiarkan saja hal itu
        terjadi agar darah yang bergolak di dada para anak buahnya dapat diredakan. Beberapa hari kemudian, setelah
        anak buahnya sepuas-puasnya dan sekenyang-kenyangnya mengganggu wanita dan merebutkan harta benda yang
        ditinggal lari, barulah muncul perintah yang melarang perbuatan seperti itu. Namun An Lu Shan juga tidak
        melupakan janji-janjinya kepada para pembantunya yang telah berjasa. Dengan royal dia lalu membagi-bagikan
        pangkat, gedung bekas tempat tinggal para bangsawan yang melarikan diri atau terbunuh, membagi-bagikan harta
        benda dan para puteri cantik yang menjadi tawanan. Maka selama beberapa bulan lamanya berpesta poralah para
        kaki tangan An Lu Shan yang menerima hadiah-hadiah itu. Tentu saja An Lu Shan lebih lagi memperhatikan para
        pembantu yang tangguh dan yang masih diharapkan bantuan mereka. Kepada mereka ini dia memberi hadiah yang lebih
        besar lagi. Dia tidak mengingkari janjinya terhadap para pembantu yang berjasa besar seperti The Kwat Lin bekas
        Ratu Pulau Es itu, maka setelah Tiang-an diduduki, putera The Kwat Lin yang bernama Han Bo ong lalu diberi
        anugerah pangkat pangeran! The Kwat Lin sendiri diangkat menjadi seorang panglima pengawal, sedangkan Ouwyang
        Cin Cu diangkat menjadi koksu (guru penasihat negara). Dapat dibayangkan betapa girangnya hati The Kwat Lin.
        Cita-citanya tercapai, puteranya telah menjadi pangeran dan kalau dia pandai mengatur kelak siapa tahu terbuka
        kesempatan bagi para puteranya untuk menjadi Kaisar! Tidaklah mengherankan apa yang terkandung dalam hati The
        Kwat Lin sebagai cita-cita ini. Sudah lajim bagi kita manusia di dunia ini untuk selalu menjadi hamba dari
        cita-cita kita sendiri. Seluruh kehidupan ini seolah-olah dikuasai dan diatur oleh cita-cita kita
        masing-masing. Kita tenggelam dalam khayal dan cita-cita, tidak tahu betapa cita-cita amatlah merusak hidup
        kita . Cita-cita membuat pandang mata kita selalu memandang jauh ke depan penuh harapan untuk mencapai sesuatu
        yang kita cita-citakan. Pandang mata yang selalu ditujukan ke masa depan yang belum ada ini, tangan yang
        dijangkaukan ke depan untuk selalu mengejar apa yang belum kita miliki membuat kita hidup seperti dalam
        bayangan. Kita tidak mungkin dapat menikmati hidup, padahal hidup adalah saat demi saat, sekarang ini, bukan
        masa depan yang merupakan bayangan khayal atau masa lalu yang sudah mati. Sekali kita menghambakan diri kepada
        cita-cita, selama hidup kita akan terbelenggu oleh cita-cita karena tidak ada cita-cita yang dapat terpenuhi
        sampai selengkapnya, dan kita terseret ke dalam lingkaran setan yang tak berkeputusan. Mendapat satu ingin dua,
        memperoleh dua mengejar tiga dan selanjutnya, itulah cita-cita! Dan semua itu akan kita kejar terus sampai
        kematian merenggut kehidupan kita, bahkan di ambang kubur sekali pun di waktu mendekati kematian, kita masih
        terus di cengkeram cita-cita, yaitu cita-cita untuk masa depan sesudah mati! Betapa mungkin kita dapat
        menikmati hidup ini kalau mata kita selalu memandang masa datang yang belum ada? Sebaliknya, orang yang bebas
        dari cita-cita, bebas dari masa lalu dan masa depan, dapat menghayati hidup ini saat demi saat! Demikian pula
        dengan The Kwat Lin. Cita-citanya tercapai dengan diangkatnya puteranya menjadi pangeran, akan tetapi sudah
        habis di situ sajakah citacitanya? Sama sekali belum! jauh dari pada cukup atau habis! Bahkan cita-cita barunya
        yang lebih hebat baru saja dia mulai, yaitu cita-cita melihat puteranya menjadi kaisar! Karena cita-cita ini,
        maka keadaannya pada saat itu tidak terasa membahagiakan, bahkan terasa amat kurang. Hanya pangeran! hanya
        panglima pengawal! Jauh dibandingkan dengan puteranya menjadi kaisar dan dia menjadi ibu suri! Banyak orang
        membantah, mengatakan bahwa cita-cita mendatangkan kemajuan, tanpa cita-cita kita tidak akan maju. Apakah
        cita-cita itu? Apakah kemajuan itu? Cita-cita adalah keinginan akan sesuatu yang belum terdapat oleh kita. Dan
        keinginan seperti ini merupakan dorongan nafsu yang tak mengenal kenyang, makin dituruti makin lapar dan haus,
        menghendaki yang lebih. Dan akhirnya akan sukar dibedakan lagi dengan ketamakan, kerakusan yang mendatangkan
        pertentangan, permusuhan dan kesengsaraan. Dan apakah kemajuan itu? Sudah menjadi pendapat umum bahwa kemajuan
        adalah keduniawian, harta benda, kedudukan, nama besar. Apakah "kemajuan" seperti ini mendatangkan kebahagiaan"
        hanya mereka yang telah memiliki nama terkenal saja yang mampu menjawab, dan jawabannya pasti TIDAK! Bahkan
        sebaliknya malah. makin banyak kedudukan atau nama besar, makin ketat kita melekat kepada duniawi, makin banyak
        pula kesengsaraan hidup yang kita derita berupa kekecewaan, pertentangan dan kekhawatiran. karena yang sudah
        pasti saja, hanya mereka yang masih memiliki lahir batin yang akan kehilangan! Dan kehilangan berarti
        kekecewaan, kedukaan dan sebelumnya terjadi kehilangan, kita digerogoti kekhawatiran. Akan tetapi pada waktu
        itu tidak nampak seorang pun karena pada waktu itu, rakyat penghuni ibu kota sedang dicengkeram ketakutan
        hebat. Seperti biasa setelah perang berakhir, rakyat yang menjadi sasaran mereka yang memperoleh kemenangan.
        Para anggauta pasukan baru berkeliaran keluar masuk perkampungan, keluar masuk rumah orang seperti rumahnya
        sendiri, bahkan tidak jarang terjadi mereka memasuki kamar tidur orang seperti memasuki kamar tidur sendiri
        sambil menyeret nyonya rumah yang masih muda atau anak gadis mereka! Seperti para atasannya yang mengadakan
        pesta besar-besaran, kaum rendahan juga berpesta dengan gayanya tersendiri. Seperti biasanya pula, penduduk
        hanya pandai menangis dan mengeluh mengadu kepada Thian sebagai hiburan satu-satunya. Menjelang tengah malam,
        pesta masih amat ramai. Ouwyang Cin Cu sebagai seorang yang berkedudukan tinggi sekali sekarang, seorang koksu,
        datang juga hanya sekedar memberi selamat dan tidak tinggal lama. Akan tetapi para pengawal baru, tentu saja
        mereka yang berpangkat perwira ke atas, masih berpesta pora karena memang The Kwat Lin ingin mengambil hati
        para rekannya ini yang kelak dia harapkan bantuan mereka. Bahkan ketika para tamu orang penting sudah
        meninggalkan tempat pesta dalam keadaan setengah mabok dan tempat itu mulai sepi, The Kwat Lin masih menahan
        para pembesar pengawal yang jumlahnya belasan orang itu untuk diajak berunding mengenai tugas mereka yang baru
        sebagai pengawal-pengawal istana, bahkan mereka merupakan dewan pimpinannya. Lewat tengah malam, para tamu
        sudah pulang dan yang tinggal hanyalah empat belas orang pimpinan pengawal yang kini dijamu dan diajak
        berunding di ruangan dalam, adapun ruangan luar tempat pesta mulai dibersih-bersihkan oleh sejumlah pelayan
        yang kelihatan lelah dan mengantuk. Pada saat itulah berkelebat bayangan tiga orang. Para pelayan yang
        membersihkan tempat bekas pesta itu hanyalah melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu di tempat itu kelihatan
        dua orang wanita cantik dan seorang laki-laki gagah sudah berdiri dengan sikap angker! Tentu saja para pelayan
        terkejut sekali dan mengira bahwa orang-orang aneh yang bergerak amat cepatnya ini tentulah sahabat majikan
        mereka yang juga terkenal lihai bukan main, maka seorang di antara mereka menyambut sambil menjura dan berkata,
        "Sam-wi yang terhormat agak terlambat karena pesta telah bubar." "Kami tidak ingin pesta," jawab wanita yang
        setengah tua dengan sikap keren. "Kami ingin berjumpa dengan majikan kalian." Melihat sikap yang keren penuh
        wibawa ini, para pelayan menjadi gentar dan dua orang di antara mereka cepat memasuki ruangan dalam di mana The
        Kwat Lin sedang mengadakan perundingan dengan rekanrekannya. Diam-diam wanita itu, Liu Bwee, memberi isyarat
        dengan matanya kepada Swat Hong, puterinya. Swat Hong mengangguk dan dengan gerakan yang amat cepat dara ini
        sudah meloncat dan menyelinap lenyap dari situ, sedangkan ibunya dan Ouw Sian Kok sudah menerjang ke dalam
        ruangan ketika melihat pelayan tadi pergi melapor. Baru saja dua orang pelayan itu memasuki ruangan dalam dan
        belum sempat mengeluarkan kata-kata, pintu telah terbuka lebar dan Liu Bwee bersamaa Ouw Sian Kok telah
        menerjang ke dalam. "Heiii! Siapa....!!" Bentakan The Kwat Lin terhenti dan wajahnya berubah pucat ketika dia
        melihat munculnya wanita yang tentu saja amat dikenalnya itu. Dia menjadi pucat ketakuan karena mengira bahwa
        bekas suaminya, Han Ti Ong Raja Pulau Es yang amat ditakutinya itu muncul. Akan tetapi ketika melihat bahwa
        laki-laki yang datang bersama Liu Bwee itu bukanlah Han Ti Ong, hatinya menjadi lega dan dengan tabah dia
        meloncat ke depan, dua kali menendang membuat dua orang pelayannya terlempar keluar ruangan, kemudian
        menghadapi Liu Bwee sambil tersenyum mengejek. "Aih, kiranya wanita buangan yang datang mengacau dan
        mengantarkan nyawa!" bentaknya. "Perempuan hina yang berhati iblis! engkau telah menerima budi kebaikan dari
        suamiku, mengangkatmu dari lembah kehinaan ke tempat mulia, malah membalasnya dengan khianat! Engkau dan anak
        harammu itu harus mampus di tanganku!" "Mulut busuk!" The Kwat Lin balas memaki dan sekali tanganya bergerak,
        tampak sinar merah dari Pedang Ang-bwe-kiam di tangan kananya, kemudian tanpa menanti lagi, sinar merah itu
        sudah meluncur ke depan menyerang Liu Bwee. "Cringggg....!!" Bunga api berpijar dan The Kwat Lin mundur dua
        langkah sambil memandang Ouw Sian Kok yang telah menangkis pedangnya dengan sebatang pedang di tangan,
        tangkisan yang membuat lengannya tergetar, tanda bahwa laki-laki yang datang bersama Liu Bwee ini memiliki
        kepandaian tinggi pula. "Siapa engkau?" Bentaknya, sementara para rekannya, empat belas orang perwira dan
        panglima pengawal, telah mencabut senjata masing-masing dan mengurung, menanti saat bantuan mereka diperlukan
        oleh The Kwat Lin. Ouw Sian Kok yang mengerti bahwa dia bersama Liu Bwee dan Han Swat Hong telah memasuki guha
        harimau dan berada dalam ancaman bahaya besar, sengaja mengulur waktu untuk memberi kesempatan kepada Swat Hong
        yang oleh ibunya ditugaskan menyelinap ke dalam istana untuk mencari dan merampas kembali pusaka-pusaka Pulau
        Es, karena hanya dengan jalan demikian saja kiranya pusakapusaka itu dapat dirampas kembali. Dia tertawa dan
        mengelus jenggotnya, seadngkan Liu Bwee siap dan berdiri saling membelakangi punggung dengan Ouw Sian Kok,
        maklum bahwa mereka tentu akan menghadapi pengeroyokan dan karenanya harus dapat saling melindungi. "Ha-ha-ha!
        engkau tanya siapa aku? Aku pun seorang buangan! namaku Ouw Sian Kok dari Pulau Neraka!" Mendengar ini The Kwat
        Lin diam-diam merasa terkejut dan heran juga. Dia sudah mendengar dari bekas suaminya, Raja Pulau Es, bahwa
        para buangan di Pulau Neraka bukanlah orang-orang sembarangan, bahkan banyak di antara mereka memiliki ilmu
        kepandaian tinggi. Akan tetapi karena dia percaya akan kepandaiannya sendiri, juga merasa aman berada di antara
        para pengawal dan lebih lagi berada di dalam istananya di kota raja, dia memandang rendah. "Huh, kiranya adalah
        buangan rendah dan hina dari Pulau Neraka." Ouw Sian Kok yang ingin mengulur waktu, kembali tertawa untuk
        mengalihkan perhatian The Kwat Lin. "Ha-ha-ha! Biarpun kami para penghuni Pulau Neraka adalah orang-orang
        buangan, namun kiranya sukar dicari seorang pun di antara kami yang memiliki watak rendah untuk mengkhianati
        orang yang telah menolong dan melimpahkan kebaikan kepada kami seperti yang dilakukan olehmu, The Kwat Lin!"
        "Manusia hina! Mampuslah!!" "Sing-sing-singggg....!!" Ouw Sian Kok maklum akan kelihaian wanita ini, maka cepat
        ia mengelak, menangkis dan membalas menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya, dan
        mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya. Terjadilah duel yang amat hebat di antara kedua orang berilmu tinggi ini.
        Melihat betapa Ouw Sian Kok yang memang seperti direncanakan harus menghadapi The Kwat Lin lihai, Liu Bwee
        cepat memutar pedangnya dan menghadapi pengeroyokan belasan orang pengawal itu. Pedangnya bergerak dahsyat
        sekali, dan dalam sepuluh jurus saja dia telah merobohkan dua orang pengawal. yang lain tetap mengepungnya
        karena tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani membantu The Kwat Lin, melihat betapa bayangan wanita
        itu dan bayangan lawannya lenyap menjadi satu digulung oleh sinar pedang mereka. Mulai cemas rasa hati The Kwat
        Lin ketika mendapatkan kenyataan bahwa Ouw Sian Kok merupakan lawan yang berat dan seimbang dengannya.
        Sedangkan para rekannya itu biarpun berjumlah banyak, ternyata tidak mampu mengimbangi amukan Liu Bwee sehingga
        berturut-turut roboh pula beberapa orang di antara mereka! "Cari bantuan dari benteng!" Terpaksa The Kwat Lin
        berteriak keras dan mendengar ini, seorang di antara para pengawal itu segera lari keluar untuk minta bala
        bantuan. Melihat gelagat yang berbahaya ini, Ouw Sian Kok menjadi khawatir juga. Mengapa Swat Hong belum juga
        kembali? "Lekas robohkan mereka dan bantu aku mengalahkan dia ini!" Katanya kepada Liu Bwee ketika melihat
        betapa Liu Bwee tidak begitu sukar untuk mendesak para pengeroyoknya. Liu Bwee maklum pula akan kelihaian The
        Kwat Lin dan tahulah dia bahwa betapapun lihainya Ouw Sian Kok, menghadapi wanita itu amat sukar untuk mencapai
        kemenangan. Maka dia memutar pedangnya makin cepat, merobohkan lagi tiga orang. Pada saat itu, berkelebat
        bayangan yang gesit dan tampaklah Swat Hong yang membawa sebatang pedang dan di punggungnya tampak sebuah
        buntalan kain sutera merah. "Ibu, aku berhasil....!" teriakan sambil menerjang maju merobohkan dua orang
        pengeroyok ibunya. Melihat ini, The Kwat Lin menjadi marah sekali. Maklumlah dia bahwa dia kena diakali dan dia
        dapat menduga apa isi buntalan sutera merah itu, sutera merah yang amat dikenalnya. Pusaka-pusaka Pulau Es
        telah berada di tangan Swat Hong! "Bedebah! Kembalikan pusaka-pusaka itu!" bentaknya dan tubuhnya secara
        tiba-tiba sekali mencelat ke arah Swat Hong, pedangnya menusuk tenggorokan tangan kirinya meraih ke arah
        punggung. "Trangggg....!" Liu Bwee yang menangkis pedang The Kwat Lin, terhuyung dan hampir roboh, Seorang
        pengawal menubruknya akan tetapi pengawal itu terlempar dengan dada pecah karena ditendang oleh Liu Bwee,
        sedangkan swat Hong sudah dapat menangkis pedang The Kwat Lin yang kembali menyerangnya. Ouw Sian Kok sudah
        meloncat pula dan menerjang The Kwat Lin sehingga kembali mereka bertanding dengan hebat . "Hong-ji,
        kauselamatkan dulu pusaka-pusaka itu!" tiba-tiba Liu Bwee berteriak kepada puterinya. "Kita akan cepat menyusul
        pergi!" kata pula Ouw Sian Kok kepada Swat Hong. Swat Hong yang melihat bahwa jumlah pengawal tinggal hanya
        tinggal lima orang dan mereka bukanlah lawan berat bagi ibunya, sedangkan Ouw Sian Kok juga dapat menahan Kwat
        Lin, mengangguk dan sekali berkelebat dia meloncat ke luar. "Tahan dia.....! Jangan larikan pusaka Pulau
        Es....!" Kwat Lin berteriak marah akan tetapi dia tidak dapat mengejar karena sinar pedang Ouw Sian Kok
        menghalanginya dengan serangan-serangan dahsyat. Terpaksa dia mengerahkan tenaganya untuk mendesak Ouw Sian Kok
        dan dalam kemarahan yang amat hebat ini tenaga The Kwat Lin bertambah sehingga Ouw Sian Kok berseru kaget dan
        mundur karena pundak kirinya berdarah, terluka sedikit kena diserempet sinar pedang kemerahan. Ketika Swat Hong
        berlari cepat sekali keluar, dia terkejut setengah mati melihat sepasukan pengawal berbondong datang memasuki
        istana itu dari pintu luar, bersenjata lengkap, dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu! Binggunglah dia. Pusaka
        memang harus diselamatkan, akan tetapi betapa mungkin dia meninggalkan ibunya yang terancam bahaya maut? Selagi
        dia meragu dan mengintai dari tempat bersembunyi, tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan empat orang, dan
        ketika dia mengenal dua orang di antara mereka adalah Kwee Lun dan Soan Cu, dia menjadi girang sekali. Cepat
        dia meloncat keluar, berseru lirih, "Kwee-toako! Soan Cu....!!" Soan Cu dan Kwee Lun terkejut dan berhenti,
        juga Swi Nio dan Liem Toan Ki yang datang bersama mereka. Ketika melihat bahwa orang yang muncul dari balik
        pohon di luar istana itu adalah Swat Hong, Kwee Lun menjadi girang sekali, akan tetapi Soan Cu cemberut.
        Bagaimana hatinya dapat merasa girang bertemu dengan dara yang menimbulkan iri di hatinya dahulu itu? Akan
        tetapi, Swat Hong yang girang sekali tentu saja tidak dapat melihat wajah cemberut di tempat yang remang-remang
        itu, maka cepat dia berkata, "Soan Cu, Ayahmu berada di dalam, bersama ibuku, sedang dikepung para pengawal."
        Seketika pucat wajah Soan Cu dan dia memandang bengong, sampai lama baru dapat berkata gagap, "A.... Ayah....
        ku....?" "Benar! Kita harus membantunya," kata lagi Swat Hong. "kalau begitu tunggu apa lagi? mari kita
        membantu orang tua kalian!" Kwee Lun berkata. "Nanti dulu.... siapakah dua orang ini?" Swat Hong bertanya
        sambil menuding kepada Swi Nio dan Liem Toan Ki. "Namaku Bu Swi Nio, Adik Han Swat Hong. Aku sudah mendengar
        namamu dari kedua saudara ini dan aku merasa kagum sekali. Ketahuilah bahwa aku dahulu adalah murid The Kwat
        Lin, akan tetapi sekarang aku hendak mencari dan membunuhnya." Swi Nio berkata penuh semangat. "Dan aku tadinya
        mata-mata Jenderal An Lu Shan, akan tetapi aku berjuang bukan untuk mencari pangkat, melainkan untuk membalas
        dendam. Sekarang aku hendak membantu dia....eh, tunanganku ini untuk menghadapi The Kwat Lin." Tiba-tiba Swat
        Hong bergerak maju, kedua tangannya bergerak cepat sekali, yang kanan menyerang ke arah leher Liem Toan Ki,
        sedangkan yang kiri menotok ke arah dada Swi Nio. "Eiihhh...." "Haiiiittt......!" Toan Ki Dan Swi Nio yang
        terkejut sekali cepat mengelak, namun tetap saja mereka terhuyung dan hampir jatuh terdorong sambaran kedua
        tangan Swat Hong. "Eh-eh.... apa yang kaulakukan itu?" Kwee Lun dan Soan Cu menegur heran dan juga marah. "Aku
        hanya menguji mereka. Maafkan aku, Enci Swi Nio dan Liem-toako. Melihat tingkat kepandaian kalian, lebih baik
        kalian tidak ikut masuk. Musuh amat kuat, dan ada tugas yang lebih penting lagi bagi kalian, kalau benar kalian
        suka membantu kami dari Pulau Es." Swi Nio dan Toan Ki yang tadinya terkejut dan marah, menjadi lega bahwa
        kiranya gadis yang amat lihai itu hanya menguji mereka. Biarpun ucapan itu merendahkan tingkat kepandaian
        mereka, namun harus mereka akui bahwa ilmu kepandaian mereka masih jauh kalau dibandingkan dengan Kwee Lun,
        Soan Cu, apalagi Swat Hong ini. "kami berdua siap membantu!" Toan Ki berkata, hampir berbareng dengan Swi Nio.
        Tanpa ragu-ragu lagi karena mengkhawatirkan keadaan ibunya, Swat Hong melepaskan ikatan buntalan dari
        punggungnya, menyerahkannya kepada Toan Ki. Dia lebih percaya kepada Toan Ki daripada kepada Swi Nio, hal ini
        karena tadi dia mendengar bahwa Swi Nio adalah bekas murid The Kwat Lin! "Inilah pusaka kami dari Pulau Es yang
        seharusnya kuselamatkan. Akan tetapi karena Ibuku dan Ayah Soan Cu terkurung di dalam, aku harus membantu
        mereka dan kuharap kalian suka menyelamatkan pusakapusaka ini jauh dari kota raja. Kelak, kita dapat saling
        bertemu di Puncak Awan Merah di tempat kediaman Tee-tok Siangkoan Houw, di Pegunungan Tai-hang-san. Nah, kalian
        pergilah cepat!" Liem Toan Ki menerima bungkusan itu dengan hati kaget bukan main, juga Swi Nio terkejut dan
        cepat dia menyambar tangan kekasihnya. "Mari kita segera pergi!" Kedua orang muda itu menyelinap lenyap di
        dalam kegelapan malam. "Hayo kita bantu Ibu dan Ayahmu!" kata Swat Hong kepada Soan Cu. Soan Cu mengangguk
        karena merasa lehernya seperti dicekik oleh sedu-sedan yang naik dari dalam dadanya. Ayahnya! Dia akan bertemu
        dengan ayah kandungnya yang selama hidupnya belum pernah dia lihat itu. Bertemu dalam keadaan terancam bahaya
        maut! Tampak tiga bayangan berkelebat ketika Soan Cu, Swat Hong, dan Kwee Lun menyerbu ke dalam istana itu.
        Ketika mereka tiba di dalam, ternyata Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah dikepung ketat dan kini pertempuran telah
        berpindah ke ruang luar yang lebih lega. Agaknya, agar dapat melakukan perlawanan dengan leluasa dan mendapat
        kesempatan untuk meloloskan diri, Liu Bwee dan Ouw Sian Kok telah pindah keluar dari ruangan dalam yang sempit,
        dan kini, dengan saling membelakangi, kedua orang itu mengamuk dengan hebat, dikepung ketat oleh para pengawal
        istana, sedangkan The Kwat Lin dan Ouwyang Cin Cu menonton di pinggir. Ketika Swat Hong dan dua orang kawannya
        masuk, mereka melihat Kwat Lin berlari pergi ke dalam istananya. Swat Hong maklum bahwa wanita itu tentulah
        hendak memeriksa simpanan pusakanya, maka dia lalu menyentuh tangan Soan Cu yang sedang bengong memandang
        kepada laki-laki setengah tua yang mengamuk dengan gagahnya itu, dengan mata merah hampir menangis. Soan Cu
        sadar dan menengok. "Kita kejar dia! Dialah yang paling jahat dan berbahaya!" Soan Cu mengangguk dan kedua
        orang gadis berkelebat pergi mengejar Kwat Lin. Kwee Lun Sendiri lalu berteriak keras dan meloncat ke depan,
        meyerbu para pengeroyok. Sepak terjang pemuda tinggi besar ini memang hebat, tenaganya yang amat kuat itu
        membuat dia sekali turun tangan merobohkan empat orang pengeroyok. tentu saja kepungan menjadi buyar dan kacau.
        Dan ketika mereka membalik untuk mengeroyok Kwee Lun, pemuda yang lihai ini lalu merobah tenaga dahsyat tadi
        dengan pukulan-pukulan Bian-sin-kun, pukulan kapas yang kelihatannya lemah dan lunak namun setiap kali
        menyentuh tubuh para pengeroyok tentu membuat dia terguling. "Jiwi-locianpwe, saya adalah Kwee Lun, sahabat
        baik dari Nona Swat Hong dan Nona Soan Cu! Mereka sedang mengejar Si Iblis Betina!" teriak Kwee Lu dengan suara
        nyaring. Liu Bwee dan Ouw Sian Kok terkejut dan girang sekali, terutama Ouw Sian Kok yang mendengar bahwa
        puterinya juga datang! Akan tetapi, malang baginya. Karena dia terlampau girang hendak melihat wajah puterinya,
        dia menoleh ke sana ke mari mencari-cari. "Ouw-toako, awas....!!" Tiba-tiba Liu Bwee berteriak dan wanita ini
        berusaha untuk menangkis sinar biru dari pedang Ouwyang Cin Cu. "Trangggg.....aih.....!!" Liu Bwee terlambat
        dan bergulingan untuk menyelamatkan diri, sedangkan Ouw Sian Kok terjungkal karena tamparan tangan kiri Ouwyang
        Cin Cu mengenai punggungnya. "Plakk! Aughhhh.....!" Ouw Sian Kok muntahkan darah segar dari mulutnya.
        "Curang....!!" Kwee Lun membentak dan kipas di tangan kiri serta pedang di tangan kanannya menyambar ganas.
        Namun, dia terlalu lunak bagi Ouwyang Cin Cu dan sekali tangkis kipas itu robek dan pedangnya hampir terpental.
        "Haiiiitttt.....!!" Ouw Sian Kok yang marah sekali menerjang maju dengan tangan terbuka. Melihat serangan ganas
        ini, Ouwyang Cin Cu terkejut dan cepat dia meloncat mundur. Sebelum dia didesak oleh tiga orang lawan itu, para
        pengawal sudah mengepung lagi dan kini mereka bertiga dikeroyok dan dihujani senjata oleh puluhan orang
        pengawal. "Twako..... kau.....terluka....?" Sambil mengamuk dengan pedangnya, Liu Bwee bertanya. "Tidak apa....
        mati pun aku rela.... pusaka telah diselamatkan......." kata Ouw Sian Kok. "Tapi...... tapi anakku....." Dia
        tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena harus menghadapi pengeroyokan banyak pengawal. Sementara itu di
        dalam istana juga terjadi pertempuran yang mati-matian dan hebat sekli. The Kwat Lin yang melihat datangnya
        bala bantuan yang dipimpin sendiri oleh Ouwyang Cin Cu, setelah melihat bahwa dua orang pengacau itu terkepung
        ketat, lalu teringat akan pusaka yang tadi dibawa Swat Hong. Dia teringat pula akan puteranya yang sudah tidur
        di kamarnya, maka cepat dia meninggalkan tempat pertempuran untuk memeriksa pusaka dan puteranya. Dilihatnya Bu
        Ong masih tidur nyenyak dan terjaga, maka dia cepat lari ke dalam kamarnya sendiri. Seperti telah diduganya,
        para penjaga sebanyak lima orang yang berada di kamarnya tewas semua dan keadaan kamarnya rusak dan kacau.
        Sekali saja melihat ke arah peti hitam yang terbuka di depan tempat tidurnya, tahulah dia bahwa semua pusaka
        telah dirampas oleh Swat Hong, seperti yang dikhawatirkannya. "Mencari apa, wanita iblis? Pusaka Pulau Es telah
        aman!" The Kwat Lin cepat menengok dan melihat Swat Hong telah berdiri di ambang pintu bersama seorang gadis
        lain yang tak dikenalnya. Kemarahan seperti api membakar dadanya melihat dara ini. Sambil mengeluarkan jerit
        melengking nyaring, dia lalu menerjang dan menggerakkan pedang merahnya. "Cring-trang....!!" Pedang Swat Hong
        disusul pedang Coa-kut-kiam di tangan Soan Cu menangkis dan kedua orang dara itu meloncat ke belakang, ke
        tempat yang lebih lega. Dengan kemarahan meluap-luap The Kwat Lin meloncat keluar dan melanjutkan serangannya.
        Akan tetapi, setelah bergerak belasan jurus, wanita ini terkejut dan merasa menyesal mengapa dia menuruti
        kemarahan hatinya.
     
      <CENTER>
        JILID 22
      </CENTER>
     
        Dia berada dalam bahaya! Kiranya selain Swat Hong yang telah memiliki kepandaian hebat juga gadis yang
        gerakan-gerakannya liar dan ganas itu amat berbahaya, apalagi cambuk ekor ikan Phi yang meledak-ledak dahsyat.
        Sebentar saja dia tertekan dan terdesak. Beberapa kali dia berusaha untuk meloloskan diri, akan tetapi sambil
        mengejek Swat Hong selalu menutup jalan keluar dan dia terus digulung oleh sinar dua orang gadis lihai itu. The
        Kwat Lin menjadi nekat. Sambil menggigit bibirnya dia menyerang dahsyat kepada Swat Hong, mencurahkan daya
        serangannya kepada anak tiri yang dibencinya ini. Menghadapi terjangan dahsyat yang bertubi-tubi itu, Swat Hong
        mundur-mundur juga. Akan tetapi kesempatan baik ini dipergunakan oleh Sian Cu untuk menyerang dari belakang.
        Cambuk ekor ikan Phi meledak dua kali mengancam ubun-ubun kepala The Kwat Lin, dan ketika wanita ini mengelak
        kesamping sambil melanjutkan serangan pedangnya kepada Swat Hong, Soan Cu menusukan pedangnya mengarah lambung
        Kwat Lin. "Singgg....crat..... aihhhhh!!" Kwat Lin terkejut karena biarpun dia telah mengelak, tetap saja
        pedang Coakut- kiam (Pedang Tulang Ular) itu melukai lambungnya, merobek kulit dan mendatangkan rasa nyeri dan
        panas dan perih sekali. Akan tetapi, wanita yang lihai ini sudah membalik sambil juga membalikan pedangnya
        menyambar leher Soan Cu. Hal ini tidak disangka-sangka oleh gadis Pulau Neraka ini. "Awas Soan Cu.....!!" Swat
        Hong berseru dan pedangnya menyambar, yang diarah adalah lengan kanan Kwat Lin karena hanya dengan jalan itulah
        dia dapat menolong Soan Cu. "Brettt.... crok..... aughhhh......!!" Soan Cu terhuyung, pundaknya berlumuran
        darah karena terluka parah, sedangkan Kwat Lin cepat memindahkan pedang ke tangan kirinya karena lengan
        kanannya juga terluka parah, terbacok di bagian bahu hampir putus! Dengan kemarahan meluap-luap dia menubruk
        Swat Hong, namun gadis Pulau Es ini mengelak ke kiri sambil mengangkat kaki menendang lutut. "Dukkk! Aduh....!"
        Kwat Lin terbelalak ketika tahu-tahu pedang Coa-kut-kiam telah bersarang di perutnya! Kiranya ketika tadi Swat
        Hong menendangnya Soan Cu yang terluka dengan kemarahan meluap menubruk, maka begitu wanita itu terguling,
        pedangnya cepat menyambar dan menusuk perut Kwat Lin. "Bedebah kau....!" Tiba-tiba pedang di tangan Kwat Lin
        meluncur. "Soan Cu, awas....!!" Swat Hong berteriak kaget namun terlambat. Pedang yang terlempar dari jarak
        dekat dan tak terduga-duga itu dilakukan dengan dorongan tenaga terakhir, tak dapat dielakkan dengan baik oleh
        Soan Cu dan menancap di bawah pundak sampai dalam! "Soan Cu!" Swat Hong melompat dan pedangnya membabat. Kwat
        Lin memekik dan lehernya hampir putus! Dengan cepat Swat Hong memeluk tubuh soan Cu yang tersenyum!
        Pergilah.... Aku.... aku tak berguna lagi....!" katanya. "Omong kosong!" Swat Hong menghardik, mencabut pedang
        Ang-bwe-kiam dari pundak Soan Cu. Soan Cu menjerit dan pingsan. Dengan gemas Swat Hong melempar pedang itu
        memondong tubuh Soan Cu, dibawanya keluar. Betapa kagetnya ketika ia tiba di ruangan luar, pertempuran yang
        masih berlangsung hebat itu ternyata membuat pihak ibunya terdesak. Bahkan ibunya kelihatan terluka di beberapa
        tempat, juga ayah Soan Cu, yang mengamuk dengan gagah telah berlumuran darah seluruh tubuhnya. Kwee Lun juga
        masih mengamuk, dan hanya pemuda inilah yang belum terluka, karena Ouwyang Cin Cu menujukan
        serangan-serangannya kepada Liu Bwee dan Ouw Sian Kok, karena menganggap ringan kepada Kwee Lun. "Ibu....!!"
        Dengan kemarahan meluap-luap, Swat Hong meloncat, melampau para pengepung dan menurunkan tubuh Soan Cu ke atas
        lantai. Lalu gadis ini mengamuk dengan pedangnya, merobohkan beberapa orang pengawal. Gerakannya demikian hebat
        sehigga para pengepung terkejut dan gentar, bergerak mundur. "Ibu.....!" "Ayahhhhh.....!" Ouw Sian Kok
        menghentikan amukannya dan menjatuhkan diri berlutut. Tadi dia mengira bahwa puterinya telah tewas, maka
        panggilan itu menggetarkan jantungnya dan membuat dia lemas. "Kau.....kau Soan Cu.....?" "Ayahhhhhhh.....
        Hu-hu-hu-huuuuu.....!!" Soan Cu menangis dalam rangkulan ayahnya yang juga bercucuran air mata. Baru pertama
        kali Ouw Sian Kok dapat mencucurkan iar mata. "Wutttt..... trangggggg......!!" Dua batang golok terpental oleh
        tangkisan oleh tangkisan Ouw Sian Kok tanpa menoleh karena dia sedang mendekat dan menciumi dahi puterinya.
        "Ayah, aku puas..... dapat bertemu denganmu.......!" "Soan Cu...... aihhhh, anakku, kauampunkan dosa
        ayahmu....." Ouw Sian Kok berkata dengan suara terisak. "Trang-trang..... dessss!!" Dua orang pengawal yang
        berani menyerang roboh oleh tangkisan pedang Ouw Sian Kok dan mecuatnya kaki Soan Cu yang menendang. "Ah,
        jangan kau keluarkan tenaga....." kata Ouw Sian Kok melihat betapa tendangan tadi membuat napas Soan Cu
        memburu. "Ayah..... aku.....aku tidak kuat lagi.....kalu larilah, ayah......." "Soan Cu......! Soan
        Cuuuu......!!" Sian Kok meraung-raung ketika menyaksikan dengan mata sendiri betapa puterinya yang baru
        dilihatnya selama hidup puterinya itu, menghembuskan napas di dalam dekapnya, dengan bibir tersenyum. Laki-laki
        gagah perkasa itu masih terus meraung-raung, dengan air mata bercucuran ketika dia telah membaringkan tubuh
        puterinya ke atas lantai kemudian dia mengamuk seperti seekor naga, menyebar maut diantara pengeroyoknya! Hujan
        senjata tidak dirasakannya lagi pedangnya sampai menjadi merah dari ujung sampai kegagang, bahkan sampai ke
        lengannya! Sementara itu Liu Bwee yang sudah banyak kelilangan darah juga makin lemas gerakannya. kalau tidak
        ada Swat Hong, tentu dia roboh oleh Ouwyang Cin Cu. Untung bagi mereka agaknya kakek yang sudah menjadi Kok-su
        ini hanya setengah hati saja bertempur, sering kali dia sengaja mundur dan membiarkan anak buah pengawal yang
        mengeroyok. Hal ini karena dia sebetulnya tidak begitu suka kepada The Kwat Lin yang dianggapnya berbahaya.
        Pula, setelah sekarang dia telah memperoleh kedudukan tinggi, dia tidak membutuhkan kerja sama dengan The Kwat
        Lin. Selain itu, juga dia ingin menghindarkan sedapat mungkin permusuhan dengan orang-orang lihai, apalagi
        keluarga dari Pulau Es! "Swat Hong, cepat kau pergi......!" "Tidak, Ibu!" "Kalau tidak, kau akan mati......!"
        "Mati bersamamu merupakan kebahagiaan, Ibu!" "Hushhhh, anak bodoh. kalau begitu siapa yang akan mengembalikan
        pusaka? Kauingat pesan Ayahmu." "Tapi, Ibu....." "kalau kau membantah dan sampai tewas di sini, Ibumu tidak
        akan dapat mati dengan mata meram." "Ibu......!" "Lihatlah, dia.....diapun akan mati..... Ibu ada seorang teman
        yang baik......Ibu dan dia.....ah, kami senang mati bersama.....kau jangan ikut-ikut......!" Mendengarkan
        ucapan ini, Swat Hong terkejut sekali dengan menengok ke arah Ouw Sian Kok yang mengerikan keadaannya
        itu.Mengertilah dia bahwa Ibunya dan laki-laki perkasa itu telah saling jatuh cinta! Jantungnya seperti
        ditusuk, teringat dia akan kesalahan ayahnya terhadap ibunya. Ibunya tidak bersalah, sudah sepantasnya
        menjatuhkan hati kepada pria lain karena disakiti hatinya oleh suami yang tergila-gila kepada wanita lain!
        "Ibu......" "Pergilah, dan ajak pemuda gagah itu!" Sambil bercucuran air mata, Swat Hong mengamuk, memutar
        pedangnya dan mendekati Kwee Lun yang juga masih mengamuk. "Toako, hayo kita pergi!!" "Eh? Ibumu? Soan Cu?
        Ayahnya.......?" "Ayolah.....!!" "Baik, baik.....!" Mereka berdua membuka jalan darah, akhirnya berhasil
        meloncat keluar. "Jangan kejar mereka! kepung saja yang berada di dalam!" terdengar Ouwyang Cin Cu berseru.
        Tidak terlalu lama Ouw Sian Kok dan Liu Bwee dapat bertahan. Mereka sudah kehabisan tenaga, juga terlalu banyak
        mengeluarkan darah. Akhirnya, mereka roboh berdekatan, di dekat mayat Soan Cu. Ouwyang Cin Cu menghela napas
        panjang, kagum sekali menyaksikan kegagahan mereka itu. Dia masih belum menduga bahwa tiga orang yang telah
        tewas ini adalah orang-orang yang datang dari tempat yang hanya didengarnya dalam dongeng! wanita cantik
        setengah tua itu adalah bekas permaisuri Raja Pulau Es, sedangkan laki-laki perkasa dan dara jelita itu adalah
        ayah dan anak dari Pulau Neraka, bahkan merupakan tokoh pimpinan! Dia menghela napas pula ketika melihat bahwa
        The Kwat Lin juga tewas dalam keadaan mengerikan. Diam-diam dia merasa lega, karena dia maklum betapa dilubuk
        hati wanita ini tersembunyi cita-cita yang amat hebat, yang kelak mungkin membahayakan kedudukan kaisar, dan
        kedudukannya sendiri. Setelah membuat laporan kepada Kaisar baru, yaitu An Lu Shan, tentang kematian The Kwat
        Lin bekas jenderal ini hanya menarik napas panjang. "Hemm, sayang sekali, dia merupakan tenaga yang berguna."
        Kemudian mengelus jenggotnya dan berkata, "kalau begitu bagaimana dengan puteranya?" "Menurut pendapat hamba,
        puteranya itu masih berdarah Raja Pulau Es yang kabarnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan kerajaan
        lama. Maka kalau dia dibiarkan saja menjadi pangeran di sini, kelak kalau sudah dewasa tentu akan merupakan
        bahaya." An Lu Shan mengangguk-angguk. "habis bagaimana pendapatmu?" Kok Su yang merupakan penasehat utama itu
        mengerutkan alisnya yang bercampur uban, lalu berkata, "Mereka itu datang dari Rawa Bangkai, biarlah dia hamba
        bawa kembali ke sana, diberi kedudukan sebagai penguasa di Rawa Bangkai dan daerahnya. Anak kecil itu tidak
        tahu apa-apa, asal diberi kedudukan di sana mengepalai bekas anak buah ibunya dan Kiam-mo Cai-li, tentu kelak
        akan senang hatinya." "Baiklah, urusan ini kuserahkan kepadamu untuk dibereskan." demikianlah, setelah
        penguburan jenazah ibunya selesai, Han Bu Ong yang masih kecil itu menurut saja ketika oleh Ouwyang Cin Cu
        diberitahu bahwa dia oleh kaisar "diangkat" menjadi "raja muda" yang berkuasa di Rawa Bangkai, di mana telah
        dibangun sebuah gedung mewah lengkap dengan semua pelayan dan perabot. Di tempat ini, Han Bu Ong hidup cukup
        mewah. Akan tetapi anak ini memang mempunyai kecerdikan yang luar biasa. Biarpun dia dicukupi hidupnya,
        diam-diam dia mengerti bahwa dia sengaja setengah "dibuang" oleh Kaisar dan Ouwyang Cin Cu setelah ibunya
        tewas. Maka dia mencatat di dalam hatinya bahwa selain Swat Hong dan Kwee Lun yang menjadi musuh besarnya, juga
        Ouwyang Cin Cu sebetulnya bukanlah seorang sahabat yang setia dari ibunya. Anak kecil ini dengan rajin lalu
        melatih dirinya dengan ilmu-ilmu peninggalan ibunnya yang masih ada padanya. Dia harus menggembleng dirinya dan
        kelak, selain dia harus membalas kepada musuh-musuhnya, juga dia akan berusaha untuk merampas kembali
        pusaka-pusaka Pulau Es yang dicuri oleh Swat Hong. Dia merasa bahwa dia berhak memiliki pusaka itu karena
        bukankah dia putera Raja Pulau Es? Dari ibunya dia dahulu mendengar bahwa siapa yang mewarisi pusaka Pulau Es
        dan melatih semua ilmu yang terdapat di dalam kitab-kitab itu, tentu akan menjadi jago nomer satu di dunia.
        Para pembaca yang mengikuti pengalaman Kwa Sin Liong tentu menjadi penasaran kalau pemuda sakti itu sampai
        tewas dalam keadaan yang demikian mengerikan! Tidak, dia tidak mati! Memang nyaris dia tewas dimakan ratusan
        ekor ular berbisa yang menjadi penghuni sumur itu. Akan tetapi kalau orang belum tiba saatnya untuk mati, ada
        saja penolongnya yang bisa dianggak tidak masuk akal, kebetulan atau luar biasa. Dalam halnya Sin Liong tidak
        ada yang tidak masuk akal atau luar biasa. Memang tubuhnya yang pingsan itu terlempar ke dalam sumur di mana
        terdapat ratusan ekor ular berbisa dari segala jenis, akan tetapi tidak ada seekorpun ular yang berani
        menggigitnya. Apalagi menggigit, mendekatipun mereka itu tidak berani, bahkan begitu tubuh pemuda itu terjatuh,
        ular-ular itu cepat menyingkir ketakutan. hal ini adalah karena tanpa sengaja di saku baju Sin Liong terdapat
        batu mustika hijau dari Pulau Es! Seperti kita ketahui, batu mustika hijau ini adalah milik Han Swat Hong yang
        telah menyelamatkan nyawa gadis ini pula ketika terserang racun. Ketika Sin Liong mengobati sumoinya itu, dia
        menyimpan batu mustika ini di dalam saku bajunya sehingga ketika dia terlempar ke dalam sumur, batu mustika itu
        ikut terbawa olehnya dan menjadi penyelamatnya karena tidak ada ular yang berani mendekatinya. Sebetulnya
        pemuda ini menderita luka yang amat parah dan yang akan mematikan akibatnya bagi orang lain. Namun, pemuda ini
        pada dasarnya memiliki tubuh yang sempurna, bersih darahnya dan kuat tulang dan urat-uratnya, apalagi sejak
        kecil dia menerima gemblengan ilmu kesaktian dari Han Ti Ong sehingga dia memilki tubuh yang amat kuat dan
        tahan derita. Dua hari dua malam dia rebah pingsan di dasar sumur yang lembab, tampa diusik oleh ular-ular itu
        yang hanya memandang dari jauh seolah-olah dia merupakan mahluk yang menakutkan. Pada hari ke tiga, nampak
        tanda hidup pada tubuh yang tadinya tak bergerak-gerak seperti mati itu dengan suara mengeluh panjang, kemudian
        tubuh itu bergerak dan bangkit duduk dengan susah payah. Sejak Sin Liong merasa nanar dan bingung melihat bahwa
        dirinya berada di tempat yang amat gelap. Begitu gelapnya sehingga dengan terkejut dia menyangka bahwa matanya
        telah menjadi buta. Akan tetapi, ketika dia menoleh, tampaklah sedikit cahaya di belakangnya, dan mengertilah
        dia dengan hati lega bahwa dia tidak buta, melainkan berada di tempat yang amat gelap. Dia tidak tahu bahwa dia
        dilempar ke sumur dan sumur itu kini telah tertutup oleh batu-batu besar dari atas ketika guha terowongan itu
        sengaja diruntuhkan oleh Kiam-mo Cai-li dan The Kwat Lin. Melihat cahaya terang di belakangnya, Sin Liong
        menggerakan tubuhnya hendak menyelidiki, akan tetapi dia mengeluh karena begitu bergerak, dadanya terasa nyeri
        bukan main! Dia teringat akan pertempuran itu dan mulai mengertilah dia bahwa tentu dia telah tertawan dan
        berada dalam tempat tahanan rahasia yang amat gelap. Maka dia segera duduk bersila mengatur pernapasan di
        tempat lembab dan pengap itu, menyalurkan tenaga dan hawa sakti di dalam tubuhnya. Memang dia memiliki sinkang
        yang amat kuat berkat latihan di Pulau Es, maka tak lama kemudian dia telah mengobati luka di dalam tubuhnya
        dan menyelamatkan rasa nyeri-nyeri di tubuhnya. Begitu dia menghentikan latihannya, terasa betapa perutnya
        lapar sekali. Dia tidak tahu bahwa sudah dua hari dua malam perutnya sama sekali tidak diisi apa-apa. Sin Liong
        bangkit berdiri dengan hati-hati. Tangannya meraih ke atas. kosong. Dia mencoba meloncat dengan kedua tangannya
        di atas kepala.Tetap saja disebelah atasnya kosong, tanda bahwa tempat tahanan itu tinggi bukan main! Seperti
        sumur! Betapapun dalamnya sumur itu tentu dia akan meloncat keluar, pikirnya. Dikerahkan seluruh tenaga
        dalamnya, kemudian dengan ilmu ginkangnya yang istimewa, dia melompat lagi ke atas, kedua tangannya tetap
        menjaga di atas kepala. "Plakkkkk!" Tubuhnya melayang lagi ke bawah. Kedua tangannya bertemu dengan batu besar
        yang amat berat, yang menutup lubang sumur itu! Beberapa kali Sin Liong menggunakan kepandaiannya untuk keluar
        dari dalam sumur, dan sekali meloncat, dia menggunakan sinkang di kedua tangannya untuk mendorong batu. Akan
        teteapi usahanya ini selalu gagal. Tentu saja tidak mungkin bagi seorang manusia, betapa kuatpun dia, untuk
        meloncat sambil mendorong tumpukan batu-batu besar yang menutup mulut sumur itu, batu-batu sebesar rumah dan
        yang sebongkah saja beratnya ada yang seribu kati! Akhirnya Sin Liong pun maklum bahwa usahanya meloloskan diri
        melalui atas tidak mungkin baginya. Maka dia mulai meraba-raba di sekelilingnya. Sumur itu tidak berapa lebar,
        paling banyak bergaris tengah tiga meter. Ketika dia mendengar suara mendesis-desis dan mencium bau hamis,
        tahulah dia bahwa di tempat itu terdapat banyak ular berbisa. Kemudian tampak olehnya melalui cahaya redup tadi
        bahwa di bagian bawah terdapat sebuah lubang dan agaknya dari tempat itulah ular-ular keluar dari sumur. Begitu
        dia mendekati lubang ini, tampak olehnya ekor ular berkelebat di dalam cahaya remang-remang itu, menjauhkan
        diri. Dia merasa heran mengapa binatang-binatang itu tidak mengganggunya ketika dia pingsan dan kini kelihatan
        takut kalau didekatinya. Dia teringat, meraba saku bajunya dan tersenyum mengeluarkan batu hijau yang
        mengeluarkan sinar di dalam gelap itu. Inilah penolongku,pikirnya. Hatinya menjadi makin tenang. Dengan adanya
        batu mustika hijau ini, tidak perlu takutmenghadapi binatang berbisa apa pun. Akan tetapi, melihat batu mustika
        itu, teringatlah dia kepada Swat Hong dan dia merasa khawatir juga. Musuh demikian lihai, dia sendiri kena
        ditangkap dan agaknya dilempar ke sumur ini. Bagaimana nasib Swat Hong? Dia harus cepat keluar dari tempat ini
        untuk menolong Swat Hong. Kekhawatirannya terhadap sumoinya itu membuat dia makin bersemangat mencari jalan
        keluar. Lubang dari mana ular-ular itu keluar dari sumur terlalu sempit untuk dapat diterobos, maka Sin Liong
        lalu menggunakan kedua tangannya untuk membongkar batu di lubang itu, memperlebar lubang dengan jalan memukul
        pecah batubatu di sekelilingnya. Tidak mudah pekerjaan ini, karena selain tubuhnya masih lemah, juga batu-batu
        di tempat itu amat kerasa dan hanya dapat digempurnya sedikit demi sedikit. Namun akhirnya dapat juga dia
        memperlebar lubang itu sehingga dia dapat merangkak melalui lubang sambil terus menggempur lubang di depat yang
        merupakan terowongan panjang. Melihat betapa makin lama cahayanya dari seberang terowongan kecil itu makin
        terang, hatin Sin Ling membesar. Jelas bahwa di seberang itu terdapat tempat terbuka dari mana sinar matahari
        dapat masuk, pikirnya. Akan tetapi pekerjaan menerobos terowongan kecil yang merupakan liang ular dengan hanya
        menggunakan kedua tangan kosong, memakan waktu lama juga. Saking hausnya, dia menengadah untuk menerima
        titik-titk air yang jatuh dari atas, yaitu dari dinding sumur yang mengeluarkan air. biarpun memakan waktu
        lama, dapat juga dia mengobati dahaga dengan meminum secara demikian. Namun perutnya yang lapar terpaksa harus
        berpuasa lagi sampai tiga hari! karena setelah tiga hari, barulah dia berhasil merangkak keluar dari terowongan
        itu dan tiba di sebuah ruangan yang cukup luas, akan tetapi juga merupakan tempat tertutup! Bedanya, kalau
        sumur pertama merupakan tempat sempit dan gela, maka ruangan kedua ini luas sekali, garis tengahnya tidak
        kurang dari sepuluh meter, merupakan sebuah ruang dalam tanah yang aneh. Di sebelah atas, jauh dan tinggi
        sekali, tertutup oleh tanah atau batu dan ada celah-celah yang merupaka retakan batu-batu dari mana sinar
        matahari dapat menerobos masuk. Sin Liong menjatuhkan diri duduk di tengah ruangan dalam tanah ini dan
        harapannya kandas sama sekali. Kalau sumur pertama itu merupakan tahanan yang sukar diterobos adalah tempat ini
        lebih sukar lagi untuk meloloskan diri. Ular-ular yang banyak sekali berbelit-belit dan kelihatan ketakutan,
        ada yang merayap naik, ada pula yang menerobos terowongan yang sudah melebar itu untuk kembali ke dalam sumur
        pertama! Sin Liong termenung. Dari kamar tahanan kecil dia pindah ke kamar tahanan besar! Hanya lebih lebar dan
        memperoleh penerangan sinar matahari yang tidak seberapa. Itulah bedanya! Akan tetapi dia tidak menjadi putus
        harapan. Dihadapinya kenyataan ini dengan tabah dan dilenyapkannya kekhawatiran di dalam hatinya tentang diri
        sumoinya dengan keyakinan bahwa apa pun yang akan terjadi, terjadilah tanpa dipengaruhi segala kekhawatiran
        yang tiada gunanya! Dia sendiri menghadapi bencana, menghadapi ancaman maut dan inilah yang terutama harus
        dihadapi dan diatasi lebih dulu. Dia mulai memeriksa kalau-kalau ada jalan keluar dari tempat itu. Sama sekali
        tidak ada jalan keluar. Akan tetapi, dia menemukan benda-benda yang sementara dapat menolongnya dari ancaman
        kelaparan, yaitu jamur yang agaknya bertumbuhan dengan subur di tempat itu karena memperoleh sinar matahari.
        Perutnya lapar sekali dan pengetahuannya tentang tetumbuhan meyakinkan hatinya.maka mulailah dia memilih
        jamur-jamur yang tak mengandung racun, lalu mulai dia makan jamur. Dalam keadaan lapar bukan main, ternyata
        jamur-jamur mentah itu terasa enak juga! Soal minum dia tidak usah khawatir karena di beberapa tempat pada
        dinding batu itu terdapat air yang menetes. Ditampungnya tetesan air itu dengan kedua tangannya, lalu
        diminumnya. Luar biasa segarnya air yang disaring oleh tanah dan batu itu. Setelah yakin benar bahwa tidak ada
        jalan keluar dari tempat itu, Sin Liong menerima kenyataan ini dan dia giat berlatih ilmu. Di dalam kesunyian
        yang amat hebat itu perasaan dan pikiran Sin Liong menjadi luar biasa tajamnya. Semua ilmu yang pernah
        dipelajari dan dibacanya dahulu sukar dimengerti olehnya karena kitab-kitab kuno Pulau Es memang amat sukar
        diartikan, kini menjadi jelas dan dapat dia selami intinya. Oleh karena inilah maka diluar dari kesadarannya
        sendiri, ilmu kesaktiannya bertambah dengan hebat dan cepatnya. Juga ditempat ini dia mulai mengenal diri
        sendiri, mengenal arti hidup yang sesungguhnya. Tanpa disadarinya sendiri, dari dalam pribadinya timbul
        kekuatan mujijat, kekuatan yang dimiliki oleh setiap orang manusia namun yang selalu terpendam dan tetap
        tersembunyi sampai saat terakhir dari hidup manusia yang selalu dipermainkan oleh nafsu yang disebut aku. Tanpa
        terasa oleh Sin Liong sendiri yang selama hidup di dalam ruang bawah tanah itu sama sekali tidak pernah
        memikirkan atau mengenal waktu, pemuda luar biasa ini telah berada di tempat itu selama dua tahun! Dia mengerti
        bahwa tanpa bantuan dari luar, tidak mungkin dia meloloskan diri dari tempat itu, maka sudah sejak lama dia
        tidak lagi berusaha untuk keluar dari situ. Selama itu, yang menjadi teman-temannya hanyalah ular-ular berbisa!
        Ternyata oleh pemuda itu bahwa binatang berbisa seperti ular pun mengenal siapa lawan siapa kawan. Karena
        selama itudia tidak pernah mengganggu mereka, ular-ular itu pun jinak dan sama sekali tidak pernah
        menyerangnya, biarpun dia menjauhkan batu mustika hijau dari tubuhnya. Binatang-binatang ini hanya menyerang
        untuk menjaga diri saja dari bahaya yang datang mengancam diri mereka. Juga tanpa disadari sendiri oleh Sin
        Liong, tubuhnya yang setiap hari hanya dihidupkan oleh sari jamur yang bermacam-macam itu, pertumbuhannya sama
        sekali berlainan dengan manusia biasa. makanan amat mempengaruhi tubuh dan sari jamu yang dimakannya selama dua
        tahun itu mendatang kan kepekaan luar biasa, dan kepekaan tubuh ini pun mempengaruhi pula pertumbuhan batinnya.
        Dia menjadi seorang manusia luar biasa, tidak menderita apa-apa, tidak mengharapkan apa-apa, karena di dalam
        keadaan apapun juga, menghadapi keadaan apa adanya, sewajarnya, sebagaimana adanya yang dianggap sudah
        semestinya demikian, tidak ada lagi apa yang disebut menyenangkan atau tidak menyenangkan, tidak ada lagi yang
        disebut senang atau susah, tidak ada lagi puas atau kecewa. Dalam keadaan seperti itu, tubuh sehat dan batin
        tenang, yang ada hanyalah rasa suka ria yang sukar dilukiskan karena sama sekali tidak ada sangkut pautnya
        dengan kesukaan atau kegembiraan yang dapat dicari. Suatu nikmat yang bukan datang dari gairah nafsu atau
        kesenangan, nikmat hidup yang datang tanpa dicari, yang terasa hanya setelah batin bebas dari segala ikatan,
        seperti batin Sin Liong di waktu itu. Pada suatu hari, di sebelah atas dari tempat rahasia ini, terjadilah
        kesibukan besar. Puluhan orang katai yang tubuhnya pendek akan tetapi besarnya seperti manusia biasa, bertubuh
        kuat dan bertenaga besar, dipimpin oleh seorang pemuda tanggung sedang membongkari reruntuhan batu-batu di
        dalam terowongan bawah tanah itu. pemuda tanggung yang berpakaian mewah itu bukan lain adalah Bu Ong, yang kini
        telah mengumpulkan sisa orang-orang kerdil bekas taklukan di Rawa Bangkai dan menjadi pimpinan mereka. Han Bu
        Hong kini telah menjadi seorang pemuda tanggung yang lihai dan tidak ada seorang pun di antara tokoh-tokoh
        orang kerdil mampu melawannya. Agaknya, untuk menjadikan mimpi ibunya sebagai kenyataan, dia telah mengangkat
        diri sendiri menjadi ketua atau lebih tepat lagi menjadi "raja" dari orangorang katai ini. Gedung di Rawa
        Bangkaihanya menjadi tempat tinggal umum, akan tetapi diam-diam dia mendirikan "kerajaan kecil" di bawah tanah.
        Bahkan dia telah membangun sebuah ruang seperti istana di bawah tanah, lengkap dengan kursi kebesaran yang
        dihiasai dengan sebuah tengkorak di samping hiasan mahal seperti permadani, lukisan dan tulisan indah. Sering
        kali dia secara sembunyi mengadakan pertemuan dan rapat rahasia dengan para tokoh orang katai yang menjadi
        pembantunya, dan pemuda tanggung ini diam-diam merencanakan pekerjaan besar untuk melanjutkan cita-cita ibunya.
        Demikianlah, karena dia ingin menggunakan terowongan bawah tanah itu sebagai markas partai orang kerdil , dan
        juga karena dia ingin mencari kalau-kalau ada harta atau pusaka peninggalan Rawa bangkai di terowongan itu, dia
        lalu mengerahkan para anak buahnya untuk membersihkan bagian terowongan yang dahulu diruntuhkan oleh ibunya dan
        oleh Kiam-mo Cai-li. "Akan tetapi, Siauw-pangcu (Ketua Cilik)," seorang pembantu membantah sebelum pembongkaran
        dilakukan . "Tempat ini dahulu sengaja diruntuhkan oleh Ibu Pangcu untuk menutupi sumur ular di mana tubuh
        musuh Ibu Pangcu dilempar. Karena musuh itu lihai bukan main, maka Ibu Pangcu bersama Kiam-mo Cai-li dan
        Ouwyang Cin Cu memutuskan untuk menutup saja tempat ini agar pemuda sakti itu tidak mampu hidup kembali." Han
        Bu Ong tertawa. "Ha, ha, mana mungkin Kwa Sin Liong dapat hidup kembali? Dia sudah di lempar di sumur ular,
        andaikata dia tidak mati oleh ular-ular itu, tentu selama dua tahun dikubur hidup-hidup di sumur itu dia kini
        sudah menjadi setan tengkorak, tinggal rangkanya saja. Mengapa khawatir? Hayo bongkar! Kalau tidak dibongkar,
        terowongan ini tertutup sampai di sini, padahal kita amat membutuhkan sebagai jalan rahasia yang amat penting
        bagi perkumpulan kita." Karena alasan yang dikemukakan ketua cilik ini memang tepat, maka beramai-ramai para
        manusia katai itu segera bekerja keras, membongkari batu-batu yang besar-besar dan berat itu, menggunakan alat
        pendongkel dan lain-lain. Hiruk pikuk suara di dalam terowongan itu dan pekerjaan yang berat itu biarpun
        dilakukan oleh hampir lima puluh orang, tetap saja memakan waktu yang cukup lama. Memang sesungguhnyalah bahwa
        merusak itu mudah membangun itu sukar, mengotori itu mudah membersihkannya tidak semudah itu. Setelah bekerja
        keras selama sepekan, barulah batu besar terakhir yang menutupi sumur dapat disingkirkan. Han Bu Ong dan para
        anak buahnya seperti berlomba lari menghampiri sumur dan melongok ke dalam sumur yang amat gelap itu. Pada saat
        itu, terdengar suara angin menyambar dari bawah dan berkelebatlah bayangan orang yang melayang dari bawah, Han
        Bu Ong dan semua orang terkejut. Ketika mereka menoleh dan memandang bayangan orang yang tadi meloncat melewati
        kepala mereka, mereka melihat seorang laki-laki muda berdiri di situ sambil tersenyum, seorang pemuda yang
        berwajah tampan, yang memiliki sepasang mata yang lembut pandangannya namun bersinar cahayanya, pemuda yang
        pakaiannya lapuk dan compang camping. Tidak ada orang kerdil yang mengenal pemuda ini karena memang keadaannya
        jauh berbeda dengan tahun yang lalu. Akan tetapi Han Bu Ong dengan suara gemetar membentakkan perintah, "Serbu!
        Bunuh dia...!!" Orang -orang katai yang tadinya bengong terheran-heran dan ketakutan karena menduga keras bahwa
        tentu hanyalah siluman saja yang keluar dari sumur tertutup itu, ketika mendengar bentakan ini menjadi sadar.
        Kini mereka pun ingat bahwa tentu ini pemuda yang dua tahun yang lalu dilempar ke dalam sumur. Biarpun mereka
        bergidik ngeri dan gentar mendapat kenyataan bahwa orang yang dua tahun lalu dilempar ke sumur ular yang
        tertutup kini ternyata masih hidup, namun karena maklum bahwa ini adalah musuh mereka dengan teriakan-teriakan
        ganas mereka menyerang orang itu. Memang benar dugaan Han Bu Ong. Orang ini bukan lain adalah Kwa Sin Liong.
        Ketika Sin Liong akhirnya dari bawah mendengar suara hirup pikuk disebelah atas kemudian melihat cahaya turun
        melalui terowongan kecil jalan ular, dia menyeberangi terowongan dan tiba di dasar sumur pertama. akhirnya dia
        melihat betapa atap sumur yang tadinya tertutup batu besar itu terbuka dan melayanglah dia keluar. karena
        selama dua tahun dia tidak bertemu orang, begitu melihat Bu Ong dan orang-orang kerdil, dia tersenyum girang.
        Akan tetapi orang-orang kerdil itu dengan bermacam senjata telah menyerangnya. Sin Liong hanya mengerahkan
        sinkangnya membiarkan belasan senjata tajam menimpa tubuhnya. Terdengarlah teriakan-teriakan kaget karena semua
        senjata, baik yang tajam maupun yang tumpul, begitu mengenai tubuh pemuda itu, membalik seperti mengenai
        gumpalan karet yang amat kuat. "Adik Bu Ong...bukankah engkau sute (Adik Seperguruan)...?"Sin Liong berkata
        halus sambil memandang kepada Han Bu Ong. "Iblis! Siluman! Bunuh dia...!!"Bu Ong berteriak-teriak dengan muka
        pucat dan mata terbelalak. Biarpun hati mereka gentar sekali, namun orang katai itu kembali menyerbu dan hujan
        senjata menyambar tubuh Sin Liong. Kembali senjata-senjata itu mental, bahkan ada yang terlepas dari pegangan
        tangan pemiliknya. Sin Liong menarik napas panjang, menunduk dan memandang pakaiannya yang menjadi makin
        compang-camping, terkena bacokan senjata-senajata itu, kemudian sekali bergerak tubuhnya berkelebat melewati
        kepala para pengeroyoknya yang bertubuh pendek dan lenyap. Gegerlah para orang katai. Akan tetapi Han Bu Ong
        menyambarkan dan menenangkan hati mereka. Dia merasa yakin bahwa betapapun lihainya Sin Liong, pemuda itu
        agaknya tidak akan mengganggunya. Maka dia melanjutkan rencananya dan melakukan perundingan dengan para anak
        buahnya. Seperti juga ibunya dahulu, pemuda tanggung ini sudah mulai dengan usahanya untuk mencari kedudukan
        dengan menghubungi seorang "pangeran" baru yang juga merasa tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya
        setelah perjuangan mereka berhasil. Pangeran ini dahulunya adalah seorang pemberontak rakyat petani yang
        bergabung dengan An Lu Shan, bernama Shi Su beng yang kini dianugerahi pangkat "pangeran" oleh An Lu Shan. Shi
        Su Beng bermaksud untuk merebut tahta kerajaan dari An Lu Shan, dan apabila terjadi kegagalan, maka terowongan
        bawah tanah milik Han Bu Ong itulah yang akan dijadikan tempat persembunyian. Setelah selesai mempersiapkan
        segala-galanya dan tempat itu ditinjau sendiri oleh Pangeran Shi Su Beng, Han Bu Hong lalu pergi ke kota raja
        bersama sekutunya itu untuk mulai melaksanakan siasat yang sudah mereka rencanakan lebih dahulu. Memang selama
        dua tahun itu terjadi dua hal yang banyak tercatat da Kemenangan An Lu Shan ternyata tidak mendatangkan
        kemakmuran atau keamanan, bahkan sebaliknya. Selain kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan dan menyerahkan
        tahta kerajaan kepada puteranya itu kini menyusun kekuatan di barat untuk menyerbu dan merampas kembali kota
        raja, juga di dalam istana pemerintah baru sendiri terjadi pertentangan dan perebutan kekuasaan! Semua ini
        terjadi karena memang sesungguhnya para pemimpin pemberontak yang dahulu memberontak terhadap pemerintah dengan
        dalih "demi rakyat" atau demi keadilan, demi kebenaran, demi negara dan lain istilah muluk-muluk lagi itu
        sesungguhnya hanyalah "berjuang" demi dirinya sendiri saja! Semua istilah itu tak lain tak bukan hanyalah untuk
        dijadikan "modal" perjuangannya untuk mencari kedudukan dan kemuliaan bagi diri sendiri. Hal ini sudah terlalu
        sering terjadi di dunia, berulang-ulang, namun sampai sekarang rakyat di seluruh dunia tetap bodoh, mau saja di
        peralat dan dicatut namanya oleh orang-orang yang berambisi untuk diri pribadi. Betapa banyaknya bukti akan
        kepalsuan ini dapat dilihat dalam sejarah di negara manapun di dunia ini. Sekelompok orang berambisi untuk
        keuntungan mereka sendiri, dengan siasat cerdik menggunakan nama rakyat untuk mencapai tujuan mereka, kalau
        perlu mereka mengorbankan rakyat. Rakyat sudah cukup puas memperoleh gelar "pahlawan" kalau sampai tewas dalam
        perjuangan yang sebenarnya adalah menyalah gunakan demi keuntungan kelompok yang mempergunakan mereka itu.
        dalam sejarah. Inilah sebabnya maka jika perjuangan telah berhasil, jika para kelompok pimpinan yang berambisi
        sudah memperoleh apa yang mereka kejar-kejar, maka rakyat pun dilupakan sudah! Bukan sengaja dilupakan,
        melainkan karena mereka yang sudah berhasil merampas kedudukan itu pun harus menghadapi lawan atau saingan yang
        juga ingin merebut kedudukan itu. Rakyat adalah orang yang berada dibawah, dan yang terinjak memang selalu yang
        berada di bawah. yang berada di atas tidak akan terinjak, akan tetapi mereka itu saling berebutan di antara
        mereka sendiri, memperebutkan kedudukan yang lebih enak dan empuk dari pada kedudukan yang telah dimilikinya.
        Demikianlah pula dengan An Lu Shan dan teman-temannya yang telah berhasil dalam "perjuangan" mereka merampas
        kedudukan tahta kerajaan. Teman-teman yang tadinya berjuang bahumembahu, menjadi kawan senasib sependeritaan,
        yaitu di waktu mereka memberontak, kini setelah memperoleh apa yang mereka cita-citakan , berbalik mencurigai,
        saling iri! Memang belum ada yang secara berterang berani menentang An Lu Shan, bekas panglima yang masih amat
        kuat kedudukannya, didukung oleh pasukan-pasukan inti dan tampaknya semua pembantunya sudah menyetujui
        sebulatnya kalau An Lu Shan menjadi Kaisar. Akan tetapi diam-diam, banyak yang mepersoalkan pembagian pangkat
        dan kedudukan. Tentu saja yang merasa tidak puas adalah mereka yang memperoleh pangkat agak kecil, sedangkan
        yang menerima pangkat besar merasa curiga dan hati-hati menghadapi bekas teman yang memperoleh pangkat yang
        lebih kecil. Terjadi dan berlangsunglah konflik sembunyi diantara mereka. Ke manakah perginya Swat Hong dan
        Kwee Lun? Di bagian depan telah diceritakan betapa dua orang muda ini berhasil menyelamatkan diri, lari keluar
        dari istana The Kwat Lin dan terus keluar dari kota raja Tiang-an. Mereka berlari dengan cepat mempergunakan
        kegelapan malam, berhasil keluar dari benteng tembok kota raja karena para penjaga yang berada dalam suasana
        pesta kemenangan itu tidak melakukan penjagaan yang terlampau ketat. Setelah terang tanah dan mereka tiba di
        dalam sebuah hutan jauh dari tembok kota raja barulah keduanya berhenti, terengah-engah dan Swat Hong
        menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon besar. Wajahnya pucat biarpun muka dan lehernya penuh keringat yang
        di usapnya dengan ujung lengan bajunya. Pandang matanya merenung jauh sekali, dan dia diam saja, sama sekali
        tidak berkata-kata, sama sekali tidak bergerak, seperti dalam keadaan setengah sadar. Kwee Lun juga menghapus
        peluhnya dan dia pun duduk diam, memandang kepada Swat Hong. beberapa kali dia menggerakan bibir hendak bicara
        namun ditahannya lagi. Pemuda yang biasanya bergembira ini merasa betapa jantungnya seperti diremas-remas. Dia
        sendiri merasa kehilangan dan amat berduka dengan kematian Soan Cu, gadis yang kini dia tahu adalah wanita yang
        amat dicintainya. Akan tetapi, melihat keadaan Swat Hong yang terpaksa harus meninggalkan ibu kandungnya
        menghadapi kematian, dia melupakan kedukaan hatinya sendiri dan merasa amat iba kepada Swat Hong. Melihat
        betapa Swat Hong seperti orang kehilangan ingatan, Kwee Lun merasa khawatir sekali. Kalau dibiarkan saja, gadis
        ini bisa jatuh sakit, kalau hanya sakit badannya masih mending, akan tetapi kalau terserang batinnya lebih
        berbahaya lagi. Akhirnya dia memberanikan diri berkata lirih dan halus, "Mati hidup adalah berada di tangan
        Thian, kita manusia tak dapat menguasainya, Nona." Mendengar kata-kata ini, Swat Hong menengok dan memandang,
        akan tetapi pandang matanya tetap kosong, seolah-olah kata-kata itu tidak dimengertinya dan dari mulutnya hanya
        terdengar suara meragu, "Hemm....?" Suara ini gemetar dan pandang mata itu menusuk perasaan Kwee Lun. Maka
        pemuda ini lalu memberanikan diri melangkah lebih jauh lagi dengan kata-kata yang lebih membuka kenyataan,
        "Ibumu gugur sebagai seorang yang gagah perkasa." Sepasang mata yang kehilangan sinar itu terbelalak,
        seolah-olah baru sadar dan bibir yang gemetar itu bergerak, mula-mula lirih makin lama makin keras,
        ".....Ibu.....? Ibu...., Ibu....!" Swat Hong menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil ibunya. "Tenanglah,
        Nona. Tenanglah....." Kwee Lun menghibur dan berlutut di depan gadis itu, akan tetapi suaranya sendiri parau
        dan agak tersedu. "Ibu....! Mengapa aku meninggalkan ibu mati sendiri....? Ibu....! Hu-hu-huuuuuuuk,
        Ibuuuuuuuu.....!" Memang menangis merupakan obat terbaik bagi batin gadis itu, pikir Kwee Lun penuh keharuan,
        akan tetapi melihat Swat Hong menjambak-jambak rambut sendiri, dia merasa khawatir. "Ingatlah, Nona. Ingatlah
        pesan Ibumu..... tentang pusaka Pulau Es...." Swat Hong mengangkat muka dan melihat wajah pemuda itu juga basah
        air mata, dia menubruk. "Toako.... ahhhh, Toako....!" Dan menangislah dia tersedu-sedu di dada pemuda itu yang
        dianggapnya merupakan satu-satunya sahabat di dunia yang baginya kosong ini. Kwee Lun memejamkan mata dan
        membiarkan gadis itu menangis terisak-isak. Dengan sesenggukan Swat Hong berkata, "Ibu tewas..... di depan
        mataku..... dan aku tidak dapat menolongnya..... hu-hu-huuuuuuuhhhh...... dan Ayah pun sudah tiada, Suheng
        juga...... hu-huuuuuuuuuhhh apa gunanya aku hidup lagi? Apa gunanya aku mencari pusaka dan mengembalikan ke
        Pulau Es?' Seperti seorang yang mendadak menjadi kalap Swat Hong merenggutkan dirinya dari dada Kwee Lun, lalu
        melompat bangun mengepal tinju. "Katakan, Kwee-toako, apa gunanya semua ini? Ayah ibuku sudah meninggal, dan
        suheng satu-satunya orang yang kucinta..... dia pun tidak ada lagi......! katakan, apa perlunya aku hidup lebih
        lama?" Kwee Lun teringat akan kematian Soan Cu yang menghancurkan perasaannya, akan tetapi dia menekan
        kedukaannya dan berkata, suaranya nyaring bersemangat, "Adik Hong, tidak semestinya seorang perkasa seperti
        engkau mengeluarkan kata-kata bernada putus asa seperti itu! Engkau adalah puteri dari Pulau Es! Kedukaan apa
        pun yang menimpa dirimu, harus kau atasi dengan gagah perkasa! Aku dapat memahami pesan mendiang Ibumu yang
        mulia dan gagah perkasa itu. Kalau pusaka keluargamu dari Pulau Es terjatuh ke tangan orang lain, bukankah itu
        amat sayang, berbahaya dan juga merendahkan ? Pusaka itu telah diselamatkan oleh Nona Bu Swi Nio dan Saudara
        Liem Toan Ki. Sebaiknya kalau kita segera menyusul mereka dan aku akan membantumu mencari Pusaka Pulau Es."
        Ucapan penuh semangat itu benar-benar menyadarkan Swat Hong, menarik gadis itu dari lembah kedukaan yang hampir
        mematahkan semangatnya. Dia menahan isak, menarik napas panjang dan menghapus air matanya, lalu memandang
        kepada pemuda itu, memegang tangan Kwee Lun. "Kwee-toako, terima kasih atas peringatanmu. Hampir aku lupa akan
        tugasku. Memang benar, sudah berani hidup harus berani menghadapi apa pun yang menimpa kita. Engkau sungguh
        baik sekali, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih menghiburku......" Kwee Lun
        mengangkat mukanya dan memejamkan mata. "Benar.....aku mencinta Soan Cu....... aku mencintanya......" "Dan aku
        mencintai Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Engkau sendiri menderita, kehilangan Soan Cu, namun masih
        menghiburku......" Kwee Lun mengangkat mukanya dan memejamkan mata. "Benar.... aku mencinta Soan Cu.... aku
        mencintanya........" "Dan aku mencinta Suheng. Betapa buruk nasib kita, Toako. Akan tetapi, kau masih mempuyai
        Gurumu, sedangkan aku hanya seorang diri..... ah, sudahlah. Aku akan pergi, Toako. Semoga engkau akan dapat
        menemukan kebahagiaan dalam hidupmu. Engkau baik sekali dan terima kasih."Swat Hong berkelebat dan meloncat
        pergi. "Nanti dulu! Hong-moi.... biarlah aku membantumu....." "Tidak usah, Kwee-toako. Aku akan menyusul mereka
        ke Puncak Awan Merah, kemudian aku akan kembali ke Pulau Es.... untuk.... untuk selamanya. Selamat tinggal!"
        Swat Hong meloncat dengan cepat sekali dan sebentar saja dia sudah lenyap meninggalkan Kwee Lun yang menjadi
        lemas. Pemuda ini menjatukan dirinya duduk di atas tanah dan baru sekarang dia tidak dapat menahan bertitiknya
        air matanya dan baru sekarang terasa olehnya betapa dia kehilangan Soan Cu, betapa dunia terasa amat hampa dan
        sunyi. Berkali-kali dia menarik napas panjang dan teringatlah dia kepada gurunya, Lam-hai Seng-jin yang seperti
        orang tuanya sendiri. Dia harus kembali ke Pulau Kurakura di Lam-hai dan terbayang olehnya betapa suhunya itu
        akan terheran mendengar semua pengalamannya dengan keluarga Pulau Es! Dengan perasaan yang kosong dan sunyi,
        ingatan akan gurunya ini merupakan setitik harapan kegembiraan hidupnya dan berlahan-lahan Kwee Lun
        meninggalkan hutan itu untuk kembali kepada gurunya yang sudah amat lama ditinggalkannya. Sementara itu, dengan
        mata masih merah oleh tangisnya, Han Swat Hong melanjutkan perjalanan seorang diri dengan cepat untuk mengejar
        Swi Nio dan Toan KI. Kalau dia dapat menyusul mereka dan minta kembali Pusaka Pulau Es dia dapat langsung
        kembali ke Pulau Es dan selanjutnya...... entah, dia sendiri tidak tahu apakah dia ada niat untuk kembali ke
        daratan besar. Tidak, dia akan tinggal di pulau itu, di mana dia terlahir. Biarpun pulau itu sudah kosong, dia
        akan tinggal di tempat kelahirannya itu sampai mati! Bercucuran pula air matanya ketika dia berpikir sampai di
        situ dan terkenang kepada suhengnya. Kalau saja ada suhengnya di sisinya, tentu tidak akan begini merana
        hatinya. Akan tetapi, betapapun cepat Swat Hong melakukan pengejaran, tetap saja dia tidak berhasil menyusul
        Swi Nio dan Toan Ki. Bahkan ketika dia tiba di Puncak Awan Merah, tempat tinggal Tee-tok Siangkoan Houw, di
        tempat ini dia hanya disambut oleh Ang-in Mo-ko Thio Sam, kakek yang menjadi murid kepala Tee-tok itu yang
        menceritakan bahwa Tee-tok bersama puterinya telah beberapa pekan pergi turun gunung dan bahwa selama itu tidak
        ada tamu, juga tidak ada Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki seperti yang ditanyakan oleh gadis itu. Swat Hong
        mengerutkan alisnya. Hatinya mulai bertanya-tanya. Celaka, pikirnya, jangan-jangan dia telah salah memilih
        orang untuk dipercaya menyelamatkan Pusaka Pulau Es! Jangan-jangan dua orang muda itu sengaja melarikan
        pusaka-pusaka itu dan bersembunyi! Timbul kecurigaan yang diikuti kemarahan di hatinya, dan berbareng dengan
        perasaan ini timbul pula semangatnya yang tadinya amat menurun itu. Hidupnya masih perlu dan ada gunanya,
        setidaknya dia harus menyelamatkan pusaka-pusaka itu agar tidak terjatuh ke tangan orang lain! Perasaan marah
        dan khawatir ini mendatangkan perasaan bahwa dia masih amat dibutuhkan untuk hidup terus. Sambil menahan
        kemarahannya, dia berkata kepada murid kepala Tee-tok itu, "Andaikata ada datang Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki,
        harap minta kepada mereka untuk menanti saya di sini. Dua bulan lagi saya akan kembali menemui mereka." Ang-in
        Mo-ko Thio Sam yang sudah mengetahui kelihaian dara yang pernah menggegerkan Awan Merah ini, mengangguk-angguk.
        Kemudian Swat Hong meninggalkan Puncak Awan Merah untuk mengambil jalan kembali ke jurusan kota raja untuk
        mencari kalau-kalau dua orang muda itu dapat berjumpa dengannya di jalan. Namun semua perjalanannya sia-sia
        belaka. Dua bulan kemudian, kembali dia tiba di Puncak Awan Merah dan untuk kedua kalinya Ang-in Mo-ko (Iblis
        Tua Awan Merah) menyatakan penyesalannya bahwa dua orang muda yang dicari itu belum juga datang, bahkan gurunya
        juga belum pulang. "Saya malah merasa gelisah juga memikirkan Suhu." kata kakek itu. "Keadaan di mana-mana
        sedang ribut dengan perang, akan tetapi Suhu pergi begitu lamanya belum juga pulang." Swat Hong menahan
        kemarahannya. Tidak salah lagi, pikirnya. Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki tentu berlaku khianat, menginginkan
        pusaka-pusaka itu untuk diri mereka sendiri. Aku harus mencari mereka dan selain merampas kembali pusaka, juga
        akan kuhajar mereka! Dia berpamit lalu pergi lagi, di sepanjang jalan dia memaki-maki Bu Swi Nio yang
        dipercaya. "Dasar murid iblis betina itu," gerutunya. "Gurunya sudah mati, kini muridnya yang menyusahkan aku!"
        Mulailah Swat Hong mencari-cari kedua orang itu tanpa hasil. sampai dua tahun dia berkelana mencari-cari kedua
        orang muda itu namun anehnya, tidak ada seorang pun manusia yang tahu akan mereka. Akhirnya timbullah
        pikirannya bahwa sangat boleh jadi Bu Swi Nio dan Liem Toan Ki yang tadinya adalah anak buah An Lu Shan yang
        kini membalik dan berkhianat itu takut kepada pembalasan pemerintah baru dan telah lari mengungsi ke barat, ke
        Secuan. Sangat boleh jadi! Pikiran ini membuat dia mengambil keputusan dan berangkatlah dia ke Secuan. Sambil
        mencari pusaka, dia pun ingin membantu Kaisar yang kabarnya sedang menyusun kekuatan untuk menyerang dan
        merebut kembali tahta kerajaan. Sebaliknya klau dia membantu, pikirnya. Selain untuk mengisi kekosongan
        hidupnya, juga sekalian untuk mencari Bu Swi Nio an Liem Toan Ki, juga untuk menghancurkan semua kaki tangan An
        Lu Shan termasuk Ouwyang Cin Cu, dan juga mengingat bahwa ayahnya adalah seorang keturunan pangeran atau raja
        muda, maka sebenarnya dia masih berdarah bangsawan dan masih ada hubungan darah dengan keluarga kaisar sehingga
        sepatutnyalah kalau dia membantu. Sementara itu, di ibu kota yang telah diduduki An Lu Shan, di dalam istana di
        mana An Lu Shan mengangkat diri sendiri menjadi raja, terjadilah hal-hal yang hebat! An Lu Shan sendiri masih
        melanjutkan wataknya yang kasar dan mau menang sendiri. Satu di antara kesukaannya adalah wanita, maka begitu
        dia berhasil, tak pernah berhenti setiap malam dia berganti wanita mana saja yang dipilih dan ditunjuknya,
        tidak peduli wanita itu masih gadis atau isteri orang lain sekalipun! pada suatu malam, dalam keadaan mabok dan
        sedang gembiranya, An Lu Shan lupa diri dan dalam keadaan setengah sadar dia memasuki kamar mantu perempuannya
        yang sudah lama sekali dia rindukan secara diam-diam. Kalau sadar dan tidak mabok, dia masih menahan hasrat
        hatinya. Akan tetapi malam itu, dalam keadaan mabok, dia tidak mempedulikan apa-apa lagi dan memasuki kamar
        mantunya! Tidak ada seorang pun manusia di dalam istana yang berani melarang, dan pada saat itu, putera An Lu
        Shan sedang tidak berada di situ. Dengan penuh perasaan duka dan ketakutan, mantu yang muda dan cantik jelita
        itu tidak kuasa menolak atau memberontak, sambil menangis dia terpaksa membiarkan dirinya dipeluk dan diciumi
        mertua yang mabok itu. Dengan suara lirih dan membujuk dia masih berusaha mengingatkan An Lu Shan, namun
        seorang laki-laki yang tidak hanya mabok arak, melainkan juga mabok cinta berahi, tidak mempedulikan apa pun.
        wanita hanya dapat merintih dan menangis, diseling suara ketawa gembira dari An Lu Shan. Ketika pintu kamar itu
        dengan paksa dibuka dari luar oleh pangeran, An Lu Shan telah tidur mendengkur kelelahan dengan muka merah
        karena banyak arak, sedangkan isteri pangeran itu menangis terisak-isak, berlutut di atas lantai. Pangeran itu
        menjadi mata gelap, pedang dicabut dan sekali meloncat dia telah menikam dada ayahnya sendiri. "Crappp....!"
        "Auhhh.... haiii.... kau.... kau.....?" An Lu Shan yang bertubuh kuat itu, biarpun pedang telah menembus
        dadanya, masih dapat meloncat dan memcengkeram ke arah puteranya. Akan tetapi pangeran yang sudah mata gelap
        itu mengelak, kakinya menendang sehingga An Lu Shan terdorong jatuh, membuat pedang itu masuk makin dalam. Dia
        berkelojotan dan tak bergerak lagi! "Tangkap pembunuh.....!!" teriakan ini keluar dari mulut Shi Su Beng yang
        bersama dengan Han Bu Ong sudah lari ke dalam kamar. Shi Su Beng menggerakan pedangnya dan terdengar teriakan
        mengerikan ketika pangeran itu roboh pula di dekat mayat ayahnya dalam keadaan tak bernyawa pula karena
        lehernya hampir putus terbabat pedang Pangeran Shi Su Beng! Gegerlah seluruh istana. rapat kilat diadakan dan
        Shi Su Beng yang dianggap membela Kaisar itu mempergunakan kesempatan ini untuk merampas kedudukan Kaisar!
        Dalam keadaan kacau balau itu, Shi Su Beng mengangkat diri sendiri sebagai raja dan Han Bu Ong menjadi raja
        muda pembantunya yang setia! Hanyalah mereka berdua saja yang tahu bahwa semua peristiwa itu memang digerakkan
        oleh mereka berdua! Shi Su Beng yang membangkitkan berahi An Lu Shan terhadap mantu perempuannya, bahkan di
        dalam mabok, Shi Su Beng yang membujuk supaya Kaisar baru itu memasuki kamar dengan mengatakan bahwa di dalam
        kamar itu dia telah menyediakan seorang wanita cantik mirip mantunya itu untuk An Lu Shan! Dan selagi An Lu
        Shan yang mabok itu menggagahi mantunya sendiri, diam-diam Han Bu Ong menghubungi pangeran dan membisikan bahwa
        ada penjahat memasuki kamarnya. Maka terjadilah seperti apa yang telah direncanakan oleh mereka berdua, yaitu
        kematian An Lu Shan di tangan puteranya sendiri dan kemudian kematian pangeran di tangan Shi Su Beng.
        Terjadilah perubahan besar-besaran di kota raja, pergantian kekuasaan dan kembali Han Bu Ong berhasil
        mengangkat dirinya sendiri seperti yang dicita-citakan ibunya, yaitu menjadi seorng pangeran yang berkuasa,
        jauh lebih berkuasa dari pada di waktu ibunya masih hidup, yaitu menjadi tangan kanan penguasa baru yang
        menjadi sekutunya! Akan tetapi, jatuhnya An Lu Shan dan berpindahnya kekuasaan di tangan Shi Su Beng, masih
        saja belum meredakan ketegangan-ketegangan di kota raja akibat perebutan kekuasaan. Seperti biasa penguasa baru
        mengangkat teman-temannya sendiri menduduki jabatan tinggi, melakukan penggeseran-penggeseran sehingga
        menimbulkan dendam dari kawan-kawan yang berbalik menjadi lawan. Dalam keadaan seperti itu, kacau rencana
        perebutan kekuasaan, kalau perlu dengan cara halus maupun kasar, para pemberontak yang kini memegang tampuk
        kerajaan itu menjadi lalai. Mereka terlalu memandang rendah Kaisar yang telah melarikan diri ke Secuan,
        menganggap keluarga Kaisar lama itu sudah jatuh benar-benar. Kesibukan untuk kepentingan ambisi pribadi membuat
        mereka lengah dan kurang memperhatikan pertahanan sehingga mereka tidak tahu betapa Kaisar dan keluarganya di
        Secuan telah membentuk kekuatan baru untuk melakukan pembalasan! Kaisar Tua Hian Tiong, yang hancur lahir
        batinya karena bukan hanya mahkota kerajaan dirampas oleh pemberontak An Lu Shan, akan tetapi terutama sekali
        karena selirnya tercinta, Yang Kui Hui, harus mati digantung oleh keputusannya sendiri, setibanya di Secuan,
        menjadi seorang kakek yang patah semangat dan selalu tenggelam dalam duka cita. Dalam keadaan mengungsi itu, di
        Secuan, keluarga kaisar dan para pengikutnya yang masih setia, menerima keputusan Kaisar Tua untuk mengangkat
        Kaisar baru, yaitu putera mahkota yang bergelar Su Tiong. Pada waktu itu sisa pasukan pemerintah yang telah
        kalah perang terhadap An Lu Shan, di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu I, telah menyusul pula ke Secuan.
        Kaisar Su Tiong lalu menghimpun kekuatan dari rakyatnya di daerah Secuan, dan minta bantuan kepada
        negara-negara tetangga yang bersahabat. Maka terkumpullah pasukan-pasukan campuran yang terdiri dari bermacam
        suku, bahkan terdapat pula bangsa Turki, Tibet, dan kemudian sekali datang pula bala bantuan dari pasukan Arab
        yang dikirim sebagai tanda bersahabat oleh Kalipu. Pasukan-pasukan itu disusun menjadi barisan besar dan diberi
        latihan-latihan berat dalam persiapa kaisar Su Tiong untuk merampas kembali kerajaannya, Kok Cu I. Tidak ada
        hal penting terjadi selama perjalanan Swat Hong menuju ke Secuan. Gadis yang dahulu berwatak periang dan jenaka
        itu, yang wajahnya selalu berseri dan gembira, kini menjadi pendiam dan ada garis-garis dan bayangan muram di
        wajahnya yang tetap cantik jelita walaupun tidak pernah bersolek. Perantauan selama dua tahun mencari-cari
        pusakanya yang hilang tanpa hasil itu membuat dia merasa berduka dan juga penasaran sekali. Di dalam hatinya di
        berjanji bahwa dia takkan pernah berhenti mencari sebelum mendapatkan pusaka Pulau Es itu. Dalam perantauannya
        itu dia mendengar pula tentang kematian An Lu Shan dan puteranya. Ketika dia tiba di Secuan, pada waktu itu
        Kaisar yang baru, yaitu Kaisar Si Tiong, memang sedang menyusun tenaga di bawah pimpinan Panglima Besar Kok Cu
        I sendiri. panglima Kok ini menyebar para pembantunya, yaitu panglima-panglima bawahan di seluruh daerah Secuan
        untuk menerima dan mendaftar para sukarelawan yang hendak masuk menjadi tentara. Seorang di antara bawahannya
        yang bertugas mengumpulkan bala bantuan bahkan menghubungi orang-orang asing dari barat ini adalah Panglima
        Bouw Kiat. Panglima inilah yang telah berjasa menghubungi orang-orang Arab sehingga akhirnya Kaliphu (yang
        kuasa di Arab) sendiri mengirim pasukan bala bantuan. Bouw Kiat berkedudukan di sebuah dusun daerah selatan dan
        di sini dia menyusun pasukannya sambil menjamu pasukan dari Arab yang sebagian kecil sebagai pasukan pelopor
        telah tiba di situ. panglimaKok Cu I yang cerdik memisah-misahkan para pasukan asing yang membantunya agar
        menjauhkan terjadinya bentrokan. Pasukan bantuan dari Turki berada di utara, dari Tibet berada di selatan dan
        dari timur adalah pasukan yang terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Pada suatu hari, Swat Hong tiba di
        daerah yang dikuasai oleh Panglima Bouw Kiat inilah. Dara ini merasa heran ketika melihat ada banyak tentara
`Pemula Punya Blog

Ditulis Oleh : mansyur syamsudin // 9:59 PM
Kategori:

Ditulis Oleh : mansyur syamsudin ~ PEMULA PUNYA BLOG ~

Artikel BUKEK SIANSU : Seri Kesebelas ini diposting oleh mansyur syamsudin Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel BUKEK SIANSU : Seri Kesebelas ini.Di Posting Saturday, July 28, 2012. Tak Lengkap Rasanya Jika Kunjungan Anda di Blog ini Tanpa Meninggalkan Komentar Untuk Itu Silahkan Berikan Komentar Anda Apa Aja Pada Kotak Komentar Di Bawah. Semoga Artikel BUKEK SIANSU : Seri Kesebelas dapat Memberi manfaat untuk Anda ..Trima Kasih.. HAPPY BLOGGING :)

3 comments:

  1. That is an extremely smart written article. I will be sure to bookmark it and return to learn extra of your useful information. Thank you for the post. I will certainly return.

    ReplyDelete
  2. Very great post. I simply stumbled upon your blog and wanted to say that I have really enjoyed browsing your weblog posts. After all I’ll be subscribing on your feed and I am hoping you write again very soon!

    ReplyDelete
  3. This is the precise weblog for anybody who needs to seek out out about this topic. You notice so much its almost arduous to argue with you. You positively put a brand new spin on a subject that's been written about for years. Nice stuff, simply nice!

    ReplyDelete

Powered by Blogger.